Senin, 30 Mei 2016

Judging

Pagi ini aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dari sebuah video blog yang diunggah oleh Sacha Stevenson, seorang bule yang tinggal di indonesia dan menikah dengan orang Indonesia. Dalam vblognya dia sering membuat kritik terhadap keseharian orang Indonesia, atau bahkan terhadap masyarakat secara umum. Namun, tidak jarang dia mengakui bahwa ada yang salah dalam dirinya. Bahwa mungkin dia mengalami kegelisahan atau rasa tidak aman atas segala bentuk perhatian yang diberikan oleh lingkungannya ke padanya. It's like saying, "The problem is not there, it's here, it's me." At some points I feel her. Kadang memang orang-orang di sekitar kita memberi banyak perhatian sesuai dengan apa yang mereka anggap benar. Dan benar kata teman saya, sayang sekali mereka melakukannya dengan tulus. Maka untukku, aku akan mencoba menerimanya.

Vblog yang dibuat Sacha kali ini adalah tentang kehamilannya. Dia bercerita bagaimana dia membenci kemahilan dan menganggap itu hal terburuk yang mungkin dialami manusia. Dia mengakui bahwa dia tidak terlalu menginginkan bayinya, bahwa dia tidak suka dengan anak-anak, bahwa dia memutuskan untuk hamil semata-mata karena suaminya menginginkan anak, bahwa dia berusaha menyembunyikan kehamilannya karena tidak suka perhatian mendadak yang diberikan masyarakat ketika seseorang hamil, bahwa dia hanya ingin sendiri.

It's all clear. Sacha sedang bergulat dengan dirinya sendiri. Dia sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dan dia berhasil menjaga bayinya hingga 28 minggu lebih adalah sebuah proses panjang yang aku yakin sangat melelahkan. Dia menghibur dirinya sendiri dengan terus berolahraga dan menjaga bentuk tubuh yang dia cintai. Dia berusaha meyakinkan bahwa pengorbanan tidak membuat seorang lemah, tetapi sebaliknya menjadi lebih kuat. Satu hal yang kutahu, bahwa cinta mampu mengalahkan ketakutan dan kebencian. Sacha memilih hamil karena dia mencintai suaminya.

Sayangnya, komen yang masuk di vblog itu cukup banyak yang menilai pemikiran Sacha sebagai bentuk egoisme. Banyak yang terburu-buru mengatakan bahwa seseorang yang membenci anak-anak tidak akan bisa mencintai anaknya sendiri. Mengatakan bahwa seharusnya seseorang tidak perlu memiliki anak jika dia tidak menginginkannya. Mengatakan bahwa betapa Sacha tidak bersyukur padahal di luar sana banyak yang mendambakan anak. Bahkan ada yang dengan delusional paranoid tingkat tinggi mengatakan bahwa Sacha mungkin akan membunuh anaknya.

People tend to judging. Ini bukan hanya di Indonesia atau negara tertentu, judging atau penghakiman adalah tentang kemauan berpikir dan merasa. Mereka yang buru-buru atau tidak mau sedikit menunda penghakiman atau penilaian adalah mereka yang malas berpikir. Mereka yang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Aku pun beberapa kali merasa pernah menjadi orang seperti itu. Ohya, aku perlu pertegas, setiap kali aku berkata tentang masyarakat, maka saat itu juga aku sedang berkata tentang diriku. Karena aku adalah bagian dan produk dari masyarakat, karena aku juga input dari masyarakat, sikapku tidak terlalu jauh berbeda secara umum. Aku sering sangat kreatif merangkai informasi yang terbatas tentang seseorang atau apapun lalu menjadikannya suatu kesimpulan yang sangat normatif dan menghakimi. Sekarang aku berjanji pada diriku sendiri, aku mempertegas diriku sendiri untuk berkomitmen sedikit menunda penilaian terhadap apapun.

Melihat vblog Sacha pertama kali aku langsung mengernyitkan dahi, sinting kupikir. Seorang wanita seharusnya bla bla bla. Dan aku sendiri juga meginginkan bayi suatu hari nanti. Namun fokusku sekali lagi bergeser, bahwa kenyataannya ada wanita yang benar-benar menderita atas kegelisahannya sendiri ketika menyadari dia sedikit berbeda dengan wanita lainnya. The point is, there's human asking to be understood as human.

Baru saja kemarin aku juga habis membaca mengenai artikel yang ditulis sangat manis dan menyentuh. Artikel tersebut berjudul "Mind your own womb". Kurang lebihnya artikel tersebut membahas bagaimana penilaian masyarakat menciptakan penyakit atau menyakiti banyak wanita hubungannya dalam keputusannya atau keputusasaannya untuk hamil dan melahirkan. I think it's should be enough. Judging is ignorant.

Aku mendapat pelajaran berharga hari ini. Semua hal yang aku jelaskan panjang lebar di atas adalah sebuah contoh saja. Satu kasus yang cukup sensitif dan menjadi sorotan kita bersama, tentang keputusan memiliki anak. Banyak hal lainnya yang tidak kalah besar dan sering menjadi fokus kegelisahan kita. Tentang pekerjaan, tempat tinggal, sekolah, menikah, dll. Aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak mudah menghakimi atau menilai orang lain atas keputusannya, karena aku tidak pernah tau bentuk putus asa seperti apa yang dia lewati sebelumnya. Dan sungguh, ketika dia sudah mampu berada di hadapanmu, dia sudah berhasil melewati suatu level peperangan dalam dirinya. Maka terimalah segala bentuk hadirnya. Tuhan hadir menjelma masing-masing diri kita untuk menampung segala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar