Mendapat
tawaran untuk bergabung dengan tim yang bertanggungjawab mengenai Monitoring
dan Evaluasi adalah hal yang sangat menarik bagi saya. Pertama mendengarnya,
yang terlintas di pikiran saya adalah berhubungan langsung dengan beberapa
kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Ilmu yang diperlukan
sepertinya masih dalam lingkup kompetensi saya, yaitu ilmu ekonomi dan segala
ilmu sosial kontemporer lainnya. Sudah sejak menginjakkan kaki di dunia kampus,
saya aktif di berbagai organisasi, kepanitiaan, penelitian bahkan pendampingan
kelompok masyarakat. Dari pengalaman saya tersebut, saya mengetahui bahwa
banyak program yang direncanakan dan dicanangkan untuk meningkatkan kapasitas
dan kualitas hidup masyarakat di sekitar kita. Laboratorium ilmu sosial memang
semestinya adalah masyarakat di sekitar kita sendiri, dan tidak menutup
kemungkinan untuk terus dikembangkan dan mengambil referensi dari luar
masyarakat kita.
Berbagai
program telah dirancang dan memiliki tujuan yang besar. Pendanaan juga sudah
mulai mudah didapatkan karena telah tumbuh kesadaran kolektif bahwa pembangunan
sudah seharusnya melibatkan berbagai elemen, bukan hanya fisik, namun juga
sosial dan lingkungan. Saya memahami satu hal ketika mendengar istilah Monitoring and Evaluation bahwa segala
bentuk program yang hebat tersebut tidak akan bisa berjalan efektif, efisien,
berdampak besar dan berkesinambungan jika dalam pelaksanaannya asal-asalan dan
tidak ada komitmen untuk serius. Oleh karenanya, dibutuhkan sebuah alat atau
metode dalam melakukan pengawasan dan evaluasi agar program-program tersebut
bisa tercapai tujuan akhirnya. Kalau tidak, semua program yang dirancang akan
membuahkan hasil manis tersebut akan hanya menghabiskan uang saja.
Saya
sempatkan berdiskusi dengan teman-teman saya sepulang dari wawancara kemarin.
Saya nyatanya masih agak gagap dalam mendeskripsikan apa perbedaan Monitoring
dan evaluasi ketika ditanya oleh seorang tim pewawancara. Sepemahaman saya
selama ini, Monitoring adalah pengawasan yang dilakukan terus menerus selama
periode program berjalan. Sedangkan evaluasi dilakukan pada beberapa kali
periode yang telah ditetapkan. Memahami Monitoring dan evaluasi memang tidak
bisa terpisah, karena keduanya memiliki fungsi yang saling terkait dan saling
mendukung dalam pengumpulan informasi mengani pihak yang sedang didampingi.
Kedua hal tersebut wajib dilakukan demi mengurangi kesenjangan antara rencana
awal sebuah program dan kenyataan implementasinya. Satu hal yang utama dari Monitoring
dan evaluasi adalah tercapainya seluruh target program.
Namun,
ada satu hal yang malah memancing pertanyaan di benak saya. Jika sebuah proses
pemantauan (Monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk membantu peningkatan
kapasitas sebuah institusi atau pihak yang didampingi, sepanjang pengalaman
saya mengikuti banyak program, mengapa proses pemantauan dan evaluasi malah
sering kali menjadi seakan musuh? Pihak yang sedang melakukan pengawasan
dianggap sebagai principal yang harus
diakali oleh agen? Sehingga pada
pelaksanannya jika Monitoring dan evaluasi tidak dicari metode yang paling
tepat, ada kecenderungan dari pihak yang dievaluasi untuk menunjukkan
fakta-fakta manis saja. Hal ini sering kali terjadi ketika bicara soal program
bantuan dan dana hibah. Sayang sekali, sehingga pada akhir program, pihak yang
didampingi tidak mendapatkan peningkatan kapasitas yang berarti.
Saya
jadi berpikir, ketika Monitoring dan evaluasi dianggap sebagai sebuah acaman,
Apakah itu terjadi karena perancangan programnya dari awal yang tidak tepat?
Artinya apakah pihak yang didampingi sebenarnya tidak benar-benar menginginkan
dan membutuhkan program tersebut? Atau instrumen Monitoring dan evaluasinya
saja yang membuat pihak yang sedang dievaluasi tidak nyaman? Jika memang begitu,
apakah mungkin instrumen dari Monitoring dan evaluasi seharusnya dirancang
berdasarkan capaian yang benar-benar ingin ditarget oleh si pihak yang sedang
dievaluasi sendiri? Artinya, pihak pelaku evaluasi hanya mengakomodiri capaian
mereka? Namun, sayangnya setelah membaca dan berdiskusi, logika dan Monitoring
dan evaluasi tidak begitu. Logika Monitoring dan evaluasi berbeda dengan
perancangan program. Dalam tataran Monitoring dan evaluasi, program sudah
disepakati bersama seluruh pemangku kepentingan melalui proses rapat yang
panjang. Sehingga Monitoring dan evaluasi adalah sebuah komitmen yang tegas
untuk mencapai hasil tersebut.
Jika
begitu, maka saya melihat hanya ada satu cara dalam menghilangkan perasaan
terancam yang dirasakan oleh pihak yang sedang dievaluasi, yaitu membangun
komunikasi yang baik. Komunikasi memang bisa dibangun melalui serangkaian
mekanisme dan struktur, namun rasa keterikatan hanya bisa dibangun dari
kedekatan kultural. Kedekatan kultural mampu meminimalisir segala jenis kesenjangan
dan kecurigaan yang muncul sepanjang program berjalan. Kedekatan kultural juga
mampu memunculkan banyak informasi yang berhubungan dengan kejadian di masa
lalu. Karena walaupun evaluasi bertujuan jangka panjang, evaluasi yang baik
harus mengikutkan segala bentuk kejadian masa lalu, agar mampu memahami
karakteristik pihak yang akan dievaluasi.
Seorang
teman yang cukup berpengalaman di bidang Monitoring dan evaluasi juga menyarankan saya membaca mengenai RCT
(Randomized Controlled Trial). RCT adalah sebuah eksperimen bagaimana pihak
pemeriksa atau pihak yang melakukan evaluasi menetapkan beberapa kelompok
orang/masyarakat sesuai dengan karakteristik tertentu untuk diberikan suatu
intervensi sosial dan yang kelompok satunya tidak. Hasil intervensi tersebut
hasilnya akan dianalisis dan dibandingkan antar grup tersebut. Hal itu menarik,
saya pikir itu adalah satu cabang ilmu ekonomi dalam mencari treatment sosial
yang paling efektif dan efisien. Saya rasa saya perlu belajar instrumen
tersebut lebih jauh. Namun banyak sekali instrumen penelitian sosial yang
menurut saya tidak bisa dilakukan jika tidak ada kedekatan antara peneliti dan
pihak yang diteliti. Sehingga menurut saya sebelum menjadikan suatu kelompok
hanya sebagai obyek penelitian melalui instrumen penelitian semacam RCT tadi,
seharusnya mereka juga dilibatkan sebagai subyek, yang mampu memberi kita
banyak sekali informasi mengenai apa yang sebenarnya mereka inginkan. Jadi,
untuk mencapai target efisien dan efektif mungkin instrumen semacam RCT adalah
yang terbaik untuk proses Monitoring dan evaluasi. Namun, bagi saya untuk
mencapai Monitoring dan evaluasi yang ideal, yaitu mewujudkan dampak yang
komprehensif dan berkesinambungan hanya bisa dilakukan dengan pendekatan
kultural.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar