Aih sudah lama tidak bersajak. Aku rindu. Dalam rebahku yang mengayun-ayun, ini adalah usahaku mencipta lagi sajak. Hidup memang tentang usaha untuk tidak kehilangan konteks dan rasa. Hingga seorang teman pernah berulang-ulang kali berkata padaku mengutip sebuah lagu, bahwa dia memilih patah hati daripada tidak merasakan apapun. Hampir sama sebenarnya dengan pilihan pertahanan hidup yang aku jalani, merayakan segala perjumpaan walaupun sadar nanti pasti kita akan kehilangan.
Jika menggunakan bahasa indikator, sebenarnya berkurangnya kemampuanku untuk bersajak merupakan salah satu indikator bahwa aku mulai tidak banyak menggunakan rasa. Ah tapi masa sih? Atau sebenarnya aku sudah berhasil mengolahnya dan meletakkannya di sudut hariku lalu baru aku tengok setelah semuanya agak selo. Aku khawatir sebenarnya ketika menyadari diri sudah mulai lumpuh dalam mengolah sajak. Aku khawatir tidak ada sesuatu lagi yang bisa memancing, memantik atau menggelorakan rasaku dalam waktu yang cukup signifikan untuk menghentikan kesibukanku, sejenak dan membuatku rela menyisihkan waktu untuk bermanis-manis dalam kata. Aih aku nulis apa sih? Haha
Aku tadi awalnya mau menulis sesuatu tentang perjumpaan menarik dengan seseorang yang menarik yang sayangnya hanya sejenak. Hidupku akhir-akhir ini penuh keterlemparan. Atau sering kusebut dengan i live for today too much, yes way tooo muccch! Namun, jika dibilang bahwa keterlemparanku membuat diriku kosong tidak juga sih, keterlemparanku ini malah membuatku merasa pejal. Bayangkan jika empat hari kamu tidak sengaja bertemu orang yang menarik dan menikmatinya, lalu belum sempat euforia itu habis kamu harus bertemu dengan orang baru lagi yang mungkin juga sangat menarik, di situlah kupikir rangkaian-rangkaian euforia yang tak terputus dan membuat hidupmu mampat dan pejal.
Aku jadi berpikir, bahwa banyak sekali orang berjalan jauh, traveling, hijrah agar bisa bertemu orang-orang baru. Betapa banyak orang takut untuk tinggal karena tidak siap dengan sebuah kemapanan sistem. Namun, aku mendadak bersyukur dengan tidak perlu kemana-mana hidupku banyak dipertemukan dengan orang-orang baru yang menyenangkan silih berganti.
Begitulah, aku sekali lagi meminta maaf pada aku di masa depan karena masih membiarkan hidupku bak bola bekel yang terlempar kesana-kemari. Aku paham bahwa harus ada hari aku menurunkan frekuensi lentinganku yang kemana-mana itu. Namun, tanpa aku sadari, aku memiliki proyeksi harus ada seseorang yang menjadi tombol pause atas keterlemparanku. Ah entahlah, mungkin aku saja yang terlalu pemalas untuk memanajemen diriku sendiri. Sehingga setiap bertemu orang baru, dalam tarianku yang lincah, aku berharap dia menarik tanganku dan memelukku, lalu berbisik, berhentilah di sini denganku. Aku menunggu seseorang seperti itu sebelum aku benar-benar tak bisa dihentikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar