Seharian tadi aku menemani Mbak Dyah untuk mengunjungi Mas Nikki. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung kepada masku tersayang itu. Apalah aku berkata sayang jika tidak mengunjungi. Terakhir aku mengunjungi Mas Nikki sekitar setahun lalu, mungkin lebih, bersama Uda Yoko, atau Mas Kacak dan Mas Hengki? entahlah aku lupa. Yang pasti aku sudah sangat merindukan Mas Nikki dan baru tadi aku berhasil mengunjunginya. Kalau kangen ya berkunjung, begitu kata Mas Kacak.
Sepanjang perjalanan pikiranku ke mana-mana. Sebenarnya aku masih terlalu ngantuk untuk menempuh perjalanan Jogja-Magelang, walau hanya berada di belakang Mbak Dyah yang mengemudi motor, ngantuk itu berat. Belum lagi ganasnya udara jogja, panas ngejak gelut tenan! Untungnya setelah melewati Muntilan mendung menggelayut mesrah khas magelang. Pikiranku melayang saat-saat aku dibonceng Mas Hoho berangkat ke Thekelan dalam rangka survey diksar, ada Mas Nikki juga seingatku. Aku yang masih sangat muda saat itu, aku yang sedang kalut karena pacarku marah-marah karena aku masih saja ikutan kegiatan outdoor semacam itu.
Mas Nikki menyelethuk saat aku sedang menerawang ke arah bukit Telomoyo, celethukan yang sering sekali aku dengar sebelumnya, sebenarnya mungkin itu bukan hanya celethukan, tetapi juga ungkapan kekesalan. "Pacaran kok nangis terus? Mbok uwis aja." Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku waktu itu tidak tahu apa yang sedang kuperjuangkan. Aku hanya takut, takut sekali kehilangan seseorang, sedangkan aku memiliki banyak orang yang menyayangiku.
Sesampai di depan pintu makam hatiku sesak. Makam yang sangat hijau untuk Mas Nikki beristirahat. Setidaknya aku lega Mas Nikki mendapat tempat yang begitu nyaman. Aku datang dalam keadaan malu siang tadi. Aku yang masih saja semalaman menangisi lelaki dalam gelap kamarku. Aku teringat sekali lagi bagaimana aku menolak ajakan terakhir Mas Nikki untuk berkumpul, tidak bukan ajakannya secara langsung, karena mungkin Dia tahu aku terlalu sibuk. Aku selalu sibuk sebelum Dia pergi. Dia yang menyapaku beberapa kali melalui perpesanan dan aku mengabaikannya. Aku yang sibuk waktu itu untuk membuang waktuku dengan laki-laki yang membuatku menangis, mendadak menyadari ada orang baik yang harus pergi dari hidupku.
Kutarik nafasku sebelum melangkah ke perbaringannya. Aku tidak mau datang dengan mengadukan permasalahan mengenai lelaki. Nasehat terakhirnya sudah begitu jelas, untuk melepaskan apapun yang membuatku menangis.
Aku datang Mas Nik, Adekmu datang, Adekmu yang sok tahu, Adekmu yang tidak bisa makan kalau tidak ada yang menemani, Adekmu yang gak lulus-lulus, Adekmu yang mengajakmu berdebat, Adekmu yang bebal, Aku datang memulangkan rindu. Aku tidak akan curhat soal lelaki lagi. Aku sudah jauh lebih baik.
Aku, Aku hanya ingin bisa ngopi sehari saja bersamamu. Sekali lagi. Namun aku tahu, kau istirahat dengan begitu nyenyak, dunia terlalu berisik memang, berkomentar sinis tentang betapa polosnya dan bodohnya keikhlasanmu. Mereka semua berisik, Mereka semua hanya selalu membela harga dirinya sendiri. Mereka semua di sana hanya menyelamatkan muka masing-masing. Mereka semua hanya menyelamatkan perasaan masing-masing. Dan aku masih bebal, sebebal kamu, memberi yang kita bisa, walaupun kita sendiri terseok. Namun, kenapa aku masih terluka? Mungkin aku sama dengan mereka semua Mas Nik, Aku mencintai harga diriku sendiri, oleh karenanya aku sering menangis. Jadi apa yang harus kulepaskan agar tidak banyak menangis?
Tuhkan! Aku curhat lagi. Sudahlah, istirahat dengan tenang Masku tersayang, doakan aku datang lagi dengan Suamiku, semoga dia bukan lelaki yang terlalu sibuk untuk bisa kuajak mengunjungimu.
Sepanjang perjalanan pikiranku ke mana-mana. Sebenarnya aku masih terlalu ngantuk untuk menempuh perjalanan Jogja-Magelang, walau hanya berada di belakang Mbak Dyah yang mengemudi motor, ngantuk itu berat. Belum lagi ganasnya udara jogja, panas ngejak gelut tenan! Untungnya setelah melewati Muntilan mendung menggelayut mesrah khas magelang. Pikiranku melayang saat-saat aku dibonceng Mas Hoho berangkat ke Thekelan dalam rangka survey diksar, ada Mas Nikki juga seingatku. Aku yang masih sangat muda saat itu, aku yang sedang kalut karena pacarku marah-marah karena aku masih saja ikutan kegiatan outdoor semacam itu.
Mas Nikki menyelethuk saat aku sedang menerawang ke arah bukit Telomoyo, celethukan yang sering sekali aku dengar sebelumnya, sebenarnya mungkin itu bukan hanya celethukan, tetapi juga ungkapan kekesalan. "Pacaran kok nangis terus? Mbok uwis aja." Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku waktu itu tidak tahu apa yang sedang kuperjuangkan. Aku hanya takut, takut sekali kehilangan seseorang, sedangkan aku memiliki banyak orang yang menyayangiku.
Sesampai di depan pintu makam hatiku sesak. Makam yang sangat hijau untuk Mas Nikki beristirahat. Setidaknya aku lega Mas Nikki mendapat tempat yang begitu nyaman. Aku datang dalam keadaan malu siang tadi. Aku yang masih saja semalaman menangisi lelaki dalam gelap kamarku. Aku teringat sekali lagi bagaimana aku menolak ajakan terakhir Mas Nikki untuk berkumpul, tidak bukan ajakannya secara langsung, karena mungkin Dia tahu aku terlalu sibuk. Aku selalu sibuk sebelum Dia pergi. Dia yang menyapaku beberapa kali melalui perpesanan dan aku mengabaikannya. Aku yang sibuk waktu itu untuk membuang waktuku dengan laki-laki yang membuatku menangis, mendadak menyadari ada orang baik yang harus pergi dari hidupku.
Kutarik nafasku sebelum melangkah ke perbaringannya. Aku tidak mau datang dengan mengadukan permasalahan mengenai lelaki. Nasehat terakhirnya sudah begitu jelas, untuk melepaskan apapun yang membuatku menangis.
Aku datang Mas Nik, Adekmu datang, Adekmu yang sok tahu, Adekmu yang tidak bisa makan kalau tidak ada yang menemani, Adekmu yang gak lulus-lulus, Adekmu yang mengajakmu berdebat, Adekmu yang bebal, Aku datang memulangkan rindu. Aku tidak akan curhat soal lelaki lagi. Aku sudah jauh lebih baik.
Aku, Aku hanya ingin bisa ngopi sehari saja bersamamu. Sekali lagi. Namun aku tahu, kau istirahat dengan begitu nyenyak, dunia terlalu berisik memang, berkomentar sinis tentang betapa polosnya dan bodohnya keikhlasanmu. Mereka semua berisik, Mereka semua hanya selalu membela harga dirinya sendiri. Mereka semua di sana hanya menyelamatkan muka masing-masing. Mereka semua hanya menyelamatkan perasaan masing-masing. Dan aku masih bebal, sebebal kamu, memberi yang kita bisa, walaupun kita sendiri terseok. Namun, kenapa aku masih terluka? Mungkin aku sama dengan mereka semua Mas Nik, Aku mencintai harga diriku sendiri, oleh karenanya aku sering menangis. Jadi apa yang harus kulepaskan agar tidak banyak menangis?
Tuhkan! Aku curhat lagi. Sudahlah, istirahat dengan tenang Masku tersayang, doakan aku datang lagi dengan Suamiku, semoga dia bukan lelaki yang terlalu sibuk untuk bisa kuajak mengunjungimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar