Sabtu, 30 Juli 2016

Kemana Ujungnya?

Jadi tulisan ini adalah sebuah usaha saya mengurai atas segala kerumitan, kegelisahan dan kesedihan saya yang repetitif, yang saya khawatirkan bahwa kesedihan tersebut tidak benar-benar ada. Maksud saya kesedihan tidak selalu diakibatkan oleh kerugian atau kehilangan hal-hal yang berbentuk atau materi, tetapi kesedihan yang diakibatkan atau konsekuensi dari sistem sosial yang berlaku atau benar-benar hanya kekecewaan personal saya. Saya benar-benar ingin mengurai apakah kesedihan saya ini berdasar atau tidak. Jika memang kemudian kesedihan dan kegelisahan ini berdasar, arahnya kemana? Ujungnya kemana? Dalam proses penguraian pikiran saya tersebut saya akan sangat berusaha meminimalkan penggunaan perasaan yang berlebihan. Saya adalah tipikal seseorang yang selalu mengedepankan perasaan daripada logika. Begitupun penilaian orang lain terhadap saya bahwa saya itu baper. Damn, i actually want to make this one as a joke. But no denial, that’s absolutely true.

Namun kemudian semakin kesini sebenarnya tingkat kebaperan saya semakin berkurang. Saya sudah mulai mudah lelah menggunakan perasaan yang pada akhirnya berujung kepada kata “luweh” dan “raurus”. Saya sudah mulai bisa memilah dan memilih mana yang layak mendapat perhatian lebih serta layak saya pikirkan dalam-dalam dan mana yang saya coba pendam saja. Saya tidak lalu berusaha mengatakan bahwa kesedihan dan kegelisahan itu hilang begitu saja ketika saja mencoba tidak peduli. Tentu saja, di saat-saat tertentu ketika sedang sangat sibuk kerja lalu teringat hal yang menjadi perhatian saya tersebut, hati saya mencelus. Saya serasa mendadak lemas dan tidak antusias. Jika ini dianggap berlebihan saya bisa terima. Saya hanya berusaha memahami kondisi psikologis saya dan mengakui bahwa saya memiliki kelemahan-kelemahan tersebut. Melakukan sebuah pengingkaran terhadap kelemahan tersebut untuk saya sendiri berarti sedang menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapanpun di saat yang bisa saja tidak tepat.

Kemana ujungnya segala perasaan ini? Saya jatuh cinta, beberapa kali. Maka beberapa kali pula saya patah hati. Kisah cinta saya terlalu banyak drama jika saya menilik kembali paling tidak delapan tahun terakhir. Dimulai dari merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga dan takut kehilangan, lalu benar-benar kehilangan dan membutuhkan beberapa tahun untuk mengikhlaskannya. Mengikhlaskan apa? Entahlah, lucu sekali sebenarnya jika kita menggunakan kata mengikhlaskan atas sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita. Namun, sudahlah kita pakai bahasa penduduk bumi saja, yang berarti mencintai hampir selalu dibarengi rasa ingin memiliki. Maka ketika saling mencintai maka ada semacam kesepakatan bahwa kita saling memiliki. Sebuah konsep yang lucu jika saya menilainya sekarang. Namun, pada satu waktu itu adalah bentuk semangat hidup bagi saya yang masih amat muda. Maka kehilangannya adalah kehilangan yang sangat besar. Cukup besar sampai saya merasa tidak mampu berjalan sendiri dan terburu-buru menjalin satu hubungan yang lain. Dan seterusnya dan seterusnya.

Tulisan ini menjadi semakin berisi curhatan tentang kisah cinta saya hahaha. Tapi tak apalah menyadari bahwa main concern saya ada pada urusan hati. Saya merasa saya harus segera menuntaskan hal-hal seperti ini, pelan-pelan saja memang, karena terburu-buru sekali lagi akan membawa kita hanya pada pengingkaran yang menyesakkan.
Mendengar banyak cerita bagaimana teman-teman sebaya saya ingin segera menikah dan sudah mulai menikah, membuat saya membayangkan betapa beruntungnya mereka menemukan pujaan hatinya secepat itu. Dan kemudian saya mulai memproyeksikan kebahagiaan saya adalah ketika bertemu dengan orang yang saya cintai, lalu kemudian tentu saja menikahinya. As simple as that. Lalu apakah itu berarti saya ingin sekali menikah karena teman-teman saya menikah? Saya menolaknya dengan tegas. Saya akan mengatakan bahwa saya menikah karena saya memang ingin menikah. Saya ingin menikah karena saya ingin memiliki partner dalam diskusi di malam hari, partner dengan minat yang hampir sama, partner dalam beribadah dan berkarya. Manis sekali bukan? Sebenarnya tidak istimewa juga. Banyak sekali mereka yang memiliki mimpi yang sama seperti saya ini. Hanya saja mereka saya rasa tidak serumit saya. Jika memang ingin menikah saja seharusnya saya tidak harus banyak sarat mungkin ya? Cukup yang berniat serius untuk menikahi saya. Namun itu nyatanya beberapa orang yang datang tidak membuat saya tertarik. Mengapa?

Karena jelas, saya memiliki seseorang yang saya dambakan. Seseorang yang membuat hati saya tak karuan ketika dia tidak memberi kabar. Seseorang yang sebenarnya saya ingin jadikan tempat untuk saya menumpahkan segala isi pikiran dan kegelisahaan saya. Namun saya takut membuatnya tidak nyaman dan berakhir pada hilangnya perasaan yang dia miliki kepada rasa saya. Saya, yang sudah beberapa kali jatuh cinta dan patah hati, nyatanya juga tidak banyak belajar mengenai hal ini. Pada beberapa hal saya merasa tidak tahu lagi apa yang harus saya perjuangkan, yang harus saya lakukan atau saya optimalkan untuk bisa menjamin perasaan dia tidak berubah kepada saya. Atau paling tidak membuatnya mau memberi kejelasan mengani apa yang dia rasakan kepada saya. Pada tahap ini, ujung-ujungnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa. Karena jika meyakini dan membawa-bawa iman, siapa bisa jamin hati seseorang? Belum lagi perasaan insecure yang semakin menguat jika membayangkan dia menghindar dari saya karena saya terlalu rumit. Perasaan ingin memiliki dan kesadaran atas gap yang jauh antara bayangan ideal dan realitas juga seringkali membuat dada saya sesak pada waktu-waktu tertentu. Beberapa kali bahkan hal tersebut berujung kepada perasaan muram, tak berharga dan membuat saya menangis bahkan tidak bisa tidur. Saya masih bersyukur, pada waktu siang atau pada waktu saya harus menjalani kehidupan sosial, saya mampu mengelola perasaan itu dengan baik. Sehingga hal itu tidak sampai menarik perhatian orang lain atau melibatkan mereka yang tidak tahu menahu dengan urusan saya.

Saya bisa bilang saya cukup kuat menghadapi hal ini, karena pada kenyataannya tidak sedikit mereka yang terkapar dan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk melangkah maju. Bahkan pada beberapa orang hal ini bisa menganggu kehidupan sosial mereka, kinerja mereka dan berujung pada hal-hal kontraproduktif. Maka kemudian ada yang mengatakan bahwa memang ada seni untuk patah hati, yang menurut saya berisi kesiapan untuk tidak menerima yang kita harapkan, terlebih menerima (hal buruk) yang tidak kita harapkan. Beberapa kali saya menyatakan semangat pada diri saya sendiri, bahwa patah hati boleh, ngancing jangan! hahaha. Well, mungkin saya bisa kuat juga karena saya tidak punya alasan untuk menjadi lemah. Beberapa kali saya menyadari bahwa sebenarnya saya baik-baik saja tanpa harus memiliki dia seseorang yang saya idamkan itu. Kehidupan saya berjalan normal jika saya melihat hari ini dan mulai berusaha percaya masa depan adalah rahasia Tuhan sepenuhnya. Saya tidak perlu banyak drama menuntut perhatian orang yang saya cintai, menuntut untuk dicintai balik dan diperhatikan balik karena saya sudah perhatian dan cinta sama dia. Menyadari bahwa mencintai adalah fitrah, membiarkannya berkembang sebanyak-banyak tanpa harus membunuh sebenarnya cukup efektif membuat kita lebih rileks. Lebih santai dan terbuka menerima perasaan itu. Mencintai seseorang yang secara personal, fisik bahkan secara hal-hal yang tak mampu kita jelaskan itu sangat lumrah dan manusiawi.

Saya rasa di situ pada akhirnya proses pendewasaan saya berlangsung. Saya tidak banyak diuji pada hal-hal sentral yang berat dan mampu melumpuhkan saya. Keluarga saya utuh dan menyanyangi saya sepenuhnya. Saya beberapa kali memang mengalami kesulitan finansial dan akademik saya buruk. Tapi nyatanya saya mampu bertahan dan lebih santai menghadapi hal tersebut. Kadang saya juga heran, apa yang membuat saya begitu drama jika menghadapi urusan percintaan? Padahal saya sudah dapat menerima konsep bahwa cinta hadir dalam berbagai rupa. Saya masih ingat betapa saya kelabakan ketika saya merasakan perasaan yang kagum dan berubah menjadi suka, selanjutnya ada rasa ingin memiliki kepada seseorang yang lebih muda dari saya. Hal tersebut menjadi drama ketika saya mencoba mengingkarinya dan terlalu khawatir mengenai bentuk apa yang tepat untuk menyalurkan perasaan saya yang menggebu-gebu itu. Waktu itu umur saya 25 tahun dan masih asing dengan perasaan mencintai orang yang lebih muda. Hari ini, setelah saya pernah mengalaminya, teman saya bercerita dengan santai bagaimana dia jatuh cinta kepada seorang lelaki yang 4 tahun lebih muda. Saya terkagum mendengar ketenangan dia bercerita. Cara dia mengapresiasi pertemuan dan semua hal-hal baik yang dia dapat ketika dia mencintainya. Ada rasa ingin memiliki, itu wajar. Namun, cukup sampai di situ, ingin tidaklah harus.

Berbicara mengenai apresiasi terhadap kehadiran seseorang, kehadiran teman-teman di sekitar kita adalah bentuk cinta yang juga kongkret dan menggembirakan. Lalu kata seseorang, untuk memahami ini saya harus membedakan mana senang/gembiran dan bahagia. Bahagia itu penuh dan senang masih menyisakan ruang kosong. Apa yang kosong? Ya tadi sebuah spasi tempat gambaran ideal kita dan kenyataan. Jika kita mampu mengecilkan jaraknya, yaitu dengan menurunkan gambaran ideal kita maka ruang kosong itu akan berangsur-angsur pergi.

Namun, pada kondisi tertentu saya menyadari bahwa saya sering kali membiarkan ruang kosong itu ada di sana. Bahkan mengeksplorasinya, menjadikannya sajak-sajak gundah dan sedih, menggunakan pemuas rindu saya yang saya bingung harus pulangkan kemana, menjadikannya gambaran betapa saya mabuk kepayang oleh perasaan itu. Dan semua sajak itu mungkin sebenarnya hanya jebakan imajinatif yang saya ciptakan untuk orang yang saya cintai itu agar mau menikah dengan saya. Mungkin saja sajak itu juga merupakan cara saya meyakinkannya untuk menikahi saya dan bahkan yang terburuk adalah mengasihani tangisan-tangisan saya dan lalu menikahi saya. Saya merasa itu buruk sekali menyadari bahwa kemungkinan eksplorasi berlebihan saya terhadap ruang kosong tengah saya lakukan. Bahkan ketika orang yang saya cintai itu menyadarinya, dia bisa saja tidak nyaman dan pergi, apalagi kami belum terikat apapun.

Sedangkan mengenai konsep pernikahan itu sendiri, oh Tuhan saya belum final betul memahaminya dan seberapa urgentnya untukku. Well, paling tidak saya sudah lega mengurai ini semua. Semoga bisa saya lanjutkan lagi besok-besok di waktu saya sudah lebih memahami apa yang sebenarnya saya mau. Hari ini saya tidak punya kata lain selain rindu. Sayangnya rindu itu cukup besar untuk membuat orang yang saya rindukan itu risih dan memilih pergi. Saya pun tidak mau sebenarnya konsep pernikahan menjadi suatu hal yang menghambat langkah orang yang saya cintai. Namun, implementasinya tidak semudah berkata.

Untuk mengatasi nyeri di malam hari, saya percaya sholat masih ampuh. Ya saya memilih percaya karena itu lebih mudah daripada membiarkan pikiran saya terus berkelana mengkritisi sistem dan membentuk gambaran idealis yang lebih utuh. Kadang itu melelahkan.

Jadi kemana kah ujungnya? Saya boleh jawab tidak tahu? Sungguh saya juga berharap dan berdoa untuk segera diberi tahu.

Well jika kmu membaca, aku sudah bisa paham kamu menjadi terbebani dengan segala drama yang kuciptakan, maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar