Beriman adalah
sebuah kata yang sangat mudah kita temukan. Dalam spanduk-spanduk besar di
tengah jalan yang penuh geliat manusia-manusia berduyun-duyun merayap mencari
entah apa yang membuatnya untuk tak diam. Dalam slogan-slogan maupun moto yang
digunakan seorang besar yang mencoba meyakinkan orang yang lebih rendah di
bawahnya tapi berjumlah lebih banyak sehingga cukup memiliki kekuatan untuk
harus diyakinkan. Dalam teks buku kanak-kanak pun, kata beriman sudah
dipaksakan harus ada sejak awal. Kita merasakan bersama bagaimana keimanan dan
kewajiban beriman menjadi topik utama yang harus ditanamkan sejak dini kepada
seorang anak. Seakan di antara waktu-waktu di anak-anak harus banyak melakukan
eksplorasi dan bermain, keimanan tidak boleh sampai luput.
Bagaimana sih
beriman itu? Kita pasti tertawa jika mendengar pertanyaan yang sangat mendasar
itu. Seakan-akan bertanya tentang bagaimana beriman seperti kita bertanya
bagaimana cara makan dan cara bernafas. Terlepas dari makna filosofis dari
bernafas dan makan, sesungguhnya apa iya level kita sudah sampai seperti
bernafas dan makan dalam beriman dan menjalankan keimanan kita? Dari literatur
ringan yang kubaca beriman berarti percaya sepenuhnya kepada sesuatu. Tanpa
sedikitpun kegelisahan, kecurigaan, ataupun was-was. Percaya dalam tindakan,
ucapan, hati, dan segala keputusan harus berlandaskan kepada sesuatu
tersebut.
Lalu beriman kepada
siapa kita seharusnya? Sebagai Makhluk beragama yang membumi dan biasa saja,
maka tentu saja kepada Tuhan pemberi kehidupan. Aku mencoba menyederhanakan
dari konsep mekanisme Tuhan dan Alam raya. Pertama aku memang belum paham
betul, kedua karena lebih mudah membayangkan hanya kepada satu entitas kita harus
merujuk.
Lalu bagaimana
beriman kepada Tuhan itu seharusnya? Ya kalau seharusnya beriman atas
Rencana-Nya adalah tidak ada pamrih ketika kita sedang menjalankan
perintah-Nya, yang artinya kita tidak berharap apapun. Namun bagaimana cara
beriman atas Kekuasaan-Nya? Aku sering mempertanyakan itu, seberapa besar
kejutan yang bisa Dia berikan untukku. Kalau dari yang aku baca dari Al-Qur'an
ini bertanya-tanya seperti ini tipis banget batasnya dengan
pertanyaan-pertanyaan kaum kafir yang selalu minta diberi petunjuk gamblang
oleh Nabi di jamannya untuk beriman hanya pada Allah. Aku dulu yang jarang
banget ngaji ( walaupun sekarang juga belum sering banget sih) tidak tahu itu
adalah perbuatan yang dibenci Allah dan sudah disebutkan di Al-Quran bahwa ada
sekelompok manusia (yang disebut kafir) akan terus bertanya, sebanyak apapun
petunjuknya.
Aku sering bertanya,
pertanyaan sepele sampai yang pertanyaan liar yg muncul dari keisengan dan rasa
penasaran. Dalam rebah aku tengil ke Allah, "ya Allah bagaimana jika
begini?" Atau "ya Allah bagaimana jika beitu?". Sudah setelah
itu jika nalarku sudah mentok, aku berserah lagi, aku sudah berhenti
memikirkannya lagi. Namun, begitulah cara berkomunikasiku dengannya. Terus
bertanya kepada-Nya. Dengan terus bertanya kepada-Nya kurasa begitu caraku
beriman. Bagaimana aku bertanya jika tidak percaya? Jadi aku merasa bakal tidak
asik banget jika bertanya-tanya seperti itu disebut kafir. Bagaimana orang bisa
percaya jika belum pernah berdialog, bertanya dan mendapat jawaban? Entahlah,
mungkin sampai di sini Tuhan memang benar-benar menguji keimananku.
Namun, di antara
kebingungan-kebingunganku yang tiada habisnya, dan di antara nafsuku untuk kepo
ke Tuhan, sepertinya doa orang tuaku yg begitu dahsyat selalu menjagaku. Atau memang
ternyata Allah, Tuhanku masih sayang banget sama aku. Semua rasa penasaranku
dijawab-Nya begitu saja. Tidak disisakan pertanyaan sedikitpun lagi di hal yang
sama. Kalau masih ada, dijawab-Nya lagi, seakan Dia berteriak atau menamparku.
Dia selalu tahu aku hambanya yang suka ngeyel. Oh Tuhanku Memang Humoris. Siap
atau pun tidak, pertanyaanku selalu dijawab-Nya, di waktu yg random dan
seringkali sangat cepat. Dan seringkali aku menyadari jika keingintahuanku
berujung pada hal buruk, hal buruk yang kumasud di sini adalah hal yang tidak
sesuai dengan harapanku. Aku tersungkur ketika pertanyaanku dijawabNya,
membuatku bangun dengan kesadaran penuh, walau kondisi fisik menjadi
sangat lelah karena dehidrasi ketika menangisi, aku terbangun menyadari bahwa
Dia sedang menjawab pertanyaanku. Dia sedang mengajakku dialog. Sejak saat itu
aku mulai berpikir bahwa Dia ingin aku berhati-hati dengan keinginanku. Dia
Maha Mendengar. Selirih apapun candaku.
Bagaimana dengan
pertanyaanku jika dijawab-Nya dengan hal yang manis? Wih aku manusia, benar
saja, aku sering merasa ya karena ini usahaku. Aku bangga atas pencapaian dan
aku mengapresiasi diriku sendiri karena Aku mampu mendapatkan hal tersebut. Aku
manusia, lupa adalah cerminan kemalasanku dalam berpikir.
Sebut saja tulisan
ini hasil kontemplasiku yang dogmatis. Atau bisa kalian sebut hasil dari bacaan
tulisan-tulisan akun-akun dakwah di line. Toh gak akan aku pungkiri, dari
keseloanku scrolling timeline jejaring sosial, mataku tertuju dengan
tulisan-tulisan yg sebelumnya pernah aku cibir. Kenapa aku berubah? Gampang
saja, jawabannya ya karena aku sudah jatuh, kepentok dan sakit jiwa. Aku
bersyukur, Tuhanku yang Maha Humoris masih saja Humoris, Dia menertawakanku
dengan cara memberiku petunjuk dengan hal-hal yang biasa aku tertawakan.
Detik ini, aku bisa
sebut diriku beruntung. Beruntung Dia masih mau dan terus saja mau memelukku.
Bahkan aku terkadang takut atas kemenangan, karena kata-kata orang bijak bahwa
kemenangan itu menyilaukan itu sangat tidak bisa didebat. Jika saja kamu tahu
rasanya menang, itu sangat menyenangkan. Kita tidak akan terasa bahwa tiba-tiba
kita sudah berhenti ngobrol sama Dia. Selaik itu kemenangan akan membawa kepada
perasaan yang membuncah dan berlebih, membawa kepada kesombongan dan perasaan
mudah puas, atau malah keinginan mencapai yang lebih tinggi lagi. Seringkali
untuk berhenti terlalu euforia dengan kemenangan aku mencari kesakitan, mencoba
meninggalkan jejak yang mampu membuatku pulang lagi ke Allah. Dan cara paling
mudah adalah jatuh cinta lalu patah hati, merasakan kesedihannya sampai batas
tertentu, menarik diri dari banyak orang. Aku seringkali hanya ingin menyepi,
dan patah hati selalu mampu membuat terjaga di malam hari yang sepi. But hei,
Hello pebbb, emang kemenangan apa yang pernah kamu raih? Lalu kesedihan macam
apa yang pernah kamu derita hingga kamu merasa berhak terus-terusan melakukan
self healing demi meningkatkan imanmu dengan mengabaikan sekitarmu?
Bukan, bukan saya
mau bilang kalo udah sembuh lalu kamu tidak harus meningkatkan imanmu. Self
healing pun harus dilakukan setiap detik. Hati kita itu tempat tidur
paling nyaman bagi segala macam penyakit untuk beranak-pinak. Tapi, Allah
memelukmu dan mengingatkanmu untuk melakukan self healing karena iya Dia Yang
Maha Mengenalmu, Dia tahu kamu bisa sendiri. Dia mau kamu bangkit dengan
langkahmu yang terseok-seok, dengan kehangatan yang masih memancar dari hatimu,
bantulah orang lain. Bahwa di tiap sujudmu, doamu di dengar, dalam
keterkabulkannya doamu, ada doa orang lain yang dititipkan dalam langkahmu yang
mungkin tak pernah kokoh.
Maka berimanlah,
walau kamu merasa kamu adalah hipokrit yamg hanya datang ketika membutuhkan
Tuhanmu. Berimanlah sebrengsek apapun kamu, Dia pasti menerimamu pulang lagi.
Berimanlah bahwa Tuhanmu selalu ada, menopangmu dengan segala pilihanmu. Jangan
dipaksakan untuk selalu mengagumi-Nya, rasakan saja kehadiran-Nya, rasakan
rindumu, bencimu, muakmu, gumunmu kepada segala rencana dan canda-Nya. Rasakan
bahwa di antara tamparan-tanparanmu, yang membuat tubuhmu tak lagi tegap, ada
orang yang diuji lebih berat darimu, ada orang yang jauh lebih tidak beruntung
dari kamu masih bisa terlihat berdiri tegap. Tahukah kamu, mungkin kamu juga
terlibat tegap di mata orang mereka yang membutuhkanmu, walaupun di belakang
kamu terseok-seok hilang bentuk. Bahwa harap mereka adalah ladang amal buatmu.
Bahwa ketegapanmu membawa kewajiban besar untuk mengamalkan apa yang kamu bisa.
Aku hanya ingin
berbagi, ketidaktahuanmu soal iman itu bisa kau abaikan atau kau cari jawabnya.
Namun, jangan lupa menikmatinya dan terus bertanya. Jika tidak hari ini,
pasti datang petunjuk yang membuatmu percaya pada-Nya, tunggu saja lah. Kalau
mau cepat, ada tutorialnya kok, ada manual booknya, ya Al-Qur'an. Namu
sepertinya pemikiranku sudah mulai berunah. Jadi manusia emang enak, semua
sudah diberi petunjuk. Namun, apa iya semua petunjuk tersebut tertuang dalam
makna yang tersurat? Kalo seperti itu berapa surga akan penuh dengan manusia
baik yang sesuai tuntunan manual book. Apa iya emang semudah itu jadi manusia?
Ah sudahlah, Tuhanku ini Maha misterius, Kekasihku Yang Maha Asik, Aku sedang
merayakan petunjukNya hari ini. Dia sepertinya sedang memberiku hadiah karena
beriman. Aihh ge-er sekali aku ya? Semoga kode-kode dan pertanda dariNya bisa
selalu datang tepat waktu seperti ini.