Mungkin aku pernah tidak sengaja maupun sengaja tidak mendengar orang lain bicara. Atau menertawakan selepas dia bicara. Atau engan sengaja membatasi tempat dan waktu seseorang bicara. Aku ingin meminta maaf pada siapapun yang telah kubatasi usahanya untuk menyampaikan pesan kepadaku. Aku tahu kini rasanya, itu sangat tidak enak. Terutama ketika aku bicara menggunakan hati, tapi dipotong begitu saja, tidak didengarkan atau ditertawakan. Aku bisa memilih untuk bungkam pada akhirnya. Karena kupikir cukup sekali, dua kali aku mengatakannya. Aku bicara supaya aku lega. Untukku itu cukup. Jadi ketika tidak didengarkan atau diabaikan, pada akhirnya aku memilih pergi. Namun, aku tahu, ada orang yang bicara dengan mengerahkan segala daya dan upaya hidupnya, ketika pesannya gagal tersampaikan atau diremehkan, dia bisa jatuh-sejatuhnya. Ini bukan mengenai lemah atau tidak, tetapi harga diri memang selalu menuntut untuk diberi ruang. Dan manusia, hidup dengan harga diri.
Aku sadar, aku pernah melakukan pengabaian kepada harga diri seseorang. Memilih untuk tidak mendengar ketika seseorang menyampaikan isi hatinya, entah lelaki yang menyatakan isi hatinya untukku atau beberapa teman yang bercerita tentang isi hatinya kepada orang lain. Aku menganggapnya drama atau sekedar euforia sesaat. Namun, kini aku tahu, rasanya diabaikan. Aku tahu itu tidak enak. Maka aku berjanji, pada diriku sendiri, untuk belajar mendengar lagi dan lagi. Menghargai setiap cerita dan kisah, menampung setiap pengakuan sentuntas-tuntasnya, dan menyatakan sikapku atas itu.
Ah betapa ramainya hidup ini. Semua saling terkait dan bersebab akibat. Hari ini yang kualami pasti tidak lepas dari apa yang pernah kulakukan dulu. Anggap aku percaya karma, namun sebenarnya mungkin Tuhan hanya menggambar pola. Connecting the dots and filling the gaps. Bahwa ada jarak kemengertianku dan ketidakmengertianku yang harus kuiisi dengan sebuah kejadian. Aku sebenarnya lelah mencoba mencari tahu. Aku lelah menertawakan diriku sendiri. Dan sebaiknya aku memang menepi dan menyepi dari pasar malam ini, dari kehidupan yang semarak supaya aku lebih lihai mendengar.
Terimakasih untukmu yang selalu mendengarku. Kamu tahu, senandung rindu ini untukmu. Namun, sebelum kuberharap kamu mendengarnya, aku akan belajar mendengar lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar