Minggu, 15 Mei 2016

Memahami Monitoring dan Evaluasi

Mendapat tawaran untuk bergabung dengan tim yang bertanggungjawab mengenai Monitoring dan Evaluasi adalah hal yang sangat menarik bagi saya. Pertama mendengarnya, yang terlintas di pikiran saya adalah berhubungan langsung dengan beberapa kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Ilmu yang diperlukan sepertinya masih dalam lingkup kompetensi saya, yaitu ilmu ekonomi dan segala ilmu sosial kontemporer lainnya. Sudah sejak menginjakkan kaki di dunia kampus, saya aktif di berbagai organisasi, kepanitiaan, penelitian bahkan pendampingan kelompok masyarakat. Dari pengalaman saya tersebut, saya mengetahui bahwa banyak program yang direncanakan dan dicanangkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup masyarakat di sekitar kita. Laboratorium ilmu sosial memang semestinya adalah masyarakat di sekitar kita sendiri, dan tidak menutup kemungkinan untuk terus dikembangkan dan mengambil referensi dari luar masyarakat kita.

Berbagai program telah dirancang dan memiliki tujuan yang besar. Pendanaan juga sudah mulai mudah didapatkan karena telah tumbuh kesadaran kolektif bahwa pembangunan sudah seharusnya melibatkan berbagai elemen, bukan hanya fisik, namun juga sosial dan lingkungan. Saya memahami satu hal ketika mendengar istilah Monitoring and Evaluation bahwa segala bentuk program yang hebat tersebut tidak akan bisa berjalan efektif, efisien, berdampak besar dan berkesinambungan jika dalam pelaksanaannya asal-asalan dan tidak ada komitmen untuk serius. Oleh karenanya, dibutuhkan sebuah alat atau metode dalam melakukan pengawasan dan evaluasi agar program-program tersebut bisa tercapai tujuan akhirnya. Kalau tidak, semua program yang dirancang akan membuahkan hasil manis tersebut akan hanya menghabiskan uang saja.

Saya sempatkan berdiskusi dengan teman-teman saya sepulang dari wawancara kemarin. Saya nyatanya masih agak gagap dalam mendeskripsikan apa perbedaan Monitoring dan evaluasi ketika ditanya oleh seorang tim pewawancara. Sepemahaman saya selama ini, Monitoring adalah pengawasan yang dilakukan terus menerus selama periode program berjalan. Sedangkan evaluasi dilakukan pada beberapa kali periode yang telah ditetapkan. Memahami Monitoring dan evaluasi memang tidak bisa terpisah, karena keduanya memiliki fungsi yang saling terkait dan saling mendukung dalam pengumpulan informasi mengani pihak yang sedang didampingi. Kedua hal tersebut wajib dilakukan demi mengurangi kesenjangan antara rencana awal sebuah program dan kenyataan implementasinya. Satu hal yang utama dari Monitoring dan evaluasi adalah tercapainya seluruh target program.

Namun, ada satu hal yang malah memancing pertanyaan di benak saya. Jika sebuah proses pemantauan (Monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk membantu peningkatan kapasitas sebuah institusi atau pihak yang didampingi, sepanjang pengalaman saya mengikuti banyak program, mengapa proses pemantauan dan evaluasi malah sering kali menjadi seakan musuh? Pihak yang sedang melakukan pengawasan dianggap sebagai principal yang harus diakali oleh agen? Sehingga pada pelaksanannya jika Monitoring dan evaluasi tidak dicari metode yang paling tepat, ada kecenderungan dari pihak yang dievaluasi untuk menunjukkan fakta-fakta manis saja. Hal ini sering kali terjadi ketika bicara soal program bantuan dan dana hibah. Sayang sekali, sehingga pada akhir program, pihak yang didampingi tidak mendapatkan peningkatan kapasitas yang berarti.

Saya jadi berpikir, ketika Monitoring dan evaluasi dianggap sebagai sebuah acaman, Apakah itu terjadi karena perancangan programnya dari awal yang tidak tepat? Artinya apakah pihak yang didampingi sebenarnya tidak benar-benar menginginkan dan membutuhkan program tersebut? Atau instrumen Monitoring dan evaluasinya saja yang membuat pihak yang sedang dievaluasi tidak nyaman? Jika memang begitu, apakah mungkin instrumen dari Monitoring dan evaluasi seharusnya dirancang berdasarkan capaian yang benar-benar ingin ditarget oleh si pihak yang sedang dievaluasi sendiri? Artinya, pihak pelaku evaluasi hanya mengakomodiri capaian mereka? Namun, sayangnya setelah membaca dan berdiskusi, logika dan Monitoring dan evaluasi tidak begitu. Logika Monitoring dan evaluasi berbeda dengan perancangan program. Dalam tataran Monitoring dan evaluasi, program sudah disepakati bersama seluruh pemangku kepentingan melalui proses rapat yang panjang. Sehingga Monitoring dan evaluasi adalah sebuah komitmen yang tegas untuk mencapai hasil tersebut.

Jika begitu, maka saya melihat hanya ada satu cara dalam menghilangkan perasaan terancam yang dirasakan oleh pihak yang sedang dievaluasi, yaitu membangun komunikasi yang baik. Komunikasi memang bisa dibangun melalui serangkaian mekanisme dan struktur, namun rasa keterikatan hanya bisa dibangun dari kedekatan kultural. Kedekatan kultural mampu meminimalisir segala jenis kesenjangan dan kecurigaan yang muncul sepanjang program berjalan. Kedekatan kultural juga mampu memunculkan banyak informasi yang berhubungan dengan kejadian di masa lalu. Karena walaupun evaluasi bertujuan jangka panjang, evaluasi yang baik harus mengikutkan segala bentuk kejadian masa lalu, agar mampu memahami karakteristik pihak yang akan dievaluasi.


Seorang teman yang cukup berpengalaman di bidang Monitoring dan evaluasi juga  menyarankan saya membaca mengenai RCT (Randomized Controlled Trial). RCT adalah sebuah eksperimen bagaimana pihak pemeriksa atau pihak yang melakukan evaluasi menetapkan beberapa kelompok orang/masyarakat sesuai dengan karakteristik tertentu untuk diberikan suatu intervensi sosial dan yang kelompok satunya tidak. Hasil intervensi tersebut hasilnya akan dianalisis dan dibandingkan antar grup tersebut. Hal itu menarik, saya pikir itu adalah satu cabang ilmu ekonomi dalam mencari treatment sosial yang paling efektif dan efisien. Saya rasa saya perlu belajar instrumen tersebut lebih jauh. Namun banyak sekali instrumen penelitian sosial yang menurut saya tidak bisa dilakukan jika tidak ada kedekatan antara peneliti dan pihak yang diteliti. Sehingga menurut saya sebelum menjadikan suatu kelompok hanya sebagai obyek penelitian melalui instrumen penelitian semacam RCT tadi, seharusnya mereka juga dilibatkan sebagai subyek, yang mampu memberi kita banyak sekali informasi mengenai apa yang sebenarnya mereka inginkan. Jadi, untuk mencapai target efisien dan efektif mungkin instrumen semacam RCT adalah yang terbaik untuk proses Monitoring dan evaluasi. Namun, bagi saya untuk mencapai Monitoring dan evaluasi yang ideal, yaitu mewujudkan dampak yang komprehensif dan berkesinambungan hanya bisa dilakukan dengan pendekatan kultural.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar