Senin, 07 November 2016

Menjadi Ibu

Malam ini aku tidur bersama istri sahabatku. Lebih tepatnya aku tidur, sedang istri sahabatku masih terjaga. Karena bayinya yang berusia 7 bulan masih belum juga tidur, masih menyusu.Istri sahabatku seusia aku, tubuhnya sedikit lebih kecil dariku. Dia wanita yang sangat sederhana, kalem tapi juga tegas. Aku tiba-tiba membandingkannya dengan diriku. Aku tidak tahu mengapa di usia 26 tahun aku masih saja membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Atau malah seingatku, kecenderungan itu meningkat di usia ini. Aku bertanya pada diriku sendiri, Siapkah aku menjadi ibu? Apakah aku harus menjadi ibu? Apakah aku mampu menjadi seorang ibu? Apakah aku layak menjadi seorang ibu? Apakah pernikahan yang aku damba dengan seseorang ini adalah konsep yang dilengkapi keharuskan menjadi seorang ibu? Geez. i hate to realize that i'm getting too complicated.

Aku akan mencoba mengurai satu persatu, karena jika tidak, mungkin pada akhirnya aku tidak bisa tidur malam ini. Aku belum punya bayi seperti istri sahabatku, fase yang sehat adalah aku tidur saat ini. Tanggungjawabku belum mengharuskan aku begadang hingga pagi, jika aku begadang artinya bisa berujung pada hal kontraproduktif dalam bentuk gelisah tak berujung, tak berdasar, dan aku sudah lelah untuk itu.

Aku jatuh cinta kepada seseorang, aku pernah menganut konsep bahwa cinta sebaik-baiknya adalah diwujudkan melalui pernikahan. Cinta disini adalah cinta seorang manusia kepada manusia lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari nafsu. Maka cinta yang kupunya adalah perasaan menggebu-gebu, rindu, ingin bicara dengannya setiap hari, dan tentu saja kelon walaupun konsep yang kumiliki sedikit lebih naif. Kelon yang diawali atau diakhiri dengan pillow talk. Maka jika aku jatuh cinta, dan lalu karena ingin bersamanya membuatku berpikir harus menikahinya, lalu kelon, lalu membuatku harus memiliki anak, maka aku harus menjadi ibu. Tidak harus memang, jika aku dan suamiku cukup berani untuk tidak memiliki anak jika kami belum siap atau memang belum ingin. But hey, suddenly now, at this age, i want baby more than a man or spouse!

Ya, saya ingin bayi, saya ingin punya anak dan ternyata saya memang wanita biasa pada umumnya. Bayi itu lucu. Best remedy, mood booster, tombol pause untuk harimu yang sibuk, bahkan sebuah pain killer. Pernyataan bahwa mereka adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan ke bumi adalah benar. Aku memiliki empat keponakan perempuan dan kesemuanya mampu membuat rumahku lebih berwarna. Bahkan bapakku yang berwatak keras menjadi sangat cair dan jarang berteriak-teriak menyebalkan untuk melampiaskan kemarahannya atau kekecewaannya lagi atas hari yang buruk yang ia miliki. Sekeras apapun seseorang, jika dia tidak memiliki gangguan psikologis, dia akan mudah sekali jatuh cinta kepada bayi. Walaupun ada memang seseorang karena merasa tidak mampu dan tidak ingin hidupnya terganggu dengan adanya bayi, mereka memilih mengesampingkan perihal soal memiliki anak. Aku sejauh ini yakin bahwa aku ingin memiliki anak, dan oleh sebab itu berarti Aku ingin menjadi seorang ibu.Lalu, Aku juga menyadari bahwa kehadiran anak ini tidak serta merta membawa keindahan saja, tapi juga kesulitan yang menyertainya sebagai konsekuensinya. Dan walaupun semua itu worthed dengan kebahagiaan yang dibawanya, tetap saja aku tidak mau naif untuk tidak menganggap kesulitan tersebut akan sangat menguras tenaga dan pikiran. Bahkan bisa saja membuatku stress atau depresi jika aku tidak mulai mempersiapkan gaya hidupku untuk kesana. Karena hari ini hidupku sangat spontan dan seringkali tidak terencana dengan baik.

Apa aku sudah terlihat sangat khawatir atas sesuatu yang tidak berdasar dan belum terjadi? Sebentar aku harus menyelesaikan ini. Anggap saja aku sedang bicara kepada aku di masa depan. Bahwa it's okay ketika hari ini aku sangat mengingini menjadi ibu, dan aku khawatir aku tidak layak menjadi ibu dan ternyata ketika hari itu datang aku benar-benar merasa tidak layak serta tidak becus menjadi ibu. It's okay, hari itu akan datang, dan aku harus menyadari ketika Tuhan sudah menitipkan itu, artinya Tuhan percaya bahwa aku mampu, bahwa ketidaksempurnaanku masih berada dalam perhitungan Tuhan akan kapasitasku.

Lalu bicara karir atau kesempatan untuk bekerja dan tantangannya menjadi seorang ibu. Lelaki yang kucintai sempat tertawa ketika aku mengatakan aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga dan menemani keempat anakku tumbuh dewasa. Dia berkata, orang sepertiku membutuhkan wadah lain selain menjadi ibu rumah tangga, karena jika tidak aku bisa meledak. Mendengar pernyataannya kemudian aku mulai menambahkan atau mengoreksi konsep ibu rumah tangga yang kumaksud, ibu rumah tangga yang memiliki usaha, yang berperan tidak hanya pada pendidikan anak di rumah, lalu aku menambahkan lagi, namun juga pada pembangunan masyarakat di sekitar, yang masih bisa beraktifitas dengan teman-temanku dalam kegiatan sosial dan hobi, yang masih bisa ngaji dan diskusi, dan lagi dan lagi dan lagi. Lelaki yang kuncintai benar, aku tidak terlalu yakin aku ingin menjadi ibu saja saat ini. Lelaki yang kuncintai benar, apakah semua mimpiku harus kulabuhkan melalui konsep pernikahan dan menjadi ibu? Lelaki yang kucintai benar, aku terlalu banyak mau dan rumit. Dan wanita di sebelahku saat ini, istri temanku, mungkin sedang begadang dalam pikirannya yang rumit, tetapi dia bisa tampak sangat sederhana. Dan itu intinya, aku sadar dan sangat sadar, bahwa Aku belum mampu menunggangi pikiranku sendiri. Lalu siapkah aku menjadi ibu? Bahkan levelku masih sangat jauhhhh di bawah itu, aku merengek karena lelaki yang kucintai memilih beranjak. Apa sebuah rumah tangga bisa dimulai dengan wanita yang berkapasitas seperti itu? Apakah seorang yang sering menangis seperti bayi mampu memiliki bayi dan siap terjaga tiap malam karenanya.

Dan kemudian sebenarnya, inti dari kegelisahan ini, aku ingin bicara pada diriku sendiri hari ini, yang patah hati karena lelaki yang sangat kucintai memilih berpamitan. Aku menjadi sangat insecure sebenarnya. Namun kemudian aku mencoba mencari penenang, mungkin hari ini aku memang belum siap untuk itu. Aku ingin menikah dan memiliki anak, seperti orang-orang pada umumnya, tetapi yang aku lakukan bukan kesana. Aku mengambil pekerjaan yang memiliki kesibukan agak sinting, aku memilih pekerjaan yang mengharuskanku banyak membaca dan bepergian, aku masih senang menghabiskan uangku untuk berkumpul dengan teman-temanku, membeli buku dan melakukan hobiku. Aku, walaupun aku sering ngobrol banyak soal parenting, belum mempersiapkan skill untuk menjadi ibu sama sekali. Time schedule ku berantakan, aku tidak tertib dan jarang merapikan kamarku. Namun, entahlah, aku semakin kehilangan arah untuk menjadi ibu. Aku hanya merasa ibuku sangat hebat, dan lalu melihat wanita-wanita sekitarku ini sedang menuju kesana, ke arah ibuku yang hebat, sedang aku belum menuju kesana. Dan lalu karena aku merasa lemah, sedang keinginanku terlalu kuat, aku berpikir bahwa salah satu caranya adalah menemukan partner yang tepat untuk memulai sebuah keluarga. Dan aku mulai meracau soal itu di depan lelaki yang kucintai, hingga dia jengah, karena ternyata dia belum siap juga soal itu, dia jengah dan pergi, aku mungkin jadi tidak asik dan terlalu rumit baginya. Atau mungkin dia menemukan wanita lain yang lebih sederhana yang mampu menyederhanakan konsep rumah tangga dan keluarga menjadi sesuatu logis dan terukur. Jika iya, sudahlah saya ikhlaskan saja.

Namun aku masih percaya, suatu saat ada seorang lelaki yang mampu membuatku jatuh cinta dan bertanya, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku masih percaya aku akan diberi kesempatan untuk menjadi ibu dan seorang sahabat untuk suamiku, aku masih percaya karena aku selalu berdoa untuk itu. Semoga aku menjadi lebih sederhana sejalan usiaku bertambah. Sejujurnya aku sudah mulai lelah dibilang rumit. Aku hanya ingin menjadi seorang ibu yang baik seperti wanita pada umumnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar