Selasa, 13 Desember 2016

Tentang Aleppo

Hari ini saya mengambil libur sehari setelah menyelenggarakan acara pelatihan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Semalam, sebelum tidur, saya membuka media sosial, facebook. Seperti biasa saya melakukan scrolling ke bawah hingga mata saya tertuju pada berita-berita mengenai kejadian di Aleppo. Sudah beberapa hari sebenarnya berita soal pengeboman di Aleppo menghiasi beranda sosial media dan beberapa headline berita di tivi dan koran. Saya beberapa hari kemarin tidak memiliki banyak waktu untuk membacanya. Baru semalam, ketika badan saya seharusnya merebah, saya menonton semua video-video yang dibuat oleh warga Aleppo sebagai pesan terakhir mereka kepada dunia. Saya terenyuh, saya marah, saya merasa bersalah. Hanya saja saya tidak bisa menerimanya begitu saja, bagaimana bisa kota dengan warga yang maju mengenal teknologi dan bisa berteriak pada dunia mengalami penjajahan seperti itu? Penjajahan? Penjajahan di pikiran saya adalah tentang si lemah, tertinggal, dan terbelakang ditindas oleh si kuat. Kekuatan yang tidak seimbang adalah sebuah kunci terjadinya penjajahan. Maka apa yang terjadi di Aleppo? Saya rasa bukan penjajahan, tapi perang, oleh dua kekuatan yang sama kuat, dan sekali lagi masyarakat sipil terbunuh sia-sia.

Saya mulai mencari beberapa sumber bacaan mengenai Aleppo. Beberapa media besar membicarakannya. Saya tahu ini tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya sama sekali. Namun, entah altruisme atau ego saya yang tidak mau disebut sebagai manusia yang ignorant mulai mencoba membaca sejarah mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Aleppo. Saya berharap pengetahuan saya nantinya tidak hanya menjadi sebuah bekal untuk saya bisa berkomentar ketika ada yang memposting mengenai Aleppo. Atau hanya berujung kepada rasa kasihan maupun kepedulian yang dimanifestasikan dengan membicarakannya berulang-ulang atau mempostingnya berkali-kali. Saya tahu saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya ingin sekali bertanya kepada mereka yang memposting berita-berita tentang Aleppo, lalu apa yang dapat kita lakukan? Apakah kita bisa menyelamatkan satu atau dua orang untuk tidak terbunuh malam ini di Aleppo? Apa kita perlu mendesak negara kita untuk mengecam keras pemerintahan syiria untuk melindungi warganya? Atau kita meminta kepada presiden kita untuk menerima beberapa pengungsi di Indonesia? Sedang Indonesia sendiri masih berjibaku dengan subsitensi pangan dan bencana yang tak ada habisnya. Lalu, kemana kepedulian dan rasa empati ini harus saya wujudkan? Apa cukup dengan mengunggahnya di media sosial?

Warga Aleppo, mungkin tidak benar-benar meminta tolong. Mereka paham dunia sedang sibuk dengan hidupnya masing-masing, dan mereka pada akhirnya memang harus mati. Harga mahal tentang sebuah nyawa untuk sebuah awareness, sebuah kesadaran. Ya sebuah kesadaran bahwa kita hidup begitu nyaman di bagian dunia yang sedang tidak berperang. Kita yang masih bisa makan enak dan tidur enak walau mulut kita mengumpati para pemimpin di negara ini dan membenci tetangga-tetangga kita sendiri karena agama atau pandangan politik yang berbeda.

Saya ingin tidur tenang hari ini. Namun, postingan yang menyebutkan bahwa kita semua berdosa karena kita diam ketima warga Aleppo terbunuh, membuat saya gelisah. Saya tidak tahu harus bagaimana, terutama ketika saya tidak tahu betul apa yang terjadi di sana, terutama ketika saya tidak punya kapasitas untuk membantu mereka, terutama saya sering berbusa-busa bicara tentang humanitarian act. Detik ini sekali lagi saya hanya meminta maaf kepada Tuhan. Melabuhkan apa-apa di luar kuasa kita kepada Tuhan memang selalu menjadi pilihan yang enak. Walaupun saya tahu, setelah hari ini saya tidak akan semudah itu tidak memikirkan tentang apa yang terjadi di Aleppo. Mengetahui sesuatu adalah kutukan yang seringkali membawa kita kepada pusaran takdir untuk berbuat sesuatu. Mungkin tidak hari ini dengan tubuh saya yang sedang lemah. Saya pikir ini firasat, bahwa walaupun saya ingin lari sekencang apapun menghinsari issue tertentu, saya akan tetap dihempaskan kesana juga untuk mewujudkan kegelisahan pikiran saya. Namun juga, mungkin saya hanya Ge-er. Ya mungkin Aleppo atau orang menderita di belahan dunia manapun tidak butuh saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar