Sabtu, 5 november 2016, Boyolali, Rumah Monic.
Pada akhirnya, kamu hanya perlu melihat bagaimana Tuhan menjalankan mekanismenya. Sesuatu yang mungkin sudah dibuatnya jauh sebelum kamu terbentuk, jauh sebelum hatimu bisa merasa dan logikamu bisa menalar.
Sesungguhnya, memang mungkin yang kamu hitung-hitung itu benar adanya. Bahwa jika sesuatu melakukan A maka hasilnya B atau C atau D. Namun sayangnya, kita hanya partikel terkecil, maka seberapa besar sebenarnya yang mampu kita jangkau? Oleh karenanya kamu akan selalu dikejutkan dengan hasil perhitunganmu sendiri yang tidak sesuai kenyataan. Kamu merasa, bahwa kamu telah melakukan sesuatu maka seharusnya adalah sesuatu yang sudah kamu prediksi. Kenyataannya tidak, kamu belum juga mengenal seberapa besar Tuhan itu mampu bermain.
Maka istirahatkan dirimu dari Tadbir, begitu Ibnu Athoilah menitipkan sebuah nasehat yang tak lekang oleh jaman. Kamu memang selayaknya menangis. Karena apa yang tidak lebih menyedihkan pernah merasa tahu dan lalu menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa? Menangislah. Luapkan sakitmu itu. Memang sudah fitrahnya manusia menangisi sebuah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Namun, maafkanlah dirimu. Maafkan bahwa kamu tidak juga mengerti. Dengan memaafkan diri kita masing-masing pada akhirnya kita mampu memaafkan orang lain. Bahwa setiap manusia lainnya memiliki suatu tanda tanya. Bahwa setiap manusia memiliki ketidaktahuan. Dan mereka sangat berhak untuk menentukan cara hidupnya, dengan mengabaikan ketidaktahuan itu atau dengan memenuhi ketidaktahuan itu dengan cara mencari jawabnya.
Setiap orang berhak melanjutkan hidup dan berjuang hidup dengan caranya masing-masing. Begitu juga kamu yang terus saja keras kepala untuk memeluk lukamu, tak mau melepaskannya, karena kamu tahu, sekali kamu mengabaikan luka, kamu bisa lupa rasanya terluka dan hal itu cukup berbahaya. Seseorang yang lupa rasanya terluka bisa saja sangat mudah melukai orang lain. Peluklah lukamu sendiri. Itu keberanian. Apalagi jika kamu mampu untuk tidak membagi luka itu kepada orang lain. Apalagi jika kamu mampu tidak terus memohon dimengerti bahwa kamu sedang terluka.
Halo sayangku, aku sedang bicara kepadamu Febrianti Nur Ajizah. Ini bukan tentang orang lain. Ini tentang dirimu sendiri. Berdamailah dengan kehilangan dan luka, maka kamu akan menjadi manusia yang bisa mencintai siapapun tanpa harus memelas dicintai kembali. Jangan abaikan pertanda dari Nya, ingat dan rasakan bahwa cinta Nya padamu tak pernah kurang. Apakah ada yang lebih indah dari cinta Sang Pemilik cinta?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar