Kamis, 10 November 2016

Beriman

Beriman adalah sebuah kata yang sangat mudah kita temukan. Dalam spanduk-spanduk besar di tengah jalan yang penuh geliat manusia-manusia berduyun-duyun merayap mencari entah apa yang membuatnya untuk tak diam. Dalam slogan-slogan maupun moto yang digunakan seorang besar yang mencoba meyakinkan orang yang lebih rendah di bawahnya tapi berjumlah lebih banyak sehingga cukup memiliki kekuatan untuk harus diyakinkan. Dalam teks buku kanak-kanak pun, kata beriman sudah dipaksakan harus ada sejak awal. Kita merasakan bersama bagaimana keimanan dan kewajiban beriman menjadi topik utama yang harus ditanamkan sejak dini kepada seorang anak. Seakan di antara waktu-waktu di anak-anak harus banyak melakukan eksplorasi dan bermain, keimanan tidak boleh sampai luput.

Bagaimana sih beriman itu? Kita pasti tertawa jika mendengar pertanyaan yang sangat mendasar itu. Seakan-akan bertanya tentang bagaimana beriman seperti kita bertanya bagaimana cara makan dan cara bernafas. Terlepas dari makna filosofis dari bernafas dan makan, sesungguhnya apa iya level kita sudah sampai seperti bernafas dan makan dalam beriman dan menjalankan keimanan kita? Dari literatur ringan yang kubaca beriman berarti percaya sepenuhnya kepada sesuatu. Tanpa sedikitpun kegelisahan, kecurigaan, ataupun was-was. Percaya dalam tindakan, ucapan, hati, dan segala keputusan harus berlandaskan kepada sesuatu tersebut.

Lalu beriman kepada siapa kita seharusnya? Sebagai Makhluk beragama yang membumi dan biasa saja, maka tentu saja kepada Tuhan pemberi kehidupan. Aku mencoba menyederhanakan dari konsep mekanisme Tuhan dan Alam raya. Pertama aku memang belum paham betul, kedua karena lebih mudah membayangkan hanya kepada satu entitas kita harus merujuk. 

Lalu bagaimana beriman kepada Tuhan itu seharusnya? Ya kalau seharusnya beriman atas Rencana-Nya adalah tidak ada pamrih ketika kita sedang menjalankan perintah-Nya, yang artinya kita tidak berharap apapun. Namun bagaimana cara beriman atas Kekuasaan-Nya? Aku sering mempertanyakan itu, seberapa besar kejutan yang bisa Dia berikan untukku. Kalau dari yang aku baca dari Al-Qur'an ini bertanya-tanya seperti ini tipis banget batasnya dengan pertanyaan-pertanyaan kaum kafir yang selalu minta diberi petunjuk gamblang oleh Nabi di jamannya untuk beriman hanya pada Allah. Aku dulu yang jarang banget ngaji ( walaupun sekarang juga belum sering banget sih) tidak tahu itu adalah perbuatan yang dibenci Allah dan sudah disebutkan di Al-Quran bahwa ada sekelompok manusia (yang disebut kafir) akan terus bertanya, sebanyak apapun petunjuknya.

Aku sering bertanya, pertanyaan sepele sampai yang pertanyaan liar yg muncul dari keisengan dan rasa penasaran. Dalam rebah aku tengil ke Allah, "ya Allah bagaimana jika begini?" Atau "ya Allah bagaimana jika beitu?". Sudah setelah itu jika nalarku sudah mentok, aku berserah lagi, aku sudah berhenti memikirkannya lagi. Namun, begitulah cara berkomunikasiku dengannya. Terus bertanya kepada-Nya. Dengan terus bertanya kepada-Nya kurasa begitu caraku beriman. Bagaimana aku bertanya jika tidak percaya? Jadi aku merasa bakal tidak asik banget jika bertanya-tanya seperti itu disebut kafir. Bagaimana orang bisa percaya jika belum pernah berdialog, bertanya dan mendapat jawaban? Entahlah, mungkin sampai di sini Tuhan memang benar-benar menguji keimananku.

Namun, di antara kebingungan-kebingunganku yang tiada habisnya, dan di antara nafsuku untuk kepo ke Tuhan, sepertinya doa orang tuaku yg begitu dahsyat selalu menjagaku. Atau memang ternyata Allah, Tuhanku masih sayang banget sama aku. Semua rasa penasaranku dijawab-Nya begitu saja. Tidak disisakan pertanyaan sedikitpun lagi di hal yang sama. Kalau masih ada, dijawab-Nya lagi, seakan Dia berteriak atau menamparku. Dia selalu tahu aku hambanya yang suka ngeyel. Oh Tuhanku Memang Humoris. Siap atau pun tidak, pertanyaanku selalu dijawab-Nya, di waktu yg random dan seringkali sangat cepat. Dan seringkali aku menyadari jika keingintahuanku berujung pada hal buruk, hal buruk yang kumasud di sini adalah hal yang tidak sesuai dengan harapanku. Aku tersungkur ketika pertanyaanku dijawabNya, membuatku bangun dengan kesadaran  penuh, walau kondisi fisik menjadi sangat lelah karena dehidrasi ketika menangisi, aku terbangun menyadari bahwa Dia sedang menjawab pertanyaanku. Dia sedang mengajakku dialog. Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa Dia ingin aku berhati-hati dengan keinginanku. Dia Maha Mendengar. Selirih apapun candaku.

Bagaimana dengan pertanyaanku jika dijawab-Nya dengan hal yang manis? Wih aku manusia, benar saja, aku sering merasa ya karena ini usahaku. Aku bangga atas pencapaian dan aku mengapresiasi diriku sendiri karena Aku mampu mendapatkan hal tersebut. Aku manusia, lupa adalah cerminan kemalasanku dalam berpikir.
Sebut saja tulisan ini hasil kontemplasiku yang dogmatis. Atau bisa kalian sebut hasil dari bacaan tulisan-tulisan akun-akun dakwah di line. Toh gak akan aku pungkiri, dari keseloanku scrolling timeline jejaring sosial, mataku tertuju dengan tulisan-tulisan yg sebelumnya pernah aku cibir. Kenapa aku berubah? Gampang saja, jawabannya ya karena aku sudah jatuh, kepentok dan sakit jiwa. Aku bersyukur, Tuhanku yang Maha Humoris masih saja Humoris, Dia menertawakanku dengan cara memberiku petunjuk dengan hal-hal yang biasa aku tertawakan.

Detik ini, aku bisa sebut diriku beruntung. Beruntung Dia masih mau dan terus saja mau memelukku. Bahkan aku terkadang takut atas kemenangan, karena kata-kata orang bijak bahwa kemenangan itu menyilaukan itu sangat tidak bisa didebat. Jika saja kamu tahu rasanya menang, itu sangat menyenangkan. Kita tidak akan terasa bahwa tiba-tiba kita sudah berhenti ngobrol sama Dia. Selaik itu kemenangan akan membawa kepada perasaan yang membuncah dan berlebih, membawa kepada kesombongan dan perasaan mudah puas, atau malah keinginan mencapai yang lebih tinggi lagi. Seringkali untuk berhenti terlalu euforia dengan kemenangan aku mencari kesakitan, mencoba meninggalkan jejak yang mampu membuatku pulang lagi ke Allah. Dan cara paling mudah adalah jatuh cinta lalu patah hati, merasakan kesedihannya sampai batas tertentu, menarik diri dari banyak orang. Aku seringkali hanya ingin menyepi, dan patah hati selalu mampu membuat terjaga di malam hari yang sepi. But hei, Hello pebbb, emang kemenangan apa yang pernah kamu raih? Lalu kesedihan macam apa yang pernah kamu derita hingga kamu merasa berhak terus-terusan melakukan self healing demi meningkatkan imanmu dengan mengabaikan sekitarmu?

Bukan, bukan saya mau bilang kalo udah sembuh lalu kamu tidak harus meningkatkan imanmu. Self healing pun  harus dilakukan setiap detik. Hati kita itu tempat tidur paling nyaman bagi segala macam penyakit untuk beranak-pinak. Tapi, Allah memelukmu dan mengingatkanmu untuk melakukan self healing karena iya Dia Yang Maha Mengenalmu, Dia tahu kamu bisa sendiri. Dia mau kamu bangkit dengan langkahmu yang terseok-seok, dengan kehangatan yang masih memancar dari hatimu, bantulah orang lain. Bahwa di tiap sujudmu, doamu di dengar, dalam keterkabulkannya doamu, ada doa orang lain yang dititipkan dalam langkahmu yang mungkin tak pernah kokoh.

Maka berimanlah, walau kamu merasa kamu adalah hipokrit yamg hanya datang ketika membutuhkan Tuhanmu. Berimanlah sebrengsek apapun kamu, Dia pasti menerimamu pulang lagi. Berimanlah bahwa Tuhanmu selalu ada, menopangmu dengan segala pilihanmu. Jangan dipaksakan untuk selalu mengagumi-Nya, rasakan saja kehadiran-Nya, rasakan rindumu, bencimu, muakmu, gumunmu kepada segala rencana dan canda-Nya. Rasakan bahwa di antara tamparan-tanparanmu, yang membuat tubuhmu tak lagi tegap, ada orang yang diuji lebih berat darimu, ada orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kamu masih bisa terlihat berdiri tegap. Tahukah kamu, mungkin kamu juga terlibat tegap di mata orang mereka yang membutuhkanmu, walaupun di belakang kamu terseok-seok hilang bentuk. Bahwa harap mereka adalah ladang amal buatmu. Bahwa ketegapanmu membawa kewajiban besar untuk mengamalkan apa yang kamu bisa.

Aku hanya ingin berbagi, ketidaktahuanmu soal iman itu bisa kau abaikan atau kau cari jawabnya. Namun, jangan lupa menikmatinya  dan terus bertanya. Jika tidak hari ini, pasti datang petunjuk yang membuatmu percaya pada-Nya, tunggu saja lah. Kalau mau cepat, ada tutorialnya kok, ada manual booknya, ya Al-Qur'an. Namu sepertinya pemikiranku sudah mulai berunah. Jadi manusia emang enak, semua sudah diberi petunjuk. Namun, apa iya semua petunjuk tersebut tertuang dalam makna yang tersurat? Kalo seperti itu berapa surga akan penuh dengan manusia baik yang sesuai tuntunan manual book. Apa iya emang semudah itu jadi manusia? Ah sudahlah, Tuhanku ini Maha misterius, Kekasihku Yang Maha Asik, Aku sedang merayakan petunjukNya hari ini. Dia sepertinya sedang memberiku hadiah karena beriman. Aihh ge-er sekali aku ya? Semoga kode-kode dan pertanda dariNya bisa selalu datang tepat waktu seperti ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar