Wiken harus kerja? How it feels? Beberapa kali saya mengalami ini. Sudah mulai terbiasa walaupun kadang masih dongkol. Namun mau bagaimana lagi, logika program seperti itu memang. Tiada waktu untuk tidak mengoptimalkan capaian, revisi, evaluasi dan rencana tindak lanjut. Apalagi petinggi-petinggi yang sibuknya super seperti tak punya udel itu seringkali hanya bisa diajak ngobrol A to Z cuma di hari minggu. How it feels? Sucks! Sucks at the very first time, karena saya jadi tidak bisa mengunjungi teman-teman terdekat saya di Jogja. Padahal dulu tujuan saya mencari pekerjaan di jogja agar bisa main ke rumah mereka, bercanda riang di akhir pekan sambil ngeteh. Namun, sekali lagi saya sudah terbiasa.
Saya terkesan mengeluh? Iya saya mengeluh. Namun, sungguh saya sangat mencintai pekerjaan saya. Saya mengeluh hanya pas berangkat kerja saja. Namun, ketika saya ada di lokasi tempat rapat, workshop dan kantor sesungguhnya saya langsung tune in. Jabanin dah walau otak ngepul, karena saya merasa mendapat banyak sekali ilmu. Ukuran kesuksesan saya dalam bekerja dan menjalani hidup adalah masih bisa dikelilingi banyak orang yang bisa membuat saya mindgasm dan tertawa lepas. Ohya satu lagi, makan kenyang. Alhamdulillahh, i've got it all.
Sorry intronya agak kepanjangan.
Nah, wiken ini saya sekali lagi harus bekerja hingga larut. Dan di tengah proses bekerja saya, dari kemarin, Yudhis, bapaknya si Embun mengirim foto-foto embun. Bapaknya embun yang super kemlathak ini selalu saja mengiming-imingi saya foto embun. Beberapa kali di hari sabtu dan minggu, embun tersenyum sangat menggoda seakan minta dicium dan diampiri. Bahkan sering kali saya mikir, Yudhis mengirim foto embun dengan bertujuan agar saya tidak lali mbojo. Duh embun iya onti mau punya anak kayak kamuuu. Iya onti bakal segera bikin teman buatmu lol
Di tengah otak ngepul dan diskusi pelik, embun sering kali menyegarkan hari saya, mata dan otak saya menjadi seketika bersemangat. Dia segar sekali seperti namanya. Bapaknya benar-benar sudah berhasil mewujudkan nama yang sangat sesuai dengan embun secara harafiah. Embun segar dan membuat banyak orang bahagia. Embun cerah dan segar, dia memantulkan segala kebaikan yang ada di sekitarnya. Embun, dikelilingi orang-orang baik dan keluarga yang baik.
Saya seringkali bersyukur, walau saya jauh dari keluarga inti saya, saya diberi penghiburan oleh Allah dengan teman-teman yang memperlakukan saya seperti adik, seperti kakak, seperti saudara perempuan kandung. Saya seringkali ge-er, betapa Allah tidak pernah membiarkan saya sendiri. Betapa Allah sangat mencintai saya dengan mengirimkan segambreng orang-orang penuh kasih sayang ini. Embun adalah manifesto kebahagian dari keluarga yang bahagia. Dia adalah doa dan harapan. Dia adalah parameter keberhasilan sejati. Saya rela deh dicengin dihina dikritik pedas oleh bapaknya untuk bisa menuju keluarga yang bahagia yang dimiliki oleh Yudhis dan Monic. They are my favourite couple and Embun is my favourite baby!
Saya sangat bangga dan menjadi ikut memiliki si embun. Saya hadir di tengah-tengah Monic dan Yudhis ketika mereka menikah, ketika Monic hamil dan Yudhis harus bepergian mencari sesuap apa itulah namanya, ketika Embun lahir. Saya merasakan proses mereka berjalan sangat baik. Walaupun saya tahu pasti mereka punya juga problem yang mereka redam berdua di kontrakannya yang sederhana itu. Saya akan selalu mengulang dan menceritakan banyak hal menyenangkan yang saya lewati bersama mereka kepada teman-teman saya lainnya.
Embun, Monic dan Yudhis, akan selalu menjadi salah satu pilihan terbaik saya untuk meredakan syaraf otak yang tegang, untuk menghapus sedih dan kalut saya, untuk menurunkan ego saya yang melangit, untuk memberi pandangan-pandangan yang sederhana. Saya tidak tahu kebaikan apa yang pernah saya lakukan hingga Allah memberikan saya kesempatan untuk bertemu dengan keluarga sebaik mereka di waktu-waktu terberat saya. Terimakasih, terimakasih, terimakasih keluarga Embun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar