Selasa, 15 November 2016

Farewell (1)

"Hai."

Lelaki itu datang, menyapa gadis itu dengan singkat. Tanpa senyum, seperti biasa. Ah tidak, ini tidak biasa, wajahnya tegang. Dia seperti mempersiapkan diri untuk sebuah perang.

"Halo Bung!".

Gadis itu berhitung, Lelaki itu terlambat 20 menit. Dua puluh menit yang bukan apa-apa jika dibandingkan penantiannya. Dua puluh menit yang sangat layak, bahkan Gadis itu yakin, dia siap untuk menunggu lebih lama. Gadis itu akhirnya memilih untuk mengeluarkan semua energi positif yang dia tabung berbulan-bulan. Hasil peperangannya dengan dirinya sendiri setiap malam. Gadis itu tidak pernah tertarik berperang dengan orang lain. Dia terlalu lelah dengan dirinya sendiri.

"Ah akhirnya aku ketemu kamu juga bung! Bisakah kau beri aku tandatanganmu di jidatku. Aku merasa seperti fans berat yang akhirnya bertemu idolanya."

Gadis itu mencoba melempar sebuah kehangatan yang mampu mencairkan gunungan es. Di tengah malam yang dingin, dia mulai ngilu. Dia menangkap sekelebat genderang perang yang sudah dibawa oleh lelaki itu. Namun, sebelumnya dia telah berjanji, tidak ada genderang perang yang akan ditabuh malam ini.

"Apasih, lebay..."

Lelaki itu menimpalinya. Mereka berdua tahu, tak ada kehangatan yang bisa sengaja diciptakan untuk mencairkan gunung es di antara mereka. Semua bahan bencadaan kehilangan fungsinya. Jembatan yang sebelumnya menghubungkan mereka berdua telah terbakar atau dibakar.

"Pesan minum mas?"

"Oke. Sebenernya aku lapar. Kamu sudah makan?"

"Sudah. Di sini spaghetti ogli olionya lumayan."

"Aku pesan kopi saja."

Pelayan datang. Lelaki itu memesan kopi, yang namanya tak terlalu familiar untuk telinga gadis itu. Gadis itu tak pernah peduli dan ingin tahu lebih mengenai kopi, karena Dia merasa dia adalah tea-person. Pelayan pergi.

Mereka Berdua memulai obrolan. Detik itu mereka sepakat, ada yang harus diselesaikan tuntas malam itu. Mereka sepakat untuk tidak saling menyakiti lagi. Mereka sepakat untuk saling memanusiakan manusia. Lucu sekali, hanya pada pertemuan yang belum berjalan selama lima menit mereka telah menyepakati banyak hal tanpa banyak kata. Jari mereka saling mengetuk di meja, di depan muka masing-masing. Mereka tidak saling pandang, mereka bermain dengan pikiran masing-masing. Si lelaki menyiapkan jawaban, si gadis menyiapkan pertanyaan. Nyatanya mereka membisu, suara jangkrik semakin kencang. Jarak ratusan kilometer kini menjadi hanya puluhan centimeter. Dan mereka bersepakat dalam Diam. Begitulah, mereka sadar jarak memang brengsek! Membuat ribuan kata kehilangan makna. Membuat dua manusia saling mencurigai satu sama lain. Membuat Dua manusia merasa saling tidak membutuhkan lagi.

Kopi datang. Gadis itu tersenyum mendapati nama rumit tadi di buku menu adalah nama untuk kopi susu yang dihidangkan dengan gelas dan corong aneh. Tempat itu salah satu cafe favorit si Gadis, tetapi kopi memang terlalu sophisticated untuknya. Selalu tak terduga bentuknya, sama saja.

"Kamu tidak memasukkan racun dalam kopiku kan? Jangan-jangan kamu bukan memasukkan sianida tapi potasium."

Kesepakatan dalam diam tadi nyatanya membuahkan hasil. Lelaki itu melemparkan canda. Mungkin Dia sudah membuang jauh genderang perangnya. Mungkin digadaikan. Entahlah, dia lelaki rasional dan perhitungan. Dia selalu tahu apa yang Dia lakukan. Dan kini candanya mampu membuat si gadis tersenyum, miris.

"Andai aku bisa melakukannya. Sudah kulakukan. Sayangnya aku terlalu mencintaimu." Batin si gadis. Dan yang keluar dari mulut si gadis mendapati canda hangat itu adalah canda yang sudah sangat kuno.

"Aku memasukkan pelet mas."

Sudah barang tentu, si gadis itu benar-benar tak mampu mengelola levelnya di depan lelaki itu. Dia ingin bisa melakukan segalanya agar malam itu tak segera berakhir. Sayangnya dia sudah lupa bagaimana caranya. Dia sudah lupa cara untuk bergenit-genit sembari menjaga gengsi agar si lelaki menginginkannya balik.

"Pelet ikan?"

Lelaki itu membalasnya dengan culas dan ekspresi wajah datar. Si gadis sadar, candanya sangat tidak berkualitas. Candanya tak mampu mengubah apapun. Dia hanya mampu memandangi si lelaki sibuk menuangkan kopi susu nya di atas es batu dan berharap dia mampu mencairkan hati lelaki itu seperti kopi itu mencarikan es batu.

"Jadi begini ... "

Si lelaki memulai obrolannya. Gadis itu sudah tidak lagi peduli apapun yang lelaki itu jelaskan. Dia hanya bersyukur dan bersyukur bahwa yang dia temui sore tadi tanpa sengaja dan malam itu ada di hadapannya bukanlah setan. Terlebih lagi ini bukan mimpi dan dia tidak berhalusinasi. Lelaki itu terus menjelaskan, sedang si gadis terus menjelajahi bola mata lelaki yang sangat dicintainya itu. Dia mendapati lelaki itu sedang lelah, sayangnya bukan Dia rumah yang ingin dia pulangi.

Lelaki itu bicara sangat sistematis dan logis. Sedang Gadis itu menopangkan kepalanya di tangan. Kepalanya tidak berat, hanya saja terasa kosong, Dia khawatir kepalanya terbang. Dia sudah membuang semua isi kepalanya sore tadi, supaya siap menerima apapun yang akan dikatakan oleh lelaki itu.

Lelaki itu diam sejenak. Akhirnya dia mau membalas pandangan gadis itu. Dia singgah sejenak. Dia menatap mata gadis itu seakan Dia telah memilih mau masuk ke ruang tamu yang sudah lama disiapkan gadis itu.

"Aku boleh merokok?"

Si Gadis tersenyum. Dia merasa lelaki itu benar-benar sedang singgah di ruang tamunya. Lelaki itu, si arrogant, jarang sekali meminta ijin dulu untuk merokok.

"Silahkan, mas."

"Yes!" Si lelaki mengepalkan tangannya dan menariknya turun. Gesturenya puas sekali. Seperti telah mengalahkan segala prinsip si gadis. Harusnya Dia tahu, Dia sudah merobohkan si gadis itu berkali-kali. Dia selalu menang.
Dihisapnya rokok itu. Setelah beberapa kali hembusan, lelaki itu melanjutkan bicaranya.

"Kamu pintar kan? Kamu sangat terbuka atas hal seperti ini. Jadi seharusnya semuanya sudah jelas."

"Hell!" Si gadis itu hampir tertawa. Ini lagi? Seriously? Gadis itu terhempas menyadari sekali lagi seorang lelaki merasa boleh melakukan apapun padanya karena menganggapnya pintar.

"Aku wanita biasa mas. Aku punya perasaan. Aku menangis. Aku patah hati. Aku terluka."

"Iya tapi kamu pasti akan baik-baik saja."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar