Aku pernah berlari menuruni hutan senaru yang lebat karena mendapat banyak cerita dari teman bahwa bermalam di sana itu buruk sekali, lebih buruk dari malam di sembalun. Bukan hanya suara kuntilanak, tapi juga dikerjai penunggu percabangan, paling baik kamu akan berputar mengelilingi satu punggungan ke punggungan lain dan baru akan sampai bawah beberapa hari kemudian dengan logistik habis, fisik dan mental terkuras, paling buruk, mati karena jurang siap menjumpai dalam kelamnya malam.
Yang aku herankan, kami dulu bersembilan dan aku perempuan sendiri, karena ketakutan itu, terutama ada satu pemuda Menggala yang lebih paham buruknya setan lombok, membuat kami memilih berusaha menambah kecepatan hingga memangkas waktu perjalanan hampir setengah waktu normal. Aku dipaksa tunggang langgang mengikuti ritme lari mereka. Sialan. Betapa tidak enaknya naik gunung seperti itu. Padahal, banyak sekali pos yang sangat enak untuk dibukai tenda, bermalam, dan ngopi. Dan kamu tahu, full moon kami lewati begitu saja! Tidak ada romantisme pendakian.
Suara kuntilanak mungkin akan menyapa jika kami memilih berkemah. Namun aku hampir yakin, lari dalam keadaan ketakutan, lelah dan lapar itulah yang membuat banyak orang memilih punggungan yang salah di percabangan. Nyatanya senaru sudah tidak semengerikan itu, malah mungkin kini sudah seperti pasar malam.
Ah kadang, di antara jari yang mengetik, tumpukan kertas, dan layar yang nanar ini, Aku kangen Rinjani, atau beberapa lembah dan punggungan yang gelap lainnya.
Yang aku herankan, kami dulu bersembilan dan aku perempuan sendiri, karena ketakutan itu, terutama ada satu pemuda Menggala yang lebih paham buruknya setan lombok, membuat kami memilih berusaha menambah kecepatan hingga memangkas waktu perjalanan hampir setengah waktu normal. Aku dipaksa tunggang langgang mengikuti ritme lari mereka. Sialan. Betapa tidak enaknya naik gunung seperti itu. Padahal, banyak sekali pos yang sangat enak untuk dibukai tenda, bermalam, dan ngopi. Dan kamu tahu, full moon kami lewati begitu saja! Tidak ada romantisme pendakian.
Suara kuntilanak mungkin akan menyapa jika kami memilih berkemah. Namun aku hampir yakin, lari dalam keadaan ketakutan, lelah dan lapar itulah yang membuat banyak orang memilih punggungan yang salah di percabangan. Nyatanya senaru sudah tidak semengerikan itu, malah mungkin kini sudah seperti pasar malam.
Ah kadang, di antara jari yang mengetik, tumpukan kertas, dan layar yang nanar ini, Aku kangen Rinjani, atau beberapa lembah dan punggungan yang gelap lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar