Sebuah masa lalu tidak akan kusebut sebagai masa lalu jika itu sudah tidak menjadi salah satu pertimbangan untuk mengambil keputusan di masa sekarang, lebih buruk lagi, menjadi sebuah hambatan atau sesuatu yang masih mengganggu pikiran. Jika apa yang terjadi di masa lalu dan aku sudah mampu berdamai dengannya, akan kusebut hal itu sebagai sebuah sunk cost, sesuatu yang memang sudah layak untuk dibuang dan tidak rasional lagi untuk dipertimbangkan, Aku tidak akan memasukannya dalam kategori masa laluku. Paling tidak aku tidak akan memberi high light atas sunk cost, buat apa menyeseli sesuatu sudah memang seharusnya tergunakan sedangkan dia memberi nilai tambah yang besar? Tersakiti adalah sunk cost, ia adalah sebuah kesalahan yang tak terhindarkan, tapi ia telah memberi nilai tambah sebuah imunintas atas rasa sakit di masa mendatang.
Masa lalu yang masih mengganggu pikiran memiliki dua rona utama, yaitu sebuah rasa yang terlalu pahit atau rasa terlalu manis. Namun satu hal yang harus dijaga dalam kesadaran, bahwa itu semua sudah berakhir. Dalam bentuk fisik dia tidak pernah benar-benar ada di hadapan kita. Tidak ada luka yang menganga, tidak rasa pahit atau manis di lidah, tidak ada seseorang yang menamparmu atau memelukmu dalam kenyataannya. Rasa-rasa itu sebenarnya hanya ada di pikiran, bertemu perasaan, dan lalu menyesakkan dada. Oleh karena itu untuk mengatasi rasa pahit, cara paling waras tapi tak pernah mudah adalah memaafkan. Sedangkan untuk rasa yang terlalu manis, mengingatnya adalah bentuk kepahitan yang baru, maka sekali lagi maafkanlah. Maafkan apapun yang orang perbuat di masa lalu kita, maafkan yang kita sendiri perbuat di masa lalu kita. Ketika sudah mampu kita memaafkan masa lalu kita, sudah seharusnya kita mampu mengurangi porsi masa lalu kita dalam variabel pengambilan keputusan kita. Kita siap berhadapan dengan hari ini, siap membuat kesalahan yang berbeda, siap untuk tidak takut mencoba kembali, mengulangi kegagalan yang sama, bukan menghindarinya. Ya, mengulanginya lagi, hingga lulus, tentu saja tidak harus di tempat atau pada hal yang sama, tetapi pada values yang sama.
Berbekal keyakinan seperti itu, kemarin aku mencoba untuk bertemu seseorang dari masa lalu. Aku pikir aku bisa menjadikannya sunk cost. Ternyata tidak, dia masih menjadi salah satu variabel penting dalam pengambilan keputusanku hari ini. Aku berusaha untuk tidak melakukan kesalahan bodoh lagi yang membuat seseorang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan seseorang tersebut kepadaku. Namun, apakah ada kepastian bahwa seseorang di saat ini akan melakukan hal yang sama yang dilakukan seseorang lainnya di masa lalu? Seperti, uhm, meninggalkan tanpa alasan? Yang lalu membuatku tidak lagi mau menunggu karena dia tak akan pernah datang dan memberi jawaban. Tidak ada kepastian itu sama sekali. Yang artinya jika aku berhenti menjadikan masa laluku sebagai pertimbangan, seharusnya aku lebih berani dan mau untuk menunggu sedikit lebih lama. Karena mungkin penantianku yang sekarang tidak gagal. Bagaimana jika gagal? Berarti itu sunk cost, yang tidak akan menyakitiku lagi. Nothing to lose anyway.
Bertemu dengan orang dari masa lalu. Menghadapi wajah kita sendiri saat itu. Dan bertanya seburuk apakah aku saat itu? Ah entahlah aku tidak tahu ingin bercerita apa sebenarnya pada tulisan ini. Aku sebenarnya berharap ada sesuatu yang romantis muncul dalam diriku. Sesuatu yang lebih melankolis. Tapi tidak ada rasa sakit, tidak ada dendam, tidak ada penasaran, tidak ada perasaan berdebar yang mampu membuatku sedikit bodoh. Kupikir pemaafan membuatku lebih rasional.
Dia datang, mungkin untuk memperbaiki keadaan. Namun, semuanya sudah baik, aku sudah sepenuhnya memaafkannya. Bahkan kedatangannya tidak mempengaruhi keputusanku menunggu seseorang yang sedang menghilang saat ini. Dia yang hadir di masa ini, tapi entah kenapa dia seakan ingin menghilang.
Satu nasehat dia dari masa lalu: "Bersabarlah, dia hanya sedang berpikir ulang. Seperti aku dulu."
Namun, 4tahun terlalu lama, Aku harus menunggu berapa lama sekarang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar