Tengah malam dan Saya mendapati fakta yang menimbulkan asumsi. Saya sebal juga sama otak saya kenapa bisa mencerna sebuah informasi terlalu terburu-buru. Begini kadang Saya sudah rancu mana otak dan mana perasaan, mungkin sebenarnya keduanya tidak pernah terpisah secara harfiah. Hanya penyair saja dan psikolog yang membuatnya berbeda. Seakan-akan bahwa keduanya bisa dipilih dan dimanajemen sebaik mungkin.
Beberapa minggu ini Saya sudah mengolah perasaan saya sebaik mungkin untuk lebih logis. Karena jauh di dalam perasaan saya, Saya sedang terluka dan bersedih. Saya tidak mau itu berujung pada hal yang kontraproduktif dan melemahkan saya secara psikis maupun fisik, karena saya masih punya tanggungjawab berupa pekerjaan. Dan memanfaatkan segala kemewahan jogja, rejeki berupa teman, acara asik, dan uang yang selalu cukup, saya rasa saya tidak punya banyak alasan untuk memilih bersedih sedih terlalu lama. Namun malam ini, semua runtuh. Lagi. Iya runtuh lagi. Hahahaha
Begini, saya ingin membahas tentang berbohong. Mengapa seseorang berbohong? Apakah dia ingin membuat sesuatu lebih baik? Iya saya pernah berbohong, dan sebenernya keadaan tidak lebih baik pada akhirnya. Saya hanya menunda bom untuk meledak sewaktu-waktu. Atau seperti pepatah lama bahwa bangkai yang berbau busuk pasti akan tercium juga. Namun, saya punya sesuatu yang harus saya lindungi. Apa itu? Harga diri saya. Saya kadang merasa bahwa ketika saya berbohong, saya hanya sedang melindungi dan membela harga diri saya sendiri. Karena saya tidak mau terlihat buruk, saya tidak mau kehormatan saya hilang di mata seseorang, saya ingin dia tidak terluka karena saya. Namun, apakah benar itu yang terjadi? Sayangnya, yang terjadi sebaliknya, kita membhat seseorang menjadi lebih buruk karena tidak memberinya cukup informasi untuk memilih. Dan apakah seseorang itu terhormat ketika dia tidak memberikan kehormatan kepada manusia lain?
Aih entahlah, saya yang naif atau saya hanya sedang sakit hati. Saya merasa dibohongi. Sebenarnya sejak awal saya sudah merasakannya. Saya bahkan merasa Allah begitu menyayangi saya dengan memberi banyak petunjuk tanpa saya cari tahu. Allah memberi saya informasi bertubi-tubi agar saya memilih. Sayangnya saya mengabaikan tanda, dan mengikuti ego saya. Memberi makan sebanyak-banyaknya kepada ego saya hingga muntah. Dan sekarang, saya sadar apa yang saya makan itu buruk, lalu saya marah kepada orang yang memberi saya makan itu? Padahal sejak awal dia bilang, konsekuensi ada di tangan saya, apapun bisa terjadi.
Ahh semakin kemana-mana saja ini bahasan. Saya hanya merasa sangat buruk. Saya marah, saya sebal, saya sakit hati. Seharusnya saya merasa berhak untuk itu. Namun, mengapa itu membuat saya makin buruk? Saya seharusnya bersyukur pertemuan hari itu telah mengangkat beban berat seseorang. Dia tidak harus lagi berbohong, jika itu yang dia maksudkan sejak awal. Dan jika dia memang tidak pernah berniat membohongi saya, maka pertemuan kemarin benar-benar yang terbaik bagi kami berdua. Saya merasa buruk membayangkan bahwa saya menuduh seseorang telah berbohong dan membuatnya di posisi serba salah. Lalu dia harus membatasi ruang gerak, komunikasi dan ekspresinya. Oh Tuhan, tapi banyak fakta yang menunjukkan dia memang benar-benar berencana membohongiku. Dan pada akhirnya aku mengembalikan kepada prinsip awalku. Tidak ada yang benar-benar salah jika itu datangnya dari manusia, yang salah adalah kita salah membaca tanda dan berharap terlalu banyak.
Aku ingin menangis malam ini. Namun air mataku tidak keluar, aku tersadar cinta itu indah. Cinta itu fitrah manusia. Jika dia jatuh cinta kepada orang lain, apa yang bisa aku hentikan? Dan seharusnya aku bersyukur aku masih mampu memberinya hadiah berupa keleluasaan kepadanya untuk jatuh cinta, bertemu dan merayakannya tanpa ada lagi kebohongan.
Mas, jika kamu membaca ini, aku meminta maaf telah merebut dan menunda apa-apa yang seharusnya kamu rayakan. Jatuh cintalah sebanyak yang kamu mampu dan mau. Buang jauh kebohonganmu. Mungkin aku juga harus belajar membuang jauh tidak hanya insecure ku, tapi kecurigaanku. Selamat bahagia, kau yang pernah kukasihi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar