Sabtu, 16 Juli 2016

Suatu Sore di Kaliurang

Hujan turun dari siang tadi, aku bersyukur karen udara menjadi lebih hangat. Aku lalu tanpa sadar meyakini dan mengharapkan bahwa kabut tipis pasti akan segera menyergap kami di beranda atas wisma ini. Aku tau aku hanya menebak saja. Namun, aku juga merasakan bahwa keadaan ini selalu familiar pada beberapa waktu yang silam. Kaliurang, dan segala bentuk aktivitas yang dibuat. Beberapa kelompok yakin, dingin, kicau burung, suara kendaraan yang minim, kabut, dan teh, kopi, jahe hangat adalah sebuah stimulus melebur jarak dan mencipta karya bagai kelompok mereka.

Kaliurang, pertama kali aku datang ke sini delapan tahun lalu. Aku yang masih sangat muda dan bermimpi serakus mungkin. Bertemu dengan banyak kawan dari berbagai macam daerah. Perpaduan antara minder dan ingin berkenalan menciptakan sebuah sikap siaga. Mana yang kira-kira bisa kujadikan kawan, atau mana yang mungkin membuat urusanku susah. Aku yang masih yakin sebuah pertemuan baru adalah medan perang. Aku yang tak tahu diri dalam keminderanku, bahwa aku tak pernah punya apa-apa dalam tubuhku yang mungil yang mampu dijadikan senjata, kecuali kehangatan senyum dan kecorobohan kata-kata yang tak akan pernah mampu kukendalikan. Mereka menerimaku begitu saja, menerima kehadiranku yang tak begitu mencolok. Selama aku tidak menjengkelkan kupikir aku akan baik-baik saja.

Itu hanya pertemuan awalku dengan tempat ini. Setelah itu, acara demi acara, orang baru demi orang baru kuhadapi dengan lebih luwes. Aku tak lagi tertarik berperang, setidak tertarik aku kepada sebuah pertemanan baru. Aku hanya akan menikmati bagaimana semesta melemparkanku pada pertemuan-pertemuan di antara sapuan kabut tipis, gemericik hujan dan suara burung, yang semakin kesini kuyakini suara seindah itu tidak mungkin hanya tercipta dari cuitan burung. Ya, aku sadar cuitan burung di sangkar sangat membosankan. Namun, segala carut marut suara benda mati dan bergerak, gesekan batang bambu, serangga, daun jatuh, pasir terbawa angin. Hanya saja, semua itu sangat semarak.

Di beranda ini aku mengingat lagi bahwa pertemuan yang pernah datang seringkali berakhir begitu saja. Pertemuan-pertemuanku dengan berbagai macam orang di Kaliurang, membawa banyak kisah, banyak pelajaran, dan tentu saja saat itu antusiasme yang membuatku terus berjalan, euforia yang membuatku merasa mendapat kesempatan lagi, sebuah awal baru, sebuah kisah baru. Dan toh, semuanya pada akhirnya lewat begitu saja dan aku baik-baik saja.

Aku duduk dan menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah hujan. Walau mungkin tebakanku salah, segala pertemuan dan kesempatan yang pernah kualami di sini membuatku merasa lebih kenal dengan tempat ini dan berani menebak. Ini sama sekali bukan soal benar dan salah, tetapi lebih kepada memberi kesempatan otakmu berpikir dan merasa, memberi kesempatan jiwa dan hatimu kecewa. Tau kah kamu itulah yang menjagaku untuk terus menjadi manusia.

Dan pertemuan-pertemuan lain, di tempat -tempat lain, punya kisahnya sendiri, caraku menghadapinya tak jauh beda dengan segala romantisme yang ada di sini. Aku akan menebak, menunggu dan siap patah hati.

Hai, mengingatmu sekali lagi menghangatkan hatiku yang sedari tadi dingin walau hujan membuat tubuhku hangat. Lalu kemudian, aku tersadar, begitu banyak tugasku yang masih menunggu untuk segera diselesaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar