Kamis, 14 Juli 2016

Pemberdayaan Wanita

Beberapa kali saya bertemu dengan komunitas atau lembaga yang bisa saya sebut sebagai pejuang pemberdayaan wanita ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan atau ambil pelajaran.Salah satu hal penting yang saya ingatkan pada diri sendiri dan beberapa teman adalah sebaiknya kita jangan terlalu suka berburuk sangka atau khawatir bahwa para pejuang pemberdayaan wanita mengalami salah kaprah mengenai tujuan pemberdayaan wanita. Mereka sebenarnya hanya berusaha memberikan pilihan dan memperbanyak informasi atas apapun yang mereka yakini belum terberi atau aksesnya masih minim kepada para wanita. Jadi, setelah itu semua kembali kepada para wanita-wanita yang disasar apakah akan meresponnya atau tidak. Bahkan pejuang pemberdayaan wanita yang benar sudah mulai memberi kesempatan dan perhatian khusus juga kepada para lelaki yang membutuhkan bantuan, karena mereka sudah menyadari pentingnya sebuah pembagian peran yang diusung pada konsep kesetaraan gender.
Jadi jika sampai ada orang-orang yang nyinyir bahkan dari kalangan wanita sendiri bahwa pejuang pemberdayaan wanita sedang membentuk konstruksi sosial baru, sebenarnya itu agak paranoid. Karena berangkat dari keyakinan bahwa wanita bukanlah setengah manusia dan mereka sepenuhnya sadar atas pilihan masing-masing, maka merekonstruksi mereka dalam aspek sosialnya tidak semudah itu. Namun, jika setelah akses atas segala kesempatan dalam kehidupan sosial (karir, pendidikan, keluarga, dll) itu sudah terberi, dan masih saja ada yang mengkritik pilihan hidup wanita lain, saya khawatir itu berasal dari sebuah pengingkaran atas keinginannya merespon kesempatan yang ada. Atau harus ditilik kembali jangan-jangan dia masih merasa bahwa wanita terlahir untuk menerima yang sudah terberi saja yang kondang dengan sebutan kodrat? Bahkan pemahaman mengenai kodrat saja belum final.
Sehingga kemudian sampai muncul dua golongan yaitu Wanita Karir yang berbangga hati karena merasa sudah membebaskan diri dari kungkungan kodrat dan menertawakan wanita yang memilih sebagai ibu rumah tangga sebagai mereka yang lemah. Dan yang kedua adalah sebaliknya, Ibu Rumah Tangga yang menyindir Wanita Karir yang manyalahi kodratnya dan merasa lebih mulia karena memilih mengabdi kepada keluarga. Jika begitu, menurut saya itu agak melenceng saja sekali lagi dari keyakinan saya bahwa wanita itu adalah sepenuhnya manusia, yang mampu dengan sadar memilih langkahnya dan paham atas konsekuensi, sehingga dia tidak perlu memakaikan pakaiannya kepada orang lain.Namun juga yang perlu diwaspadai, bias yang sangat bisa muncul dari para pejuang pemberdayaan wanita mengenai apa yang sudah terberi dan belum terberi. Kalau bias itu terjadi kita hanya bakal bagaikan memberi garam pada air laut saja, agak buang-buang waktu, kurang tepat sasaran. Hal tersebut tidak begitu bahaya sih jika tujuannya adalah memberikan sebuah informasi. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk meminimalkan bias. Salah satu metode yang paling asik adalah live in, tinggal beberapa saat di komunitas itu dan tinggalkan sebentar standard-standard yang kita biasa jalani pada kehidupan sehari-hari kita. Pun jika tepat sasaran, pemberian informasi seharusnya yang tidak terputus lho, yang tidak setengah-setengah, yang tidak berat sebelah, yang tidak menggiring opini. Eh mana bisa? Kalau belum bisa senetral itu, maka biarkan pihak lain juga masuk untuk memberi mereka informasi lain. Tidak perlu paranoid, tinggal berlomba-lomba dalam kebaikan dan biarkan mereka memilih.#cmiiw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar