Selamat malam, jogja dingin sekali hari ini. Aku langsung teringat berapa bulan kulewatkan begitu saja hingga bulan Juni yang dingin ini kembali menghadang. Aku yang berjanji pada diriku sendiri di hadapanmu untuk menjadi lebih dewasa.
Ah, aku tidak melewatkan begitu saja sederet bulan dengan panas dan hujan yang berganti-ganti menghidupi sang hayat. Aku dan hidupku begitu ramai hingga aku mampu merasa sangat sepi dan damai dalam atraksi manusia-manusia lain. Kamu, adalah yang kudamba memberi sebuah, apa ya, emm semangat?
Sebelum aku meminta untuk didengarkan sekali lagi atau diberi semangat, aku ingin bertanya kabarmu. Namun, kenapa ini tidak semudah dulu lagi? Maka sebaiknya aku tuliskan saja di sini.
Apa kabar kamu? Bagaimana perjalananmu mencari Tuhanmu atau Tuhan untuk kekasihmu? Masihkah kamu mencarinya untuk kekasihmu? Untuk Apa? Aku curiga kamu menjadi penakut, kamu tidak mampu lagi mengatasi pertanyaan sederhana tentang ke mana harus melangkah jika jalan terjal dan kaki mulai lelah. Aku curiga kamu sudah mulai membuat seorang wanita menangis karena kamu memilih bungkam ketika kamu tahu kamu bisa meyakinkannya dengan sedikit kebohongan. Aku curiga kamu mencari Tuhan supaya kamu tahu harus menyarankan kekasihmu kemana jika kekasihmu menangis sedang kamu hanya ingin merokok dan berjalan jauh.
Apakabar kamu? Aku ingin berbicara kepadamu sekali lagi dan mencari tahu apakah kamu masih akan menertawakan pemikiranku yang naif dan terburu-buru. Kamu pernah berkata aku sudah banyak berubah, tetapi aku tahu aku tak akan pernah cukup dewasa menurutmu. Dan oleh karenanya aku sebaiknya tidak perlu mencari seseorang yang berada dalam anganku jika aku tak mampu.
Apakabar kamu? Buku apa yang terakhir kamu baca sehingga sajak-sajak kerdil dan jujur itu dengan mudah kamu biarkan menelanjangimu? Mengapa kamu bisa sangat mendewakan seseorang sedang kamu berhasil meyakinkanku untuk meninggalkan apapun yang menyakitiku? Bukankan mendewakan sesuatu berarti kehilangan kedaulatan diri dan itu berpotensi menyakitimu? Apakah kamu baik-baik saja dan tidak pernah tersakiti?
Apa kabar kamu? Sudah genapkah kisah cintaku yang kamu hitung pada bilangan jarimu dengan tawa meledak seakan berkata aku payah sekali. Aku katakan padamu, seseorang kembali menemuiku untuk memperbaiki hubungan, tetapi kini aku sedang sangat sibuk. Aku ingin menyombongkan kepadamu. Mungkin kamu akan muak mendengar sekali lagi dramaku, mungkin juga kamu akan bangga telah menemaniku sejauh ini.
Apakabar kamu? Aku akan berhenti menceritakan kisah seorang lelaki yang datang dengan membawa setaman bunga dan cerita negeri di atas awan. Dia yang menghilang seperti bau parfum di terik matahari atau tersiram gerimis tanggung yang membuatnya apek. Kamu berkata, jika dia layak, tunggulah. Dia begitu layak, tetapi nyatanya dia membuat jarak. Aku tak ingin mendengar ucapan penghiburan semacam aku berhak lebih dari ini. Karena aku tahu, sekali lagi kamu geleng kepala dengan kebebalanku.
Apakabar kamu, kamu berada dekat denganku tetapi tidak memberi kabar. Aku kecewa. Seperti kecewaku beberapa tahun lalu. Kamu mendadak asing, asing yang begitu dekat, yang tak berani lagi kusapa.
Kamu, dalam sajakmu, adalah gugusan bintang terang yang tak teraih, walau sinarmu terus menyapaku dalam waktu tergelapku. Apa kabar kamu, maukah kapan-kapan kutemani mendaki?
Ah, aku tidak melewatkan begitu saja sederet bulan dengan panas dan hujan yang berganti-ganti menghidupi sang hayat. Aku dan hidupku begitu ramai hingga aku mampu merasa sangat sepi dan damai dalam atraksi manusia-manusia lain. Kamu, adalah yang kudamba memberi sebuah, apa ya, emm semangat?
Sebelum aku meminta untuk didengarkan sekali lagi atau diberi semangat, aku ingin bertanya kabarmu. Namun, kenapa ini tidak semudah dulu lagi? Maka sebaiknya aku tuliskan saja di sini.
Apa kabar kamu? Bagaimana perjalananmu mencari Tuhanmu atau Tuhan untuk kekasihmu? Masihkah kamu mencarinya untuk kekasihmu? Untuk Apa? Aku curiga kamu menjadi penakut, kamu tidak mampu lagi mengatasi pertanyaan sederhana tentang ke mana harus melangkah jika jalan terjal dan kaki mulai lelah. Aku curiga kamu sudah mulai membuat seorang wanita menangis karena kamu memilih bungkam ketika kamu tahu kamu bisa meyakinkannya dengan sedikit kebohongan. Aku curiga kamu mencari Tuhan supaya kamu tahu harus menyarankan kekasihmu kemana jika kekasihmu menangis sedang kamu hanya ingin merokok dan berjalan jauh.
Apakabar kamu? Aku ingin berbicara kepadamu sekali lagi dan mencari tahu apakah kamu masih akan menertawakan pemikiranku yang naif dan terburu-buru. Kamu pernah berkata aku sudah banyak berubah, tetapi aku tahu aku tak akan pernah cukup dewasa menurutmu. Dan oleh karenanya aku sebaiknya tidak perlu mencari seseorang yang berada dalam anganku jika aku tak mampu.
Apakabar kamu? Buku apa yang terakhir kamu baca sehingga sajak-sajak kerdil dan jujur itu dengan mudah kamu biarkan menelanjangimu? Mengapa kamu bisa sangat mendewakan seseorang sedang kamu berhasil meyakinkanku untuk meninggalkan apapun yang menyakitiku? Bukankan mendewakan sesuatu berarti kehilangan kedaulatan diri dan itu berpotensi menyakitimu? Apakah kamu baik-baik saja dan tidak pernah tersakiti?
Apa kabar kamu? Sudah genapkah kisah cintaku yang kamu hitung pada bilangan jarimu dengan tawa meledak seakan berkata aku payah sekali. Aku katakan padamu, seseorang kembali menemuiku untuk memperbaiki hubungan, tetapi kini aku sedang sangat sibuk. Aku ingin menyombongkan kepadamu. Mungkin kamu akan muak mendengar sekali lagi dramaku, mungkin juga kamu akan bangga telah menemaniku sejauh ini.
Apakabar kamu? Aku akan berhenti menceritakan kisah seorang lelaki yang datang dengan membawa setaman bunga dan cerita negeri di atas awan. Dia yang menghilang seperti bau parfum di terik matahari atau tersiram gerimis tanggung yang membuatnya apek. Kamu berkata, jika dia layak, tunggulah. Dia begitu layak, tetapi nyatanya dia membuat jarak. Aku tak ingin mendengar ucapan penghiburan semacam aku berhak lebih dari ini. Karena aku tahu, sekali lagi kamu geleng kepala dengan kebebalanku.
Apakabar kamu, kamu berada dekat denganku tetapi tidak memberi kabar. Aku kecewa. Seperti kecewaku beberapa tahun lalu. Kamu mendadak asing, asing yang begitu dekat, yang tak berani lagi kusapa.
Kamu, dalam sajakmu, adalah gugusan bintang terang yang tak teraih, walau sinarmu terus menyapaku dalam waktu tergelapku. Apa kabar kamu, maukah kapan-kapan kutemani mendaki?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar