Kadang seseorang sering lupa memastikan kembali apa yang sebenarnya sedang dicarinya? Berjalan terus, berjuang keras, meninggalkan kenyamanan detik ini untuk untuk sesuatu. Namun, sesuatu apa? Pastikah itu bentuknya? Sebenarnya tidak salah juga jika seseorang tidak tahu apa yang sedang dicari. Namun tentu saja ketika dia tidak tahu betul yang sedang dicari, dia harus meluangkan lebih banyak waktu, menunda lebih lama waktu untuk menemukannya, bahkan bisa tidak ketemu sama sekali.
Apa yang kamu cari sebenarnya? Sampai kapan mau mencari? Tidak kah ingin ada yang menemani?
Mencari sesuatu sendiri tentu lebih mudah. Kita bisa menentukan sendiri apa yang kita cari, kita bisa menentukan jangka waktu dan batas waktunya, target pencapaian dan tentu saja kapan harus berhenti sewaktu-waktu. Toh jika gagal, kamu bisa menyembunyikan kegagalanmu dari orang lain, paling tidak, tidak akan ada suara sumbang mengganggu yang mengkritik dan bicara seolah kita butuh nasehat. Namun, tidakkah ingin ada yang menemani? Segala keributan itu pasti ramai. Ya ramai itu lebih bersuara dari sepi. Yang bisa aku sebut lebih hidup. Tidak masalah juga, jika sekali lagi kamu lebih merasa hidup dengan suara di otakmu sendiri yang mengalahkan pasar itu.
Apa yang kamu cari? Dalam kesendirianmu, dalam standard yang kamu bentuk sendiri, dalam pelarian dan istirahatmu, pastikan saja terus bersyukur, dengan memberi hati dan badanmu haknya. Hak untuk istirahat, makan, beribadah dan mengakui jika kamu sedang kalah dan lelah. Karena jika demam, dalam perjalananmu yang sendiri itu, tak ada selimut hangat atau kasih yang membelaimu lembut. Jika tubuhmu sudah menggigil, paling tidak jangan biarkan hatimu menggigil pula. Bayangkan saja aku yang sedang merengek berisik minta kamu perhatikan, kekasihku. Semoga dengan begitu hatimu bisa kuselimuti. Setelah itu berjalanlah kembali.
Namun, aku masih penasaran, apasih yang sedang kamu cari? Aku di sini secara konsep dan fisik. Bukan aku kah itu yang kau cari?
Apa yang kamu cari sebenarnya? Sampai kapan mau mencari? Tidak kah ingin ada yang menemani?
Mencari sesuatu sendiri tentu lebih mudah. Kita bisa menentukan sendiri apa yang kita cari, kita bisa menentukan jangka waktu dan batas waktunya, target pencapaian dan tentu saja kapan harus berhenti sewaktu-waktu. Toh jika gagal, kamu bisa menyembunyikan kegagalanmu dari orang lain, paling tidak, tidak akan ada suara sumbang mengganggu yang mengkritik dan bicara seolah kita butuh nasehat. Namun, tidakkah ingin ada yang menemani? Segala keributan itu pasti ramai. Ya ramai itu lebih bersuara dari sepi. Yang bisa aku sebut lebih hidup. Tidak masalah juga, jika sekali lagi kamu lebih merasa hidup dengan suara di otakmu sendiri yang mengalahkan pasar itu.
Apa yang kamu cari? Dalam kesendirianmu, dalam standard yang kamu bentuk sendiri, dalam pelarian dan istirahatmu, pastikan saja terus bersyukur, dengan memberi hati dan badanmu haknya. Hak untuk istirahat, makan, beribadah dan mengakui jika kamu sedang kalah dan lelah. Karena jika demam, dalam perjalananmu yang sendiri itu, tak ada selimut hangat atau kasih yang membelaimu lembut. Jika tubuhmu sudah menggigil, paling tidak jangan biarkan hatimu menggigil pula. Bayangkan saja aku yang sedang merengek berisik minta kamu perhatikan, kekasihku. Semoga dengan begitu hatimu bisa kuselimuti. Setelah itu berjalanlah kembali.
Namun, aku masih penasaran, apasih yang sedang kamu cari? Aku di sini secara konsep dan fisik. Bukan aku kah itu yang kau cari?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar