Sabtu, 17 Desember 2016

Kepo

Begini saya mau cerita. Ini agak bego sih. hahahahaha saya mau ketawa dulu. Jadi saya dua minggu terakhir ini sedang kepo bangetttt sama seseorang. Orangnya sangat menarik. Saya bertemu dengannya di pelatihan monitoring evaluasi di awal bulan kemarin. Saya merasa dia flirting ke saya. Anggaplah saya ge-er. Harap maklum, karena periode lamanya kejombloan juga berbanding lurus dengan tingkat kebaperan dan kege-eran. Menn! Tapi dia bener-bener flirting bahkan sampe dia berani berbisik ke telinga saya, "Jangan baper!". Sialan Bapak dosen muda satu ini! Dia paham betul dia menarik, dan dia masuk di sesi scoping-ku sejak awal, sejak hari pertama pelatihan. Saya tidak mau begitu saja tunduk kepada main mata dan segala kegenitannya huaahahhaah maka saya berusaha dengan sangat mengimbanginya di forum. Bahkan kalau bisa mengalahkannya! Gak penting sih sebenarnya. haha tapi pelatihan itu menjadi sangat menarik buat saya, empat hari, saya tidak ngantuk sama sekali, ilmu terserap dengan baik, dann tiba akhirnya kami harus berpisah. Sedih :(

Saya berhasil mengalahkannya beberapa kali di forum. Walaupun beberapa kali saya juga merasa bodoh karena agak ngeyel. No, saya tidak ngeyel. Saya mengolah level saya untuk bertanya hal-hal yang substansif. Namun dia, beberapa kali juga seakan bilang, "Ayolah, kamu tahu maksudku dan aku tahu kamu hanya ingin menantangku di forum diskusi."

Dia adalah dosen muda yang menarik, di pelosok negeri ini. Cukup cerdas dan saya merasa dia bisa mengimbangi saya dalam beberapa topik disksusi. Bahkan ketika, orang lain bicara mulai melebar kemana-mana dan tidak subsntansif, we're like looking each other and rolling our eyes, like "Omg what are they talking about actually!", dan dari round table kami yang berjarak 3 meter kami saling tertawa. I mean like we have inner circle. Lol, i know maybe i was delusional, and I'm still delusional now.

Setelah pelatihan itu selesai, euforianya tak kunjung padam. Maka saya, karena gengsi yang tinggi, hanya mampu mencari tahu segala tentangnya lewat facebook. Yes i know, im that desperate, maklum jomblohhh! hahahaha

Namun, pencarian saya yang dua minggu lebih itu tak membuahkan hasil. Saya sudah mulai tanya ke beberapa orang tentang dia. Ada kabar simpang siur, bahwa dia sudah menikah, tetapi kata orang lain belum, lalu katanya dia hanya punya calon istri, tapi katanya juga belum. Menyebalkan juga ini punya baseline survey yang kredibilitas dan tingkat validitasnya masih simpang siur. Heuh. Useless.

Namun, betapa hebatnya kekepoanku hingga mendapati beberapa informasi tentang kampus dia kuliah s1 dan s2, tempat dia mengajar, himpunan mahasiswa yang dia ikuti semasa kuliah, asal daerahnya, hingga foto-foto dia semasa mengikuti himpunan mahasiswa itu. Bagaimana dengan akun facebooknya? Nihil! Foto kegiatan dia, hingga sekarang banyak terpampang di beberapa akun facebook orang lain, tetapi tak ada satupun dari akun itu yang menyebut atau menandai namanya. Sehingga tetap saja saya tak bisa menemukannya. Mungkin dia pernah memiliki akun facebook. Mengapa? Karena dia pernah aktif dan foto dia banyak terpampang ketia dia menjadi ketua himpunan mahasiswa di kampusnya. Namun, mungkin kini dia memilih menyepi, menepi. Dia juga pernah mengampu mata kuliah pengembangan media, menarik sekali. Dosen ilmu kesehatan masyarakat membicarakan pengembangan media. Penasaran sekali saya untuk bicara lebih banyak dengannya. Karena kemarin di pelatihan setiap dia dekat dengan saya, saya hampir tak bisa menguasai diri. Malu, deg-degan gak karuan huahahaha

Sudah begitu saja cerita saya. Doakan saya masih bisa berkesempatan berjumpa dengannya sekali lagi. Kalau tidak ada kesempatan bertemu lagi yasudahlah. Perjumpaan kan memang seperti buku bagus. Memang kadang di halaman terakhir kita eman sekali untuk menutup buku itu. Namun, kalau sudah selesai ya memang seharusnya ditutup. Back to the real world, selesaikan apa yang harus diselesaikan sampai bertemu buku bagus lainnya. Fighting!

Moral value:
1. Wanita kalau kepo, kecanggihan, keakuratan, dan validitas datanya bisa mengalahkan intelijen. Hahaha
2. Jangan gampang baper mblo, jaga hati, takutnya sudah punya anak bojo masnya.
3. Jangan gampang gumun, mungkin nanti setelah ngobrol lebih dalam ternyata dia biasa aja
4. Tidak semua orang berpikir bahwa hidupnya harus dibagi secara murah meriah di sosial media.
5. Orang jawa timur ada yang masih menarik
6. Terlebih dia merantau di balik gunung di seberang pulau dan mengajar, tetapi masih bisa berdebat dan berdiskusi cukup sengit denganku. Seksih!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar