Kamis, 26 Mei 2016

Self reminder

Mencintai adalah keniscayaan. Sejauh apapun kita memisahkan diri kita dari mencintai, sejauh itu pula kita harus berhadapan dengan rasa itu. Namun, siapa yang kita cintai saat ini, di situ lah Tuhan bermain.

Mencintai adalah keniscayaan. Mengapa harus dia, mengapa bukan dia yang lainnya? Mengapa dia yang jauh, bukan yang dekat? Mengapa dia yang tidak peduli bukan yang peduli? Mengapa yang begini bukan yang begitu? Maka keniscayaan semakin lengkap, kebingungan dalam mencintai membuatmu berpikir dan merasa.

Mencintai adalah keniscayaan. Tuhan Maha mencintai. Dia ingin memeluk masing-masing hamba-Nya secara langsung. Namun, mampukah kita menerima cinta Tuhan secara langsung? Cinta yang tak akan pernah kurang. Mungkin ketika Tuhan hadir di hadapan kita secara langsung, kita hanya akan bisa menangis, kita tak akan sempat bersyukur karena menyadari terlalu banyak kita meminta. Maka keniscayaan Tuhan melewatkan cinta-Nya melalui perantara lain, yang lebih membumi membuat kita mampu bersyukur.

Mencintai adalah keniscayaan.  Dalam perasaan-perasaan kehilangan dan sendiri, Tuhan menghadirkan banyak skenario yang saling terkait, tak pernah terputus, sebab akibat, bahkan, premis-premis, titik-titik, konstelasi, atau aliran-aliran. Di dalamnya, dihadirkan berbagai macam orang yang akan membuat kita tertawa maupun menangis. Mematahkan hati kita berkali-kali atau membuat kita sangat nyaman tak ingin beranjak. Maka Tuhan, menguji kita untuk tidak pernah berpaling dari-Nya.

Mencintai adalah keniscayaan. Masih banyak yang ingin kutulis dalam pengembaraan mengingat-Nya, Dia timbul dan tenggelam, tergantung jalan mana yang kuambil. Dia mencintaiku maka aku mencintai-Nya, seharusnya. Namun, dalam perjalananku mengingat-Nya, aku lupa untuk apa harus mengingat-Nya. Aku menyertakan orang lain sebagai tujuanku setelah mengingat-Nya.

Mencintai adalah keniscayaan. Mau sampai kapan menghindar? Mau sampai kapan melupa?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar