Mungkin dalam waktu dekat ini aku belum bisa menuliskan atau melarikan pikiranku dalam tulisan yang lebih lengkap dan enak alurnya. Aku sibuk sekali. Badan dan pikiranku benar-benar harus kugunakan untuk merampungkan instrumen monev dan belajar lebih banyak lagi mengenai logika-logika kebencanaan. Rasanya mengikuti itu semua seperti sedang kuliah lagi, senang dan excited rasanya, tapi aku harus mulai memikirkan bagaimana aku bisa bekerja efisien dan efektif sebelum badanku ambruk. Rasanya seperti sedang menjalani kuliah magister kebencanaan yang harusnya ditempuh 2 tahun dipadatkan menjadi 6 bulan. Walaupun programnya memang 2 tahun, tapi dalam beberapa waktu ke depan aku masih meraba-raba semuanya. Aku yakin setelah menguasai logical frameworknya aku bisa tinggal mengaplikasikannya di setiap progres program dan kegiatan. Well, tapi aku berharap ditatar lebih oleh ibu atasanku yang super keren itu. Aku harus curi ilmunya sebanyak-banyaknya.
Mungkin aku sibuk, tapi aku akan berusaha terus menulis apapun di sini. Bagaimanapun alurnya. Aku ingin melihat diriku hari ini di masa mendatang. Pasti naif sekali, pasti seksi sekali, pasti idealis sekali, pasti menarik sekali, pasti bodoh sekali, pasti kurindukan di saat-saat tertentu. Saat aku merasa terasing dari diriku sendiri mungkin.
Aku bahagia mendapat kesempatan belajar dengan orang-orang hebat. Aku sekali lagi masih bisa berbangga mengatakan bahwa aku bekerja bukan untuk uang. Walaupun aku butuh uag untuk terus hidup. Namun, kenyataannya aku lebih terpuaskan dengan ilmu yang kudapat dari pekerjaanku sekarang. Bencana itu menarik, segala derivasiny bisa diulik dari berbagai hal dan sudut pandang, dan bermanfaat bagi masyarakat. InsyaAllah.
Seorang teman bertanya, apa aku akan berhenti mempelajari speleologi? Aku tersenyum. Kupikir aku tidak akan berhenti. Namun saat ini kapasitasku hanya bisa kualokasikan kepada kerjaan resmiku. Aku masih akan, dan pasti akan terpanggil jika seseorang pelajar, pejuang, penggiat speleologi datang kepadaku untuk minta tolong. Apapun itu. Berani sekali aku mengklaim seperti itu ya? Aku mungkin tidak kaya dan tidak pintar, tapi aku cinta, aku mendeklarasikan kecintaanku pada speleologi, supaya aku berusaha mewujudkan dan membuktikan cintaku itu.
Malam ini adikku di organisasi pecinta alam memintaku bertemu demi membahas skripsinya dalam manajemen sumber daya air. Dia ingin melakukan penelitian di satu gua yang sudah berhasil diangkat airnya. Otak dan fisikku udah terkuras habis seharian, tapi jelas, panggilan adikku ini harus dipenuhi. Mungkin inilah cara Allah membagi-bagi apa isi otakku kepada yang lain. Aku tidak bisa melakukannya semua. Aku memiliki keterbatasan kapasitas sedang mauku banyak sekali. Semoga, ya, semoga, Dia mendatangkan anak-anak muda di sekitarku, yang mampu kubagi isi kegelisahanku.
Aku juga mendapat kabar bagaimana ada sekumpulan anak muda gila dari kampus sebelah yang ingin membuat museum biospel di gua langsung, gua yang sudah rusak yang mereka coba manfaatkan. Mataku membelalak kagum, ingin rasanya berteriak, aku siap bantu! Tapi mengingat mataku hari ini saja sebenarnya sudah berat sekali, jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku masih ingin diskusi, tapi aku tahu aku harus istirahat.
Semoga Allah, semoga Allah meningkatkan kapasitasku. Semoga Allah mendengar aku hanya ingin bermanfaat. Aku tak butuh isi otak yang penuh, aku ingin berguna dan berbakti kepada kehidupan, kepada alam, kepada masyarakat yang lain. Usiaku 26 tahun, waktuku terbatas. Kamu mau tertawa aku bermimpi seperti ini? Wanita usia 26 tahun bermimpi tentang idealisme padahal waktunya terbatas? Kemana saja kemarin? Ya main-main, terlalu banyak main-main trus kenapa? Ketika aku berhenti main-main dan agak telat di dunia akademisi, aku lalu dibatasi usia? Aku menolak dibatasi, tapi aku juga tertawa miris soal batasan ini. Kenyataannya batasan ini memang ada. Namun, aku tentu saja boleh memilih terbatas oleh apa? Kapasitas akan datang sesuai dengan mimpi kita yang tinggi.
Aku masih ingin berguna di speleologi, aku ingin belajar lebih dalam soal kebencanaan, aku ingin dekat sedekat-dekatnya dengan masyarakat (bukan jadi peneliti bayaran brengsek dan sok tahu), aku ingin berkeluarga, aku ingin bisa terus belajar bersama adik-adikku tercinta, menghasilkan penelitian, menghasilkan tulisan, menghasilkan program untuk mereka yang membutuhkan, menghasilkan karya. Aku mau menjadi manusia, bukan mesin pencetak uang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar