Selasa, 29 November 2016

Surabaya yang cantik

Saya tidak tahu harus memberi judul apa pada tulisan ini. Sebab kata cantik sangat variarif dan memiliki makna yang sangat relatif. Intinya saya ingin bercerita sedikit tentang kota kelahiran saya yang duh keras dan terik itu. Surabaya memang keras. Kota ini berada di ujung pantai utara dan jauh dari pegunungan, membuatnya sangat terik dan membentuk orang-orangnya menjadi agak temperament. Letak Surabaya yang strategis itu membuat surabaya menjadi jujugan para kapal dagang sejak jaman Hindia-Belanda. Hal tersebut yang membuat orang-orang surabaya menjadi sangat semarak dan bergerak sangat gesit. Perdagangan memang selalu berhasil memutar duit sangat cepat dan membuat manusianya berusaha untuk bergerak lebih cepat mengejar duit-duit itu. Kunci hidup di Surabaya adalah efektif dan efisien. Setidaknya itulah yang saya bayangkan jika saya harus pulang kembali ke kota ini. Setidaknya itulah yang saya tangkap setiap pulang ke rumah mendapati obrolan mengenai Standard hidup dan cara hidup di Surabaya. Dan sejujurnya itu membuat saya sangat nervous.

Saya berpikir berkali-kali untuk memutuskan pulang lagi ke Surabaya atau tidak. Keluarga saya sebagian besar tinggal di Surabaya. Saya terlahir, bergaul, terdidik, dan tumbuh besar di kota ini. Seingat saya, saya tidak pernah mengalami kesulitan berarti selama saya hidup di Surabaya. Bahkan ketika saya menyempatkan pulang lagi, saya selalu mencoba lagi hidup ala Surabaya, saya selalu menikmatinya. Di siang hari, saya belanja kain ke pusat perbelanjaan kain yang berisi wanita-wanita pekerja keras, pengusaha nan cantik dan cermat. Saya membantu kakak saya untuk menjalankan produksi busana muslim nya. Lalu di sore hari saya bisa berkumpul dengan teman-teman saya, walaupun tidak banyak, untuk sekedar menghabiskan malam dengan update gosip terkini di mall. Sepulang itu jika belum terlalu larut saya masih bisa ndusel-ndusel keponakan saya atau curhat dengan bapak ibu saya. Semuanya sempurna. Surabaya selalu menawarkan kehidupan yang nyaman bagi saya dan rumah yang bisa saya pulangi kapanpun. Namun, saya nervous.

Saya nervous membayangkan diri saya menjadi wanita yang sangat efisien dan efektif seperti itu. Saya khawatir saya tidak sempat lagi untuk menghadiri diskusi dan pengajian yang memuaskan nafsu saya dan kehausan saya atas berbagai hal. Jika di jogja saya memiliki kemewahan itu, saya khawatir harus bersayonara dengana kehidupan ala jogja yang saya lakoni ini ketika di Surabaya. Ya, saya memang naif bukan?

Seminggu lalu saya pulang. Saya menyempatkan diri menjenguk rumah dan memulangkan rindu setelah mendapat tugas kerja di Lamongan. Saya hanya pulang selama 2 hari. Saya hanya tidak pulang ke Surabaya tidak lebih dari 4 bulan. Namun kepulangan saya kemarin sedikit berbeda. Saya jarang sekali bepergian ketika pulang ke Surabaya. Karena saya akan lebih memilih tinggal di rumah lebih lama. Saya baru akan mengabari teman-teman dekat saya setelah satu minggu puas di rumah bermain dengan keponakan saya dan telah puas mencoba menjadi wanita pengusaha membantu kakak saya. Kemarin ketika saya pulang, karena ada teman saya yang ikut ke Surabaya, saya akhirnya memilih keluar rumah. Saya malas sekali karena surabaya sangat panas dan memenggg. Tapi akhirnya saya berangkat juga dan mendapati banyak hal yang menarik.

Surabaya cantik sekali. Surabaya membangun. Surabaya bersih dan hijau. Surabaya menjajikan hidup yang asyik. Surabaya memutar kembali seluruh kenangan yang saya miliki sejak saya kecil hingga penghujung SMA saya. Saya tersenyum di belakang Pak Gojek. Betapa pesat perubahan kota ini, namun tetap saja saya mampu menemui berbagai kisah yang terserak di antara jalan-jalannya yang lebar. Bagaimana saya dulu dibonceng bapak ibu saya dengan jas hujan kresek untuk pulang ke rumah. Bagaimana saya dijemput bapak saya setelah nonton band-band punk dan underground favorit saya. Bagaimana saya berjuang bersama teman-teman saya mengikuti bimbingan belajar, try out, toefl dan saya sempat bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Bagaimana saya diboncengkan mas saya dengan cb bututnya yang selalu mogok dan dia masih saja sok pamer menikung rendah seperti valentino Rossi. Bagaimana patah hati pertama saya melihat cowo yang yang suka membonceng pacarnya. Bagaimana taksi yang saya dan sahabat perempuan saya naiki diberhentikan oleh polisi karena itu sudah jam 12 malam. Dan begitu banyak bagaimana yang lain dengan mudahnya berjejalan minta untuk diputar kembali di otak saya.

Dan di antara keengganan saya dan rindu saya, Orang tua saya yang selalu sabar untuk menanti saya pulang. Sampai sekarang pun begitu.

Kemarin saya pulang, menyadari ketakutan saya tidak berdasar. Karena saya menemukan beberapa acara asik yang diadakan oleh komunitas asik. Dan malam di Surabaya, yang terasa alay jika saya menilainya dari jogja, ternyata lumayan menyuguhkan romantisme. Saya melemparkan pandangan mata saya keluar kaca mobil, melihat gedung-gedung tinggi itu. Saya bisa bermain sekali dua kali ke gedung-gedung tinggi itu. Mungkin bertemu teman-teman atau rekan kerja. Saya tidak harus menjalani rutinitas seperti mereka. Saya cuma perlu berkenalan dengan mereka. Dan pada akhir pekan, saya bisa kabur ke kota sekitar Surabaya untuk naik gunung atau caving. Saya yakin, ketika saya memutuskan pulang ke Surabaya semuanya akan baik-baik saja dan kecantikan Surabaya dalam waktu yang tidak lama akan membuat saya tidak ingin pergi kemana-mana.

Maka jika sekali lagi bapak saya bertanya, inginkah kamu pulang lagi? Kujawab, itu tawaran yang menarik, tapi saya akan mencari dulu lingkaran yang mampu membuat saya terus berpikir bukan hanya berproduksi.

Teringat kata mbah buyut saya, urip ning ndi wae kui podo wae, podo-podo bumine Pangeran. Maka selamanya Surabaya akan menjadi pilihan pulang yang paling nyaman, tetapi jogja saat ini ada di hati saya.

Minggu, 27 November 2016

Keluarga Embun untuk Wiken yang Cerah

Wiken harus kerja? How it feels? Beberapa kali saya mengalami ini. Sudah mulai terbiasa walaupun kadang masih dongkol. Namun mau bagaimana lagi, logika program seperti itu memang. Tiada waktu untuk tidak mengoptimalkan capaian, revisi, evaluasi dan rencana tindak lanjut. Apalagi petinggi-petinggi yang sibuknya super seperti tak punya udel itu seringkali hanya bisa diajak ngobrol A to Z cuma di hari minggu. How it feels? Sucks! Sucks at the very first time, karena saya jadi tidak bisa mengunjungi teman-teman terdekat saya di Jogja. Padahal dulu tujuan saya mencari pekerjaan di jogja agar bisa main ke rumah mereka, bercanda riang di akhir pekan sambil ngeteh. Namun, sekali lagi saya sudah terbiasa.
Saya terkesan mengeluh? Iya saya mengeluh. Namun, sungguh saya sangat mencintai pekerjaan saya. Saya mengeluh hanya pas berangkat kerja saja. Namun, ketika saya ada di lokasi tempat rapat, workshop dan kantor sesungguhnya saya langsung tune in. Jabanin dah walau otak ngepul, karena saya merasa mendapat banyak sekali ilmu. Ukuran kesuksesan saya dalam bekerja dan menjalani hidup adalah masih bisa dikelilingi banyak orang yang bisa membuat saya mindgasm dan tertawa lepas. Ohya satu lagi, makan kenyang. Alhamdulillahh, i've got it all.
Sorry intronya agak kepanjangan.
Nah, wiken ini saya sekali lagi harus bekerja hingga larut. Dan di tengah proses bekerja saya, dari kemarin, Yudhis, bapaknya si Embun mengirim foto-foto embun. Bapaknya embun yang super kemlathak ini selalu saja mengiming-imingi saya foto embun. Beberapa kali di hari sabtu dan minggu, embun tersenyum sangat menggoda seakan minta dicium dan diampiri. Bahkan sering kali saya mikir, Yudhis mengirim foto embun dengan bertujuan agar saya tidak lali mbojo. Duh embun iya onti mau punya anak kayak kamuuu. Iya onti bakal segera bikin teman buatmu lol
Di tengah otak ngepul dan diskusi pelik, embun sering kali menyegarkan hari saya, mata dan otak saya menjadi seketika bersemangat. Dia segar sekali seperti namanya. Bapaknya benar-benar sudah berhasil mewujudkan nama yang sangat sesuai dengan embun secara harafiah. Embun segar dan membuat banyak orang bahagia. Embun cerah dan segar, dia memantulkan segala kebaikan yang ada di sekitarnya. Embun, dikelilingi orang-orang baik dan keluarga yang baik.
Saya seringkali bersyukur, walau saya jauh dari keluarga inti saya, saya diberi penghiburan oleh Allah dengan teman-teman yang memperlakukan saya seperti adik, seperti kakak, seperti saudara perempuan kandung. Saya seringkali ge-er, betapa Allah tidak pernah membiarkan saya sendiri. Betapa Allah sangat mencintai saya dengan mengirimkan segambreng orang-orang penuh kasih sayang ini. Embun adalah manifesto kebahagian dari keluarga yang bahagia. Dia adalah doa dan harapan. Dia adalah parameter keberhasilan sejati. Saya rela deh dicengin dihina dikritik pedas oleh bapaknya untuk bisa menuju keluarga yang bahagia yang dimiliki oleh Yudhis dan Monic. They are my favourite couple and Embun is my favourite baby!
Saya sangat bangga dan menjadi ikut memiliki si embun. Saya hadir di tengah-tengah Monic dan Yudhis ketika mereka menikah, ketika Monic hamil dan Yudhis harus bepergian mencari sesuap apa itulah namanya, ketika Embun lahir. Saya merasakan proses mereka berjalan sangat baik. Walaupun saya tahu pasti mereka punya juga problem yang mereka redam berdua di kontrakannya yang sederhana itu. Saya akan selalu mengulang dan menceritakan banyak hal menyenangkan yang saya lewati bersama mereka kepada teman-teman saya lainnya.
Embun, Monic dan Yudhis, akan selalu menjadi salah satu pilihan terbaik saya untuk meredakan syaraf otak yang tegang, untuk menghapus sedih dan kalut saya, untuk menurunkan ego saya yang melangit, untuk memberi pandangan-pandangan yang sederhana. Saya tidak tahu kebaikan apa yang pernah saya lakukan hingga Allah memberikan saya kesempatan untuk bertemu dengan keluarga sebaik mereka di waktu-waktu terberat saya. Terimakasih, terimakasih, terimakasih keluarga Embun.


Sabtu, 26 November 2016

Kenapa Bohong?

Tengah malam dan Saya mendapati fakta yang menimbulkan asumsi. Saya sebal juga sama otak saya kenapa bisa mencerna sebuah informasi terlalu terburu-buru. Begini kadang Saya sudah rancu mana otak dan mana perasaan, mungkin sebenarnya keduanya tidak pernah terpisah secara harfiah. Hanya penyair saja dan psikolog yang membuatnya berbeda. Seakan-akan bahwa keduanya bisa dipilih dan dimanajemen sebaik mungkin.
Beberapa minggu ini Saya sudah mengolah perasaan saya sebaik mungkin untuk lebih logis. Karena jauh di dalam perasaan saya, Saya sedang terluka dan bersedih. Saya tidak mau itu berujung pada hal yang kontraproduktif dan melemahkan saya secara psikis maupun fisik, karena saya masih punya tanggungjawab berupa pekerjaan. Dan memanfaatkan segala kemewahan jogja, rejeki berupa teman, acara asik, dan uang yang selalu cukup, saya rasa saya tidak punya banyak alasan untuk memilih bersedih sedih terlalu lama. Namun malam ini, semua runtuh. Lagi. Iya runtuh lagi. Hahahaha
Begini, saya ingin membahas tentang berbohong. Mengapa seseorang berbohong? Apakah dia ingin membuat sesuatu lebih baik? Iya saya pernah berbohong, dan sebenernya keadaan tidak lebih baik pada akhirnya. Saya hanya menunda bom untuk meledak sewaktu-waktu. Atau seperti pepatah lama bahwa bangkai yang berbau busuk pasti akan tercium juga. Namun, saya punya sesuatu yang harus saya lindungi. Apa itu? Harga diri saya. Saya kadang merasa bahwa ketika saya berbohong, saya hanya sedang melindungi dan membela harga diri saya sendiri. Karena saya tidak mau terlihat buruk, saya tidak mau kehormatan saya hilang di mata seseorang, saya ingin dia tidak terluka karena saya. Namun, apakah benar itu yang terjadi? Sayangnya, yang terjadi sebaliknya, kita membhat seseorang menjadi lebih buruk karena tidak memberinya cukup informasi untuk memilih. Dan apakah seseorang itu terhormat ketika dia tidak memberikan kehormatan kepada manusia lain?
Aih entahlah, saya yang naif atau saya hanya sedang sakit hati. Saya merasa dibohongi. Sebenarnya sejak awal saya sudah merasakannya. Saya bahkan merasa Allah begitu menyayangi saya dengan memberi banyak petunjuk tanpa saya cari tahu. Allah memberi saya informasi bertubi-tubi agar saya memilih. Sayangnya saya mengabaikan tanda, dan mengikuti ego saya. Memberi makan sebanyak-banyaknya kepada ego saya hingga muntah. Dan sekarang, saya sadar apa yang saya makan itu buruk, lalu saya marah kepada orang yang memberi saya makan itu? Padahal sejak awal dia bilang, konsekuensi ada di tangan saya, apapun bisa terjadi.
Ahh semakin kemana-mana saja ini bahasan. Saya hanya merasa sangat buruk. Saya marah, saya sebal, saya sakit hati. Seharusnya saya merasa berhak untuk itu. Namun, mengapa itu membuat saya makin buruk? Saya seharusnya bersyukur pertemuan hari itu telah mengangkat beban berat seseorang. Dia tidak harus lagi berbohong, jika itu yang dia maksudkan sejak awal. Dan jika dia memang tidak pernah berniat membohongi saya, maka pertemuan kemarin benar-benar yang terbaik bagi kami berdua. Saya merasa buruk membayangkan bahwa saya menuduh seseorang telah berbohong dan membuatnya di posisi serba salah. Lalu dia harus membatasi ruang gerak, komunikasi dan ekspresinya. Oh Tuhan, tapi banyak fakta yang menunjukkan dia memang benar-benar berencana membohongiku. Dan pada akhirnya aku mengembalikan kepada prinsip awalku. Tidak ada yang benar-benar salah jika itu datangnya dari manusia, yang salah adalah kita salah membaca tanda dan berharap terlalu banyak.
Aku ingin menangis malam ini. Namun air mataku tidak keluar, aku tersadar cinta itu indah. Cinta itu fitrah manusia. Jika dia jatuh cinta kepada orang lain, apa yang bisa aku hentikan? Dan seharusnya aku bersyukur aku masih mampu memberinya hadiah berupa keleluasaan kepadanya untuk jatuh cinta, bertemu dan merayakannya tanpa ada lagi kebohongan.
Mas, jika kamu membaca ini, aku meminta maaf telah merebut dan menunda apa-apa yang seharusnya kamu rayakan. Jatuh cintalah sebanyak yang kamu mampu dan mau. Buang jauh kebohonganmu. Mungkin aku juga harus belajar membuang jauh tidak hanya insecure ku, tapi kecurigaanku. Selamat bahagia, kau yang pernah kukasihi.

Rabu, 23 November 2016

Bagaimana dengan Komitmen?

Melanjutkan postingan saya sebelumnya, yang intinya menyatakan bahwa setiap orang berhak memilih mekanisme pertahanan hidupnya, seorang teman bertanya kepada saya, "Lalu di mana tempatnya komitmen jika semua orang berhak datang dan pergi sesuka hati?" Hmm. Pertanyaan yang cukup menggelitik dan mampu membuat kita tersenyum miris. Saya berpikir sejenak dan mendapati sebuah jawaban yang menarik menurut saya. Kita tidak hanya sedang berbicara suatu hubungan seseorang dengan seseorang lain, seseorang dengan suatu kelompok, bahkan mungkin, hubungan seseorang kepada suatu kondisi, pekerjaan, keyakinan maupun ilmu tertentu.

Di mana letaknya komitmen? Seharusnya komitmen tidak ada pada kedua cara yang saya sebut mekanisme bertahan hidup itu. Tidak ada pada keduanya, tidak ada di antaranya. Kita masih bicara mekanisme bertahan hidup lho, subsisten. Karena Komitmen, menurut saya hanya akan didapati kepada manusia-manusia yang sudah selesai dengan itu semua. Sudah selesai memikirkan dirinya sendiri, sudah selesai memikirkan bagaimana agar dirinya selamat.

Komitmen hanya untuk orang yang berani, hanya untuk orang yang ingin saling menghidupi, yang sebenarnya tanpa partnernya dia bisa jalan sendiri, yang sebenarnya selalu ada pilihan untuk berjalan dengan orang atau kelompok lain. Lalu, jika nanti di tengah perjalanannya, seseorang yang pada awalnya berkomitmen memilih untuk berhenti, artinya dia sedang memiliki sesuatu pada dirinya sendiri yang harus ia perjuangkan. Bahwa mungkin dia hampir tenggelam dan takut tenggelam lebih dalam, maka dia berhak untuk memilih berhenti, karena setiap orang tahu kapasitas masing-masing.

Kesadaran bersama bahwa komitmen tidak bisa dipaksakan harus ada di tengah hubungan kita, bahwa sesuatu yang disebut "saling" seharusnya berjalan sangat natural tanpa harus ada yang merasa berkorban lebih dan dikorbankan. Kesadaran bahwa komitmen jauh di atas itu semua, komitmen hanya untuk seseorang yang sudah siap kesepian sewaktu-waktu partnernya berhenti atau pergi. Dia siap menanggung kemungkinan lenyapnya kebiasaan bersama yang membuat rongga dadanya kosong setengah. Dia siap bahwa setelah partnernya pergi dia sudah tidak memiliki tempat untuk memulangkan kesedihan dan kawan untuk merayakan kebahagiaan karena sebelumnya dia telah berkomitmen hanya pada satu orang, satu kelompok, satu kondisi, satu pekerjaan, satu ilmu, atau satu entitas apapun itu. Dan di antaranya kesepiannya serta kehilangannya itu dia akan terus berjalan.

Komitmen jauh dari jangkauan kita yang masih memikirkan bagaimana cara bertahan hidup. Komitmen adalah bentuk dari jatuh cinta itu sendiri, sesuatu yang tidak dapat dipaksakan ada. Namun, pada akhirnya saya berpikir bahwa kita tidak harus jatuh cinta dulu untuk berkomitmen. Mengkomunikasikan bahwa kita memilih berhenti, lelah, tidak mampu atau sedang ingin bertahan hidup saja itu adalah salah satu bentuk komitmen untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Bertahan dari Kesepian

Ada dua cara setidaknya yang saya pahami ketika seseorang memilih kehidupan sosialnya. yang pertama, seseorang yang memilih mengurangi keterlibatan orang lain dalam hidupnya, mengurangi keterikatan dengan orang lain, memperkecil lingkaran privasinya, berkomunikasi secukupnya dengan orang yang singgah atau ditemuinya sepanjang hidupnya, supaya hidupnya semakin efektif dan efisien.

Sementara yang kedua adalah, seseorang memilih untuk merayakan setiap pertemuan, jatuh cinta kepada siapa saja yang ditemuinya, merawat hubungan baiknya dengan orang-orang di sekitarnya, memberikan yang terbaik yang dimilikinya hari itu kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, hidup dalam moment bersama orang-orang yang ada hari itu, supaya kesedihannya yang kontraproduktif lekas lenyap.

Dan kedua cara tersebut sejatinya hanyalah pilihan atas alternatif-alternatif mekanisme untuk mengantisipasi kesepian. Kedua cara tersebut diambil seseorang yang tahu bahwa pada akhirnya kita akan kehilangan orang-orang terdekat kita. Dengan begitu, pada cara pertama, seseorang memilih untuk terbiasa kesepian dengan membatasi keterlibatan orang lain di hidupnya. Dan pada cara kedua seseorang membiasakan diri hidup dengan siapa saja yang hadir di hidupnya.

Keduanya punya konsekuensi logis dan setiap orang berhak memilih bagaimana cara dia bertahan hidup. Dalam perjalanan dan persinggahan kita, kita akan bertemu dengan orang yg memiliki mekanisme pertahan yang sangat berbeda dengan kita. Tidak ada yang bermaksud meninggalkan dan merasa ditinggalkan seharusnya, jika itu bisa dikomunikasikan dan dipahami bersama dengan baik. Everybody's changing, Everybody's moving.

Wanna thanks to me? You are welcome 💋

Kamis, 17 November 2016

Membaca Hati

Maukah Kau bersabar sayang dalam menerjemahkan hatimu?
Maukah Kau tidak terburu-buru sayang dalam mengikuti rasamu?
Kau berkata rindu pada suatu hari lalu mengeluh lelah menunggu.
Kau berkata ingin bertemu seseorang, lalu di suatu pagi kau berjumpa seseorang lainnya yang mirip seseorang lainnya. Rindumu berbalik arah.

Mengapa kamu selalu merasa kesepian di tengah keramaian? Tahukah sayang obat kesepian adalah berdiskusi sepenuhnya dengan diri sendiri. Bukan malah menyalakan kembang api, mencari perhatian agar semua orang datang mengunjungimu

Maukah kau bersabar sayang dalam membaca tanda?
Bahwa ada yang ingin membicarakan ini semua dengan tuntas denganmu. Dialah Kekasihmu. Kekasih dari segala Kekasih.

Maukah kau duduk sejenak sayang dalam duniamu yang cepet dan ribut itu? Hidup bukanlah pasar malam. Malam bukanlah malam jika tidak gelap. Dan hati bukanlah hati jika tidak bisa berkawan sunyi.

Maukah kau berusaha sayang? Berusaha dengan sabar, untuk tidak lagi salah membaca hatimu sendiri, lalu menyebut cinta penipu.

Maukah kau mencoba sayangku, kau Febrianti Nur Ajizah, berdamaialah dengan kesepianmu, mungkin kau hanya merindukan dirimu sendiri, bukan orang lain. Mungkin itulah mengapa hidupmu dibuat gaduh, supaya kau rindu sepi, dan rindu Kekasihmu.

Selasa, 15 November 2016

Farewell (1)

"Hai."

Lelaki itu datang, menyapa gadis itu dengan singkat. Tanpa senyum, seperti biasa. Ah tidak, ini tidak biasa, wajahnya tegang. Dia seperti mempersiapkan diri untuk sebuah perang.

"Halo Bung!".

Gadis itu berhitung, Lelaki itu terlambat 20 menit. Dua puluh menit yang bukan apa-apa jika dibandingkan penantiannya. Dua puluh menit yang sangat layak, bahkan Gadis itu yakin, dia siap untuk menunggu lebih lama. Gadis itu akhirnya memilih untuk mengeluarkan semua energi positif yang dia tabung berbulan-bulan. Hasil peperangannya dengan dirinya sendiri setiap malam. Gadis itu tidak pernah tertarik berperang dengan orang lain. Dia terlalu lelah dengan dirinya sendiri.

"Ah akhirnya aku ketemu kamu juga bung! Bisakah kau beri aku tandatanganmu di jidatku. Aku merasa seperti fans berat yang akhirnya bertemu idolanya."

Gadis itu mencoba melempar sebuah kehangatan yang mampu mencairkan gunungan es. Di tengah malam yang dingin, dia mulai ngilu. Dia menangkap sekelebat genderang perang yang sudah dibawa oleh lelaki itu. Namun, sebelumnya dia telah berjanji, tidak ada genderang perang yang akan ditabuh malam ini.

"Apasih, lebay..."

Lelaki itu menimpalinya. Mereka berdua tahu, tak ada kehangatan yang bisa sengaja diciptakan untuk mencairkan gunung es di antara mereka. Semua bahan bencadaan kehilangan fungsinya. Jembatan yang sebelumnya menghubungkan mereka berdua telah terbakar atau dibakar.

"Pesan minum mas?"

"Oke. Sebenernya aku lapar. Kamu sudah makan?"

"Sudah. Di sini spaghetti ogli olionya lumayan."

"Aku pesan kopi saja."

Pelayan datang. Lelaki itu memesan kopi, yang namanya tak terlalu familiar untuk telinga gadis itu. Gadis itu tak pernah peduli dan ingin tahu lebih mengenai kopi, karena Dia merasa dia adalah tea-person. Pelayan pergi.

Mereka Berdua memulai obrolan. Detik itu mereka sepakat, ada yang harus diselesaikan tuntas malam itu. Mereka sepakat untuk tidak saling menyakiti lagi. Mereka sepakat untuk saling memanusiakan manusia. Lucu sekali, hanya pada pertemuan yang belum berjalan selama lima menit mereka telah menyepakati banyak hal tanpa banyak kata. Jari mereka saling mengetuk di meja, di depan muka masing-masing. Mereka tidak saling pandang, mereka bermain dengan pikiran masing-masing. Si lelaki menyiapkan jawaban, si gadis menyiapkan pertanyaan. Nyatanya mereka membisu, suara jangkrik semakin kencang. Jarak ratusan kilometer kini menjadi hanya puluhan centimeter. Dan mereka bersepakat dalam Diam. Begitulah, mereka sadar jarak memang brengsek! Membuat ribuan kata kehilangan makna. Membuat dua manusia saling mencurigai satu sama lain. Membuat Dua manusia merasa saling tidak membutuhkan lagi.

Kopi datang. Gadis itu tersenyum mendapati nama rumit tadi di buku menu adalah nama untuk kopi susu yang dihidangkan dengan gelas dan corong aneh. Tempat itu salah satu cafe favorit si Gadis, tetapi kopi memang terlalu sophisticated untuknya. Selalu tak terduga bentuknya, sama saja.

"Kamu tidak memasukkan racun dalam kopiku kan? Jangan-jangan kamu bukan memasukkan sianida tapi potasium."

Kesepakatan dalam diam tadi nyatanya membuahkan hasil. Lelaki itu melemparkan canda. Mungkin Dia sudah membuang jauh genderang perangnya. Mungkin digadaikan. Entahlah, dia lelaki rasional dan perhitungan. Dia selalu tahu apa yang Dia lakukan. Dan kini candanya mampu membuat si gadis tersenyum, miris.

"Andai aku bisa melakukannya. Sudah kulakukan. Sayangnya aku terlalu mencintaimu." Batin si gadis. Dan yang keluar dari mulut si gadis mendapati canda hangat itu adalah canda yang sudah sangat kuno.

"Aku memasukkan pelet mas."

Sudah barang tentu, si gadis itu benar-benar tak mampu mengelola levelnya di depan lelaki itu. Dia ingin bisa melakukan segalanya agar malam itu tak segera berakhir. Sayangnya dia sudah lupa bagaimana caranya. Dia sudah lupa cara untuk bergenit-genit sembari menjaga gengsi agar si lelaki menginginkannya balik.

"Pelet ikan?"

Lelaki itu membalasnya dengan culas dan ekspresi wajah datar. Si gadis sadar, candanya sangat tidak berkualitas. Candanya tak mampu mengubah apapun. Dia hanya mampu memandangi si lelaki sibuk menuangkan kopi susu nya di atas es batu dan berharap dia mampu mencairkan hati lelaki itu seperti kopi itu mencarikan es batu.

"Jadi begini ... "

Si lelaki memulai obrolannya. Gadis itu sudah tidak lagi peduli apapun yang lelaki itu jelaskan. Dia hanya bersyukur dan bersyukur bahwa yang dia temui sore tadi tanpa sengaja dan malam itu ada di hadapannya bukanlah setan. Terlebih lagi ini bukan mimpi dan dia tidak berhalusinasi. Lelaki itu terus menjelaskan, sedang si gadis terus menjelajahi bola mata lelaki yang sangat dicintainya itu. Dia mendapati lelaki itu sedang lelah, sayangnya bukan Dia rumah yang ingin dia pulangi.

Lelaki itu bicara sangat sistematis dan logis. Sedang Gadis itu menopangkan kepalanya di tangan. Kepalanya tidak berat, hanya saja terasa kosong, Dia khawatir kepalanya terbang. Dia sudah membuang semua isi kepalanya sore tadi, supaya siap menerima apapun yang akan dikatakan oleh lelaki itu.

Lelaki itu diam sejenak. Akhirnya dia mau membalas pandangan gadis itu. Dia singgah sejenak. Dia menatap mata gadis itu seakan Dia telah memilih mau masuk ke ruang tamu yang sudah lama disiapkan gadis itu.

"Aku boleh merokok?"

Si Gadis tersenyum. Dia merasa lelaki itu benar-benar sedang singgah di ruang tamunya. Lelaki itu, si arrogant, jarang sekali meminta ijin dulu untuk merokok.

"Silahkan, mas."

"Yes!" Si lelaki mengepalkan tangannya dan menariknya turun. Gesturenya puas sekali. Seperti telah mengalahkan segala prinsip si gadis. Harusnya Dia tahu, Dia sudah merobohkan si gadis itu berkali-kali. Dia selalu menang.
Dihisapnya rokok itu. Setelah beberapa kali hembusan, lelaki itu melanjutkan bicaranya.

"Kamu pintar kan? Kamu sangat terbuka atas hal seperti ini. Jadi seharusnya semuanya sudah jelas."

"Hell!" Si gadis itu hampir tertawa. Ini lagi? Seriously? Gadis itu terhempas menyadari sekali lagi seorang lelaki merasa boleh melakukan apapun padanya karena menganggapnya pintar.

"Aku wanita biasa mas. Aku punya perasaan. Aku menangis. Aku patah hati. Aku terluka."

"Iya tapi kamu pasti akan baik-baik saja."

Senin, 14 November 2016

Maaf, Intan...

Sepuluh hari yang lalu, ribuan saudara muslimku berbondong-bondong turun ke jalan. Mereka terluka, agamanya dinistakan. Mereka marah, kitab suci kami disebut berbohong. Kami, mereka, mengutuk pelaku penistaan agama. Mereka menolak bahwa yang mereka lakukan adalah bentuk kebencian kepada seseorang, terlebih bahwa yang mereka lakukan adalah bagian dari aksi politik. Mereka menyatakan berkali-kali, semua aksi yang mereka lakukan adalah bentuk cinta mereka terhadap Allah. Terhadap Agama yang Allah berikan untuk mereka. Mereka membela islam, mereka membela umat islam yang tidak mau berteriak. Mereka bilang, mereka membelaku? Aku islam, mengapa aku tidak merasa dibela? Apa karena aku tidak merasa tersakiti? Apa karena aku tidak merasa tersakiti berarti aku tidak islam? Bahwa aku kafir? Aku sudah pernah dibilang kafir dalan prosesku untuk memeluk agamaku sendiri.

Seminggu setelah aksi besar-besaran umat islam turun ke jalan untuk demo, di bagian lain negeri ini, di bilangan waktu lain, di kejadian lain, Intan meninggal, terkena bom dari seseorang yang menyatakan dirinya membela islam. Gadis itu terluka. Dia seumuran keponakanku yang sedang lucu-lucunya. Gadis kecil yang sedang belajar apapun yang merupakan bagian dari prosesnya menjadi anak manusia. Intan sedang bermain, sedang melakukan eksplorasi dunia sekitarnya, sedang belajar bicara, berlari dan bahagia. Namun, seseorang yang menyatakan membela agamaku telah membunuhnya. Dan Pembunuh itu masih dengan bangga menyatakan bahwa apa yang dia lakukan benar. Aku bisa melepaskan rasa bersalahku dengan mengatakan bahwa pembunuh Intan adalah bigot tidak beragama. Bahwa dia bukan Islam. Bahwa Agamaku tidak mengajarkan itu semua. Bahwa siapapun manusia berpotensi melakukan itu semua. Bahwa mereka pembunuh itu adalah manusia-manusia sakit yang berusaha mencari penyembuhan lukanya sendiri. Namun, tunggu dulu, dia bukan manusia sakit, dia manusia yang tergila-gila dengan kebaikan, dia manusia yang bernafsu atas surga dan sangat mencintai Tuhannya. Dan kita semua memiliki karakteristik mirip dengan pembunuh Intan. Karakteristik yang tersembunyi maupun nampak, yang terang-terangan maupu kita simpan, yang kita deklarasikan maupun kita pendam. Sikap kita yang menuju ke arah menjadi bagian dari orang-orang pembunuh Intan. Sikap kita yang sangat permisif atas kebencian orang-orang di sekitar kita kepada mereka yang tidak sejalan dengan kita, yang beragama lain, yang mencintai Tuhan dengan cara berbeda. Kita yang selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan tidak mau Tuhan yang sangat kita cintai dihinakan. Pada titik ini aku lelah mencoba memahami.

Aku ingin melepaskan diri dari rasa bersalah itu. Namun, sekali lagi, di tengah hiruk pikuk perayaan pencarian atas Tuhan dan pengajian-pengajian, Intan hanya dianggap korban pengalihan isu. Sialan! Mereka sama denganku, mencoba menutupi rasa bersalahnya dengan pembenaran bahwa yang membunuh intan hanyalah hewan keji tak beragama. Namun, mereka, saudaraku seiman ini, yang sama juga sepertiku, bisa menghujat dan memusuhi seluruh umat dari satu agama lain karena seseorang menistakan agama kami, karena seseorang mengkritik dan menampar dengan keras agama kami. Hanya satu orang dan kami tidak mau berpikir bahwa itu adalah kemarahan atau kritik personal! Sedang kami minta disucikan dari segala dosa dan rasa bersalah atas meninggalnya gadis kecil itu.

Aku sedih, mengapa pencarian kita akan Tuhan membawa kita tidak mau menapak bumi. Bagaimana Tuhanku telah menuliskan kalimat-kalimat indah tentang cinta sesama tapi diabaikan. Mengapa mereka hanya tertarik janji akan surga dan seakan mau melakukan apapun untuk mendapat surga? Mengapa mereka merasa penistaan itu hanya ada di agama? Mengapa mereka tidak merasa dengan adanya pemboman itu kemanusiaan mereka yang telah dinistakan? Mengapa kami masih berusaha menyingkirkan wajah intan yang pucat pasi dan tubuh terbakarnya untuk menutupi rasa bersalah kita?

Banyak sekali pertanyaan di kepalaku. Aku masih belum bisa menjawab. Aku benci. Aku masih ingin dan selalu ingin percaya pada manusia. Mengapa beragama menjadi sangat menyakiti? Maafkan kami intan, maafkan kami siapapun yang telah pergi karena nafsu kepentingan kami yang masih hidup. Maafkan kami yang ingin menguasai peradaban dunia bahkan akhirat dan harus mengorbankan orang lain. Damailah di sana sayangku, Allah bersamamu. Biarkan kami mati dibunuh perasaan nyeri bersalah ini. Allah Maha Mengadili.

Kamis, 10 November 2016

Hari kita bicara

Tuhan tahu bahwa aku harus dan butuh bertemu denganmu untuk melanjutkan hidup. Entah bertemu untuk melanjutkan kisah kita atau mengakhirinya. Hari ini, pagi ini, seminggu lalu aku berbicara dengan menatapmu dalam-dalam, aku menyimpan semua senyum dan kisahmu. Aku tidak berniat untuk menjawab semua pendapatmu, aku tidak berniat mendebatmu. Selain kamu memang benar, aku hanya ingin mendengarmu pagi itu. Aku juga tahu setelah berbicara padamu, bahwa aku memang harus melepasmu pergi. Secara fisik maupun konsep. Kamu tidak pernah menjadi milikku. Setiap manusia adalah milik dirinya masing-masing. Hal itu yang terus aku ulang-ulang di pikiranku. Kita hanya pernah bersinggungan dalam ruang dan waktu, dan kini saatnya kamu beranjak untuk mengejar mimpimu yang lain.

Mudahkah? Tentu saja tidak, aku terbiasa ada kamu. Terbiasa merasakan rindu yang menggebu yang tak memiliki kesempatan di pulangkan hingga berujung nyeri. Aku terbiasa merasakan sakit dan terbangun di malam hari dengan berharap kamu mengirimkan sebuah pesan, apapun, yang berisi kabarmu. Kini semuanya telah jelas. Tuhan memang Maha Mengatur segalanya. Kemungkinan bertemu denganmu sudah hampir mustahil. Aku sudah mulai ikhlas untuk tak mungkin bertemu denganmu. Namun seminggu lalu, hari hampir beranjak malam menuju malam jumat, aku seperti melihat hantu. Badanku tergetar hebat. Kamu bisa melihatnya dengan jelas. Aku kehilangan kata-kata. Aku berusaha membangun-bangunkan nalarku. Aku tau itu kesempatan terakhirku bicara denganmu.

Kamu berbicara sangat logis. Aku mencintaimu selama setahun, aku menunggumu selama enam bulan. Dan itu membuatku cukup yakin bahwa aku ingin menunggumu dan aku mau menunggu lebih lama. Namun kamu bicara sangat logis. Kamu mengajakku berpikir. Aku benci saat kamu sudah mulai berkata, "Kamu pintar, kan?". Hatiku langsung mencelus mendengar kata-kata itu. Pernah seorang lelaki yang memilih pergi juga menggunakan kata mirip seperti itu. Menganggapku pintar dan hebat, seakan membuatnya berhak untuk menyakitiku dan aku pasti selalu baik-baik saja. Aku benci dianggap sebagai wanita kuat yang tidak mungkin melakukan hal bodoh dengan menyia-nyiakan waktunya untuk menangis berbulan-bulan.

Sayangnya, sekali lagi, kamu benar. Aku selalu memiliki kapasitas pemulihan yang cukup baik. Aku akan menangis beberapa saat setelah aku tahu kamu tidak akan kembali. Tangis yang sangat pilu tetapi juga kosong. Setelah itu aku dengan terseok-seok, menuju kamar mandi dan berwudhu. Aku memulangkan segalanya ke Tuhan. (Bersyukurlah kamu dicintai wanita naif yang percaya Tuhan). Kemudian, aku makan enak, bertemu teman-teman dan semuanya akan baik-baik saja. (Bersyukurlah lagi kamu dicintai wanita yang doyan makan apa saja dan punya banyak teman). Dan benci itu pasti akan datang dan pergi. Namun, santai saja, sejalan dengan waktu kadar benci itu akan hilang tak berbekas. Bahkan aku hanya akan tersenyum mengingat kebaikanmu, dan tertawa mengingat kebodohanku.

Hari di mana kita bicara, seperti aku bicara kepada Tuhan. Aku merasakan kata-kata meluncur dari bibirmu adalah kata-kata Tuhan. Aku selalu percaya konsep bahwa masing-masing dari kita adalah percikan Tuhan. Dan kamu ada di hadapanku, bicara begitu culas, sedang di detik selanjutnya membuka kelemahanmu yang minta kupahami, itu adalah kata-kata Tuhan yang sedang ingin berdiskusi denganku sejak lama. Aku diminta menerima dan memahami, walau masih saja aku gagal paham sampai detik ini. Aku percaya malam itu Allah bersamaku, mengajakku bicara sekali lagi, maka aku mendengarkanmu tanpa ingin mendebatmu sedikitpun. Kata-katamu menyakitkan, tapi jujur, dan aku menerimanya. Dan Aku berharap ini akan benar-benar menjadi tulisan terakhir tentangmu.

Beriman

Beriman adalah sebuah kata yang sangat mudah kita temukan. Dalam spanduk-spanduk besar di tengah jalan yang penuh geliat manusia-manusia berduyun-duyun merayap mencari entah apa yang membuatnya untuk tak diam. Dalam slogan-slogan maupun moto yang digunakan seorang besar yang mencoba meyakinkan orang yang lebih rendah di bawahnya tapi berjumlah lebih banyak sehingga cukup memiliki kekuatan untuk harus diyakinkan. Dalam teks buku kanak-kanak pun, kata beriman sudah dipaksakan harus ada sejak awal. Kita merasakan bersama bagaimana keimanan dan kewajiban beriman menjadi topik utama yang harus ditanamkan sejak dini kepada seorang anak. Seakan di antara waktu-waktu di anak-anak harus banyak melakukan eksplorasi dan bermain, keimanan tidak boleh sampai luput.

Bagaimana sih beriman itu? Kita pasti tertawa jika mendengar pertanyaan yang sangat mendasar itu. Seakan-akan bertanya tentang bagaimana beriman seperti kita bertanya bagaimana cara makan dan cara bernafas. Terlepas dari makna filosofis dari bernafas dan makan, sesungguhnya apa iya level kita sudah sampai seperti bernafas dan makan dalam beriman dan menjalankan keimanan kita? Dari literatur ringan yang kubaca beriman berarti percaya sepenuhnya kepada sesuatu. Tanpa sedikitpun kegelisahan, kecurigaan, ataupun was-was. Percaya dalam tindakan, ucapan, hati, dan segala keputusan harus berlandaskan kepada sesuatu tersebut.

Lalu beriman kepada siapa kita seharusnya? Sebagai Makhluk beragama yang membumi dan biasa saja, maka tentu saja kepada Tuhan pemberi kehidupan. Aku mencoba menyederhanakan dari konsep mekanisme Tuhan dan Alam raya. Pertama aku memang belum paham betul, kedua karena lebih mudah membayangkan hanya kepada satu entitas kita harus merujuk. 

Lalu bagaimana beriman kepada Tuhan itu seharusnya? Ya kalau seharusnya beriman atas Rencana-Nya adalah tidak ada pamrih ketika kita sedang menjalankan perintah-Nya, yang artinya kita tidak berharap apapun. Namun bagaimana cara beriman atas Kekuasaan-Nya? Aku sering mempertanyakan itu, seberapa besar kejutan yang bisa Dia berikan untukku. Kalau dari yang aku baca dari Al-Qur'an ini bertanya-tanya seperti ini tipis banget batasnya dengan pertanyaan-pertanyaan kaum kafir yang selalu minta diberi petunjuk gamblang oleh Nabi di jamannya untuk beriman hanya pada Allah. Aku dulu yang jarang banget ngaji ( walaupun sekarang juga belum sering banget sih) tidak tahu itu adalah perbuatan yang dibenci Allah dan sudah disebutkan di Al-Quran bahwa ada sekelompok manusia (yang disebut kafir) akan terus bertanya, sebanyak apapun petunjuknya.

Aku sering bertanya, pertanyaan sepele sampai yang pertanyaan liar yg muncul dari keisengan dan rasa penasaran. Dalam rebah aku tengil ke Allah, "ya Allah bagaimana jika begini?" Atau "ya Allah bagaimana jika beitu?". Sudah setelah itu jika nalarku sudah mentok, aku berserah lagi, aku sudah berhenti memikirkannya lagi. Namun, begitulah cara berkomunikasiku dengannya. Terus bertanya kepada-Nya. Dengan terus bertanya kepada-Nya kurasa begitu caraku beriman. Bagaimana aku bertanya jika tidak percaya? Jadi aku merasa bakal tidak asik banget jika bertanya-tanya seperti itu disebut kafir. Bagaimana orang bisa percaya jika belum pernah berdialog, bertanya dan mendapat jawaban? Entahlah, mungkin sampai di sini Tuhan memang benar-benar menguji keimananku.

Namun, di antara kebingungan-kebingunganku yang tiada habisnya, dan di antara nafsuku untuk kepo ke Tuhan, sepertinya doa orang tuaku yg begitu dahsyat selalu menjagaku. Atau memang ternyata Allah, Tuhanku masih sayang banget sama aku. Semua rasa penasaranku dijawab-Nya begitu saja. Tidak disisakan pertanyaan sedikitpun lagi di hal yang sama. Kalau masih ada, dijawab-Nya lagi, seakan Dia berteriak atau menamparku. Dia selalu tahu aku hambanya yang suka ngeyel. Oh Tuhanku Memang Humoris. Siap atau pun tidak, pertanyaanku selalu dijawab-Nya, di waktu yg random dan seringkali sangat cepat. Dan seringkali aku menyadari jika keingintahuanku berujung pada hal buruk, hal buruk yang kumasud di sini adalah hal yang tidak sesuai dengan harapanku. Aku tersungkur ketika pertanyaanku dijawabNya, membuatku bangun dengan kesadaran  penuh, walau kondisi fisik menjadi sangat lelah karena dehidrasi ketika menangisi, aku terbangun menyadari bahwa Dia sedang menjawab pertanyaanku. Dia sedang mengajakku dialog. Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa Dia ingin aku berhati-hati dengan keinginanku. Dia Maha Mendengar. Selirih apapun candaku.

Bagaimana dengan pertanyaanku jika dijawab-Nya dengan hal yang manis? Wih aku manusia, benar saja, aku sering merasa ya karena ini usahaku. Aku bangga atas pencapaian dan aku mengapresiasi diriku sendiri karena Aku mampu mendapatkan hal tersebut. Aku manusia, lupa adalah cerminan kemalasanku dalam berpikir.
Sebut saja tulisan ini hasil kontemplasiku yang dogmatis. Atau bisa kalian sebut hasil dari bacaan tulisan-tulisan akun-akun dakwah di line. Toh gak akan aku pungkiri, dari keseloanku scrolling timeline jejaring sosial, mataku tertuju dengan tulisan-tulisan yg sebelumnya pernah aku cibir. Kenapa aku berubah? Gampang saja, jawabannya ya karena aku sudah jatuh, kepentok dan sakit jiwa. Aku bersyukur, Tuhanku yang Maha Humoris masih saja Humoris, Dia menertawakanku dengan cara memberiku petunjuk dengan hal-hal yang biasa aku tertawakan.

Detik ini, aku bisa sebut diriku beruntung. Beruntung Dia masih mau dan terus saja mau memelukku. Bahkan aku terkadang takut atas kemenangan, karena kata-kata orang bijak bahwa kemenangan itu menyilaukan itu sangat tidak bisa didebat. Jika saja kamu tahu rasanya menang, itu sangat menyenangkan. Kita tidak akan terasa bahwa tiba-tiba kita sudah berhenti ngobrol sama Dia. Selaik itu kemenangan akan membawa kepada perasaan yang membuncah dan berlebih, membawa kepada kesombongan dan perasaan mudah puas, atau malah keinginan mencapai yang lebih tinggi lagi. Seringkali untuk berhenti terlalu euforia dengan kemenangan aku mencari kesakitan, mencoba meninggalkan jejak yang mampu membuatku pulang lagi ke Allah. Dan cara paling mudah adalah jatuh cinta lalu patah hati, merasakan kesedihannya sampai batas tertentu, menarik diri dari banyak orang. Aku seringkali hanya ingin menyepi, dan patah hati selalu mampu membuat terjaga di malam hari yang sepi. But hei, Hello pebbb, emang kemenangan apa yang pernah kamu raih? Lalu kesedihan macam apa yang pernah kamu derita hingga kamu merasa berhak terus-terusan melakukan self healing demi meningkatkan imanmu dengan mengabaikan sekitarmu?

Bukan, bukan saya mau bilang kalo udah sembuh lalu kamu tidak harus meningkatkan imanmu. Self healing pun  harus dilakukan setiap detik. Hati kita itu tempat tidur paling nyaman bagi segala macam penyakit untuk beranak-pinak. Tapi, Allah memelukmu dan mengingatkanmu untuk melakukan self healing karena iya Dia Yang Maha Mengenalmu, Dia tahu kamu bisa sendiri. Dia mau kamu bangkit dengan langkahmu yang terseok-seok, dengan kehangatan yang masih memancar dari hatimu, bantulah orang lain. Bahwa di tiap sujudmu, doamu di dengar, dalam keterkabulkannya doamu, ada doa orang lain yang dititipkan dalam langkahmu yang mungkin tak pernah kokoh.

Maka berimanlah, walau kamu merasa kamu adalah hipokrit yamg hanya datang ketika membutuhkan Tuhanmu. Berimanlah sebrengsek apapun kamu, Dia pasti menerimamu pulang lagi. Berimanlah bahwa Tuhanmu selalu ada, menopangmu dengan segala pilihanmu. Jangan dipaksakan untuk selalu mengagumi-Nya, rasakan saja kehadiran-Nya, rasakan rindumu, bencimu, muakmu, gumunmu kepada segala rencana dan canda-Nya. Rasakan bahwa di antara tamparan-tanparanmu, yang membuat tubuhmu tak lagi tegap, ada orang yang diuji lebih berat darimu, ada orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kamu masih bisa terlihat berdiri tegap. Tahukah kamu, mungkin kamu juga terlibat tegap di mata orang mereka yang membutuhkanmu, walaupun di belakang kamu terseok-seok hilang bentuk. Bahwa harap mereka adalah ladang amal buatmu. Bahwa ketegapanmu membawa kewajiban besar untuk mengamalkan apa yang kamu bisa.

Aku hanya ingin berbagi, ketidaktahuanmu soal iman itu bisa kau abaikan atau kau cari jawabnya. Namun, jangan lupa menikmatinya  dan terus bertanya. Jika tidak hari ini, pasti datang petunjuk yang membuatmu percaya pada-Nya, tunggu saja lah. Kalau mau cepat, ada tutorialnya kok, ada manual booknya, ya Al-Qur'an. Namu sepertinya pemikiranku sudah mulai berunah. Jadi manusia emang enak, semua sudah diberi petunjuk. Namun, apa iya semua petunjuk tersebut tertuang dalam makna yang tersurat? Kalo seperti itu berapa surga akan penuh dengan manusia baik yang sesuai tuntunan manual book. Apa iya emang semudah itu jadi manusia? Ah sudahlah, Tuhanku ini Maha misterius, Kekasihku Yang Maha Asik, Aku sedang merayakan petunjukNya hari ini. Dia sepertinya sedang memberiku hadiah karena beriman. Aihh ge-er sekali aku ya? Semoga kode-kode dan pertanda dariNya bisa selalu datang tepat waktu seperti ini.


Senin, 07 November 2016

Menjadi Ibu

Malam ini aku tidur bersama istri sahabatku. Lebih tepatnya aku tidur, sedang istri sahabatku masih terjaga. Karena bayinya yang berusia 7 bulan masih belum juga tidur, masih menyusu.Istri sahabatku seusia aku, tubuhnya sedikit lebih kecil dariku. Dia wanita yang sangat sederhana, kalem tapi juga tegas. Aku tiba-tiba membandingkannya dengan diriku. Aku tidak tahu mengapa di usia 26 tahun aku masih saja membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Atau malah seingatku, kecenderungan itu meningkat di usia ini. Aku bertanya pada diriku sendiri, Siapkah aku menjadi ibu? Apakah aku harus menjadi ibu? Apakah aku mampu menjadi seorang ibu? Apakah aku layak menjadi seorang ibu? Apakah pernikahan yang aku damba dengan seseorang ini adalah konsep yang dilengkapi keharuskan menjadi seorang ibu? Geez. i hate to realize that i'm getting too complicated.

Aku akan mencoba mengurai satu persatu, karena jika tidak, mungkin pada akhirnya aku tidak bisa tidur malam ini. Aku belum punya bayi seperti istri sahabatku, fase yang sehat adalah aku tidur saat ini. Tanggungjawabku belum mengharuskan aku begadang hingga pagi, jika aku begadang artinya bisa berujung pada hal kontraproduktif dalam bentuk gelisah tak berujung, tak berdasar, dan aku sudah lelah untuk itu.

Aku jatuh cinta kepada seseorang, aku pernah menganut konsep bahwa cinta sebaik-baiknya adalah diwujudkan melalui pernikahan. Cinta disini adalah cinta seorang manusia kepada manusia lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari nafsu. Maka cinta yang kupunya adalah perasaan menggebu-gebu, rindu, ingin bicara dengannya setiap hari, dan tentu saja kelon walaupun konsep yang kumiliki sedikit lebih naif. Kelon yang diawali atau diakhiri dengan pillow talk. Maka jika aku jatuh cinta, dan lalu karena ingin bersamanya membuatku berpikir harus menikahinya, lalu kelon, lalu membuatku harus memiliki anak, maka aku harus menjadi ibu. Tidak harus memang, jika aku dan suamiku cukup berani untuk tidak memiliki anak jika kami belum siap atau memang belum ingin. But hey, suddenly now, at this age, i want baby more than a man or spouse!

Ya, saya ingin bayi, saya ingin punya anak dan ternyata saya memang wanita biasa pada umumnya. Bayi itu lucu. Best remedy, mood booster, tombol pause untuk harimu yang sibuk, bahkan sebuah pain killer. Pernyataan bahwa mereka adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan ke bumi adalah benar. Aku memiliki empat keponakan perempuan dan kesemuanya mampu membuat rumahku lebih berwarna. Bahkan bapakku yang berwatak keras menjadi sangat cair dan jarang berteriak-teriak menyebalkan untuk melampiaskan kemarahannya atau kekecewaannya lagi atas hari yang buruk yang ia miliki. Sekeras apapun seseorang, jika dia tidak memiliki gangguan psikologis, dia akan mudah sekali jatuh cinta kepada bayi. Walaupun ada memang seseorang karena merasa tidak mampu dan tidak ingin hidupnya terganggu dengan adanya bayi, mereka memilih mengesampingkan perihal soal memiliki anak. Aku sejauh ini yakin bahwa aku ingin memiliki anak, dan oleh sebab itu berarti Aku ingin menjadi seorang ibu.Lalu, Aku juga menyadari bahwa kehadiran anak ini tidak serta merta membawa keindahan saja, tapi juga kesulitan yang menyertainya sebagai konsekuensinya. Dan walaupun semua itu worthed dengan kebahagiaan yang dibawanya, tetap saja aku tidak mau naif untuk tidak menganggap kesulitan tersebut akan sangat menguras tenaga dan pikiran. Bahkan bisa saja membuatku stress atau depresi jika aku tidak mulai mempersiapkan gaya hidupku untuk kesana. Karena hari ini hidupku sangat spontan dan seringkali tidak terencana dengan baik.

Apa aku sudah terlihat sangat khawatir atas sesuatu yang tidak berdasar dan belum terjadi? Sebentar aku harus menyelesaikan ini. Anggap saja aku sedang bicara kepada aku di masa depan. Bahwa it's okay ketika hari ini aku sangat mengingini menjadi ibu, dan aku khawatir aku tidak layak menjadi ibu dan ternyata ketika hari itu datang aku benar-benar merasa tidak layak serta tidak becus menjadi ibu. It's okay, hari itu akan datang, dan aku harus menyadari ketika Tuhan sudah menitipkan itu, artinya Tuhan percaya bahwa aku mampu, bahwa ketidaksempurnaanku masih berada dalam perhitungan Tuhan akan kapasitasku.

Lalu bicara karir atau kesempatan untuk bekerja dan tantangannya menjadi seorang ibu. Lelaki yang kucintai sempat tertawa ketika aku mengatakan aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga dan menemani keempat anakku tumbuh dewasa. Dia berkata, orang sepertiku membutuhkan wadah lain selain menjadi ibu rumah tangga, karena jika tidak aku bisa meledak. Mendengar pernyataannya kemudian aku mulai menambahkan atau mengoreksi konsep ibu rumah tangga yang kumaksud, ibu rumah tangga yang memiliki usaha, yang berperan tidak hanya pada pendidikan anak di rumah, lalu aku menambahkan lagi, namun juga pada pembangunan masyarakat di sekitar, yang masih bisa beraktifitas dengan teman-temanku dalam kegiatan sosial dan hobi, yang masih bisa ngaji dan diskusi, dan lagi dan lagi dan lagi. Lelaki yang kuncintai benar, aku tidak terlalu yakin aku ingin menjadi ibu saja saat ini. Lelaki yang kuncintai benar, apakah semua mimpiku harus kulabuhkan melalui konsep pernikahan dan menjadi ibu? Lelaki yang kucintai benar, aku terlalu banyak mau dan rumit. Dan wanita di sebelahku saat ini, istri temanku, mungkin sedang begadang dalam pikirannya yang rumit, tetapi dia bisa tampak sangat sederhana. Dan itu intinya, aku sadar dan sangat sadar, bahwa Aku belum mampu menunggangi pikiranku sendiri. Lalu siapkah aku menjadi ibu? Bahkan levelku masih sangat jauhhhh di bawah itu, aku merengek karena lelaki yang kucintai memilih beranjak. Apa sebuah rumah tangga bisa dimulai dengan wanita yang berkapasitas seperti itu? Apakah seorang yang sering menangis seperti bayi mampu memiliki bayi dan siap terjaga tiap malam karenanya.

Dan kemudian sebenarnya, inti dari kegelisahan ini, aku ingin bicara pada diriku sendiri hari ini, yang patah hati karena lelaki yang sangat kucintai memilih berpamitan. Aku menjadi sangat insecure sebenarnya. Namun kemudian aku mencoba mencari penenang, mungkin hari ini aku memang belum siap untuk itu. Aku ingin menikah dan memiliki anak, seperti orang-orang pada umumnya, tetapi yang aku lakukan bukan kesana. Aku mengambil pekerjaan yang memiliki kesibukan agak sinting, aku memilih pekerjaan yang mengharuskanku banyak membaca dan bepergian, aku masih senang menghabiskan uangku untuk berkumpul dengan teman-temanku, membeli buku dan melakukan hobiku. Aku, walaupun aku sering ngobrol banyak soal parenting, belum mempersiapkan skill untuk menjadi ibu sama sekali. Time schedule ku berantakan, aku tidak tertib dan jarang merapikan kamarku. Namun, entahlah, aku semakin kehilangan arah untuk menjadi ibu. Aku hanya merasa ibuku sangat hebat, dan lalu melihat wanita-wanita sekitarku ini sedang menuju kesana, ke arah ibuku yang hebat, sedang aku belum menuju kesana. Dan lalu karena aku merasa lemah, sedang keinginanku terlalu kuat, aku berpikir bahwa salah satu caranya adalah menemukan partner yang tepat untuk memulai sebuah keluarga. Dan aku mulai meracau soal itu di depan lelaki yang kucintai, hingga dia jengah, karena ternyata dia belum siap juga soal itu, dia jengah dan pergi, aku mungkin jadi tidak asik dan terlalu rumit baginya. Atau mungkin dia menemukan wanita lain yang lebih sederhana yang mampu menyederhanakan konsep rumah tangga dan keluarga menjadi sesuatu logis dan terukur. Jika iya, sudahlah saya ikhlaskan saja.

Namun aku masih percaya, suatu saat ada seorang lelaki yang mampu membuatku jatuh cinta dan bertanya, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku masih percaya aku akan diberi kesempatan untuk menjadi ibu dan seorang sahabat untuk suamiku, aku masih percaya karena aku selalu berdoa untuk itu. Semoga aku menjadi lebih sederhana sejalan usiaku bertambah. Sejujurnya aku sudah mulai lelah dibilang rumit. Aku hanya ingin menjadi seorang ibu yang baik seperti wanita pada umumnya.


Puisi dan Malam

Malam selalu berhasil menjelmakan setiap kata yang rapuh menjadi sangat kuat. Malam selalu menerima segala kekalutan menjadi sebuah proses berpikir yang manusiawi. Malam selalu memberi kesempatan pada kata yang hampir kehilangan makna untuk menemukan konteksnya sendiri di detik itu. Malam menjadikan semuanya selalu benar dan boleh.

Jika teman saya berkata bahwa after midnight trully kills, menurut saya, tengah malam mampu menjadi kertas, menjadi tinta, maupun menjadi anggur yang membuat seseorang bersyair dengan sangat deras. Entah itu bergulung-gulung hanya dipikiran, atau dibubuhkan di buku catatan, atau jika kita cukup beruntung dengan gawai canggih kita bisa mengetikanya seketika itu juga.

Puisi dan malam tak terpisahkan, bahkan tidak hanya saat puisi itu dibuat. Pernah suatu ketika aku menyesali membaca tulisan yang kubuat di tengah malam karena tulisan itu sangat menye dan rapuh, aku membacanya lagi di pagi hari, lalu aku menyadari bahwa itu salah satu puisi yang kugunakan untuk melabuhkan kegelisahan. Seringkali tulisan tersebut sangat tidak berguna jika kita membacanya di hari yang cerah dan produktif, di hari kita menetapkan standard yang cukup tinggi untuk bertahan dan mempertahankan hidup. Aku hanya melemparkan segala isi pikiranku saja, tanpa bentuk dan ketetapan prokem tulisan, tanpa berusaha mencari solusinya, tetapi malam hari selalu membuatnya tepat. Aku memang menyesalinya di pagi hari atau di hari yang cerah, tapi seringkali malam buntu itu datang kembali, dan aku membaca lagi tulisan-tulisan yang kuklaim secara sembrono sebagai puisi itu, dan aku berterimakasih kepada diriku sendiri karena telah menuliskannya.

Puisi dan malam, mungkin akan selalu menjadi pilihanku ketika nafsuku dalam mencari jawaban atas isi otakku membuatku patah hati lagi dan lagi. Puisi dan malam selalu benar, walau di pagi hari aku mengutuki diri sendiri lagi dan lagi karena memilih terjaga. Namun, begitulah aku bertahan hidup. Bertahan dari kehilangan konteks dan substansi menjadi manusia yang memiliki asa dan rasa ketika mimpi berbentur-benturan dengan target untuk menjadi produktif. Belum lagi bicara jatuh cinta, ah tak terhitung sudah berapa puisi dan malam membuatku merasa terlahir kembali.

Minggu, 06 November 2016

Self Talk (Coping with losing)

Sabtu, 5 november 2016, Boyolali, Rumah Monic.

Pada akhirnya, kamu hanya perlu melihat bagaimana Tuhan menjalankan mekanismenya. Sesuatu yang mungkin sudah dibuatnya jauh sebelum kamu terbentuk, jauh sebelum hatimu bisa merasa dan logikamu bisa menalar.
Sesungguhnya, memang mungkin yang kamu hitung-hitung itu benar adanya. Bahwa jika sesuatu melakukan A maka hasilnya B atau C atau D. Namun sayangnya, kita hanya partikel terkecil, maka seberapa besar sebenarnya yang mampu kita jangkau? Oleh karenanya kamu akan selalu dikejutkan dengan hasil perhitunganmu sendiri yang tidak sesuai kenyataan. Kamu merasa, bahwa kamu telah melakukan sesuatu maka seharusnya adalah sesuatu yang sudah kamu prediksi. Kenyataannya tidak, kamu belum juga mengenal seberapa besar Tuhan itu mampu bermain.

Maka istirahatkan dirimu dari Tadbir, begitu Ibnu Athoilah menitipkan sebuah nasehat yang tak lekang oleh jaman. Kamu memang selayaknya menangis. Karena apa yang tidak lebih menyedihkan pernah merasa tahu dan lalu menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa? Menangislah. Luapkan sakitmu itu. Memang sudah fitrahnya manusia menangisi sebuah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Namun, maafkanlah dirimu. Maafkan bahwa kamu tidak juga mengerti. Dengan memaafkan diri kita masing-masing pada akhirnya kita mampu memaafkan orang lain. Bahwa setiap manusia lainnya memiliki suatu tanda tanya. Bahwa setiap manusia memiliki ketidaktahuan. Dan mereka sangat berhak untuk menentukan cara hidupnya, dengan mengabaikan ketidaktahuan itu atau dengan memenuhi ketidaktahuan itu dengan cara mencari jawabnya.

Setiap orang berhak melanjutkan hidup dan berjuang hidup dengan caranya masing-masing. Begitu juga kamu yang terus saja keras kepala untuk memeluk lukamu, tak mau melepaskannya, karena kamu tahu, sekali kamu mengabaikan luka, kamu bisa lupa rasanya terluka dan hal itu cukup berbahaya. Seseorang yang lupa rasanya terluka bisa saja sangat mudah melukai orang lain. Peluklah lukamu sendiri. Itu keberanian. Apalagi jika kamu mampu untuk tidak membagi luka itu kepada orang lain. Apalagi jika kamu mampu tidak terus memohon dimengerti bahwa kamu sedang terluka.

Halo sayangku, aku sedang bicara kepadamu Febrianti Nur Ajizah. Ini bukan tentang orang lain. Ini tentang dirimu sendiri. Berdamailah dengan kehilangan dan luka, maka kamu akan menjadi manusia yang bisa mencintai siapapun tanpa harus memelas dicintai kembali. Jangan abaikan pertanda dari Nya, ingat dan rasakan bahwa cinta Nya padamu tak pernah kurang. Apakah ada yang lebih indah dari cinta Sang Pemilik cinta?

Rabu, 02 November 2016

Have you met my demons?

I'll marry the one i can talk with for the rest of my life. That's a love for me.That's more than just enough. Because here, in my mind, i'm begin so tired fighting my demons all alone. I'm begin to hug my demons and agree for everything they suggest. I'll marry the one who will accompany me to face all my demons and whisper to me, everything is just fine, and told me that they are all my angel afterall. Should i try to find you or should i wait for you here, while i train my demons to meet you in the fierce morning so i will smile at you nicely instead of attack you with a harsh word?

Yess, there will be a day i will say hello to you and say, Have you met my demons? And let's see what happen next, because the men before were left.