Minggu, 07 Agustus 2016

Outcomes are not a goal

Saya begidik, merasa ngeri ketika menyadari bahwa semakin banyak pelajar ilmu ekonomi - Suatu ilmu sosial yang diharapkan bisa menjadi pemberi solusi atas keterbatasan sumber daya dan kebutuhan manusia yang tak terbatas - berpikir bahwa belajar ekonometrika adalah tujuan utama atau bagian paling penting dari mempelajari ekonomi. Padahal ekonometrika hanya salah satu alat saja. Walaupun saya sadar bahwa pemodelan itu sangat penting untuk menyederhanakan segala kompleksitas permasalahan pembagian sumber daya ini, namun menjadikannya fokus utama dan terus berkutat dalam permainan-permainan pemodelan tanpa pemahaman konteks dan karakteristik sumberdaya maupun manusianya adalah suatu blunder yang membuat saya ngeri. Kegagalan pemahaman konteks itu tak ubahnya membawa kita kepada masalah besar seperti memberi garam di air laut, sia-sia dan malah menghabiskan sumber daya itu sendiri. Saya sendiri masih lemah dalam mempelajari tools. Penelitian butuh tools, program pun butuh evidence untuk mendukung segala kegelisahan. Namun, konteks, teori dan tools tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, seorang analys, seorang assesor, seorang peneliti harus mau dan mampu memahami konteks dan membaca lagi segala teori yang filosofis maupun memberi ruang kepekaan diri yang seluas-luasnya. Mau turun ke masyarakat dan lapangan, mendengar kebisingan akar rumput akan mempertajam pemahaman seorang pelajar dan peneliti ilmu sosial terhadap konteks. Jadi, gumunan terhadap tools yang ada itu sangat menjebak. Saya khawatir saja, karena kefanatikan seorang peneliti terhadap tools, mereka akan patah hati atau malah tidak mau mengakui bahwa tools tersebut tidak mampu menjawab dan menceritakan pertanyaan mendasar dan keadaan sebenarnya. Saya khawatir kegandrungan terhadap tools tersebut membawa kita menutup mata atas kondisi yang sebenarnya terjadi di luar ruangan kita, di luar layar komputer kita. Dan saya khawatir demi membangun tools dan mempercantik tools tersebut - yang sering disebut sedang memasak oleh peneliti- kita memang hanya akan mengambil bumbu-bumbu yang kita kehendaki.

Dan kemarin malam, sebelum tidur, saya mendapati berita bahwa mentri pendidikan yang terpilih saat ini menyarankan agar pelajar kita untuk menghabiskan waktu sehari penuh di sekolah, full day school, yang berarti menurut saya fool day school. Saya jadi berpikir, kegumunan dan kegandrungan orang-orang terhadap alat semakin menggila, mereka lupa untuk apa bersekolah. Mereka hanya mefokuskan bagaimana membuat sistem sekolah yang baik tapi lupa untuk apa dan untuk siapa. Berkutat pada alat bukan esensi dan tujuan. Begitu juga tentang caver yang berkutat pada single rope technique, begitu juga tentang manusia yang berkutat untuk terus mencari uang yang hanya salah satu alat untuk mencapai tujuan akhirnya. Outcomes are not a goal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar