Selasa, 20 Desember 2016

Ramai

Aku mengambilnya sedikit dari kerumunan,
mengolahnya mengolahnya mengolahnya,
aku tak suka,
kubuang sedikit ke kerumunan,
membentuknya membentuknya membentuknya,
aku tak nyaman,
ku contek sedikit dari keramaian,
memelintirnya memelintirnya memelintirnya,
aku mual,
kusisihkan ke kolong tempat tidur,
memikirkannya memikirkannya memikirkannya,
aku gelisah.

Aku ingin memuntahkannya, tak ada tempat.
Di luar terlalu ramai, aku malu.
Di luar terlalu bising, aku ragu.
Kubenturkan ke dinding, dia melenting, menampar mukaku, aku terbanting, merah padam aku dibuatnya.

Seandaianya aku menutup mata, menyumpal telinga, membungkam bibir, menali tangan, mengunci kaki.
Seandaianya tak ada ingin tahu, karena tahu adalah bagian dari nafsu, atau nafsu tercipta dari tahu? Entahlah, malas kali aku berpikir.
Yang kutahu sudah lacur bising itu menelisik di selimut dan bantal tidurku.
Aku akan tidur bersamanya selama-lamanya, kunikahi juga dia, kegelisahan bodoh tentang protes akan mereka yang banyak.

Sepertinya aku harus sekolah lagi, supaya aku bisa terbang tinggi, di bawah sini terlalu berisik. Atau aku harus didekap seseorang, supaya tak khawatir aku tertabrak kanan-kiri. Atau uang yang banyak? Supaya kumakan kenyang lalu tidur saja. Aku bosan terombang-ambing sendiri.

Namun, mereka yang punya semuanya itu, otak, uang, dan seseorang, kenapa masih saja bising dan terombang-ambing? Ah bodoh memang tak terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar