Sabtu, 21 Mei 2016

Sujud

Hari ini seorang teman di facebook membagikan sebuah status yang membahas tentang, sekali lagi, tentang jidat hitam karena sujud! WOW! lagi! Status tersebut merupakan pertanyaan atau pernyataan yang sebenarnya bernada becanda (karena ra penting byanget kalau sampai beneran). Pertanyaan atau pernyataannya adalah:

Kenapa perempuan yang rajin solat jidatnya tidak hitam seperti lelaki masa kini..

Saya tidak berniat membahas pertanyaan atau pernyataan itu, karena di mata saya itu hanya becandaan, dan seharusnya bisa direspon dengan becandaan juga. Maaf kalau anda belum-belum sudah membawa dalil bahwa terkutuk hukumnya menjadikan agama sebagai bahan becandaan, Well yes, i joke about my religion many times, because religion sometimes is funny and fun, plus, you just don’t know me.

Sekali lagi, saya tidak masalah dengan pertanyaan atau pernyataan di atas. Beberapa komen di status tersebut banyak yang bernada becanda, tetap tidak masalah bagi saya, walau saya juga tidak terlalu bisa masuk dengan selera humor dalam komen-komen tersebut. I skipped that all day. Namun malam ini ketika iseng membuka facebook lagi, status tersebut masih menjadi highlight beranda saya, dikarenakan banyaknya komen. Dan ternyata banyak sekali komen yang bernada nyinyir, sekali lagi, nyinyir tentang besarnya kemungkinan laki-laki yang jidatnya menghitam itu berniat pamer, sampai ada yang bilang mungkin sengaja dibenturin ke lantai, atau mungkin jidat hitam itu adalah modal untuk mbribik ukhti sholehah pujaan hati, dan sebagainya, dan sebagainya. Semakin kreatif kenyinyiran yang muncul tentang lelaki berjidat hitam, memancing komen-komen yang membela lelaki berjidat hitam. Lalu saudaraku sesama muslim menjadi saling nyinyir dan selalu seperti itu. Sama seperti di banyak kasus dalam usaha untuk beragama islam yang baik dan benar, selalu ada pihak yang disebut ekstrimist dan liberal, sebutan yang serampangan, dengan variabel-variabel simbolik semacam jidat hitam. Hayati lelah, ya Rabb.

Namun sialnya, saya jadi ikutan kepikiran hal yang tidak substansif itu, mengapa jidat lelaki bisa menghitam? Apa lelaki lebih banyak sujud dari wanita? Apa karena memang jidat lelaki lebih menonjol dari wanita? Apa karena wanita lebih merawat kulit dari lelaki? Apa karena wanita memakai sajadah yang lebih bersih dari lelaki? Saya memikirkannya ketika saya bersujud, dan hasilnya sujud saya tidak terasa nikmat seperti sujud di rakaat sebelumnya.

Setelah sholat, saya bersyukur, saya merasa saya diberi jawaban. Saya memang suka ge-er, merasa dikode gitu deh. HAHAHA Well, jawabannya memang pertanyaan-pernyataan di atas benar-benar tidak penting! Allah menjawab pertanyaan saya dengan membawa memori saya kepada teman kuliah saya, wanita sholehah, casual, sholatnya bagus. Dia berjidat hitam, berwajah cerah, bertutur kata asik tapi adem. Lalu saya menyesali, kehilangan satu sujud saya yang harusnya nikmat. Jadi besok lagi, kalau mau membahas jidat hitam, coba fokuskan mengulik pada sujud saja, memang tidak asik sih, tidak bisa dipakai bahan nyinyir.

Anyway, kita sudah sepakat bukan pada prasangka bahwa mereka yang berjidat hitam itu karena kebanyakan sujud? Tentu saja kita hanya bisa bermain prasangka, kecuali dia adalah seseorang yang setiap hari sholat/sujudnya absen ke kita. Jadi kemudian, singkirkan dulu segala jenis prasangka macam-macam atau malah kekaguman macam-macam. Ojo gumunan dan segala derivasinya adalah koentji!

Untuk mereka yang bilang: “Sujud dipanjang-panjangin biar jidatnya hitam, biar dibilang alim”, atau mereka yang bilang: “MasyaAllah, akhi itu jidatnya hitam, pasti sujudnya panjang, dia alim, calon imam idaman.”. Well, Saya bukan orang alim, tapi pertanyaan atau pernyataan seperti itu, hmm, apa ya namanya? norak? ya, norak!

Tidak pernahkah kamu sekali saja merasakan nikmatnya sujud? Jika tidak, ketika kepalamu mumetss tiada tara, tidak pernahkah kamu menjungkelkan kepalamu dan membiarkan darahmu mengalir ke otak? Bukankah itu segar sekali? Atau mungkin mereka tidak pernah mumetss? Gayeng nan!

Jadi jika ada yang mendefinisikan jidat hitam atau orang yang sujud panjang sebagai orang sok alim atau orang alim, seriously, cobalah bersujud. Itu nikmat sekali. Seperti melepas semua beban dan isi kepala, merendahkannya serendah-rendahnya, menyerahkan kepada Sang Maha Pemilik.

Sujud itu seperti ketika kita haus, meminum air putih adalah yang paling nikmat, paling segar, yang akan membuat kita seketika bersyukur masih bisa bertemu air. Walaupun ada banyak cairan lain yang bisa kita minum, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan segarnya air putih. Karena cairan lain yang penuh rasa, meninggalkan rasa haus lainnya. Sujud adalah sebuah penyerahan kegelisahan, karena jika kita menyerahkannya dalam bentuk lain, seperti bercerita ke orang lain, melukis, melakukan perjalanan jauh, bersenang-senang, bahkan menulis, itu semua masih bisa menimbulkan kegelisahan lainnya. Dan sujud adalah kenikmatan yang paling instan dan tuntas. Jadi jika besok saya bertemu dengan orang yang berjidat hitam, saya tahu apa yang dia nikmati dalam sujud panjangnya.

Dan jokes (Saya tak bisa menyebutnya quote), tentang menyebut nama kekasih atau pujaan hati dalam sujud-sujud panjang memang adalah bahan nyinyiran paling empuk bagi mereka yang tidak terlalu tertarik dengan konsep agama kepada mereka para "ahli ibadah". Dan rugi sekali jika dalam sujudnya seseorang tidak benar-benar meletakkan isi kepalanya, tetapi malah mengisi kepalanya dengan keinginan-keinginannya, termasuk pujaan hati. Rugi sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar