Untuk kamu yang berpanas-panas di lapangan menggunakan baju, celana dan sepatu lapangan. Ini memang tentang preferensi pribadiku. Dua tahun lalu kita bertemu. Aku datang untuk berkenalan denganmu, untuk meneliti, untuk tugas akhirku yang tak kunjung selesai. Aku datang bersama pacarku, yang kemudian tidak pernah rela melepaskanku untuk berangkat ke lapangan bersamamu. Dia tahu kamu menarik di mataku. Ya, dengan mudah Aku terperangah mendapati ilmu-ilmu alam yang kamu ceritakan padaku. Tanda alam yang terlihat eksklusif dipahami oleh peneliti ilmu alam menjadi sangat sederhana ketika kamu yang menjelaskan. Aku seketika minder dengan penelitianku sendiri karena penelitianmu jauh lebih lengkap, sebut saja comprehensive. Namun, kamu meyakinkanku, bahwa kehadiranku dengan penelitianku juga tidak kalah pentingnya, sebagai sebuah usaha connecting the dots. Kamu bilang, biar sejarah yang menilai.
Kamu sangat berhak sombong dan berkata sesukamu, seperti teman-temanmu di ilmu alam itu menertawakan ilmuwan sosial yang tidak juga paham aturan, tanda, maupun siklus alam. Namun kamu sangat terbuka, bicara dengan luwes, tidak menghakimi, tidak sok tahu. Setelahnya tanpa sadar, preferensiku terhadap lelaki adalah seorang peneliti dan mereka yang mau bersusah-susah, berbasah-basah, berbecek-becek, dan tentu saja berpanas ria di lapangan. Itu terlihat seksi, seksi sekalih.
Aku tidak sadar telah melewatkan banyak waktu bersamamu. Tanpa sadar juga, aku menghitung mundur waktumu mengambil data. Aku harus selesai lebih dulu supaya aku tidak kehilangan semangat untuk menyelesaikan tugas akhirku. Namun, di antara waktu yang sangat menyenangkan itu, aku jatuh cinta kepada lelaki lain. Dan aku mulai meracau apapun tentang lelaki itu kepadamu. Ah betapa tidak menariknya aku di depanmu. Aku yakin. Peneliti sepertimu harus menghadapi cerita drama percintaanku dengan dua lelaki yang berbeda, belum paripurna dramaku dengan mantan pacarku, dan sekarang ada lelaki lain. Namun kamu, tetap melayani curhat tengah malamku dan mengarahkanku untuk menyelesaikan tugas akhirku. Kamu, yang tak kuanggap lebih berarti dari lelaki yang kucintai itu. Kamu yang sekarang sudah jauh.
Kamu yang kurindukan saat ini. Semoga kamu sehat selalu. Dan apapun yang kamu hadapi di lapangan dapat memberimu wawasan lebih, dan tanganmu mampu membuka mata dunia tentang ilmu alam. Sehingga kami akan terus berusaha merawat dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Kamu, yang mendampingiku menerima fakta-fakta yang menghujam prinsip tak berdasarku. Bahwa, setiap orang mampu berbuat baik di tempat terburuk sekalipun jika dia mau. Kamu, si peneliti yang tak bisa dekat dengan perempuan dan salah tingkah setengah mati jika ada perempuan yang memandangmu. Aku tidak tahu, apakah aku masih perempuan di matamu, karena kamu tidak pernah menunjukkan salah tingkah itu di depanku. Kamu membuatku merasa bahwa kita seharusnya sejak lama bertemu, karena kita bicara seperti sedang berdansa. I got a rhythm and i enjoy it much. And i really want to have it all one more time, or maybe forever. I want to discuss almost everything with you like we had it all, like we had a clue.
Kamu sangat berhak sombong dan berkata sesukamu, seperti teman-temanmu di ilmu alam itu menertawakan ilmuwan sosial yang tidak juga paham aturan, tanda, maupun siklus alam. Namun kamu sangat terbuka, bicara dengan luwes, tidak menghakimi, tidak sok tahu. Setelahnya tanpa sadar, preferensiku terhadap lelaki adalah seorang peneliti dan mereka yang mau bersusah-susah, berbasah-basah, berbecek-becek, dan tentu saja berpanas ria di lapangan. Itu terlihat seksi, seksi sekalih.
Aku tidak sadar telah melewatkan banyak waktu bersamamu. Tanpa sadar juga, aku menghitung mundur waktumu mengambil data. Aku harus selesai lebih dulu supaya aku tidak kehilangan semangat untuk menyelesaikan tugas akhirku. Namun, di antara waktu yang sangat menyenangkan itu, aku jatuh cinta kepada lelaki lain. Dan aku mulai meracau apapun tentang lelaki itu kepadamu. Ah betapa tidak menariknya aku di depanmu. Aku yakin. Peneliti sepertimu harus menghadapi cerita drama percintaanku dengan dua lelaki yang berbeda, belum paripurna dramaku dengan mantan pacarku, dan sekarang ada lelaki lain. Namun kamu, tetap melayani curhat tengah malamku dan mengarahkanku untuk menyelesaikan tugas akhirku. Kamu, yang tak kuanggap lebih berarti dari lelaki yang kucintai itu. Kamu yang sekarang sudah jauh.
Kamu yang kurindukan saat ini. Semoga kamu sehat selalu. Dan apapun yang kamu hadapi di lapangan dapat memberimu wawasan lebih, dan tanganmu mampu membuka mata dunia tentang ilmu alam. Sehingga kami akan terus berusaha merawat dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Kamu, yang mendampingiku menerima fakta-fakta yang menghujam prinsip tak berdasarku. Bahwa, setiap orang mampu berbuat baik di tempat terburuk sekalipun jika dia mau. Kamu, si peneliti yang tak bisa dekat dengan perempuan dan salah tingkah setengah mati jika ada perempuan yang memandangmu. Aku tidak tahu, apakah aku masih perempuan di matamu, karena kamu tidak pernah menunjukkan salah tingkah itu di depanku. Kamu membuatku merasa bahwa kita seharusnya sejak lama bertemu, karena kita bicara seperti sedang berdansa. I got a rhythm and i enjoy it much. And i really want to have it all one more time, or maybe forever. I want to discuss almost everything with you like we had it all, like we had a clue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar