Senin, 30 Mei 2016

Judging

Pagi ini aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dari sebuah video blog yang diunggah oleh Sacha Stevenson, seorang bule yang tinggal di indonesia dan menikah dengan orang Indonesia. Dalam vblognya dia sering membuat kritik terhadap keseharian orang Indonesia, atau bahkan terhadap masyarakat secara umum. Namun, tidak jarang dia mengakui bahwa ada yang salah dalam dirinya. Bahwa mungkin dia mengalami kegelisahan atau rasa tidak aman atas segala bentuk perhatian yang diberikan oleh lingkungannya ke padanya. It's like saying, "The problem is not there, it's here, it's me." At some points I feel her. Kadang memang orang-orang di sekitar kita memberi banyak perhatian sesuai dengan apa yang mereka anggap benar. Dan benar kata teman saya, sayang sekali mereka melakukannya dengan tulus. Maka untukku, aku akan mencoba menerimanya.

Vblog yang dibuat Sacha kali ini adalah tentang kehamilannya. Dia bercerita bagaimana dia membenci kemahilan dan menganggap itu hal terburuk yang mungkin dialami manusia. Dia mengakui bahwa dia tidak terlalu menginginkan bayinya, bahwa dia tidak suka dengan anak-anak, bahwa dia memutuskan untuk hamil semata-mata karena suaminya menginginkan anak, bahwa dia berusaha menyembunyikan kehamilannya karena tidak suka perhatian mendadak yang diberikan masyarakat ketika seseorang hamil, bahwa dia hanya ingin sendiri.

It's all clear. Sacha sedang bergulat dengan dirinya sendiri. Dia sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dan dia berhasil menjaga bayinya hingga 28 minggu lebih adalah sebuah proses panjang yang aku yakin sangat melelahkan. Dia menghibur dirinya sendiri dengan terus berolahraga dan menjaga bentuk tubuh yang dia cintai. Dia berusaha meyakinkan bahwa pengorbanan tidak membuat seorang lemah, tetapi sebaliknya menjadi lebih kuat. Satu hal yang kutahu, bahwa cinta mampu mengalahkan ketakutan dan kebencian. Sacha memilih hamil karena dia mencintai suaminya.

Sayangnya, komen yang masuk di vblog itu cukup banyak yang menilai pemikiran Sacha sebagai bentuk egoisme. Banyak yang terburu-buru mengatakan bahwa seseorang yang membenci anak-anak tidak akan bisa mencintai anaknya sendiri. Mengatakan bahwa seharusnya seseorang tidak perlu memiliki anak jika dia tidak menginginkannya. Mengatakan bahwa betapa Sacha tidak bersyukur padahal di luar sana banyak yang mendambakan anak. Bahkan ada yang dengan delusional paranoid tingkat tinggi mengatakan bahwa Sacha mungkin akan membunuh anaknya.

People tend to judging. Ini bukan hanya di Indonesia atau negara tertentu, judging atau penghakiman adalah tentang kemauan berpikir dan merasa. Mereka yang buru-buru atau tidak mau sedikit menunda penghakiman atau penilaian adalah mereka yang malas berpikir. Mereka yang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Aku pun beberapa kali merasa pernah menjadi orang seperti itu. Ohya, aku perlu pertegas, setiap kali aku berkata tentang masyarakat, maka saat itu juga aku sedang berkata tentang diriku. Karena aku adalah bagian dan produk dari masyarakat, karena aku juga input dari masyarakat, sikapku tidak terlalu jauh berbeda secara umum. Aku sering sangat kreatif merangkai informasi yang terbatas tentang seseorang atau apapun lalu menjadikannya suatu kesimpulan yang sangat normatif dan menghakimi. Sekarang aku berjanji pada diriku sendiri, aku mempertegas diriku sendiri untuk berkomitmen sedikit menunda penilaian terhadap apapun.

Melihat vblog Sacha pertama kali aku langsung mengernyitkan dahi, sinting kupikir. Seorang wanita seharusnya bla bla bla. Dan aku sendiri juga meginginkan bayi suatu hari nanti. Namun fokusku sekali lagi bergeser, bahwa kenyataannya ada wanita yang benar-benar menderita atas kegelisahannya sendiri ketika menyadari dia sedikit berbeda dengan wanita lainnya. The point is, there's human asking to be understood as human.

Baru saja kemarin aku juga habis membaca mengenai artikel yang ditulis sangat manis dan menyentuh. Artikel tersebut berjudul "Mind your own womb". Kurang lebihnya artikel tersebut membahas bagaimana penilaian masyarakat menciptakan penyakit atau menyakiti banyak wanita hubungannya dalam keputusannya atau keputusasaannya untuk hamil dan melahirkan. I think it's should be enough. Judging is ignorant.

Aku mendapat pelajaran berharga hari ini. Semua hal yang aku jelaskan panjang lebar di atas adalah sebuah contoh saja. Satu kasus yang cukup sensitif dan menjadi sorotan kita bersama, tentang keputusan memiliki anak. Banyak hal lainnya yang tidak kalah besar dan sering menjadi fokus kegelisahan kita. Tentang pekerjaan, tempat tinggal, sekolah, menikah, dll. Aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak mudah menghakimi atau menilai orang lain atas keputusannya, karena aku tidak pernah tau bentuk putus asa seperti apa yang dia lewati sebelumnya. Dan sungguh, ketika dia sudah mampu berada di hadapanmu, dia sudah berhasil melewati suatu level peperangan dalam dirinya. Maka terimalah segala bentuk hadirnya. Tuhan hadir menjelma masing-masing diri kita untuk menampung segala.

Untuk Kamu

Selamat malam, jogja dingin sekali hari ini. Aku langsung teringat berapa bulan kulewatkan begitu saja hingga bulan Juni yang dingin ini kembali menghadang. Aku yang berjanji pada diriku sendiri di hadapanmu untuk menjadi lebih dewasa.

Ah, aku tidak melewatkan begitu saja sederet bulan dengan panas dan hujan yang berganti-ganti menghidupi sang hayat. Aku dan hidupku begitu ramai hingga aku mampu merasa sangat sepi dan damai dalam atraksi manusia-manusia lain. Kamu, adalah yang kudamba memberi sebuah, apa ya, emm semangat?

Sebelum aku meminta untuk didengarkan sekali lagi atau diberi semangat, aku ingin bertanya kabarmu. Namun, kenapa ini tidak semudah dulu lagi? Maka sebaiknya aku tuliskan saja di sini.

Apa kabar kamu? Bagaimana perjalananmu mencari Tuhanmu atau Tuhan untuk kekasihmu? Masihkah kamu mencarinya untuk kekasihmu? Untuk Apa? Aku curiga kamu menjadi penakut, kamu tidak mampu lagi mengatasi pertanyaan sederhana tentang ke mana harus melangkah jika jalan terjal dan kaki mulai lelah. Aku curiga kamu sudah mulai membuat seorang wanita menangis karena kamu memilih bungkam ketika kamu tahu kamu bisa meyakinkannya dengan sedikit kebohongan. Aku curiga kamu mencari Tuhan supaya kamu tahu harus menyarankan kekasihmu kemana jika kekasihmu menangis sedang kamu hanya ingin merokok dan berjalan jauh.

Apakabar kamu? Aku ingin berbicara kepadamu sekali lagi dan mencari tahu apakah kamu masih akan menertawakan pemikiranku yang naif dan terburu-buru. Kamu pernah berkata aku sudah banyak berubah, tetapi aku tahu aku tak akan pernah cukup dewasa menurutmu. Dan oleh karenanya aku sebaiknya tidak perlu mencari seseorang yang berada dalam anganku jika aku tak mampu.

Apakabar kamu? Buku apa yang terakhir kamu baca sehingga sajak-sajak kerdil dan jujur itu dengan mudah kamu biarkan menelanjangimu? Mengapa kamu bisa sangat mendewakan seseorang sedang kamu berhasil meyakinkanku untuk meninggalkan apapun yang menyakitiku? Bukankan mendewakan sesuatu berarti kehilangan kedaulatan diri dan itu berpotensi menyakitimu? Apakah kamu baik-baik saja dan tidak pernah tersakiti?

Apa kabar kamu? Sudah genapkah kisah cintaku yang kamu hitung pada bilangan jarimu dengan tawa meledak seakan berkata aku payah sekali. Aku katakan padamu, seseorang kembali menemuiku untuk memperbaiki hubungan, tetapi kini aku sedang sangat sibuk. Aku ingin menyombongkan kepadamu. Mungkin kamu akan muak mendengar sekali lagi dramaku, mungkin juga kamu akan bangga telah menemaniku sejauh ini.

Apakabar kamu? Aku akan berhenti menceritakan kisah seorang lelaki yang datang dengan membawa setaman bunga dan cerita negeri di atas awan. Dia yang menghilang seperti bau parfum di terik matahari atau tersiram gerimis tanggung yang membuatnya apek. Kamu berkata, jika dia layak, tunggulah. Dia begitu layak, tetapi nyatanya dia membuat jarak. Aku tak ingin mendengar ucapan penghiburan semacam aku berhak lebih dari ini. Karena aku tahu, sekali lagi kamu geleng kepala dengan kebebalanku.

Apakabar kamu, kamu berada dekat denganku tetapi tidak memberi kabar. Aku kecewa. Seperti kecewaku beberapa tahun lalu. Kamu mendadak asing, asing yang begitu dekat, yang tak berani lagi kusapa.

Kamu, dalam sajakmu, adalah gugusan bintang terang yang tak teraih, walau sinarmu terus menyapaku dalam waktu tergelapku. Apa kabar kamu, maukah kapan-kapan kutemani mendaki?

Kamis, 26 Mei 2016

Self reminder

Mencintai adalah keniscayaan. Sejauh apapun kita memisahkan diri kita dari mencintai, sejauh itu pula kita harus berhadapan dengan rasa itu. Namun, siapa yang kita cintai saat ini, di situ lah Tuhan bermain.

Mencintai adalah keniscayaan. Mengapa harus dia, mengapa bukan dia yang lainnya? Mengapa dia yang jauh, bukan yang dekat? Mengapa dia yang tidak peduli bukan yang peduli? Mengapa yang begini bukan yang begitu? Maka keniscayaan semakin lengkap, kebingungan dalam mencintai membuatmu berpikir dan merasa.

Mencintai adalah keniscayaan. Tuhan Maha mencintai. Dia ingin memeluk masing-masing hamba-Nya secara langsung. Namun, mampukah kita menerima cinta Tuhan secara langsung? Cinta yang tak akan pernah kurang. Mungkin ketika Tuhan hadir di hadapan kita secara langsung, kita hanya akan bisa menangis, kita tak akan sempat bersyukur karena menyadari terlalu banyak kita meminta. Maka keniscayaan Tuhan melewatkan cinta-Nya melalui perantara lain, yang lebih membumi membuat kita mampu bersyukur.

Mencintai adalah keniscayaan.  Dalam perasaan-perasaan kehilangan dan sendiri, Tuhan menghadirkan banyak skenario yang saling terkait, tak pernah terputus, sebab akibat, bahkan, premis-premis, titik-titik, konstelasi, atau aliran-aliran. Di dalamnya, dihadirkan berbagai macam orang yang akan membuat kita tertawa maupun menangis. Mematahkan hati kita berkali-kali atau membuat kita sangat nyaman tak ingin beranjak. Maka Tuhan, menguji kita untuk tidak pernah berpaling dari-Nya.

Mencintai adalah keniscayaan. Masih banyak yang ingin kutulis dalam pengembaraan mengingat-Nya, Dia timbul dan tenggelam, tergantung jalan mana yang kuambil. Dia mencintaiku maka aku mencintai-Nya, seharusnya. Namun, dalam perjalananku mengingat-Nya, aku lupa untuk apa harus mengingat-Nya. Aku menyertakan orang lain sebagai tujuanku setelah mengingat-Nya.

Mencintai adalah keniscayaan. Mau sampai kapan menghindar? Mau sampai kapan melupa?


Kekasih

Semoga malam ini kamu benar-benar berhenti memikirkanku.
Karena aku tau rasanya merindu dalam jarak dan kebekuan atas ego sendiri itu menciptakan nyeri yang tak mengenakkan.
Semoga malam ini, kamu berhenti mencintaiku atau memilih menyudahi ketakutanmu untuk mengecewakanku.
Semoga kamu tak peduli lagi aku menunggu kedatangmu, karena ditunggu membuat kita semakin ragu melangkah.

Kekasih, jika mengingatku menghambatmu, melangkahlah, sejauh-jauh inginmu, sebebas-bebas anganmu.
Jiwamu yang kucintai, tak seharusnya terpenjara sedikitpun oleh keinginanku untuk memilikimu.
Bermimpilah setinggi-tinggi fisik dan akalmu bisa jangkau. Mungkin manusia lain atau manusia-manusia lain lebih membutuhkanmu. Anggaplah aku tak pernah menunggumu. 

Namun, seketika kamu ingin memulangkan rindu, pulangkanlah. Sepandai-pandai kamu menutupi segalanya, aku kira aku memiliki firasat, sudah kutangkap warnamu, aromamu, ronamu. Aku menerimanya. Tak perlu kau minta maaf. Aku menerimanya. Aku menerimanya selama kamu tidak merasakan nyeri merindu.

Jaga kondisi sayangku. Mimpimu butuh banyak asupan gizi dan istirahat yang cukup.

Minggu, 22 Mei 2016

Pillow Talks

Yang paling membuatku iri pada kisah cinta bapak dan ibukku adalah kebiasaan mereka berdua melakukan pillow talks hingga saat ini. Yaitu obrolan-obrolan panjang menjelang tidur tentang apa saja. Sesekali aku mencuri dengar mereka membicarakanku. Bapakku sering tidak percaya dan ragu dengan banyak keputusan dan pilihanku, tapi ibukku selalu berhasil menenangkannya. Aku menerka berapa banyak aku menjadi topik utama dalam pillow talks mereka ketimbang saudara-saudaraku yang lain, yang lebih nurut daripadaku? Sepertinya banyak sekali.

Di saat beberapa pasangan, yang sudah mulai beranjak usia dan mengalami tahun-tahun pernikahan yang sudah sudah usang, memilih untuk tidur di ranjang terpisah, bapak ibukku masih tidur seranjang dan berdiskusi hingga terlelap. Ah aku benar-bnar mendambakan konsep pernikahan atau hubungan yang seperti itu.

Seorang lelaki baru saja bertanya kepadaku hari ini, intinya tentang suami seperti apa yang aku dambakan? Dia bercerita bagaimana wanita-wanita seumuranku sudah memasukkan variabel kemapanan materi dalam syarat utama mencari suami. Aku menjawab, aku ingin seorang suami yang bisa memelukku di malam hari sedang mulutku terus bicara tentang isi pikiranku, aku mendambakan pillow talks. Aku mendambakan lelaki yang mau mendengarku hingga lelapku menjemput. Atau di saat kegelisahanku membuat tubuhku bergetar, dia akan mengusap kepalaku dan berkata semua akan baik-baik saja.

Bayangkan, sebuah diskusi yang jujur tentang hari yang panjang dan kelakuan anak manusia yang bermacam-macam, di dalam dekapan seorang kekasih. Kamu tahu hal seperti itu akan menghasilkan manusia seperti apa? Aku pikir hal sepetti itu akan menghasilkan manusia yang berhati penuh dan luas, seorang yang akan siap dan lebih segar menghadapi apapun keesokan harinya. Karena dia tau, apapun yang akan terjadi hari ini, dia memiliki tempat untuk menumpahkan segalanya. Dia punya tempat tidur dan dada bidang seorang kekasih untuk meringsut hangat.

Ya, aku pikir aku memag benar-benar mendambakan pillow talks. Aku mendambakan cinta dan kekuatan yang menjaga bapak dan ibukku tetap bersama hari ini dalam menghadapi kegila-kegilaanku dan segala macam badai lainnya.

Namun, aku tau ada resiko lain yang kita harus terima, sebuah ketergantungan kepada orang lain. Aku membayangkan, jika salah satu dari mereka pergi, apa yang akan terjadi? Kehilangan separuh jiwa? Tidak ada yang bisa menggantikan posisi? Apa anak-anak akan bisa menemani obrolan-obrolan yang sama? Entahlah. Mungkin memang ada harga mahal atas sebuah kenyamanan, yaitu ketidakamanan yang siap datang kapanpun. Mencintai memang harus siap kehilangan.

Maka hari ini aku harus mampu tidur sendiri dengan pikiranku yang ramai. Tidur senyaman dan sehangat seperti sedang dalam pelukan kekasih.

Aku melankolis banget ya? Biarin.

Sabtu, 21 Mei 2016

Kamu kemana sih?

Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?
Kamu kemana sih?

Kamu
Kemana
Sih
?

Saya boleh rindu?

Kapan ke sini?
Atau berniat mengemasi?
Berapa spasi dan puisi lagi?


Sujud

Hari ini seorang teman di facebook membagikan sebuah status yang membahas tentang, sekali lagi, tentang jidat hitam karena sujud! WOW! lagi! Status tersebut merupakan pertanyaan atau pernyataan yang sebenarnya bernada becanda (karena ra penting byanget kalau sampai beneran). Pertanyaan atau pernyataannya adalah:

Kenapa perempuan yang rajin solat jidatnya tidak hitam seperti lelaki masa kini..

Saya tidak berniat membahas pertanyaan atau pernyataan itu, karena di mata saya itu hanya becandaan, dan seharusnya bisa direspon dengan becandaan juga. Maaf kalau anda belum-belum sudah membawa dalil bahwa terkutuk hukumnya menjadikan agama sebagai bahan becandaan, Well yes, i joke about my religion many times, because religion sometimes is funny and fun, plus, you just don’t know me.

Sekali lagi, saya tidak masalah dengan pertanyaan atau pernyataan di atas. Beberapa komen di status tersebut banyak yang bernada becanda, tetap tidak masalah bagi saya, walau saya juga tidak terlalu bisa masuk dengan selera humor dalam komen-komen tersebut. I skipped that all day. Namun malam ini ketika iseng membuka facebook lagi, status tersebut masih menjadi highlight beranda saya, dikarenakan banyaknya komen. Dan ternyata banyak sekali komen yang bernada nyinyir, sekali lagi, nyinyir tentang besarnya kemungkinan laki-laki yang jidatnya menghitam itu berniat pamer, sampai ada yang bilang mungkin sengaja dibenturin ke lantai, atau mungkin jidat hitam itu adalah modal untuk mbribik ukhti sholehah pujaan hati, dan sebagainya, dan sebagainya. Semakin kreatif kenyinyiran yang muncul tentang lelaki berjidat hitam, memancing komen-komen yang membela lelaki berjidat hitam. Lalu saudaraku sesama muslim menjadi saling nyinyir dan selalu seperti itu. Sama seperti di banyak kasus dalam usaha untuk beragama islam yang baik dan benar, selalu ada pihak yang disebut ekstrimist dan liberal, sebutan yang serampangan, dengan variabel-variabel simbolik semacam jidat hitam. Hayati lelah, ya Rabb.

Namun sialnya, saya jadi ikutan kepikiran hal yang tidak substansif itu, mengapa jidat lelaki bisa menghitam? Apa lelaki lebih banyak sujud dari wanita? Apa karena memang jidat lelaki lebih menonjol dari wanita? Apa karena wanita lebih merawat kulit dari lelaki? Apa karena wanita memakai sajadah yang lebih bersih dari lelaki? Saya memikirkannya ketika saya bersujud, dan hasilnya sujud saya tidak terasa nikmat seperti sujud di rakaat sebelumnya.

Setelah sholat, saya bersyukur, saya merasa saya diberi jawaban. Saya memang suka ge-er, merasa dikode gitu deh. HAHAHA Well, jawabannya memang pertanyaan-pernyataan di atas benar-benar tidak penting! Allah menjawab pertanyaan saya dengan membawa memori saya kepada teman kuliah saya, wanita sholehah, casual, sholatnya bagus. Dia berjidat hitam, berwajah cerah, bertutur kata asik tapi adem. Lalu saya menyesali, kehilangan satu sujud saya yang harusnya nikmat. Jadi besok lagi, kalau mau membahas jidat hitam, coba fokuskan mengulik pada sujud saja, memang tidak asik sih, tidak bisa dipakai bahan nyinyir.

Anyway, kita sudah sepakat bukan pada prasangka bahwa mereka yang berjidat hitam itu karena kebanyakan sujud? Tentu saja kita hanya bisa bermain prasangka, kecuali dia adalah seseorang yang setiap hari sholat/sujudnya absen ke kita. Jadi kemudian, singkirkan dulu segala jenis prasangka macam-macam atau malah kekaguman macam-macam. Ojo gumunan dan segala derivasinya adalah koentji!

Untuk mereka yang bilang: “Sujud dipanjang-panjangin biar jidatnya hitam, biar dibilang alim”, atau mereka yang bilang: “MasyaAllah, akhi itu jidatnya hitam, pasti sujudnya panjang, dia alim, calon imam idaman.”. Well, Saya bukan orang alim, tapi pertanyaan atau pernyataan seperti itu, hmm, apa ya namanya? norak? ya, norak!

Tidak pernahkah kamu sekali saja merasakan nikmatnya sujud? Jika tidak, ketika kepalamu mumetss tiada tara, tidak pernahkah kamu menjungkelkan kepalamu dan membiarkan darahmu mengalir ke otak? Bukankah itu segar sekali? Atau mungkin mereka tidak pernah mumetss? Gayeng nan!

Jadi jika ada yang mendefinisikan jidat hitam atau orang yang sujud panjang sebagai orang sok alim atau orang alim, seriously, cobalah bersujud. Itu nikmat sekali. Seperti melepas semua beban dan isi kepala, merendahkannya serendah-rendahnya, menyerahkan kepada Sang Maha Pemilik.

Sujud itu seperti ketika kita haus, meminum air putih adalah yang paling nikmat, paling segar, yang akan membuat kita seketika bersyukur masih bisa bertemu air. Walaupun ada banyak cairan lain yang bisa kita minum, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan segarnya air putih. Karena cairan lain yang penuh rasa, meninggalkan rasa haus lainnya. Sujud adalah sebuah penyerahan kegelisahan, karena jika kita menyerahkannya dalam bentuk lain, seperti bercerita ke orang lain, melukis, melakukan perjalanan jauh, bersenang-senang, bahkan menulis, itu semua masih bisa menimbulkan kegelisahan lainnya. Dan sujud adalah kenikmatan yang paling instan dan tuntas. Jadi jika besok saya bertemu dengan orang yang berjidat hitam, saya tahu apa yang dia nikmati dalam sujud panjangnya.

Dan jokes (Saya tak bisa menyebutnya quote), tentang menyebut nama kekasih atau pujaan hati dalam sujud-sujud panjang memang adalah bahan nyinyiran paling empuk bagi mereka yang tidak terlalu tertarik dengan konsep agama kepada mereka para "ahli ibadah". Dan rugi sekali jika dalam sujudnya seseorang tidak benar-benar meletakkan isi kepalanya, tetapi malah mengisi kepalanya dengan keinginan-keinginannya, termasuk pujaan hati. Rugi sekali.

Jumat, 20 Mei 2016

Kepada malam

Hai malam, tidak cukupkah kantukku membawaku terpejam?
Aku ngantuk. Banget. Banget. Namun nyatanya aku berusaha untuk menuliskan ini. Ini penting sih untuk pengingatku sendiri.

Malam, mungkin memang bulan terlihat bersinar terang dan indah karena dia jauh. Dia sangat jauh sehingga cahayanya mampu menerangi kita bersama. Dia mampu menembus pekatnya kamu yang mungkin bisa membutakanku. Dia jauh, tapi dari sinarnyalah aku diberi petunjuk. Bagaimana jika Bulan terlalu dekat? Mungkin aku lebih buta, karena silau dan tidak mampu memandang diriku sendiri. Cahayanya terlalu menusuk mata. Kamu tahukan malam, dalam pekatmu, aku masih mampu membuka mata, memandang sejauh-jauhnya? Aku berfungsi seutuhnya, mataku melakukan orientasi dan memberi pertimbangan yang cukup untuk sedikit saja bergerak. Sedang cahaya yang begitu dekat terlalu menyilaukan, aku tak mampu membuka mata. Bahkan dalam pejamku dia akan menembus kelopak mataku, mengejar nalarku untuk gelisah.

Mungkin, ya mungkin, banyak hal yang tidak mampu kita miliki, kita dekati, kita peluk, kita gapai karena dia terlalu terang, maka biarkan dia akan tetap indah di jauh sana. Seperti lukisanku dengan cat air yang berantakan sekali, tetapi jika kita melihatnya mundur 1meter, keindahannya akan tertangkap jelas.

Oh aku sudah mulai hampir kehilangan kesadaranku. Bahkan beberapa sepersekian detik tadi aku menulis dalam keadaan sudah hampir tidak konek.

Well seperti itulah wahai malam. Dia yang jauh, tapi begitu indah di mataku. Apakah aku harus membiarkan dia tetap jauh di sana tak teraih? Supaya dia tetap indah di mataku? Aku tak perlu berusaha meraihnya, sinarnya, hangatnya, senyumnya, indahnya tetap akan kunikmati dari jauh sini. Jika suatu saat seseorang memilikinya, aku akan tetap memandangnya sebagai sesuatu yang indah, yang memberiku petunjuk-petunjuk lebih.

Jika seseorang memilikinya, kuharap orang tersebut mau merawatnya dengan sangat baik, supaya keindahannya semakin dan terus ada. Semoga pijarnya memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi sekitarnya.

Aku? Aku aka cukupkan. Keindahan memang tak akan pernah habis aku inginkan, tapi berusaha menggapainya bisa membuatku membencinya. Maka aku memilih di sini aja, menikmati indahnya. Seindah-indah ingatanku bisa jangkau.

Rencana nulis

Aku berencana nulis berat, biar sewaktu-waktu bisa dikilokan.. haha oposeh.

Jadi dari mind mapping saya tadi siang, saya berniat nulis tentang kegenitan intelektual advokasi dalam konflik horisontal. Jadi itu gimana? Tunggu tulisan saya. Wkwkwk koyo ono sing bakal moco.

Ini menarik ya btw, karena advokasi dan relawan itu beda tipis, walau sama-sama terlihat turun ke masyarakat. Advokasi/kampanye sering kali hanya berkepentingan dalam mengawal satu issue tertentu, bahkan sering kali memperkeruh suasana karena kurang fleksibel, sedangkan relawan fokusnya mengembalikan kelompok masyarakat yang mengalami gagal fungsi dasar (tidak bisa memenuhi kebutuhan sandang dan pangan) agar bisa kembali mandiri lagi seperti sebelum ada konflik.

Well, keywoardnya di situ. Jadi kalau ada dua kelompok masyarakat yant bentrok, dan apalagi mereka satu kampung dan masih satu saudara, apapun issue yang diangkat dalam konflik itu, kedua kelompok masyarakat tersebut adalah korban, yaitu korban keterbatasan informasi. Dan yang perlu dibantu segera adalah mereka yang mengalami kegagalan fungsi, jadi ga bisa makan, rumah ga ada, anak-anaknya ga bisa sekolah, dsb. Kalo ada kegagalan fungsi seperti itu, tanpa lagi cari-cari kenapa konflik itu terjadi, ya kewajiban kita menolong, agar masyarakat itu segera bisa bangkit lagi. Itu tindakan jangka pendek. Dalam jangka panjang yaitu rekonsiliasi kedua kelompok masyarakat yang berkonflik itu. Intinya hati-hati kalau mau masuk ke konflik horisontal, jangan sampe karena kegenitan intelektual kita, kita malah memperkeruh keadaan krn fokus mempertahankan (bahkan memblow up) issue tertentu.  Ini bisa diterapkan untuk memahami konflik di sampang atau bahkan di rembang. Intinya ada pihak yang kepentingannya terancam dan dia yang punya informasi lebih dan modal sosial tentu saja lebih mudah mengakomodir massa.

Do you read? Lanjut besok ya tulisan yang bener dan runtut. Aku sibuk, capek ngantuk bgt nih hahaha alay nann. but still I miss you.

Nih tak kasih mind mappingku, harusnya ada kamu di sana.


Rabu, 18 Mei 2016

Kapasitas

Mungkin dalam waktu dekat ini aku belum bisa menuliskan atau melarikan pikiranku dalam tulisan yang lebih lengkap dan enak alurnya. Aku sibuk sekali. Badan dan pikiranku benar-benar harus kugunakan untuk merampungkan instrumen monev dan belajar lebih banyak lagi mengenai logika-logika kebencanaan. Rasanya mengikuti itu semua seperti sedang kuliah lagi, senang dan excited rasanya, tapi aku harus mulai memikirkan bagaimana aku bisa bekerja efisien dan efektif sebelum badanku ambruk. Rasanya seperti sedang menjalani kuliah magister kebencanaan yang harusnya ditempuh 2 tahun dipadatkan menjadi 6 bulan. Walaupun programnya memang 2 tahun, tapi dalam beberapa waktu ke depan aku masih meraba-raba semuanya. Aku yakin setelah menguasai logical frameworknya aku bisa tinggal mengaplikasikannya di setiap progres program dan kegiatan. Well, tapi aku berharap ditatar lebih oleh ibu atasanku yang super keren itu. Aku harus curi ilmunya sebanyak-banyaknya.

Mungkin aku sibuk, tapi aku akan berusaha terus menulis apapun di sini. Bagaimanapun alurnya. Aku ingin melihat diriku hari ini di masa mendatang. Pasti naif sekali, pasti seksi sekali, pasti idealis sekali, pasti menarik sekali, pasti bodoh sekali, pasti kurindukan di saat-saat tertentu. Saat aku merasa terasing dari diriku sendiri mungkin.

Aku bahagia mendapat kesempatan belajar dengan orang-orang hebat. Aku sekali lagi masih bisa berbangga mengatakan bahwa aku bekerja bukan untuk uang. Walaupun aku butuh uag untuk terus hidup. Namun, kenyataannya aku lebih terpuaskan dengan ilmu yang kudapat dari pekerjaanku sekarang. Bencana itu menarik, segala derivasiny bisa diulik dari berbagai hal dan sudut pandang, dan bermanfaat bagi masyarakat. InsyaAllah.

Seorang teman bertanya, apa aku akan berhenti mempelajari speleologi? Aku tersenyum. Kupikir aku tidak akan berhenti. Namun saat ini kapasitasku hanya bisa kualokasikan kepada kerjaan resmiku. Aku masih akan, dan pasti akan terpanggil jika seseorang pelajar, pejuang, penggiat speleologi datang kepadaku untuk minta tolong. Apapun itu. Berani sekali aku mengklaim seperti itu ya? Aku mungkin tidak kaya dan tidak pintar, tapi aku cinta, aku mendeklarasikan kecintaanku pada speleologi, supaya aku berusaha mewujudkan dan membuktikan cintaku itu.

Malam ini adikku di organisasi pecinta alam memintaku bertemu demi membahas skripsinya dalam manajemen sumber daya air. Dia ingin melakukan penelitian di satu gua yang sudah berhasil diangkat airnya. Otak dan fisikku udah terkuras habis seharian, tapi jelas, panggilan adikku ini harus dipenuhi. Mungkin inilah cara Allah membagi-bagi apa isi otakku kepada yang lain. Aku tidak bisa melakukannya semua. Aku memiliki keterbatasan kapasitas sedang mauku banyak sekali. Semoga, ya, semoga, Dia mendatangkan anak-anak muda di sekitarku, yang mampu kubagi isi kegelisahanku. 

Aku juga mendapat kabar bagaimana ada sekumpulan anak muda gila dari kampus sebelah yang ingin membuat museum biospel di gua langsung, gua yang sudah rusak yang mereka coba manfaatkan. Mataku membelalak kagum, ingin rasanya berteriak, aku siap bantu! Tapi mengingat mataku hari ini saja sebenarnya sudah berat sekali, jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku masih ingin diskusi, tapi aku tahu aku harus istirahat.

Semoga Allah, semoga Allah meningkatkan kapasitasku. Semoga Allah mendengar aku hanya ingin bermanfaat. Aku tak butuh isi otak yang penuh, aku ingin berguna dan berbakti kepada kehidupan, kepada alam, kepada masyarakat yang lain. Usiaku 26 tahun, waktuku terbatas. Kamu mau tertawa aku bermimpi seperti ini? Wanita usia 26 tahun bermimpi tentang idealisme padahal waktunya terbatas? Kemana saja kemarin? Ya main-main, terlalu banyak main-main trus kenapa? Ketika aku berhenti main-main dan agak telat di dunia akademisi, aku lalu dibatasi usia? Aku menolak dibatasi,  tapi aku juga tertawa miris soal batasan ini. Kenyataannya batasan ini memang ada. Namun, aku tentu saja boleh memilih terbatas oleh apa? Kapasitas akan datang sesuai dengan mimpi kita yang tinggi.

Aku masih ingin berguna di speleologi, aku ingin belajar lebih dalam soal kebencanaan, aku ingin dekat sedekat-dekatnya dengan masyarakat (bukan jadi peneliti bayaran brengsek dan sok tahu), aku ingin berkeluarga, aku ingin bisa terus belajar bersama adik-adikku tercinta, menghasilkan penelitian, menghasilkan tulisan, menghasilkan program untuk mereka yang membutuhkan, menghasilkan karya. Aku mau menjadi manusia, bukan mesin pencetak uang.

Selasa, 17 Mei 2016

Aku Kerja!

Hahahahahaha it's crazy, yes crazy, but challanging!

Itu moto yang digadang berulang-ulang sama atasanku yang seorang dokter muda dan energik. Gila, aku harus belajar perihal rumah sakit dan kebencanaan, beserta segala macam isinya, istilahnya, standar operasionalnya mulai dari nol. Belum lagi harus bikin monitoring dan evaluasi, mulai dari nol, sangat nol dan minggu ini instrumen monevku harus jadi sembari aku nyiapin ujian lagi. HUAHAHAHA

My heart is beating so fast!!! Oke keep calm and finish it darling, keep focus, i know you're smart and awesome!

Kenapa aku kerja padahal aku bisa cari duit di rumah? I'm not working for money, yes insyaAllah. I'm working for developing my knowledge, challanging my experience, establishing my toughts, and all those words we can keep in one thing i urgently need, self actualization. Ah i'll write it down more  next time, if you, yes if only you want to know. Because i'm so bussy recently. wkwkwk nggaya tenan. huek.

Minggu, 15 Mei 2016

Memahami Monitoring dan Evaluasi

Mendapat tawaran untuk bergabung dengan tim yang bertanggungjawab mengenai Monitoring dan Evaluasi adalah hal yang sangat menarik bagi saya. Pertama mendengarnya, yang terlintas di pikiran saya adalah berhubungan langsung dengan beberapa kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Ilmu yang diperlukan sepertinya masih dalam lingkup kompetensi saya, yaitu ilmu ekonomi dan segala ilmu sosial kontemporer lainnya. Sudah sejak menginjakkan kaki di dunia kampus, saya aktif di berbagai organisasi, kepanitiaan, penelitian bahkan pendampingan kelompok masyarakat. Dari pengalaman saya tersebut, saya mengetahui bahwa banyak program yang direncanakan dan dicanangkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup masyarakat di sekitar kita. Laboratorium ilmu sosial memang semestinya adalah masyarakat di sekitar kita sendiri, dan tidak menutup kemungkinan untuk terus dikembangkan dan mengambil referensi dari luar masyarakat kita.

Berbagai program telah dirancang dan memiliki tujuan yang besar. Pendanaan juga sudah mulai mudah didapatkan karena telah tumbuh kesadaran kolektif bahwa pembangunan sudah seharusnya melibatkan berbagai elemen, bukan hanya fisik, namun juga sosial dan lingkungan. Saya memahami satu hal ketika mendengar istilah Monitoring and Evaluation bahwa segala bentuk program yang hebat tersebut tidak akan bisa berjalan efektif, efisien, berdampak besar dan berkesinambungan jika dalam pelaksanaannya asal-asalan dan tidak ada komitmen untuk serius. Oleh karenanya, dibutuhkan sebuah alat atau metode dalam melakukan pengawasan dan evaluasi agar program-program tersebut bisa tercapai tujuan akhirnya. Kalau tidak, semua program yang dirancang akan membuahkan hasil manis tersebut akan hanya menghabiskan uang saja.

Saya sempatkan berdiskusi dengan teman-teman saya sepulang dari wawancara kemarin. Saya nyatanya masih agak gagap dalam mendeskripsikan apa perbedaan Monitoring dan evaluasi ketika ditanya oleh seorang tim pewawancara. Sepemahaman saya selama ini, Monitoring adalah pengawasan yang dilakukan terus menerus selama periode program berjalan. Sedangkan evaluasi dilakukan pada beberapa kali periode yang telah ditetapkan. Memahami Monitoring dan evaluasi memang tidak bisa terpisah, karena keduanya memiliki fungsi yang saling terkait dan saling mendukung dalam pengumpulan informasi mengani pihak yang sedang didampingi. Kedua hal tersebut wajib dilakukan demi mengurangi kesenjangan antara rencana awal sebuah program dan kenyataan implementasinya. Satu hal yang utama dari Monitoring dan evaluasi adalah tercapainya seluruh target program.

Namun, ada satu hal yang malah memancing pertanyaan di benak saya. Jika sebuah proses pemantauan (Monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk membantu peningkatan kapasitas sebuah institusi atau pihak yang didampingi, sepanjang pengalaman saya mengikuti banyak program, mengapa proses pemantauan dan evaluasi malah sering kali menjadi seakan musuh? Pihak yang sedang melakukan pengawasan dianggap sebagai principal yang harus diakali oleh agen? Sehingga pada pelaksanannya jika Monitoring dan evaluasi tidak dicari metode yang paling tepat, ada kecenderungan dari pihak yang dievaluasi untuk menunjukkan fakta-fakta manis saja. Hal ini sering kali terjadi ketika bicara soal program bantuan dan dana hibah. Sayang sekali, sehingga pada akhir program, pihak yang didampingi tidak mendapatkan peningkatan kapasitas yang berarti.

Saya jadi berpikir, ketika Monitoring dan evaluasi dianggap sebagai sebuah acaman, Apakah itu terjadi karena perancangan programnya dari awal yang tidak tepat? Artinya apakah pihak yang didampingi sebenarnya tidak benar-benar menginginkan dan membutuhkan program tersebut? Atau instrumen Monitoring dan evaluasinya saja yang membuat pihak yang sedang dievaluasi tidak nyaman? Jika memang begitu, apakah mungkin instrumen dari Monitoring dan evaluasi seharusnya dirancang berdasarkan capaian yang benar-benar ingin ditarget oleh si pihak yang sedang dievaluasi sendiri? Artinya, pihak pelaku evaluasi hanya mengakomodiri capaian mereka? Namun, sayangnya setelah membaca dan berdiskusi, logika dan Monitoring dan evaluasi tidak begitu. Logika Monitoring dan evaluasi berbeda dengan perancangan program. Dalam tataran Monitoring dan evaluasi, program sudah disepakati bersama seluruh pemangku kepentingan melalui proses rapat yang panjang. Sehingga Monitoring dan evaluasi adalah sebuah komitmen yang tegas untuk mencapai hasil tersebut.

Jika begitu, maka saya melihat hanya ada satu cara dalam menghilangkan perasaan terancam yang dirasakan oleh pihak yang sedang dievaluasi, yaitu membangun komunikasi yang baik. Komunikasi memang bisa dibangun melalui serangkaian mekanisme dan struktur, namun rasa keterikatan hanya bisa dibangun dari kedekatan kultural. Kedekatan kultural mampu meminimalisir segala jenis kesenjangan dan kecurigaan yang muncul sepanjang program berjalan. Kedekatan kultural juga mampu memunculkan banyak informasi yang berhubungan dengan kejadian di masa lalu. Karena walaupun evaluasi bertujuan jangka panjang, evaluasi yang baik harus mengikutkan segala bentuk kejadian masa lalu, agar mampu memahami karakteristik pihak yang akan dievaluasi.


Seorang teman yang cukup berpengalaman di bidang Monitoring dan evaluasi juga  menyarankan saya membaca mengenai RCT (Randomized Controlled Trial). RCT adalah sebuah eksperimen bagaimana pihak pemeriksa atau pihak yang melakukan evaluasi menetapkan beberapa kelompok orang/masyarakat sesuai dengan karakteristik tertentu untuk diberikan suatu intervensi sosial dan yang kelompok satunya tidak. Hasil intervensi tersebut hasilnya akan dianalisis dan dibandingkan antar grup tersebut. Hal itu menarik, saya pikir itu adalah satu cabang ilmu ekonomi dalam mencari treatment sosial yang paling efektif dan efisien. Saya rasa saya perlu belajar instrumen tersebut lebih jauh. Namun banyak sekali instrumen penelitian sosial yang menurut saya tidak bisa dilakukan jika tidak ada kedekatan antara peneliti dan pihak yang diteliti. Sehingga menurut saya sebelum menjadikan suatu kelompok hanya sebagai obyek penelitian melalui instrumen penelitian semacam RCT tadi, seharusnya mereka juga dilibatkan sebagai subyek, yang mampu memberi kita banyak sekali informasi mengenai apa yang sebenarnya mereka inginkan. Jadi, untuk mencapai target efisien dan efektif mungkin instrumen semacam RCT adalah yang terbaik untuk proses Monitoring dan evaluasi. Namun, bagi saya untuk mencapai Monitoring dan evaluasi yang ideal, yaitu mewujudkan dampak yang komprehensif dan berkesinambungan hanya bisa dilakukan dengan pendekatan kultural.

Sabtu, 14 Mei 2016

Masa Lalu


Sebuah masa lalu tidak akan kusebut sebagai masa lalu jika itu sudah tidak menjadi salah satu pertimbangan untuk mengambil keputusan di masa sekarang, lebih buruk lagi, menjadi sebuah hambatan atau sesuatu yang masih mengganggu pikiran. Jika apa yang terjadi di masa lalu dan aku sudah mampu berdamai dengannya, akan kusebut hal itu sebagai sebuah sunk cost, sesuatu yang memang sudah layak untuk dibuang dan tidak rasional lagi untuk dipertimbangkan, Aku tidak akan memasukannya dalam kategori masa laluku. Paling tidak aku tidak akan memberi high light atas sunk cost, buat apa menyeseli sesuatu sudah memang seharusnya tergunakan sedangkan dia memberi nilai tambah yang besar? Tersakiti adalah sunk cost, ia adalah sebuah kesalahan yang tak terhindarkan, tapi ia telah memberi nilai tambah sebuah imunintas atas rasa sakit di masa mendatang.

Masa lalu yang masih mengganggu pikiran memiliki dua rona utama, yaitu sebuah rasa yang terlalu pahit atau rasa terlalu manis. Namun satu hal yang harus dijaga dalam kesadaran, bahwa itu semua sudah berakhir. Dalam bentuk fisik dia tidak pernah benar-benar ada di hadapan kita. Tidak ada luka yang menganga, tidak rasa pahit atau manis di lidah, tidak ada seseorang yang menamparmu atau memelukmu dalam kenyataannya. Rasa-rasa itu sebenarnya hanya ada di pikiran, bertemu perasaan, dan lalu menyesakkan dada. Oleh karena itu untuk mengatasi rasa pahit, cara paling waras tapi tak pernah mudah adalah memaafkan. Sedangkan untuk rasa yang terlalu manis, mengingatnya adalah bentuk kepahitan yang baru, maka sekali lagi maafkanlah. Maafkan apapun yang orang perbuat di masa lalu kita, maafkan yang kita sendiri perbuat di masa lalu kita. Ketika sudah mampu kita memaafkan masa lalu kita, sudah seharusnya kita mampu mengurangi porsi masa lalu kita dalam variabel pengambilan keputusan kita. Kita siap berhadapan dengan hari ini, siap membuat kesalahan yang berbeda, siap untuk tidak takut mencoba kembali, mengulangi kegagalan yang sama, bukan menghindarinya. Ya, mengulanginya lagi, hingga lulus, tentu saja tidak harus di tempat atau pada hal yang sama, tetapi pada values yang sama.

Berbekal keyakinan seperti itu, kemarin aku mencoba untuk bertemu seseorang dari masa lalu. Aku pikir aku bisa menjadikannya sunk cost. Ternyata tidak, dia masih menjadi salah satu variabel penting dalam pengambilan keputusanku hari ini. Aku berusaha untuk tidak melakukan kesalahan bodoh lagi yang membuat seseorang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan seseorang tersebut kepadaku. Namun, apakah ada kepastian bahwa seseorang di saat ini akan melakukan hal yang sama yang dilakukan seseorang lainnya di masa lalu? Seperti, uhm, meninggalkan tanpa alasan? Yang lalu membuatku tidak lagi mau menunggu karena dia tak akan pernah datang dan memberi jawaban. Tidak ada kepastian itu sama sekali. Yang artinya jika aku berhenti menjadikan masa laluku sebagai pertimbangan, seharusnya aku lebih berani dan mau untuk menunggu sedikit lebih lama. Karena mungkin penantianku yang sekarang tidak gagal. Bagaimana jika gagal? Berarti itu sunk cost, yang tidak akan menyakitiku lagi. Nothing to lose anyway.

Bertemu dengan orang dari masa lalu. Menghadapi wajah kita sendiri saat itu. Dan bertanya seburuk apakah aku saat itu? Ah entahlah aku tidak tahu ingin bercerita apa sebenarnya pada tulisan ini. Aku sebenarnya berharap ada sesuatu yang romantis muncul dalam diriku. Sesuatu yang lebih melankolis. Tapi tidak ada rasa sakit, tidak ada dendam, tidak ada penasaran, tidak ada perasaan berdebar yang mampu membuatku sedikit bodoh. Kupikir pemaafan membuatku lebih rasional.

Dia datang, mungkin untuk memperbaiki keadaan. Namun, semuanya sudah baik, aku sudah sepenuhnya memaafkannya. Bahkan kedatangannya tidak mempengaruhi keputusanku menunggu seseorang yang sedang menghilang saat ini. Dia yang hadir di masa ini, tapi entah kenapa dia seakan ingin menghilang.

Satu nasehat dia dari masa lalu: "Bersabarlah, dia hanya sedang berpikir ulang. Seperti aku dulu."

Namun, 4tahun terlalu lama, Aku harus menunggu berapa lama sekarang?

Minggu, 08 Mei 2016

Ziarah

Seharian tadi aku menemani Mbak Dyah untuk mengunjungi Mas Nikki. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung kepada masku tersayang itu. Apalah aku berkata sayang jika tidak mengunjungi. Terakhir aku mengunjungi Mas Nikki sekitar setahun lalu, mungkin lebih, bersama Uda Yoko, atau Mas Kacak dan Mas Hengki? entahlah aku lupa. Yang pasti aku sudah sangat merindukan Mas Nikki dan baru tadi aku berhasil mengunjunginya. Kalau kangen ya berkunjung, begitu kata Mas Kacak.

Sepanjang perjalanan pikiranku ke mana-mana. Sebenarnya aku masih terlalu ngantuk untuk menempuh perjalanan Jogja-Magelang, walau hanya berada di belakang Mbak Dyah yang mengemudi motor, ngantuk itu berat. Belum lagi ganasnya udara jogja, panas ngejak gelut tenan! Untungnya setelah melewati Muntilan mendung menggelayut mesrah khas magelang. Pikiranku melayang saat-saat aku dibonceng Mas Hoho berangkat ke Thekelan dalam rangka survey diksar, ada Mas Nikki juga seingatku. Aku yang masih sangat muda saat itu, aku yang sedang kalut karena pacarku marah-marah karena aku masih saja ikutan kegiatan outdoor semacam itu.

Mas Nikki menyelethuk saat aku sedang menerawang ke arah bukit Telomoyo, celethukan yang sering sekali aku dengar sebelumnya, sebenarnya mungkin itu bukan hanya celethukan, tetapi juga ungkapan kekesalan. "Pacaran kok nangis terus? Mbok uwis aja." Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku waktu itu tidak tahu apa yang sedang kuperjuangkan. Aku hanya takut, takut sekali kehilangan seseorang, sedangkan aku memiliki banyak orang yang menyayangiku.

Sesampai di depan pintu makam hatiku sesak. Makam yang sangat hijau untuk Mas Nikki beristirahat. Setidaknya aku lega Mas Nikki mendapat tempat yang begitu nyaman. Aku datang dalam keadaan malu siang tadi. Aku yang masih saja semalaman menangisi lelaki dalam gelap kamarku. Aku teringat sekali lagi bagaimana aku menolak ajakan terakhir Mas Nikki untuk berkumpul, tidak bukan ajakannya secara langsung, karena mungkin Dia tahu aku terlalu sibuk. Aku selalu sibuk sebelum Dia pergi. Dia yang menyapaku beberapa kali melalui perpesanan dan aku mengabaikannya. Aku yang sibuk waktu itu untuk membuang waktuku dengan laki-laki yang membuatku menangis, mendadak menyadari ada orang baik yang harus pergi dari hidupku.

Kutarik nafasku sebelum melangkah ke perbaringannya. Aku tidak mau datang dengan mengadukan permasalahan mengenai lelaki. Nasehat terakhirnya sudah begitu jelas, untuk melepaskan apapun yang membuatku menangis.

Aku datang Mas Nik, Adekmu datang, Adekmu yang sok tahu, Adekmu yang tidak bisa makan kalau tidak ada yang menemani, Adekmu yang gak lulus-lulus, Adekmu yang mengajakmu berdebat, Adekmu yang bebal, Aku datang memulangkan rindu. Aku tidak akan curhat soal lelaki lagi. Aku sudah jauh lebih baik.

Aku, Aku hanya ingin bisa ngopi sehari saja bersamamu. Sekali lagi. Namun aku tahu, kau istirahat dengan begitu nyenyak, dunia terlalu berisik memang, berkomentar sinis tentang betapa polosnya dan bodohnya keikhlasanmu. Mereka semua berisik, Mereka semua hanya selalu membela harga dirinya sendiri. Mereka semua di sana hanya menyelamatkan muka masing-masing. Mereka semua hanya menyelamatkan perasaan masing-masing. Dan aku masih bebal, sebebal kamu, memberi yang kita bisa, walaupun kita sendiri terseok. Namun, kenapa aku masih terluka? Mungkin aku sama dengan mereka semua Mas Nik, Aku mencintai harga diriku sendiri, oleh karenanya aku sering menangis. Jadi apa yang harus kulepaskan agar tidak banyak menangis?

Tuhkan! Aku curhat lagi. Sudahlah, istirahat dengan tenang Masku tersayang, doakan aku datang lagi dengan Suamiku, semoga dia bukan lelaki yang terlalu sibuk untuk bisa kuajak mengunjungimu.

Jarak

Gelisahkah kau dalam jarak?
Hingga tak mampu lagi menjawab tanya?
Mengapa ini menjadi begitu tidak sederhana?
Bukankah tinggal berkata, lalu sudah?

Jarak mengerjaiku begitu gesit, sayangku.
Kadang ia membelai pipiku agar tersipu,
di lain waktu dia menghujam nadi hingga nyeri.
Aku mohon, kau melihatku hampir kehabisan nafas.
Tariklah tanganku seketika, aku mungkin akan refleks menamparmu.
Namun, kau sungguh akan menyelamatkanku.


Sabtu, 07 Mei 2016

Pulangkanlah

Tahukah kau sayang, bahwa cinta tumbuh begitu liar dan subur dalam sebuah delusi?
Aku ingin menyampaikan sajak-sajakku langsung kepadamu, namun aku khawatir kau menertawakan kekhusyu'anku dalam bermain pikiran.

Ingin kuceritakan kepadamu, sayang
Tentang tempat tidurku yang sekali lagi merupa lautan.
Angin subuh yang lembut membawaku perlahan menengah.
Dibawanya rasaku kepada gelombangnya yang membentuk pusaran,
Selalu saja semua itu siap menenggelamkanku.

Jika saja kau berdiri di tepi dermaga itu sayangku,
Jika saja aku mampu melihat keberadaanmu sayangku,
Jika saja kau membuka tanganmu tanda kau menyambutku sayangku,
Tak kan ragu aku menepikan pelayaranku.
Karena berada terombang-ambing sendiri itu melelahkan, atau lebih buruk, menghancurkan.

Mungkin pelayaranku membawaku menemukan dunia baru, bintang selatan yang menjanjikan petualangan tak terbatas.
Namun, membohongi diri sendiri untuk tidak terus menoleh ke arahmu, bersiaga siapa tahu kamu menunggu, adalah sebuah perhentian yang tak bisa kutolak.

Sayang, aku ingin memulangkannya kepadamu.
Mimpi yang sudah kukemas baik ini, harus kulempar kemana jika tidak kuserahkan padamu?

Sayangku, jika tiba-tiba tempat tidurmu merupa lautan dan kau terus menoleh ke dermaga mencari tanda-tanda aku menantimu, tak perlu kau ciptakan sebuah delusi, karena aku memang akan sangat terlihat kecil dari jauh sana, tapi percayalah aku benar-benar di sini.

Maka pulangkanlah, apapun yang ingin kau pulangkan. Pelukku akan selalu menyambut apapun wujudmu.


Selasa, 03 Mei 2016

Patah Hati


Malam ini seharusnya Aku menulis sesuatu yang lebih berbobot, mengenai pemahamanku terhadap beberapa teori yang sedang kupelajari akhir-akhir ini, teori konsumsi, teori anti-pembangunan, dan teori-teori sosial kontemporer yang jika kutuliskan mungkin akan menambah kadar kekerenanku. Namun, Aku memutuskan menulis mengenai satu bab yang memang tidak akan habis untuk dibahas, tentang cinta dan segala konsekuensi derivatifnya. Yaitu patah hati, sebuah konsekuensi paling logis jika mau membahas cinta. Karena ya, cinta menggunakan hati, bukan cinta jika tidak menggunakan hati. Dan cinta melibatkan dua hati, yang satu sama lain tidak selalu bisa tepat ketika berusaha saling membaca. Hasilnya? Kekecewaan dalam periode waktu tertentu, saat itu saja atau mungkin bisa lebih lama, yang biasa kita sebut dengan patah hati.

Ya, Aku pada akhirnya harus menulis bab ini lagi. Ya Tuhan kadang Aku geli juga menyadari bagaimana aku sudah sangat dalam dan lihai jika diminta mengulik bab percintaan ini. Betapa itu kupikir dapat menggambarkan Aku yang terlalu bebal dan memberi porsi yang besar sekali dalam persoalan cinta. Mungkin memang ketertarikanku terhadap cinta-cintaan sudah tidak bisa dibantah dan memang tak terbantahkan. Bahkan beberapa orang dengan becanda, menyebutku sebagai guru bab percintaan. Bazeing!

Begini, jadi jika ditanya mengapa Aku harus menulis (lagi) mengenai patah hati? Jawabnya adalah ya karena Aku sedang patah hati. Namun, ada yang lebih urgent yang membuatku akhirnya menulis ini. Semalam, seorang gadis berumur awal 20-an dengan mata berkaca-kaca bercerita bagaimana dia lelah harus berdamai dengan perasaannya sendiri. Aku yang sebenarnya sudah berkomitmen untuk tidak terlalu memberi ruang dengan apa yang kurasakan belakangan ini pada akhirnya harus membuka kotak Pandora itu. Aku biarkan cerita gadis itu masuk lebih dalam, mengajak berbagai bentuk patah hati yang pernah kualami, yang sudah istirahat tenang, kembali terbangun. Sialan! Bicara soal ini selalu bisa memancing berbagai bentuk kalimat metafora menari-nari. Aku ingin memeluk gadis itu, tapi Aku urungkan niatku. Aku membiarkannya terus bercerita dan mulai memetakan permasalahannya, apa maunya, apa yang diharapkan, dia tercekat dalam beberapa kalimat. Beberapa kali kalimatnya sangat kontradiktif, rancu di sana-sini, tak berlandaskan apapun, dia tidak takut tetapi sangat gelisah. Hingga pada akhirnya dia terdiam memandangku lekat. “Aku masih di sini.”, kataku. Dia berterima kasih.

Lalu Aku berbaring di sampingnya.
“Kamu percaya, hari ini aku mengalami semua yang kamu ceritakan?”
“Masa mbak?”
“Iya. Aku juga sedang menunggu dan tidak kunjung mendapat kabar.”
“Lalu apa yang kamu lakukan?”
“Bangun, mandi, sarapan, dan bertemu banyak orang hari ini, termasuk kamu. Jika aku menuruti perasaanku, aku tak akan bisa ke mana-mana, mengunci kamarku, dan mendapati diriku habis dimakan rasa insecure-ku sendiri.” 

Yang paling susah ketika mendengar curhat adalah menjaga porsi pembicaraan. Bagaimana Aku harus betah mendengar dan tidak terbalik menjadi Aku yang curhat. Itu susah sekali, apalagi ketika hatiku sendiri dalam keadaan carut marut. HAHAHA

Yap, patah hati adalah tentang sebuah rasa yang menguar dan menyerap segala partikel baik dan buruk menjadi bongkah yang cukup besar untuk menyesakkan dadamu. Problemnya adalah, kamu terlanjur memberi ruang kepada satu hal pemantik. Patah hati adalah tentang pilihan, apakah kamu memberinya ruang atau tidak. Maka semalam, Aku menyarankan pada gadis itu, yang sudah pasti sedang lelah fisik karena telah berjalan lumayan jauh, untuk segera tidur. Patah hatinya tidak akan pernah hilang hanya dengan tidur, perasaan itu akan ada sewaktu dia terbangun, perasaan itu hanya akan timbul dan tenggelam. Namun berada di kondisi tubuh yang segar akan membantunya untuk terus bergerak dan bertemu banyak orang. Paling tidak untuk membantunya memisahkan antara hal yang substansif dan hal-hal yang sebenarnya hanya melukai harga dirinya. Dia harus mampu melihat, bahwa sebenarnya tidak ada hal buruk yang benar-benar terjadi. Bahwa dia tidak sedang mengalami kerugian atau kekerasan fisik, finansial, verbal atau apapun itu yang banyak dialami wanita lain di dunia ini. Hal yang membuat wanita-wanita itu bahkan tak lagi berniat mengeluarkan air mata karena itu sia-sia.

Pagi harinya, Gadis itu sudah bangun dengan kondisi yang sangat cantik dan menawan, menawariku sarapan, sebungkus bubur ayam Jakarta. Dia semalam sangat berbeda dengan pagi ini. Pagi ini dia nampak kekanak-kanakan dan innocent, seperti biasa yang kukenal, tapi semalam dia bisa bicara sangat dalam tentang patah hatinya. Jika Aku tidak adil sejak dalam pikiran, sudah kukutuki lelaki yang telah membuatnya menunggu dalam kebingungan. Namun, mendapati dia sudah mampu menemukan dan memetakan apa yang dia mau adalah bentuk jatuh cintaku yang lain.

Semalam seharusnya Aku juga menangis, menangis untuk masalahku sendiri, merasa tak berharga karena tidak diberi kabar. Namun, menyadari ada yang membutuhkan dukungan, Aku memilih untuk menenggelamkan kekecewaanku sementara. Berhasil. Aku berhasil mengatasi diriku sendiri dengan mengatasi orang lain. Namun juga, Aku tahu perasaan buruk itu bisa datang kapanpun jika Aku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk, perasaan itu akan mengacaukan ruang tamuku, lalu ruang tengah, dapur bahkan kamar tidurku.

"Jadi Mbak, sampai kapan aku harus menunggu? Apa dia mendengarkan semua yang Aku katakan?"

Menjawab pertanyaan itu Aku tersenyum. Menurutku sudah bukan itu intinya, orang yang kita ajak bicara tentu saja mendengar. Hanya saja, kemungkinan besar dia belum mampu bersikap detik itu. Namun, hei setiap individu itu merdeka! Masing-masing dari kita berhak memiliki prioritasnya masing-masing. Yang paling aman dan paling baik dalam menghindari patah hati tentu saja tidak berharap kepada orang lain, yang artinya adalah memberi kedaulatan pada diri kita sendiri. Agar mood kita, keputusan kita setiap harinya tidak dipengaruhi oleh orang lain. Ketika kita telah memberi kedaulatan bagi diri kita sendiri, kita sebenarnya juga sedang memberi kedaulatan kepada orang yang kita cintai, untuk berpikir sendiri, tanpa intervensi kita. Susah? tentu saja susah, apalagi jika harga diri kita yang bicara. Tidak mendapat jawaban yang kita harapkan atau perhatian yang setimpal dengan yang kita beri tentu saja melukai harga diri. Namun, jika mengikuti harga diri, bukan hanya dia atau kita yang kalah, tapi kemanusiaan itu sendiri. Bukankah manusia memang begitu? Mencoba memahami segala bentuk laku manusia adalah salah satu bentuk memanusiakn manusia. Kupikir itulah puncak dari mencintai, menerima. Soal bagaimana cara menerimanya, dengan menunggu atau meninggalkannya adalah masing-masing diri kita yang tahu seberapa mampu kita.