Selasa, 26 Juli 2016

?

Ketika aku terbangun lalu mengingat kembali bahwa untuk lulus S1 saja aku membutuhkan waktu 8 tahun dan bagaimana aku terbata-bata menjawab pertanyaan yang sangat sederhana dalam ujian pendadaranku, sungguh hal itu membuatku merasa tak ada lagi yang bisa kusombongkan. Bukan itu saja, aku merasa begitu rendah. Bagaimana segala ilmu yang aku pelajari bisa menghilang begitu saja, atau bagaimana segala hal yang kujejalkan di otakku tak mampu membuatku belajar lebih cepat dari yang lain. Aku bahkan menjadi tidak berani untuk menilai hidup orang lain karena kehidupan akademikku yang buruk ini. Kehidupan akademik yang menjungkir balikkan ranah hidupku yang lain. Allah memang Maha Tahu, bahwa ada bibit-bibit kesombongan yang akan tumbuh subur jika semua jalanku dibuatNya mudah. Dia, mungkin, Memang Maha Penyayang.

Orang bisa saja berkata, aku mencari justifikasi atas kekalahan dan kegagalanku. Bahwa orang sepayah aku dan tidak akan lebih payah lagi akan melarikan kekecewaan-kekecewaan kepada hal yang tak mampu didebat, yaitu, Tuhan. Konsep Tuhan, yang ga asik untuk diperdebatkan.

Ohya, bicara Tuhan memang sudah mentok pada rasa-rasa romantisme. Dia, kupikir selalu yakin bahwa aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku mau, ya walaupun sangat pelan dan sedikit demi sedikit.

Beberapa waktu lalu aku ditertawakan karena tidak mampu menyelesaikan persamaan matematika sederhana, persamaan yang merupakan Fungsi Permintaan. Fatal sekali untuk Mahasiswa Ilmu Ekonomi.

Namun, satu hal yang aku yakini, Aku akan menjadi Ekonom. Aku akan mengemban satu tanggungjawab besar. Aku ge-er sekali ya? Iya memang, Aku hanya mengantisipasi mengingat Tuhan selalu ada-ada saja kepadaku dan dibuatnya aku sungguh rendah sehingga aku tidak lagi mampu merendahkan orang lain. Apa hubungannya dengan Ekonom coba? Entahlah hahaha aku memang harus banyak membaca lagi dan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar