Kamis, 10 November 2016

Hari kita bicara

Tuhan tahu bahwa aku harus dan butuh bertemu denganmu untuk melanjutkan hidup. Entah bertemu untuk melanjutkan kisah kita atau mengakhirinya. Hari ini, pagi ini, seminggu lalu aku berbicara dengan menatapmu dalam-dalam, aku menyimpan semua senyum dan kisahmu. Aku tidak berniat untuk menjawab semua pendapatmu, aku tidak berniat mendebatmu. Selain kamu memang benar, aku hanya ingin mendengarmu pagi itu. Aku juga tahu setelah berbicara padamu, bahwa aku memang harus melepasmu pergi. Secara fisik maupun konsep. Kamu tidak pernah menjadi milikku. Setiap manusia adalah milik dirinya masing-masing. Hal itu yang terus aku ulang-ulang di pikiranku. Kita hanya pernah bersinggungan dalam ruang dan waktu, dan kini saatnya kamu beranjak untuk mengejar mimpimu yang lain.

Mudahkah? Tentu saja tidak, aku terbiasa ada kamu. Terbiasa merasakan rindu yang menggebu yang tak memiliki kesempatan di pulangkan hingga berujung nyeri. Aku terbiasa merasakan sakit dan terbangun di malam hari dengan berharap kamu mengirimkan sebuah pesan, apapun, yang berisi kabarmu. Kini semuanya telah jelas. Tuhan memang Maha Mengatur segalanya. Kemungkinan bertemu denganmu sudah hampir mustahil. Aku sudah mulai ikhlas untuk tak mungkin bertemu denganmu. Namun seminggu lalu, hari hampir beranjak malam menuju malam jumat, aku seperti melihat hantu. Badanku tergetar hebat. Kamu bisa melihatnya dengan jelas. Aku kehilangan kata-kata. Aku berusaha membangun-bangunkan nalarku. Aku tau itu kesempatan terakhirku bicara denganmu.

Kamu berbicara sangat logis. Aku mencintaimu selama setahun, aku menunggumu selama enam bulan. Dan itu membuatku cukup yakin bahwa aku ingin menunggumu dan aku mau menunggu lebih lama. Namun kamu bicara sangat logis. Kamu mengajakku berpikir. Aku benci saat kamu sudah mulai berkata, "Kamu pintar, kan?". Hatiku langsung mencelus mendengar kata-kata itu. Pernah seorang lelaki yang memilih pergi juga menggunakan kata mirip seperti itu. Menganggapku pintar dan hebat, seakan membuatnya berhak untuk menyakitiku dan aku pasti selalu baik-baik saja. Aku benci dianggap sebagai wanita kuat yang tidak mungkin melakukan hal bodoh dengan menyia-nyiakan waktunya untuk menangis berbulan-bulan.

Sayangnya, sekali lagi, kamu benar. Aku selalu memiliki kapasitas pemulihan yang cukup baik. Aku akan menangis beberapa saat setelah aku tahu kamu tidak akan kembali. Tangis yang sangat pilu tetapi juga kosong. Setelah itu aku dengan terseok-seok, menuju kamar mandi dan berwudhu. Aku memulangkan segalanya ke Tuhan. (Bersyukurlah kamu dicintai wanita naif yang percaya Tuhan). Kemudian, aku makan enak, bertemu teman-teman dan semuanya akan baik-baik saja. (Bersyukurlah lagi kamu dicintai wanita yang doyan makan apa saja dan punya banyak teman). Dan benci itu pasti akan datang dan pergi. Namun, santai saja, sejalan dengan waktu kadar benci itu akan hilang tak berbekas. Bahkan aku hanya akan tersenyum mengingat kebaikanmu, dan tertawa mengingat kebodohanku.

Hari di mana kita bicara, seperti aku bicara kepada Tuhan. Aku merasakan kata-kata meluncur dari bibirmu adalah kata-kata Tuhan. Aku selalu percaya konsep bahwa masing-masing dari kita adalah percikan Tuhan. Dan kamu ada di hadapanku, bicara begitu culas, sedang di detik selanjutnya membuka kelemahanmu yang minta kupahami, itu adalah kata-kata Tuhan yang sedang ingin berdiskusi denganku sejak lama. Aku diminta menerima dan memahami, walau masih saja aku gagal paham sampai detik ini. Aku percaya malam itu Allah bersamaku, mengajakku bicara sekali lagi, maka aku mendengarkanmu tanpa ingin mendebatmu sedikitpun. Kata-katamu menyakitkan, tapi jujur, dan aku menerimanya. Dan Aku berharap ini akan benar-benar menjadi tulisan terakhir tentangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar