Kemarin siang, ketika Aku sedang nyidam betul untuk makan soto daging langgananku di Beringharjo, Aku mengajak rekan kerjaku, Aulia, untuk makan siang di sana. Dia gadis asal Kota besar yang sinting, yang artinya dalam banyak hal nyambung denganku. Berkawan dengan gadis esdua kajian budaya dan media, artinya harus siap secara random tedistraksi atau lebih tepatnya terstimulus untuk mikir abot. Siang kemarin, harusnya sotoku terasa nikmat. Namun Aul mendadak bertanya hal yang entah dari mana datangnya. Yang kutebak, sebenarnya sudah lama dia gelisah soal itu, jika tidak, sialan juga pertanyaannya! Bikin mikir!
"Pernah gak sih peb berpikir, "Mengapa kita adalah kita?", "Mengapa Aku adalah Aku?" Katanya.
"Ehmm iya sih, pernah kayanya", kutanggapi sekenanya pertanyaannya. Yang sebenarnya berarti "Ah apaansih nih anak" pikirku, aku menyeruput sesendok kuah soto rasa msg favoritku, ketika hendak menuang sambal dia lalu menambahkan. "Mengapa Aku adalah Aulia dan bukan yang lain?"
Aku mengunyah, tidak berniat meneruskan pembicaraan. Hingga akhirnya aku penasaran kemana arah pembicaraannya.
"Aku yang bagaimana maksudmu? Aku secara fisik atau aku secara konsep?" Tanyaku
"Ah sialan tambah abot!" Katanya
Lhaa, bocah ki piye jal? Dia yang mengajukan pertanyaan, dia yang menggerutu karena pertanyaannya menimbulkan pertanyaan lain dalam benakku.
"Iya, Aku yang terberi? Atau aku yang terbentuk?" Tanyaku lagi.
Yang kumaksud dengan aku yang terberi adalah Aku secara fisik. Aku dan tubuhku. Aku yang terlahir sebagai wanita. Yang kemudian berkulit sawo matang, berhidung tidak mancung, berbadan mungil, tidak pernah lebih dari 45kg dan setinggi 158cm, berbola mata hitam, bertulang kecil, berkaki mungil. Sesuatu yang tidak dapat lagi aku pertanyakan mengapa. Sesuatu yang tidak perlu lagi aku sesali. Walaupun mungkin dulu pernah. Namun itu sudah selesai. Maka jawaban atas pertanyaan Aul, iya pernah, bahkan untuk secara fisik juga. Tetapi aku tidak mendapat banyak jawaban kecuali, aku hanya butuh bersyukur karena fisik yang sangat lengkap, tidak simetris memang, tetapi sempurna. Sangat sempurna. Maka jika tidak bersyukur, atau aku paksakan bersyukur, mungkin saya sudah mati nyemplung kali.
Lalu dia menjawab: "Secara konsep peb. Kenapa Aku berkuliah di jurusan tertentu? Kuliah di kampus tertentu? Bertemu orang-orang tertentu? Bekerja di bidang tertentu?"
Pertanyaan dia menjadi menarik untuk ditanggapi lebih. Namun, Aku malah berakhir diam. Sesendok demi sesendok kunikmati sambil terus berusaha menemukan rasa yang biasanya aku cari. Pertanyaan Aulia sangat menarik. Namun membutuhkan sebuah keberanian yang cukup besar untuk menjawabnya. Tak harus menjawabnya dengan suara atau bahkan kata-kata. Cukup dengan menutup mata saja, sebuah kotak-kotak pandora dalam hati dan ingatanku membuka pelan-pelan. Untuk menjawab pertanyaan Aulia, aku seperti sedang di depan pintu gudang yang gelap. Yang kubuka dengan mengintip pelan-pelan, takut banyak kejutan atas ingatan yang menyergap.
Keberanian atas bertemu kembali dengan mimpi-mimpi yang tertunda atau bahkan terserak tak menemukan jalannya karena Aku tak berusaha cukup keras.
Keberanian untuk melihat kembali wajahku yang terkapar karena kegagalan membuatku jatuh begitu dalam. Kegagalan yang diakibatkan kesombongan, keangkuhan dan kesoktahuanku.
Keberanian dengan nama-nama yang meninggalkan sederet luka. Yang coba kita maafkan karena jika tidak nama itu tidak hanya menjadi sederet huruf, tetapi segores wajah yang menghantui bahkan ketika bertemu dengan wajah lain yang tersenyum manis dan indah sekali.
Keberanian untuk mengikhlaskan bahwa Aku adalah Aku yang kubentuk sendiri dengan segala kebaikan, kecerobohan dan keburukanku.
Mungkin, jawaban Mengapa Aku adalah Aku adalah supaya Aku dapat tetap menikmati soto favoritku tersebut ketika tiba-tiba kotak-kotak dalam gudangku yang gelap tersebut dilempar mendadak kemukaku kapanpun, dan isinya bertebaran kemana-mana, dilihat orang lain. Dan Aku harus tetap tersenyum, berkata "Iya itulah Aku, Monggo nyoto dulu biar tetap sehat."
"Pernah gak sih peb berpikir, "Mengapa kita adalah kita?", "Mengapa Aku adalah Aku?" Katanya.
"Ehmm iya sih, pernah kayanya", kutanggapi sekenanya pertanyaannya. Yang sebenarnya berarti "Ah apaansih nih anak" pikirku, aku menyeruput sesendok kuah soto rasa msg favoritku, ketika hendak menuang sambal dia lalu menambahkan. "Mengapa Aku adalah Aulia dan bukan yang lain?"
Aku mengunyah, tidak berniat meneruskan pembicaraan. Hingga akhirnya aku penasaran kemana arah pembicaraannya.
"Aku yang bagaimana maksudmu? Aku secara fisik atau aku secara konsep?" Tanyaku
"Ah sialan tambah abot!" Katanya
Lhaa, bocah ki piye jal? Dia yang mengajukan pertanyaan, dia yang menggerutu karena pertanyaannya menimbulkan pertanyaan lain dalam benakku.
"Iya, Aku yang terberi? Atau aku yang terbentuk?" Tanyaku lagi.
Yang kumaksud dengan aku yang terberi adalah Aku secara fisik. Aku dan tubuhku. Aku yang terlahir sebagai wanita. Yang kemudian berkulit sawo matang, berhidung tidak mancung, berbadan mungil, tidak pernah lebih dari 45kg dan setinggi 158cm, berbola mata hitam, bertulang kecil, berkaki mungil. Sesuatu yang tidak dapat lagi aku pertanyakan mengapa. Sesuatu yang tidak perlu lagi aku sesali. Walaupun mungkin dulu pernah. Namun itu sudah selesai. Maka jawaban atas pertanyaan Aul, iya pernah, bahkan untuk secara fisik juga. Tetapi aku tidak mendapat banyak jawaban kecuali, aku hanya butuh bersyukur karena fisik yang sangat lengkap, tidak simetris memang, tetapi sempurna. Sangat sempurna. Maka jika tidak bersyukur, atau aku paksakan bersyukur, mungkin saya sudah mati nyemplung kali.
Lalu dia menjawab: "Secara konsep peb. Kenapa Aku berkuliah di jurusan tertentu? Kuliah di kampus tertentu? Bertemu orang-orang tertentu? Bekerja di bidang tertentu?"
Pertanyaan dia menjadi menarik untuk ditanggapi lebih. Namun, Aku malah berakhir diam. Sesendok demi sesendok kunikmati sambil terus berusaha menemukan rasa yang biasanya aku cari. Pertanyaan Aulia sangat menarik. Namun membutuhkan sebuah keberanian yang cukup besar untuk menjawabnya. Tak harus menjawabnya dengan suara atau bahkan kata-kata. Cukup dengan menutup mata saja, sebuah kotak-kotak pandora dalam hati dan ingatanku membuka pelan-pelan. Untuk menjawab pertanyaan Aulia, aku seperti sedang di depan pintu gudang yang gelap. Yang kubuka dengan mengintip pelan-pelan, takut banyak kejutan atas ingatan yang menyergap.
Keberanian atas bertemu kembali dengan mimpi-mimpi yang tertunda atau bahkan terserak tak menemukan jalannya karena Aku tak berusaha cukup keras.
Keberanian untuk melihat kembali wajahku yang terkapar karena kegagalan membuatku jatuh begitu dalam. Kegagalan yang diakibatkan kesombongan, keangkuhan dan kesoktahuanku.
Keberanian dengan nama-nama yang meninggalkan sederet luka. Yang coba kita maafkan karena jika tidak nama itu tidak hanya menjadi sederet huruf, tetapi segores wajah yang menghantui bahkan ketika bertemu dengan wajah lain yang tersenyum manis dan indah sekali.
Keberanian untuk mengikhlaskan bahwa Aku adalah Aku yang kubentuk sendiri dengan segala kebaikan, kecerobohan dan keburukanku.
Mungkin, jawaban Mengapa Aku adalah Aku adalah supaya Aku dapat tetap menikmati soto favoritku tersebut ketika tiba-tiba kotak-kotak dalam gudangku yang gelap tersebut dilempar mendadak kemukaku kapanpun, dan isinya bertebaran kemana-mana, dilihat orang lain. Dan Aku harus tetap tersenyum, berkata "Iya itulah Aku, Monggo nyoto dulu biar tetap sehat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar