Senin, 14 November 2016

Maaf, Intan...

Sepuluh hari yang lalu, ribuan saudara muslimku berbondong-bondong turun ke jalan. Mereka terluka, agamanya dinistakan. Mereka marah, kitab suci kami disebut berbohong. Kami, mereka, mengutuk pelaku penistaan agama. Mereka menolak bahwa yang mereka lakukan adalah bentuk kebencian kepada seseorang, terlebih bahwa yang mereka lakukan adalah bagian dari aksi politik. Mereka menyatakan berkali-kali, semua aksi yang mereka lakukan adalah bentuk cinta mereka terhadap Allah. Terhadap Agama yang Allah berikan untuk mereka. Mereka membela islam, mereka membela umat islam yang tidak mau berteriak. Mereka bilang, mereka membelaku? Aku islam, mengapa aku tidak merasa dibela? Apa karena aku tidak merasa tersakiti? Apa karena aku tidak merasa tersakiti berarti aku tidak islam? Bahwa aku kafir? Aku sudah pernah dibilang kafir dalan prosesku untuk memeluk agamaku sendiri.

Seminggu setelah aksi besar-besaran umat islam turun ke jalan untuk demo, di bagian lain negeri ini, di bilangan waktu lain, di kejadian lain, Intan meninggal, terkena bom dari seseorang yang menyatakan dirinya membela islam. Gadis itu terluka. Dia seumuran keponakanku yang sedang lucu-lucunya. Gadis kecil yang sedang belajar apapun yang merupakan bagian dari prosesnya menjadi anak manusia. Intan sedang bermain, sedang melakukan eksplorasi dunia sekitarnya, sedang belajar bicara, berlari dan bahagia. Namun, seseorang yang menyatakan membela agamaku telah membunuhnya. Dan Pembunuh itu masih dengan bangga menyatakan bahwa apa yang dia lakukan benar. Aku bisa melepaskan rasa bersalahku dengan mengatakan bahwa pembunuh Intan adalah bigot tidak beragama. Bahwa dia bukan Islam. Bahwa Agamaku tidak mengajarkan itu semua. Bahwa siapapun manusia berpotensi melakukan itu semua. Bahwa mereka pembunuh itu adalah manusia-manusia sakit yang berusaha mencari penyembuhan lukanya sendiri. Namun, tunggu dulu, dia bukan manusia sakit, dia manusia yang tergila-gila dengan kebaikan, dia manusia yang bernafsu atas surga dan sangat mencintai Tuhannya. Dan kita semua memiliki karakteristik mirip dengan pembunuh Intan. Karakteristik yang tersembunyi maupun nampak, yang terang-terangan maupu kita simpan, yang kita deklarasikan maupun kita pendam. Sikap kita yang menuju ke arah menjadi bagian dari orang-orang pembunuh Intan. Sikap kita yang sangat permisif atas kebencian orang-orang di sekitar kita kepada mereka yang tidak sejalan dengan kita, yang beragama lain, yang mencintai Tuhan dengan cara berbeda. Kita yang selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan tidak mau Tuhan yang sangat kita cintai dihinakan. Pada titik ini aku lelah mencoba memahami.

Aku ingin melepaskan diri dari rasa bersalah itu. Namun, sekali lagi, di tengah hiruk pikuk perayaan pencarian atas Tuhan dan pengajian-pengajian, Intan hanya dianggap korban pengalihan isu. Sialan! Mereka sama denganku, mencoba menutupi rasa bersalahnya dengan pembenaran bahwa yang membunuh intan hanyalah hewan keji tak beragama. Namun, mereka, saudaraku seiman ini, yang sama juga sepertiku, bisa menghujat dan memusuhi seluruh umat dari satu agama lain karena seseorang menistakan agama kami, karena seseorang mengkritik dan menampar dengan keras agama kami. Hanya satu orang dan kami tidak mau berpikir bahwa itu adalah kemarahan atau kritik personal! Sedang kami minta disucikan dari segala dosa dan rasa bersalah atas meninggalnya gadis kecil itu.

Aku sedih, mengapa pencarian kita akan Tuhan membawa kita tidak mau menapak bumi. Bagaimana Tuhanku telah menuliskan kalimat-kalimat indah tentang cinta sesama tapi diabaikan. Mengapa mereka hanya tertarik janji akan surga dan seakan mau melakukan apapun untuk mendapat surga? Mengapa mereka merasa penistaan itu hanya ada di agama? Mengapa mereka tidak merasa dengan adanya pemboman itu kemanusiaan mereka yang telah dinistakan? Mengapa kami masih berusaha menyingkirkan wajah intan yang pucat pasi dan tubuh terbakarnya untuk menutupi rasa bersalah kita?

Banyak sekali pertanyaan di kepalaku. Aku masih belum bisa menjawab. Aku benci. Aku masih ingin dan selalu ingin percaya pada manusia. Mengapa beragama menjadi sangat menyakiti? Maafkan kami intan, maafkan kami siapapun yang telah pergi karena nafsu kepentingan kami yang masih hidup. Maafkan kami yang ingin menguasai peradaban dunia bahkan akhirat dan harus mengorbankan orang lain. Damailah di sana sayangku, Allah bersamamu. Biarkan kami mati dibunuh perasaan nyeri bersalah ini. Allah Maha Mengadili.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar