Kamis, 15 Desember 2016

Mual

Aku merasakan sebuah kemualan yang tak bertepi beberapa hari ini. Semua basa-basi dan lakuku terasa menggelikan. Manusia-manusia yang biasanya kuanggap baik menjadi terasa semakin normatif dan bicara sangat aman. Semuanya mengkampanyekan kedamaian tapi di belakang memuntahkan jarak. Perhatian membuatku risih. Mengapa bermanis-manis jika ujungnya hanya mencari panggung untuk menunjukkan kebaikan diri? Aku ingin memanusiakan manusia, aku ingin mendengar setiap cerita indah mereka, tetapi aku sendiri sedang belum penuh menjadi manusia. Sepertinya beberapa hari ke depan, atau beberapa bulan ke depan, aku akan menarik diri dari lingkaran terkecilpun. Aku mulai merasakan kenikmatan menepi, menyepi, menahan lidah untuk berkomentar atas pertanyaan instan yang tidak timbul dari kegelisahan yang dalam. Aku malas menjawab pertanyaan yang hanya muncul di tengah keceriaan hari sebagai pemanis bibir supaya terlihat keren atau peduli. Mungkin, kali ini juga aku sedang menjejalkan kecurigaan di kepala dan penyakit hati di dada. Mungkin juga, aku hanya lelah dan ingin tidur panjang, supaya aku merindu sekali lagi pada manusia. Aku berencana menepi, membaca membaca membaca melukis dan berdoa. Begitu saja sudah. Hidup pasti terus mengalir, dan dunia memang akan selalu baik-baik saja tanpaku. Bekerja seperlunya dan berpikir secukupnya. Aku tidak sedang rindu siapa-siapa. Aku sedang rindu diriku sendiri yang mampu menampung segala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar