Sabtu, 30 Juli 2016

Kemana Ujungnya?

Jadi tulisan ini adalah sebuah usaha saya mengurai atas segala kerumitan, kegelisahan dan kesedihan saya yang repetitif, yang saya khawatirkan bahwa kesedihan tersebut tidak benar-benar ada. Maksud saya kesedihan tidak selalu diakibatkan oleh kerugian atau kehilangan hal-hal yang berbentuk atau materi, tetapi kesedihan yang diakibatkan atau konsekuensi dari sistem sosial yang berlaku atau benar-benar hanya kekecewaan personal saya. Saya benar-benar ingin mengurai apakah kesedihan saya ini berdasar atau tidak. Jika memang kemudian kesedihan dan kegelisahan ini berdasar, arahnya kemana? Ujungnya kemana? Dalam proses penguraian pikiran saya tersebut saya akan sangat berusaha meminimalkan penggunaan perasaan yang berlebihan. Saya adalah tipikal seseorang yang selalu mengedepankan perasaan daripada logika. Begitupun penilaian orang lain terhadap saya bahwa saya itu baper. Damn, i actually want to make this one as a joke. But no denial, that’s absolutely true.

Namun kemudian semakin kesini sebenarnya tingkat kebaperan saya semakin berkurang. Saya sudah mulai mudah lelah menggunakan perasaan yang pada akhirnya berujung kepada kata “luweh” dan “raurus”. Saya sudah mulai bisa memilah dan memilih mana yang layak mendapat perhatian lebih serta layak saya pikirkan dalam-dalam dan mana yang saya coba pendam saja. Saya tidak lalu berusaha mengatakan bahwa kesedihan dan kegelisahan itu hilang begitu saja ketika saja mencoba tidak peduli. Tentu saja, di saat-saat tertentu ketika sedang sangat sibuk kerja lalu teringat hal yang menjadi perhatian saya tersebut, hati saya mencelus. Saya serasa mendadak lemas dan tidak antusias. Jika ini dianggap berlebihan saya bisa terima. Saya hanya berusaha memahami kondisi psikologis saya dan mengakui bahwa saya memiliki kelemahan-kelemahan tersebut. Melakukan sebuah pengingkaran terhadap kelemahan tersebut untuk saya sendiri berarti sedang menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapanpun di saat yang bisa saja tidak tepat.

Kemana ujungnya segala perasaan ini? Saya jatuh cinta, beberapa kali. Maka beberapa kali pula saya patah hati. Kisah cinta saya terlalu banyak drama jika saya menilik kembali paling tidak delapan tahun terakhir. Dimulai dari merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga dan takut kehilangan, lalu benar-benar kehilangan dan membutuhkan beberapa tahun untuk mengikhlaskannya. Mengikhlaskan apa? Entahlah, lucu sekali sebenarnya jika kita menggunakan kata mengikhlaskan atas sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita. Namun, sudahlah kita pakai bahasa penduduk bumi saja, yang berarti mencintai hampir selalu dibarengi rasa ingin memiliki. Maka ketika saling mencintai maka ada semacam kesepakatan bahwa kita saling memiliki. Sebuah konsep yang lucu jika saya menilainya sekarang. Namun, pada satu waktu itu adalah bentuk semangat hidup bagi saya yang masih amat muda. Maka kehilangannya adalah kehilangan yang sangat besar. Cukup besar sampai saya merasa tidak mampu berjalan sendiri dan terburu-buru menjalin satu hubungan yang lain. Dan seterusnya dan seterusnya.

Tulisan ini menjadi semakin berisi curhatan tentang kisah cinta saya hahaha. Tapi tak apalah menyadari bahwa main concern saya ada pada urusan hati. Saya merasa saya harus segera menuntaskan hal-hal seperti ini, pelan-pelan saja memang, karena terburu-buru sekali lagi akan membawa kita hanya pada pengingkaran yang menyesakkan.
Mendengar banyak cerita bagaimana teman-teman sebaya saya ingin segera menikah dan sudah mulai menikah, membuat saya membayangkan betapa beruntungnya mereka menemukan pujaan hatinya secepat itu. Dan kemudian saya mulai memproyeksikan kebahagiaan saya adalah ketika bertemu dengan orang yang saya cintai, lalu kemudian tentu saja menikahinya. As simple as that. Lalu apakah itu berarti saya ingin sekali menikah karena teman-teman saya menikah? Saya menolaknya dengan tegas. Saya akan mengatakan bahwa saya menikah karena saya memang ingin menikah. Saya ingin menikah karena saya ingin memiliki partner dalam diskusi di malam hari, partner dengan minat yang hampir sama, partner dalam beribadah dan berkarya. Manis sekali bukan? Sebenarnya tidak istimewa juga. Banyak sekali mereka yang memiliki mimpi yang sama seperti saya ini. Hanya saja mereka saya rasa tidak serumit saya. Jika memang ingin menikah saja seharusnya saya tidak harus banyak sarat mungkin ya? Cukup yang berniat serius untuk menikahi saya. Namun itu nyatanya beberapa orang yang datang tidak membuat saya tertarik. Mengapa?

Karena jelas, saya memiliki seseorang yang saya dambakan. Seseorang yang membuat hati saya tak karuan ketika dia tidak memberi kabar. Seseorang yang sebenarnya saya ingin jadikan tempat untuk saya menumpahkan segala isi pikiran dan kegelisahaan saya. Namun saya takut membuatnya tidak nyaman dan berakhir pada hilangnya perasaan yang dia miliki kepada rasa saya. Saya, yang sudah beberapa kali jatuh cinta dan patah hati, nyatanya juga tidak banyak belajar mengenai hal ini. Pada beberapa hal saya merasa tidak tahu lagi apa yang harus saya perjuangkan, yang harus saya lakukan atau saya optimalkan untuk bisa menjamin perasaan dia tidak berubah kepada saya. Atau paling tidak membuatnya mau memberi kejelasan mengani apa yang dia rasakan kepada saya. Pada tahap ini, ujung-ujungnya saya hanya bisa pasrah dan berdoa. Karena jika meyakini dan membawa-bawa iman, siapa bisa jamin hati seseorang? Belum lagi perasaan insecure yang semakin menguat jika membayangkan dia menghindar dari saya karena saya terlalu rumit. Perasaan ingin memiliki dan kesadaran atas gap yang jauh antara bayangan ideal dan realitas juga seringkali membuat dada saya sesak pada waktu-waktu tertentu. Beberapa kali bahkan hal tersebut berujung kepada perasaan muram, tak berharga dan membuat saya menangis bahkan tidak bisa tidur. Saya masih bersyukur, pada waktu siang atau pada waktu saya harus menjalani kehidupan sosial, saya mampu mengelola perasaan itu dengan baik. Sehingga hal itu tidak sampai menarik perhatian orang lain atau melibatkan mereka yang tidak tahu menahu dengan urusan saya.

Saya bisa bilang saya cukup kuat menghadapi hal ini, karena pada kenyataannya tidak sedikit mereka yang terkapar dan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk melangkah maju. Bahkan pada beberapa orang hal ini bisa menganggu kehidupan sosial mereka, kinerja mereka dan berujung pada hal-hal kontraproduktif. Maka kemudian ada yang mengatakan bahwa memang ada seni untuk patah hati, yang menurut saya berisi kesiapan untuk tidak menerima yang kita harapkan, terlebih menerima (hal buruk) yang tidak kita harapkan. Beberapa kali saya menyatakan semangat pada diri saya sendiri, bahwa patah hati boleh, ngancing jangan! hahaha. Well, mungkin saya bisa kuat juga karena saya tidak punya alasan untuk menjadi lemah. Beberapa kali saya menyadari bahwa sebenarnya saya baik-baik saja tanpa harus memiliki dia seseorang yang saya idamkan itu. Kehidupan saya berjalan normal jika saya melihat hari ini dan mulai berusaha percaya masa depan adalah rahasia Tuhan sepenuhnya. Saya tidak perlu banyak drama menuntut perhatian orang yang saya cintai, menuntut untuk dicintai balik dan diperhatikan balik karena saya sudah perhatian dan cinta sama dia. Menyadari bahwa mencintai adalah fitrah, membiarkannya berkembang sebanyak-banyak tanpa harus membunuh sebenarnya cukup efektif membuat kita lebih rileks. Lebih santai dan terbuka menerima perasaan itu. Mencintai seseorang yang secara personal, fisik bahkan secara hal-hal yang tak mampu kita jelaskan itu sangat lumrah dan manusiawi.

Saya rasa di situ pada akhirnya proses pendewasaan saya berlangsung. Saya tidak banyak diuji pada hal-hal sentral yang berat dan mampu melumpuhkan saya. Keluarga saya utuh dan menyanyangi saya sepenuhnya. Saya beberapa kali memang mengalami kesulitan finansial dan akademik saya buruk. Tapi nyatanya saya mampu bertahan dan lebih santai menghadapi hal tersebut. Kadang saya juga heran, apa yang membuat saya begitu drama jika menghadapi urusan percintaan? Padahal saya sudah dapat menerima konsep bahwa cinta hadir dalam berbagai rupa. Saya masih ingat betapa saya kelabakan ketika saya merasakan perasaan yang kagum dan berubah menjadi suka, selanjutnya ada rasa ingin memiliki kepada seseorang yang lebih muda dari saya. Hal tersebut menjadi drama ketika saya mencoba mengingkarinya dan terlalu khawatir mengenai bentuk apa yang tepat untuk menyalurkan perasaan saya yang menggebu-gebu itu. Waktu itu umur saya 25 tahun dan masih asing dengan perasaan mencintai orang yang lebih muda. Hari ini, setelah saya pernah mengalaminya, teman saya bercerita dengan santai bagaimana dia jatuh cinta kepada seorang lelaki yang 4 tahun lebih muda. Saya terkagum mendengar ketenangan dia bercerita. Cara dia mengapresiasi pertemuan dan semua hal-hal baik yang dia dapat ketika dia mencintainya. Ada rasa ingin memiliki, itu wajar. Namun, cukup sampai di situ, ingin tidaklah harus.

Berbicara mengenai apresiasi terhadap kehadiran seseorang, kehadiran teman-teman di sekitar kita adalah bentuk cinta yang juga kongkret dan menggembirakan. Lalu kata seseorang, untuk memahami ini saya harus membedakan mana senang/gembiran dan bahagia. Bahagia itu penuh dan senang masih menyisakan ruang kosong. Apa yang kosong? Ya tadi sebuah spasi tempat gambaran ideal kita dan kenyataan. Jika kita mampu mengecilkan jaraknya, yaitu dengan menurunkan gambaran ideal kita maka ruang kosong itu akan berangsur-angsur pergi.

Namun, pada kondisi tertentu saya menyadari bahwa saya sering kali membiarkan ruang kosong itu ada di sana. Bahkan mengeksplorasinya, menjadikannya sajak-sajak gundah dan sedih, menggunakan pemuas rindu saya yang saya bingung harus pulangkan kemana, menjadikannya gambaran betapa saya mabuk kepayang oleh perasaan itu. Dan semua sajak itu mungkin sebenarnya hanya jebakan imajinatif yang saya ciptakan untuk orang yang saya cintai itu agar mau menikah dengan saya. Mungkin saja sajak itu juga merupakan cara saya meyakinkannya untuk menikahi saya dan bahkan yang terburuk adalah mengasihani tangisan-tangisan saya dan lalu menikahi saya. Saya merasa itu buruk sekali menyadari bahwa kemungkinan eksplorasi berlebihan saya terhadap ruang kosong tengah saya lakukan. Bahkan ketika orang yang saya cintai itu menyadarinya, dia bisa saja tidak nyaman dan pergi, apalagi kami belum terikat apapun.

Sedangkan mengenai konsep pernikahan itu sendiri, oh Tuhan saya belum final betul memahaminya dan seberapa urgentnya untukku. Well, paling tidak saya sudah lega mengurai ini semua. Semoga bisa saya lanjutkan lagi besok-besok di waktu saya sudah lebih memahami apa yang sebenarnya saya mau. Hari ini saya tidak punya kata lain selain rindu. Sayangnya rindu itu cukup besar untuk membuat orang yang saya rindukan itu risih dan memilih pergi. Saya pun tidak mau sebenarnya konsep pernikahan menjadi suatu hal yang menghambat langkah orang yang saya cintai. Namun, implementasinya tidak semudah berkata.

Untuk mengatasi nyeri di malam hari, saya percaya sholat masih ampuh. Ya saya memilih percaya karena itu lebih mudah daripada membiarkan pikiran saya terus berkelana mengkritisi sistem dan membentuk gambaran idealis yang lebih utuh. Kadang itu melelahkan.

Jadi kemana kah ujungnya? Saya boleh jawab tidak tahu? Sungguh saya juga berharap dan berdoa untuk segera diberi tahu.

Well jika kmu membaca, aku sudah bisa paham kamu menjadi terbebani dengan segala drama yang kuciptakan, maaf.

Kamis, 28 Juli 2016

HISH!

I want to talk my self everytime i wrote a new post in this blog, like, "WHAT THE HELL ARE YOU TRYING TO SAY AGAIN?" I want to shout it out loud to my self to be enough writing those feelings of losing or something that make you look pathethic. I mean, please, if someone out there, someone important finding this blog, i don't know what will be on his/her mind. I just talk about love and love and love and love. I mean, i'm happy that so far i'm still loving and hardly can move anything without my feeling of love. I mean, i begin to proud realize that i'm one of people who adore love itself as a feeling that keep me alive. But, i have to understand, there is, well the are a lot of things more important to get my attention and my concern. For example, a chance to enter an open door, with new people, new experience and new knowledge that i can gain today and it will have more big impact if i write it with better technique.

Setiap kali aku memikirankan sesuatu yang penting di kantor, Aku berjanji akan menuliskannya di blog nanti sepulang kerja. Mengapa blog? Karena kadang menuliskannya di status facebook membuatku terlihat bawel, berisik dan susah dipahami. Ya blog ini memang aku tujukan untuk pelarian pikiranku kadang yang masih setengah matang dan masih harus kucari jawabannya. Daripada hilang menguap ditelan oleh rasionalisasi waktu, tenaga dan pikiran, mending aku lempar ke sini. Supaya aku yang beberapa waktu nanti lebih tua, dapat melihat lagi aku yang muda ini terkapar, terseok-seok memahami sesuatu. Hahaha dan aku yakin aku bakal banyak sering tertawa.

Aku ingin menuliskan bahwa aku merasa beruntung. Ada 3 mahasiswa luar negeri yang sedang magang di kantorku. Mereka adalah mahasiswa dari Master of Hummanitarian Action. What a cool things to learn, right?! Mereka harus belajar untuk beraksi untuk manusia dan beraksi sebagai manusia. Aku menggambarkan hal tersebut sebagai kerendahan hati yang menarik. Karena begitu banyak manusia yang ingin datang, menolong dan memberi tahu bak malaikat. Bahkan menyangka bahwa mereka tahu yang terbaik dan memberi materi adalah segala. Hummanitarian Action, bahkan sangat berhati-hati untuk menolong atau memberi bantuan.

Satu hal lagi yang aku senang bertemu orang baru, terutama dari tempat yang sangat jauh. Aku bisa bertukar sudut pandang yang sangat berbeda dari standard masyarakat di mana aku tinggal. Sometimes. i feel weird and feel lil bit different. But i know that's just on my mind. Ditambah lagi bertemu dengan orang-orang dari jauh membuatku merasa semakin normal. I guess there a lot of young woman like me who feels insecure and still dont have any clue what to do in life, and that's why they are still searching. One thing they want to do is they really want to do something to others.

Seorang mahasiswa magang yang sudang berumur 31 tahun dan memiliki anak berumur 8bulan mau jauh-jauh ke Indonesia untuk belajar. Dia meninggalkan anak dan suaminya. Dia berkata padaku betapa dia sangat merindukan anaknya. Dia memotivasiku untuk terus belajar. "It's always fun to be young, so can do and learn many things." Dia menyemangatiku, mengatakan bahwa umur 26 tahun adalah awal dari segalanya. Awal untuk belajar hal baru, bertemu dengan orang baru dan berbagi atas apapun yang kita punya. Sounds cliche, right? but for a young and inscure girl like me that's very insightfull. Ketika di Indonesia 26 tahun berarti adalah settlement dan tidak seharusnya kamu coba-coba hal baru, ketika 26 tahun kamu sudah harus berpikir untuk menabung, menikah dan memiliki anak, Dia berkata padaku it's only a one little step.

Walaupun, ya aku ingin segera menikah dan punya anak. I really want it. But i promise to myself to not stop learning and educating my self.

Ketika kamu kecil

Kadang Dia yang datang bukan seperti Malaikat,
Dia hanya berbicara dengan gaya lelaki yang telah kau bayangkan sejak kecil.
Dia bukan Malaikat, tidak sama sekali.
Dia hanya berbicara sangat baik, sebaik Dia yang telah kau tunggu sejak kecil.

Dan kau mulai memaafkan apapun yang buruk padanya.
Kau merindukan bayangan Dia yang kau tunggu sejak kecil.
Dia tidak menjamin semuanya akan lebih baik.
Namun, rindumu yang telah kau pendam sejak kecil menuntut dilabuhkan.

Dan Dia akan datang, meminta maaf.
Dia tidak tahu kau tak perlu memaafkan apapun.
Kerinduanmu terlalu besar dan sudah sejak lama.

Selasa, 26 Juli 2016

?

Ketika aku terbangun lalu mengingat kembali bahwa untuk lulus S1 saja aku membutuhkan waktu 8 tahun dan bagaimana aku terbata-bata menjawab pertanyaan yang sangat sederhana dalam ujian pendadaranku, sungguh hal itu membuatku merasa tak ada lagi yang bisa kusombongkan. Bukan itu saja, aku merasa begitu rendah. Bagaimana segala ilmu yang aku pelajari bisa menghilang begitu saja, atau bagaimana segala hal yang kujejalkan di otakku tak mampu membuatku belajar lebih cepat dari yang lain. Aku bahkan menjadi tidak berani untuk menilai hidup orang lain karena kehidupan akademikku yang buruk ini. Kehidupan akademik yang menjungkir balikkan ranah hidupku yang lain. Allah memang Maha Tahu, bahwa ada bibit-bibit kesombongan yang akan tumbuh subur jika semua jalanku dibuatNya mudah. Dia, mungkin, Memang Maha Penyayang.

Orang bisa saja berkata, aku mencari justifikasi atas kekalahan dan kegagalanku. Bahwa orang sepayah aku dan tidak akan lebih payah lagi akan melarikan kekecewaan-kekecewaan kepada hal yang tak mampu didebat, yaitu, Tuhan. Konsep Tuhan, yang ga asik untuk diperdebatkan.

Ohya, bicara Tuhan memang sudah mentok pada rasa-rasa romantisme. Dia, kupikir selalu yakin bahwa aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku mau, ya walaupun sangat pelan dan sedikit demi sedikit.

Beberapa waktu lalu aku ditertawakan karena tidak mampu menyelesaikan persamaan matematika sederhana, persamaan yang merupakan Fungsi Permintaan. Fatal sekali untuk Mahasiswa Ilmu Ekonomi.

Namun, satu hal yang aku yakini, Aku akan menjadi Ekonom. Aku akan mengemban satu tanggungjawab besar. Aku ge-er sekali ya? Iya memang, Aku hanya mengantisipasi mengingat Tuhan selalu ada-ada saja kepadaku dan dibuatnya aku sungguh rendah sehingga aku tidak lagi mampu merendahkan orang lain. Apa hubungannya dengan Ekonom coba? Entahlah hahaha aku memang harus banyak membaca lagi dan lagi.

Dia Begitu

Pada yang Kaukejar aku akan berkata,
"Mungkin dia hanya sementara."
Pada yang Kaukejar aku akan berkata,
"Dia memang begitu. Menyebalkan."
Pada yang Kaukejar aku akan tegaskan, "Dia memang Kurang Ajar!"
"Dia Menanam rindu, membuat akarnya menancap dalam, lalu membawanya dalam kegelapan, tak membiarkannya mendapat matahari dan hujan."
Pada yang Kaukejar aku akan berkata, "Jangan-jangan Dia akan pergi juga tanpa kata seperti dia pergi saat...."

Ah sudahlah
Aku pun tak sungguh-sungguh mengejar Cintaku
Aku tak pernah sungguh-sungguh mengejar mimpiku
Aku pun tak pernah benar-benar utuh memahami perjuangan atas keyakinanku.

Kau begitu, Memang
Aku begini, Selalu.

Pada yang Kaukejar aku akan jelaskan,
"Mungkin kami hanya bertemu pada waktu yang salah.
Mungkin dia lupa dia menanam apapun yang kupeluk saat ini."
Pada yang Kaukejar aku akan jelaskan,
"Mungkin dia lelah karena aku tak segera berkembang."
Pada yang Kaukejar, apapun itu, Aku akan jelaskan,
"Dia selalu punya alasan, kedatangannya dan kepergiannya selalu punya alasan. Hanya saja aku belum tahu dan mungkin tak akan tahu."

Pada yang Kaukejar aku akan yakinkan,
"Dia memang begitu, terimalah kedatangannya apapun bentuknya. Karena di sini aku merindukannya."

Kamis, 21 Juli 2016

Hanya Sebentar

Belum lama ya Bung?
Memang terlalu sebentar.
Baru berapa gagasan yang membuatmu mengernyitkan dahi dan mencibirku?
Baru berapa detak kita lewati dalam diam dan tangan kita menggenggam?
Baru berapa mimpi yang sempat kita bayangkan bersama dalam mata yang temaram mencoba saling menangkap bayang?
Baru sebentar memang bung?

Belum banyak air mata tumpah karena dada yang sesak menahan adiksi sebuah perjumpaan.
Belum banyak gema tawa pada lini ide yang membuat kita merekah.
Belum banyak kegamangan yang kita pilih terjang karena cinta tak membutuhkan prasangka.

Memang baru sebentar Bung.
Dan kini aku ragu, Apa alasanku memintamu pulang? Rumah atau ruang sebelah mana yang mungkin membuatmu rindu? Ekspresi seperti apa yang mampu megundangmu datang kembali?

Semuanya memang hanya sebentar, dan bisa saja bagimu mudah pudar.

Rabu, 20 Juli 2016

Mengapa Aku adalah Aku?

Kemarin siang, ketika Aku sedang nyidam betul untuk makan soto daging langgananku di Beringharjo, Aku mengajak rekan kerjaku, Aulia, untuk makan siang di sana. Dia gadis asal Kota besar yang sinting, yang artinya dalam banyak hal nyambung denganku. Berkawan dengan gadis esdua kajian budaya dan media, artinya harus siap secara random tedistraksi atau lebih tepatnya terstimulus untuk mikir abot. Siang kemarin, harusnya sotoku terasa nikmat. Namun Aul mendadak bertanya hal yang entah dari mana datangnya. Yang kutebak, sebenarnya sudah lama dia gelisah soal itu, jika tidak, sialan juga pertanyaannya! Bikin mikir!

"Pernah gak sih peb berpikir, "Mengapa kita adalah kita?", "Mengapa Aku adalah Aku?" Katanya.

"Ehmm iya sih, pernah kayanya", kutanggapi sekenanya pertanyaannya. Yang sebenarnya berarti "Ah apaansih nih anak" pikirku, aku menyeruput sesendok kuah soto rasa msg favoritku, ketika hendak menuang sambal dia lalu menambahkan. "Mengapa Aku adalah Aulia dan bukan yang lain?"

Aku mengunyah, tidak berniat meneruskan pembicaraan. Hingga akhirnya aku penasaran kemana arah pembicaraannya.

"Aku yang bagaimana maksudmu? Aku secara fisik atau aku secara konsep?" Tanyaku

"Ah sialan tambah abot!" Katanya

Lhaa, bocah ki piye jal? Dia yang mengajukan pertanyaan, dia yang menggerutu karena pertanyaannya menimbulkan pertanyaan lain dalam benakku.

"Iya, Aku yang terberi? Atau aku yang terbentuk?" Tanyaku lagi.

Yang kumaksud dengan aku yang terberi adalah Aku secara fisik. Aku dan tubuhku. Aku yang terlahir sebagai wanita. Yang kemudian berkulit sawo matang, berhidung tidak mancung, berbadan mungil, tidak pernah lebih dari 45kg dan setinggi 158cm, berbola mata hitam, bertulang kecil, berkaki mungil. Sesuatu yang tidak dapat lagi aku pertanyakan mengapa. Sesuatu yang tidak perlu lagi aku sesali. Walaupun mungkin dulu pernah. Namun itu sudah selesai. Maka jawaban atas pertanyaan Aul, iya pernah, bahkan untuk secara fisik juga. Tetapi aku tidak mendapat banyak jawaban kecuali, aku hanya butuh bersyukur karena fisik yang sangat lengkap, tidak simetris memang, tetapi sempurna. Sangat sempurna. Maka jika tidak bersyukur, atau aku paksakan bersyukur, mungkin saya sudah mati nyemplung kali.

Lalu dia menjawab: "Secara konsep peb. Kenapa Aku berkuliah di jurusan tertentu? Kuliah di kampus tertentu? Bertemu orang-orang tertentu? Bekerja di bidang tertentu?"

Pertanyaan dia menjadi menarik untuk ditanggapi lebih. Namun, Aku malah berakhir diam. Sesendok demi sesendok kunikmati sambil terus berusaha menemukan rasa yang biasanya aku cari. Pertanyaan Aulia sangat menarik. Namun membutuhkan sebuah keberanian yang cukup besar untuk menjawabnya. Tak harus menjawabnya dengan suara atau bahkan kata-kata. Cukup dengan menutup mata saja, sebuah kotak-kotak pandora dalam hati dan ingatanku membuka pelan-pelan. Untuk menjawab pertanyaan Aulia, aku seperti sedang di depan pintu gudang yang gelap. Yang kubuka dengan mengintip pelan-pelan, takut banyak kejutan atas ingatan yang menyergap.

Keberanian atas bertemu kembali dengan mimpi-mimpi yang tertunda atau bahkan terserak tak menemukan jalannya karena Aku tak berusaha cukup keras.

Keberanian untuk melihat kembali wajahku yang terkapar karena kegagalan membuatku jatuh begitu dalam. Kegagalan yang diakibatkan kesombongan, keangkuhan dan kesoktahuanku.

Keberanian dengan nama-nama yang meninggalkan sederet luka. Yang coba kita maafkan karena jika tidak nama itu tidak hanya menjadi sederet huruf, tetapi segores wajah yang menghantui bahkan ketika bertemu dengan wajah lain yang tersenyum manis dan indah sekali.

Keberanian untuk mengikhlaskan bahwa Aku adalah Aku yang kubentuk sendiri dengan segala kebaikan, kecerobohan dan keburukanku.

Mungkin, jawaban Mengapa Aku adalah Aku adalah supaya Aku dapat tetap menikmati soto favoritku tersebut ketika tiba-tiba kotak-kotak dalam gudangku yang gelap tersebut dilempar mendadak kemukaku kapanpun, dan isinya bertebaran kemana-mana, dilihat orang lain. Dan Aku harus tetap tersenyum, berkata "Iya itulah Aku, Monggo nyoto dulu biar tetap sehat."

Selasa, 19 Juli 2016

Mencari Apa?

Kadang seseorang sering lupa memastikan kembali apa yang sebenarnya sedang dicarinya? Berjalan terus, berjuang keras, meninggalkan kenyamanan detik ini untuk untuk sesuatu. Namun, sesuatu apa? Pastikah itu bentuknya? Sebenarnya tidak salah juga jika seseorang tidak tahu apa yang sedang dicari. Namun tentu saja ketika dia tidak tahu betul yang sedang dicari, dia harus meluangkan lebih banyak waktu, menunda lebih lama waktu untuk menemukannya, bahkan bisa tidak ketemu sama sekali.

Apa yang kamu cari sebenarnya? Sampai kapan mau mencari? Tidak kah ingin ada yang menemani?

Mencari sesuatu sendiri tentu lebih mudah. Kita bisa menentukan sendiri apa yang kita cari, kita bisa menentukan jangka waktu dan batas waktunya, target pencapaian dan tentu saja kapan harus berhenti sewaktu-waktu. Toh jika gagal, kamu bisa menyembunyikan kegagalanmu dari orang lain, paling tidak, tidak akan ada suara sumbang mengganggu yang mengkritik dan bicara seolah kita butuh nasehat. Namun, tidakkah ingin ada yang menemani? Segala keributan itu pasti ramai. Ya ramai itu lebih bersuara dari sepi. Yang bisa aku sebut lebih hidup. Tidak masalah juga, jika sekali lagi kamu lebih merasa hidup dengan suara di otakmu sendiri yang mengalahkan pasar itu.

Apa yang kamu cari? Dalam kesendirianmu, dalam standard yang kamu bentuk sendiri, dalam pelarian dan istirahatmu, pastikan saja terus bersyukur, dengan memberi hati dan badanmu haknya. Hak untuk istirahat, makan, beribadah dan mengakui jika kamu sedang kalah dan lelah. Karena jika demam, dalam perjalananmu yang sendiri itu, tak ada selimut hangat atau kasih yang membelaimu lembut. Jika tubuhmu sudah menggigil, paling tidak jangan biarkan hatimu menggigil pula. Bayangkan saja aku yang sedang merengek berisik minta kamu perhatikan, kekasihku. Semoga dengan begitu hatimu bisa kuselimuti. Setelah itu berjalanlah kembali.

Namun, aku masih penasaran, apasih yang sedang kamu cari? Aku di sini secara konsep dan fisik. Bukan aku kah itu yang kau cari?


Sabtu, 16 Juli 2016

Nanti

Nanti saja tak apa.
Aku yang bertanggungjawab kepada anak-anakku yang harus lahir sedikit lebih telat karena ibunya mencari seorang partner diskusi di ranjang setiap malam yang merayap semakin matang, bukan hanya bertukar cairan untuk membentuk fisiknya yang biasa disebut proses reproduksi. Karena ibunya berkeyakinan reproduksi bukan hanya tentang menghasilkan bayi yang suatu saat berhidung mancung atau pesek, berkulit hitam atau putih, berbibir tipis atau penuh, tetapi juga berhati tulus atau pamrih, jujur atau bohong, bermental tegar atau lemah, berhati lembut atau kasar. Dan itu semua, selain harus diciptakan dalam tarian-tarian tubuh yang saling berhimpit juga pada diskusi-diskusi tengah malam yang sangat rapid dan sengit.

Nanti kujelaskan pada anakku. Begitulah cinta ayah dan ibunya membawanya ke dunia. Sedikit lebih telat daripada yang lain memang, tetapi bukankah semua hal adalah tepat waktu jika kita mampu menampung waktu untuk sebuah keyakinan?

Nanti saja kujelaskan kepada anakku. Bahwa dia tidak perlu tergesa-gesa melakukan apapun demi sebuah standard yang tidak dihasilkan dari suatu pemahaman penuh yang ia miliki. Hal itu mungkin kemudian membawaya agak telat juga menemukan cintanya, sebuah partner diskusi yang mampu diajak bukan hanya mereproduksi bayi, tapi juga ideologi.

Nanti kujelaskan pula kelemahan ibunya yang pernah juga merengek karena takut tertinggal dan ditinggal. Seakan-akan dirinya sendiri saja bukan hal yang mampu menghidupinya sendiri. Seakan dirinya sendiri bukan hal yang penting utum terus berjalan. Dia harus tau ibunya ternyata ibunya mampu pada akhirnya, tapi mimpi atas diskusi di ujung hari pengantar tidur dalam mendamba kehadiran dia, anak-anakku ke dunia adalah kerinduan luar biasa.

Aku tak sabar menjalani sebuah atau berjuta-juta petualang anakku! Ayahmu, adalah partner yang pasti asik diajak diskusi, dia berhasil membawamu ke dunia yang artinya dia pernah beberapa kali berhasil memeluk kegelisahan ibunya di tengah malam, dan tentu saja mencumbunya. Maka ceritakan segala gelisahmu padanya, dia mungkin sedikit lebih tak peka dan tak solutif, tertawakan saja, lalu ajaklah dia memancing, bersepeda, susur gua, mendaki, atau apapun supaya fisikmu kuat. Aku ibumu, kutakan dengan bangga padamu, jangan remehkan, kususul kalian dengan fisikku yang akan terus kujaga kuat untuk kita melangkah, berlari bahkan mendaki bersama.

Deskripsi Setengah Spasi

Di antara tanda baca yang gamang untuk kurentangkan, sesungguhnya aku paham aku harus segera mengakhiri kalimat.
Sebuah kalimat yang akan menjadi semakin kehilangan makna jika dipaksakan terus berderet.
Berjejal dalam sebuah deskripsi, kau mencuri spasi.

Namun, kau tak juga menghentak, hanya mengintip.
Seperti menimbang untuk menjadi setengah saja.
Kusisih dan sisakan sebaris penuh agar kau menari dalam sapuan kisah dan cerita.
Namun kau terus mengurangi dirimu sendiri. Menghapus setiap kata yang kubilang ini terakhir pada kalimatku.

Seandainya bisa memilih tercekat dalam membaca kalimat penuh, itu lebih mudah.
Aku tinggal menghela nafas dan diam.
Membaca kalimat yang hurufnya gugur satu demi satu sungguh membuatku pusing tak kepalang.

Apa yang kau rencanakan, sayang? Apa kau kehilangan spasi hingga deskripsi menjadi regang dan sumbang?

Suatu Sore di Kaliurang

Hujan turun dari siang tadi, aku bersyukur karen udara menjadi lebih hangat. Aku lalu tanpa sadar meyakini dan mengharapkan bahwa kabut tipis pasti akan segera menyergap kami di beranda atas wisma ini. Aku tau aku hanya menebak saja. Namun, aku juga merasakan bahwa keadaan ini selalu familiar pada beberapa waktu yang silam. Kaliurang, dan segala bentuk aktivitas yang dibuat. Beberapa kelompok yakin, dingin, kicau burung, suara kendaraan yang minim, kabut, dan teh, kopi, jahe hangat adalah sebuah stimulus melebur jarak dan mencipta karya bagai kelompok mereka.

Kaliurang, pertama kali aku datang ke sini delapan tahun lalu. Aku yang masih sangat muda dan bermimpi serakus mungkin. Bertemu dengan banyak kawan dari berbagai macam daerah. Perpaduan antara minder dan ingin berkenalan menciptakan sebuah sikap siaga. Mana yang kira-kira bisa kujadikan kawan, atau mana yang mungkin membuat urusanku susah. Aku yang masih yakin sebuah pertemuan baru adalah medan perang. Aku yang tak tahu diri dalam keminderanku, bahwa aku tak pernah punya apa-apa dalam tubuhku yang mungil yang mampu dijadikan senjata, kecuali kehangatan senyum dan kecorobohan kata-kata yang tak akan pernah mampu kukendalikan. Mereka menerimaku begitu saja, menerima kehadiranku yang tak begitu mencolok. Selama aku tidak menjengkelkan kupikir aku akan baik-baik saja.

Itu hanya pertemuan awalku dengan tempat ini. Setelah itu, acara demi acara, orang baru demi orang baru kuhadapi dengan lebih luwes. Aku tak lagi tertarik berperang, setidak tertarik aku kepada sebuah pertemanan baru. Aku hanya akan menikmati bagaimana semesta melemparkanku pada pertemuan-pertemuan di antara sapuan kabut tipis, gemericik hujan dan suara burung, yang semakin kesini kuyakini suara seindah itu tidak mungkin hanya tercipta dari cuitan burung. Ya, aku sadar cuitan burung di sangkar sangat membosankan. Namun, segala carut marut suara benda mati dan bergerak, gesekan batang bambu, serangga, daun jatuh, pasir terbawa angin. Hanya saja, semua itu sangat semarak.

Di beranda ini aku mengingat lagi bahwa pertemuan yang pernah datang seringkali berakhir begitu saja. Pertemuan-pertemuanku dengan berbagai macam orang di Kaliurang, membawa banyak kisah, banyak pelajaran, dan tentu saja saat itu antusiasme yang membuatku terus berjalan, euforia yang membuatku merasa mendapat kesempatan lagi, sebuah awal baru, sebuah kisah baru. Dan toh, semuanya pada akhirnya lewat begitu saja dan aku baik-baik saja.

Aku duduk dan menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah hujan. Walau mungkin tebakanku salah, segala pertemuan dan kesempatan yang pernah kualami di sini membuatku merasa lebih kenal dengan tempat ini dan berani menebak. Ini sama sekali bukan soal benar dan salah, tetapi lebih kepada memberi kesempatan otakmu berpikir dan merasa, memberi kesempatan jiwa dan hatimu kecewa. Tau kah kamu itulah yang menjagaku untuk terus menjadi manusia.

Dan pertemuan-pertemuan lain, di tempat -tempat lain, punya kisahnya sendiri, caraku menghadapinya tak jauh beda dengan segala romantisme yang ada di sini. Aku akan menebak, menunggu dan siap patah hati.

Hai, mengingatmu sekali lagi menghangatkan hatiku yang sedari tadi dingin walau hujan membuat tubuhku hangat. Lalu kemudian, aku tersadar, begitu banyak tugasku yang masih menunggu untuk segera diselesaikan.

Kamis, 14 Juli 2016

Pemberdayaan Wanita

Beberapa kali saya bertemu dengan komunitas atau lembaga yang bisa saya sebut sebagai pejuang pemberdayaan wanita ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan atau ambil pelajaran.Salah satu hal penting yang saya ingatkan pada diri sendiri dan beberapa teman adalah sebaiknya kita jangan terlalu suka berburuk sangka atau khawatir bahwa para pejuang pemberdayaan wanita mengalami salah kaprah mengenai tujuan pemberdayaan wanita. Mereka sebenarnya hanya berusaha memberikan pilihan dan memperbanyak informasi atas apapun yang mereka yakini belum terberi atau aksesnya masih minim kepada para wanita. Jadi, setelah itu semua kembali kepada para wanita-wanita yang disasar apakah akan meresponnya atau tidak. Bahkan pejuang pemberdayaan wanita yang benar sudah mulai memberi kesempatan dan perhatian khusus juga kepada para lelaki yang membutuhkan bantuan, karena mereka sudah menyadari pentingnya sebuah pembagian peran yang diusung pada konsep kesetaraan gender.
Jadi jika sampai ada orang-orang yang nyinyir bahkan dari kalangan wanita sendiri bahwa pejuang pemberdayaan wanita sedang membentuk konstruksi sosial baru, sebenarnya itu agak paranoid. Karena berangkat dari keyakinan bahwa wanita bukanlah setengah manusia dan mereka sepenuhnya sadar atas pilihan masing-masing, maka merekonstruksi mereka dalam aspek sosialnya tidak semudah itu. Namun, jika setelah akses atas segala kesempatan dalam kehidupan sosial (karir, pendidikan, keluarga, dll) itu sudah terberi, dan masih saja ada yang mengkritik pilihan hidup wanita lain, saya khawatir itu berasal dari sebuah pengingkaran atas keinginannya merespon kesempatan yang ada. Atau harus ditilik kembali jangan-jangan dia masih merasa bahwa wanita terlahir untuk menerima yang sudah terberi saja yang kondang dengan sebutan kodrat? Bahkan pemahaman mengenai kodrat saja belum final.
Sehingga kemudian sampai muncul dua golongan yaitu Wanita Karir yang berbangga hati karena merasa sudah membebaskan diri dari kungkungan kodrat dan menertawakan wanita yang memilih sebagai ibu rumah tangga sebagai mereka yang lemah. Dan yang kedua adalah sebaliknya, Ibu Rumah Tangga yang menyindir Wanita Karir yang manyalahi kodratnya dan merasa lebih mulia karena memilih mengabdi kepada keluarga. Jika begitu, menurut saya itu agak melenceng saja sekali lagi dari keyakinan saya bahwa wanita itu adalah sepenuhnya manusia, yang mampu dengan sadar memilih langkahnya dan paham atas konsekuensi, sehingga dia tidak perlu memakaikan pakaiannya kepada orang lain.Namun juga yang perlu diwaspadai, bias yang sangat bisa muncul dari para pejuang pemberdayaan wanita mengenai apa yang sudah terberi dan belum terberi. Kalau bias itu terjadi kita hanya bakal bagaikan memberi garam pada air laut saja, agak buang-buang waktu, kurang tepat sasaran. Hal tersebut tidak begitu bahaya sih jika tujuannya adalah memberikan sebuah informasi. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk meminimalkan bias. Salah satu metode yang paling asik adalah live in, tinggal beberapa saat di komunitas itu dan tinggalkan sebentar standard-standard yang kita biasa jalani pada kehidupan sehari-hari kita. Pun jika tepat sasaran, pemberian informasi seharusnya yang tidak terputus lho, yang tidak setengah-setengah, yang tidak berat sebelah, yang tidak menggiring opini. Eh mana bisa? Kalau belum bisa senetral itu, maka biarkan pihak lain juga masuk untuk memberi mereka informasi lain. Tidak perlu paranoid, tinggal berlomba-lomba dalam kebaikan dan biarkan mereka memilih.#cmiiw