Saya tidak tahu harus memberi judul apa pada tulisan ini. Sebab kata cantik sangat variarif dan memiliki makna yang sangat relatif. Intinya saya ingin bercerita sedikit tentang kota kelahiran saya yang duh keras dan terik itu. Surabaya memang keras. Kota ini berada di ujung pantai utara dan jauh dari pegunungan, membuatnya sangat terik dan membentuk orang-orangnya menjadi agak temperament. Letak Surabaya yang strategis itu membuat surabaya menjadi jujugan para kapal dagang sejak jaman Hindia-Belanda. Hal tersebut yang membuat orang-orang surabaya menjadi sangat semarak dan bergerak sangat gesit. Perdagangan memang selalu berhasil memutar duit sangat cepat dan membuat manusianya berusaha untuk bergerak lebih cepat mengejar duit-duit itu. Kunci hidup di Surabaya adalah efektif dan efisien. Setidaknya itulah yang saya bayangkan jika saya harus pulang kembali ke kota ini. Setidaknya itulah yang saya tangkap setiap pulang ke rumah mendapati obrolan mengenai Standard hidup dan cara hidup di Surabaya. Dan sejujurnya itu membuat saya sangat nervous.
Saya berpikir berkali-kali untuk memutuskan pulang lagi ke Surabaya atau tidak. Keluarga saya sebagian besar tinggal di Surabaya. Saya terlahir, bergaul, terdidik, dan tumbuh besar di kota ini. Seingat saya, saya tidak pernah mengalami kesulitan berarti selama saya hidup di Surabaya. Bahkan ketika saya menyempatkan pulang lagi, saya selalu mencoba lagi hidup ala Surabaya, saya selalu menikmatinya. Di siang hari, saya belanja kain ke pusat perbelanjaan kain yang berisi wanita-wanita pekerja keras, pengusaha nan cantik dan cermat. Saya membantu kakak saya untuk menjalankan produksi busana muslim nya. Lalu di sore hari saya bisa berkumpul dengan teman-teman saya, walaupun tidak banyak, untuk sekedar menghabiskan malam dengan update gosip terkini di mall. Sepulang itu jika belum terlalu larut saya masih bisa ndusel-ndusel keponakan saya atau curhat dengan bapak ibu saya. Semuanya sempurna. Surabaya selalu menawarkan kehidupan yang nyaman bagi saya dan rumah yang bisa saya pulangi kapanpun. Namun, saya nervous.
Saya nervous membayangkan diri saya menjadi wanita yang sangat efisien dan efektif seperti itu. Saya khawatir saya tidak sempat lagi untuk menghadiri diskusi dan pengajian yang memuaskan nafsu saya dan kehausan saya atas berbagai hal. Jika di jogja saya memiliki kemewahan itu, saya khawatir harus bersayonara dengana kehidupan ala jogja yang saya lakoni ini ketika di Surabaya. Ya, saya memang naif bukan?
Seminggu lalu saya pulang. Saya menyempatkan diri menjenguk rumah dan memulangkan rindu setelah mendapat tugas kerja di Lamongan. Saya hanya pulang selama 2 hari. Saya hanya tidak pulang ke Surabaya tidak lebih dari 4 bulan. Namun kepulangan saya kemarin sedikit berbeda. Saya jarang sekali bepergian ketika pulang ke Surabaya. Karena saya akan lebih memilih tinggal di rumah lebih lama. Saya baru akan mengabari teman-teman dekat saya setelah satu minggu puas di rumah bermain dengan keponakan saya dan telah puas mencoba menjadi wanita pengusaha membantu kakak saya. Kemarin ketika saya pulang, karena ada teman saya yang ikut ke Surabaya, saya akhirnya memilih keluar rumah. Saya malas sekali karena surabaya sangat panas dan memenggg. Tapi akhirnya saya berangkat juga dan mendapati banyak hal yang menarik.
Surabaya cantik sekali. Surabaya membangun. Surabaya bersih dan hijau. Surabaya menjajikan hidup yang asyik. Surabaya memutar kembali seluruh kenangan yang saya miliki sejak saya kecil hingga penghujung SMA saya. Saya tersenyum di belakang Pak Gojek. Betapa pesat perubahan kota ini, namun tetap saja saya mampu menemui berbagai kisah yang terserak di antara jalan-jalannya yang lebar. Bagaimana saya dulu dibonceng bapak ibu saya dengan jas hujan kresek untuk pulang ke rumah. Bagaimana saya dijemput bapak saya setelah nonton band-band punk dan underground favorit saya. Bagaimana saya berjuang bersama teman-teman saya mengikuti bimbingan belajar, try out, toefl dan saya sempat bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Bagaimana saya diboncengkan mas saya dengan cb bututnya yang selalu mogok dan dia masih saja sok pamer menikung rendah seperti valentino Rossi. Bagaimana patah hati pertama saya melihat cowo yang yang suka membonceng pacarnya. Bagaimana taksi yang saya dan sahabat perempuan saya naiki diberhentikan oleh polisi karena itu sudah jam 12 malam. Dan begitu banyak bagaimana yang lain dengan mudahnya berjejalan minta untuk diputar kembali di otak saya.
Dan di antara keengganan saya dan rindu saya, Orang tua saya yang selalu sabar untuk menanti saya pulang. Sampai sekarang pun begitu.
Kemarin saya pulang, menyadari ketakutan saya tidak berdasar. Karena saya menemukan beberapa acara asik yang diadakan oleh komunitas asik. Dan malam di Surabaya, yang terasa alay jika saya menilainya dari jogja, ternyata lumayan menyuguhkan romantisme. Saya melemparkan pandangan mata saya keluar kaca mobil, melihat gedung-gedung tinggi itu. Saya bisa bermain sekali dua kali ke gedung-gedung tinggi itu. Mungkin bertemu teman-teman atau rekan kerja. Saya tidak harus menjalani rutinitas seperti mereka. Saya cuma perlu berkenalan dengan mereka. Dan pada akhir pekan, saya bisa kabur ke kota sekitar Surabaya untuk naik gunung atau caving. Saya yakin, ketika saya memutuskan pulang ke Surabaya semuanya akan baik-baik saja dan kecantikan Surabaya dalam waktu yang tidak lama akan membuat saya tidak ingin pergi kemana-mana.
Maka jika sekali lagi bapak saya bertanya, inginkah kamu pulang lagi? Kujawab, itu tawaran yang menarik, tapi saya akan mencari dulu lingkaran yang mampu membuat saya terus berpikir bukan hanya berproduksi.
Teringat kata mbah buyut saya, urip ning ndi wae kui podo wae, podo-podo bumine Pangeran. Maka selamanya Surabaya akan menjadi pilihan pulang yang paling nyaman, tetapi jogja saat ini ada di hati saya.
