Belum lama ya Bung?
Memang terlalu sebentar.
Baru berapa gagasan yang membuatmu mengernyitkan dahi dan mencibirku?
Baru berapa detak kita lewati dalam diam dan tangan kita menggenggam?
Baru berapa mimpi yang sempat kita bayangkan bersama dalam mata yang temaram mencoba saling menangkap bayang?
Baru sebentar memang bung?
Belum banyak air mata tumpah karena dada yang sesak menahan adiksi sebuah perjumpaan.
Belum banyak gema tawa pada lini ide yang membuat kita merekah.
Belum banyak kegamangan yang kita pilih terjang karena cinta tak membutuhkan prasangka.
Memang baru sebentar Bung.
Dan kini aku ragu, Apa alasanku memintamu pulang? Rumah atau ruang sebelah mana yang mungkin membuatmu rindu? Ekspresi seperti apa yang mampu megundangmu datang kembali?
Semuanya memang hanya sebentar, dan bisa saja bagimu mudah pudar.
Memang terlalu sebentar.
Baru berapa gagasan yang membuatmu mengernyitkan dahi dan mencibirku?
Baru berapa detak kita lewati dalam diam dan tangan kita menggenggam?
Baru berapa mimpi yang sempat kita bayangkan bersama dalam mata yang temaram mencoba saling menangkap bayang?
Baru sebentar memang bung?
Belum banyak air mata tumpah karena dada yang sesak menahan adiksi sebuah perjumpaan.
Belum banyak gema tawa pada lini ide yang membuat kita merekah.
Belum banyak kegamangan yang kita pilih terjang karena cinta tak membutuhkan prasangka.
Memang baru sebentar Bung.
Dan kini aku ragu, Apa alasanku memintamu pulang? Rumah atau ruang sebelah mana yang mungkin membuatmu rindu? Ekspresi seperti apa yang mampu megundangmu datang kembali?
Semuanya memang hanya sebentar, dan bisa saja bagimu mudah pudar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar