Yang paling membuatku iri pada kisah cinta bapak dan ibukku adalah kebiasaan mereka berdua melakukan pillow talks hingga saat ini. Yaitu obrolan-obrolan panjang menjelang tidur tentang apa saja. Sesekali aku mencuri dengar mereka membicarakanku. Bapakku sering tidak percaya dan ragu dengan banyak keputusan dan pilihanku, tapi ibukku selalu berhasil menenangkannya. Aku menerka berapa banyak aku menjadi topik utama dalam pillow talks mereka ketimbang saudara-saudaraku yang lain, yang lebih nurut daripadaku? Sepertinya banyak sekali.
Di saat beberapa pasangan, yang sudah mulai beranjak usia dan mengalami tahun-tahun pernikahan yang sudah sudah usang, memilih untuk tidur di ranjang terpisah, bapak ibukku masih tidur seranjang dan berdiskusi hingga terlelap. Ah aku benar-bnar mendambakan konsep pernikahan atau hubungan yang seperti itu.
Seorang lelaki baru saja bertanya kepadaku hari ini, intinya tentang suami seperti apa yang aku dambakan? Dia bercerita bagaimana wanita-wanita seumuranku sudah memasukkan variabel kemapanan materi dalam syarat utama mencari suami. Aku menjawab, aku ingin seorang suami yang bisa memelukku di malam hari sedang mulutku terus bicara tentang isi pikiranku, aku mendambakan pillow talks. Aku mendambakan lelaki yang mau mendengarku hingga lelapku menjemput. Atau di saat kegelisahanku membuat tubuhku bergetar, dia akan mengusap kepalaku dan berkata semua akan baik-baik saja.
Bayangkan, sebuah diskusi yang jujur tentang hari yang panjang dan kelakuan anak manusia yang bermacam-macam, di dalam dekapan seorang kekasih. Kamu tahu hal seperti itu akan menghasilkan manusia seperti apa? Aku pikir hal sepetti itu akan menghasilkan manusia yang berhati penuh dan luas, seorang yang akan siap dan lebih segar menghadapi apapun keesokan harinya. Karena dia tau, apapun yang akan terjadi hari ini, dia memiliki tempat untuk menumpahkan segalanya. Dia punya tempat tidur dan dada bidang seorang kekasih untuk meringsut hangat.
Ya, aku pikir aku memag benar-benar mendambakan pillow talks. Aku mendambakan cinta dan kekuatan yang menjaga bapak dan ibukku tetap bersama hari ini dalam menghadapi kegila-kegilaanku dan segala macam badai lainnya.
Namun, aku tau ada resiko lain yang kita harus terima, sebuah ketergantungan kepada orang lain. Aku membayangkan, jika salah satu dari mereka pergi, apa yang akan terjadi? Kehilangan separuh jiwa? Tidak ada yang bisa menggantikan posisi? Apa anak-anak akan bisa menemani obrolan-obrolan yang sama? Entahlah. Mungkin memang ada harga mahal atas sebuah kenyamanan, yaitu ketidakamanan yang siap datang kapanpun. Mencintai memang harus siap kehilangan.
Maka hari ini aku harus mampu tidur sendiri dengan pikiranku yang ramai. Tidur senyaman dan sehangat seperti sedang dalam pelukan kekasih.
Aku melankolis banget ya? Biarin.
Di saat beberapa pasangan, yang sudah mulai beranjak usia dan mengalami tahun-tahun pernikahan yang sudah sudah usang, memilih untuk tidur di ranjang terpisah, bapak ibukku masih tidur seranjang dan berdiskusi hingga terlelap. Ah aku benar-bnar mendambakan konsep pernikahan atau hubungan yang seperti itu.
Seorang lelaki baru saja bertanya kepadaku hari ini, intinya tentang suami seperti apa yang aku dambakan? Dia bercerita bagaimana wanita-wanita seumuranku sudah memasukkan variabel kemapanan materi dalam syarat utama mencari suami. Aku menjawab, aku ingin seorang suami yang bisa memelukku di malam hari sedang mulutku terus bicara tentang isi pikiranku, aku mendambakan pillow talks. Aku mendambakan lelaki yang mau mendengarku hingga lelapku menjemput. Atau di saat kegelisahanku membuat tubuhku bergetar, dia akan mengusap kepalaku dan berkata semua akan baik-baik saja.
Bayangkan, sebuah diskusi yang jujur tentang hari yang panjang dan kelakuan anak manusia yang bermacam-macam, di dalam dekapan seorang kekasih. Kamu tahu hal seperti itu akan menghasilkan manusia seperti apa? Aku pikir hal sepetti itu akan menghasilkan manusia yang berhati penuh dan luas, seorang yang akan siap dan lebih segar menghadapi apapun keesokan harinya. Karena dia tau, apapun yang akan terjadi hari ini, dia memiliki tempat untuk menumpahkan segalanya. Dia punya tempat tidur dan dada bidang seorang kekasih untuk meringsut hangat.
Ya, aku pikir aku memag benar-benar mendambakan pillow talks. Aku mendambakan cinta dan kekuatan yang menjaga bapak dan ibukku tetap bersama hari ini dalam menghadapi kegila-kegilaanku dan segala macam badai lainnya.
Namun, aku tau ada resiko lain yang kita harus terima, sebuah ketergantungan kepada orang lain. Aku membayangkan, jika salah satu dari mereka pergi, apa yang akan terjadi? Kehilangan separuh jiwa? Tidak ada yang bisa menggantikan posisi? Apa anak-anak akan bisa menemani obrolan-obrolan yang sama? Entahlah. Mungkin memang ada harga mahal atas sebuah kenyamanan, yaitu ketidakamanan yang siap datang kapanpun. Mencintai memang harus siap kehilangan.
Maka hari ini aku harus mampu tidur sendiri dengan pikiranku yang ramai. Tidur senyaman dan sehangat seperti sedang dalam pelukan kekasih.
Aku melankolis banget ya? Biarin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar