Jumat, 20 Mei 2016

Kepada malam

Hai malam, tidak cukupkah kantukku membawaku terpejam?
Aku ngantuk. Banget. Banget. Namun nyatanya aku berusaha untuk menuliskan ini. Ini penting sih untuk pengingatku sendiri.

Malam, mungkin memang bulan terlihat bersinar terang dan indah karena dia jauh. Dia sangat jauh sehingga cahayanya mampu menerangi kita bersama. Dia mampu menembus pekatnya kamu yang mungkin bisa membutakanku. Dia jauh, tapi dari sinarnyalah aku diberi petunjuk. Bagaimana jika Bulan terlalu dekat? Mungkin aku lebih buta, karena silau dan tidak mampu memandang diriku sendiri. Cahayanya terlalu menusuk mata. Kamu tahukan malam, dalam pekatmu, aku masih mampu membuka mata, memandang sejauh-jauhnya? Aku berfungsi seutuhnya, mataku melakukan orientasi dan memberi pertimbangan yang cukup untuk sedikit saja bergerak. Sedang cahaya yang begitu dekat terlalu menyilaukan, aku tak mampu membuka mata. Bahkan dalam pejamku dia akan menembus kelopak mataku, mengejar nalarku untuk gelisah.

Mungkin, ya mungkin, banyak hal yang tidak mampu kita miliki, kita dekati, kita peluk, kita gapai karena dia terlalu terang, maka biarkan dia akan tetap indah di jauh sana. Seperti lukisanku dengan cat air yang berantakan sekali, tetapi jika kita melihatnya mundur 1meter, keindahannya akan tertangkap jelas.

Oh aku sudah mulai hampir kehilangan kesadaranku. Bahkan beberapa sepersekian detik tadi aku menulis dalam keadaan sudah hampir tidak konek.

Well seperti itulah wahai malam. Dia yang jauh, tapi begitu indah di mataku. Apakah aku harus membiarkan dia tetap jauh di sana tak teraih? Supaya dia tetap indah di mataku? Aku tak perlu berusaha meraihnya, sinarnya, hangatnya, senyumnya, indahnya tetap akan kunikmati dari jauh sini. Jika suatu saat seseorang memilikinya, aku akan tetap memandangnya sebagai sesuatu yang indah, yang memberiku petunjuk-petunjuk lebih.

Jika seseorang memilikinya, kuharap orang tersebut mau merawatnya dengan sangat baik, supaya keindahannya semakin dan terus ada. Semoga pijarnya memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi sekitarnya.

Aku? Aku aka cukupkan. Keindahan memang tak akan pernah habis aku inginkan, tapi berusaha menggapainya bisa membuatku membencinya. Maka aku memilih di sini aja, menikmati indahnya. Seindah-indah ingatanku bisa jangkau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar