Malam selalu berhasil menjelmakan setiap kata yang rapuh menjadi sangat kuat. Malam selalu menerima segala kekalutan menjadi sebuah proses berpikir yang manusiawi. Malam selalu memberi kesempatan pada kata yang hampir kehilangan makna untuk menemukan konteksnya sendiri di detik itu. Malam menjadikan semuanya selalu benar dan boleh.
Jika teman saya berkata bahwa after midnight trully kills, menurut saya, tengah malam mampu menjadi kertas, menjadi tinta, maupun menjadi anggur yang membuat seseorang bersyair dengan sangat deras. Entah itu bergulung-gulung hanya dipikiran, atau dibubuhkan di buku catatan, atau jika kita cukup beruntung dengan gawai canggih kita bisa mengetikanya seketika itu juga.
Puisi dan malam tak terpisahkan, bahkan tidak hanya saat puisi itu dibuat. Pernah suatu ketika aku menyesali membaca tulisan yang kubuat di tengah malam karena tulisan itu sangat menye dan rapuh, aku membacanya lagi di pagi hari, lalu aku menyadari bahwa itu salah satu puisi yang kugunakan untuk melabuhkan kegelisahan. Seringkali tulisan tersebut sangat tidak berguna jika kita membacanya di hari yang cerah dan produktif, di hari kita menetapkan standard yang cukup tinggi untuk bertahan dan mempertahankan hidup. Aku hanya melemparkan segala isi pikiranku saja, tanpa bentuk dan ketetapan prokem tulisan, tanpa berusaha mencari solusinya, tetapi malam hari selalu membuatnya tepat. Aku memang menyesalinya di pagi hari atau di hari yang cerah, tapi seringkali malam buntu itu datang kembali, dan aku membaca lagi tulisan-tulisan yang kuklaim secara sembrono sebagai puisi itu, dan aku berterimakasih kepada diriku sendiri karena telah menuliskannya.
Puisi dan malam, mungkin akan selalu menjadi pilihanku ketika nafsuku dalam mencari jawaban atas isi otakku membuatku patah hati lagi dan lagi. Puisi dan malam selalu benar, walau di pagi hari aku mengutuki diri sendiri lagi dan lagi karena memilih terjaga. Namun, begitulah aku bertahan hidup. Bertahan dari kehilangan konteks dan substansi menjadi manusia yang memiliki asa dan rasa ketika mimpi berbentur-benturan dengan target untuk menjadi produktif. Belum lagi bicara jatuh cinta, ah tak terhitung sudah berapa puisi dan malam membuatku merasa terlahir kembali.
Jika teman saya berkata bahwa after midnight trully kills, menurut saya, tengah malam mampu menjadi kertas, menjadi tinta, maupun menjadi anggur yang membuat seseorang bersyair dengan sangat deras. Entah itu bergulung-gulung hanya dipikiran, atau dibubuhkan di buku catatan, atau jika kita cukup beruntung dengan gawai canggih kita bisa mengetikanya seketika itu juga.
Puisi dan malam tak terpisahkan, bahkan tidak hanya saat puisi itu dibuat. Pernah suatu ketika aku menyesali membaca tulisan yang kubuat di tengah malam karena tulisan itu sangat menye dan rapuh, aku membacanya lagi di pagi hari, lalu aku menyadari bahwa itu salah satu puisi yang kugunakan untuk melabuhkan kegelisahan. Seringkali tulisan tersebut sangat tidak berguna jika kita membacanya di hari yang cerah dan produktif, di hari kita menetapkan standard yang cukup tinggi untuk bertahan dan mempertahankan hidup. Aku hanya melemparkan segala isi pikiranku saja, tanpa bentuk dan ketetapan prokem tulisan, tanpa berusaha mencari solusinya, tetapi malam hari selalu membuatnya tepat. Aku memang menyesalinya di pagi hari atau di hari yang cerah, tapi seringkali malam buntu itu datang kembali, dan aku membaca lagi tulisan-tulisan yang kuklaim secara sembrono sebagai puisi itu, dan aku berterimakasih kepada diriku sendiri karena telah menuliskannya.
Puisi dan malam, mungkin akan selalu menjadi pilihanku ketika nafsuku dalam mencari jawaban atas isi otakku membuatku patah hati lagi dan lagi. Puisi dan malam selalu benar, walau di pagi hari aku mengutuki diri sendiri lagi dan lagi karena memilih terjaga. Namun, begitulah aku bertahan hidup. Bertahan dari kehilangan konteks dan substansi menjadi manusia yang memiliki asa dan rasa ketika mimpi berbentur-benturan dengan target untuk menjadi produktif. Belum lagi bicara jatuh cinta, ah tak terhitung sudah berapa puisi dan malam membuatku merasa terlahir kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar