Sabtu, 16 Juli 2016

Nanti

Nanti saja tak apa.
Aku yang bertanggungjawab kepada anak-anakku yang harus lahir sedikit lebih telat karena ibunya mencari seorang partner diskusi di ranjang setiap malam yang merayap semakin matang, bukan hanya bertukar cairan untuk membentuk fisiknya yang biasa disebut proses reproduksi. Karena ibunya berkeyakinan reproduksi bukan hanya tentang menghasilkan bayi yang suatu saat berhidung mancung atau pesek, berkulit hitam atau putih, berbibir tipis atau penuh, tetapi juga berhati tulus atau pamrih, jujur atau bohong, bermental tegar atau lemah, berhati lembut atau kasar. Dan itu semua, selain harus diciptakan dalam tarian-tarian tubuh yang saling berhimpit juga pada diskusi-diskusi tengah malam yang sangat rapid dan sengit.

Nanti kujelaskan pada anakku. Begitulah cinta ayah dan ibunya membawanya ke dunia. Sedikit lebih telat daripada yang lain memang, tetapi bukankah semua hal adalah tepat waktu jika kita mampu menampung waktu untuk sebuah keyakinan?

Nanti saja kujelaskan kepada anakku. Bahwa dia tidak perlu tergesa-gesa melakukan apapun demi sebuah standard yang tidak dihasilkan dari suatu pemahaman penuh yang ia miliki. Hal itu mungkin kemudian membawaya agak telat juga menemukan cintanya, sebuah partner diskusi yang mampu diajak bukan hanya mereproduksi bayi, tapi juga ideologi.

Nanti kujelaskan pula kelemahan ibunya yang pernah juga merengek karena takut tertinggal dan ditinggal. Seakan-akan dirinya sendiri saja bukan hal yang mampu menghidupinya sendiri. Seakan dirinya sendiri bukan hal yang penting utum terus berjalan. Dia harus tau ibunya ternyata ibunya mampu pada akhirnya, tapi mimpi atas diskusi di ujung hari pengantar tidur dalam mendamba kehadiran dia, anak-anakku ke dunia adalah kerinduan luar biasa.

Aku tak sabar menjalani sebuah atau berjuta-juta petualang anakku! Ayahmu, adalah partner yang pasti asik diajak diskusi, dia berhasil membawamu ke dunia yang artinya dia pernah beberapa kali berhasil memeluk kegelisahan ibunya di tengah malam, dan tentu saja mencumbunya. Maka ceritakan segala gelisahmu padanya, dia mungkin sedikit lebih tak peka dan tak solutif, tertawakan saja, lalu ajaklah dia memancing, bersepeda, susur gua, mendaki, atau apapun supaya fisikmu kuat. Aku ibumu, kutakan dengan bangga padamu, jangan remehkan, kususul kalian dengan fisikku yang akan terus kujaga kuat untuk kita melangkah, berlari bahkan mendaki bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar