Jadi tulisan ini adalah sebuah usaha saya mengurai atas
segala kerumitan, kegelisahan dan kesedihan saya yang repetitif, yang saya
khawatirkan bahwa kesedihan tersebut tidak benar-benar ada. Maksud saya
kesedihan tidak selalu diakibatkan oleh kerugian atau kehilangan hal-hal yang
berbentuk atau materi, tetapi kesedihan yang diakibatkan atau konsekuensi dari
sistem sosial yang berlaku atau benar-benar hanya kekecewaan personal saya. Saya benar-benar ingin mengurai apakah kesedihan
saya ini berdasar atau tidak. Jika memang kemudian kesedihan dan kegelisahan
ini berdasar, arahnya kemana? Ujungnya kemana? Dalam proses penguraian pikiran
saya tersebut saya akan sangat berusaha meminimalkan penggunaan perasaan yang
berlebihan. Saya adalah tipikal seseorang yang selalu mengedepankan perasaan
daripada logika. Begitupun penilaian orang lain terhadap saya bahwa saya itu
baper. Damn, i actually want to make this one as a joke. But no denial, that’s
absolutely true.
Namun kemudian semakin kesini sebenarnya tingkat kebaperan
saya semakin berkurang. Saya sudah mulai mudah lelah menggunakan perasaan yang
pada akhirnya berujung kepada kata “luweh” dan “raurus”. Saya sudah mulai bisa
memilah dan memilih mana yang layak mendapat perhatian lebih serta layak saya
pikirkan dalam-dalam dan mana yang saya coba pendam saja. Saya tidak lalu
berusaha mengatakan bahwa kesedihan dan kegelisahan itu hilang begitu saja
ketika saja mencoba tidak peduli. Tentu saja, di saat-saat tertentu ketika
sedang sangat sibuk kerja lalu teringat hal yang menjadi perhatian saya
tersebut, hati saya mencelus. Saya serasa mendadak lemas dan tidak antusias.
Jika ini dianggap berlebihan saya bisa terima. Saya hanya berusaha memahami
kondisi psikologis saya dan mengakui bahwa saya memiliki kelemahan-kelemahan
tersebut. Melakukan sebuah pengingkaran terhadap kelemahan tersebut untuk saya
sendiri berarti sedang menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapanpun di saat
yang bisa saja tidak tepat.
Kemana ujungnya segala perasaan ini? Saya jatuh cinta,
beberapa kali. Maka beberapa kali pula saya patah hati. Kisah cinta saya
terlalu banyak drama jika saya menilik kembali paling tidak delapan tahun
terakhir. Dimulai dari merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga dan takut
kehilangan, lalu benar-benar kehilangan dan membutuhkan beberapa tahun untuk
mengikhlaskannya. Mengikhlaskan apa? Entahlah, lucu sekali sebenarnya jika kita
menggunakan kata mengikhlaskan atas sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.
Namun, sudahlah kita pakai bahasa penduduk bumi saja, yang berarti mencintai
hampir selalu dibarengi rasa ingin memiliki. Maka ketika saling mencintai maka
ada semacam kesepakatan bahwa kita saling memiliki. Sebuah konsep yang lucu
jika saya menilainya sekarang. Namun, pada satu waktu itu adalah bentuk
semangat hidup bagi saya yang masih amat muda. Maka kehilangannya adalah
kehilangan yang sangat besar. Cukup besar sampai saya merasa tidak mampu
berjalan sendiri dan terburu-buru menjalin satu hubungan yang lain. Dan
seterusnya dan seterusnya.
Tulisan ini menjadi semakin berisi curhatan tentang kisah
cinta saya hahaha. Tapi tak apalah menyadari bahwa main concern saya ada pada
urusan hati. Saya merasa saya harus segera menuntaskan hal-hal seperti ini, pelan-pelan
saja memang, karena terburu-buru sekali lagi akan membawa kita hanya pada
pengingkaran yang menyesakkan.
Mendengar banyak cerita bagaimana teman-teman sebaya saya
ingin segera menikah dan sudah mulai menikah, membuat saya membayangkan betapa
beruntungnya mereka menemukan pujaan hatinya secepat itu. Dan kemudian saya
mulai memproyeksikan kebahagiaan saya adalah ketika bertemu dengan orang yang
saya cintai, lalu kemudian tentu saja menikahinya. As simple as that. Lalu
apakah itu berarti saya ingin sekali menikah karena teman-teman saya menikah?
Saya menolaknya dengan tegas. Saya akan mengatakan bahwa saya menikah karena
saya memang ingin menikah. Saya ingin menikah karena saya ingin memiliki
partner dalam diskusi di malam hari, partner dengan minat yang hampir sama,
partner dalam beribadah dan berkarya. Manis sekali bukan? Sebenarnya tidak
istimewa juga. Banyak sekali mereka yang memiliki mimpi yang sama seperti saya
ini. Hanya saja mereka saya rasa tidak serumit saya. Jika memang ingin menikah
saja seharusnya saya tidak harus banyak sarat mungkin ya? Cukup yang berniat
serius untuk menikahi saya. Namun itu nyatanya beberapa orang yang datang tidak
membuat saya tertarik. Mengapa?
Karena jelas, saya memiliki seseorang yang saya dambakan.
Seseorang yang membuat hati saya tak karuan ketika dia tidak memberi kabar.
Seseorang yang sebenarnya saya ingin jadikan tempat untuk saya menumpahkan segala isi pikiran dan kegelisahaan
saya. Namun saya takut membuatnya tidak nyaman dan berakhir pada hilangnya perasaan yang dia miliki kepada rasa saya. Saya, yang sudah beberapa kali jatuh cinta dan patah hati,
nyatanya juga tidak banyak belajar mengenai hal ini. Pada beberapa hal saya merasa tidak tahu
lagi apa yang harus saya perjuangkan, yang harus saya lakukan atau saya optimalkan untuk
bisa menjamin perasaan dia tidak berubah kepada saya. Atau paling tidak membuatnya mau memberi
kejelasan mengani apa yang dia rasakan kepada saya. Pada tahap ini, ujung-ujungnya saya
hanya bisa pasrah dan berdoa. Karena jika meyakini dan membawa-bawa iman, siapa
bisa jamin hati seseorang? Belum lagi perasaan insecure yang semakin menguat jika
membayangkan dia menghindar dari saya karena saya terlalu rumit. Perasaan ingin
memiliki dan kesadaran atas gap yang jauh antara bayangan ideal dan realitas juga seringkali membuat dada saya sesak pada waktu-waktu tertentu. Beberapa kali bahkan hal
tersebut berujung kepada perasaan muram, tak berharga dan membuat saya menangis bahkan tidak bisa tidur. Saya masih
bersyukur, pada waktu siang atau pada waktu saya harus menjalani kehidupan
sosial, saya mampu mengelola perasaan itu dengan baik. Sehingga hal itu tidak
sampai menarik perhatian orang lain atau melibatkan mereka yang tidak tahu
menahu dengan urusan saya.
Saya bisa bilang saya cukup kuat menghadapi hal ini, karena pada kenyataannya tidak sedikit mereka yang terkapar dan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk
melangkah maju. Bahkan pada beberapa orang hal ini bisa menganggu kehidupan sosial mereka, kinerja mereka
dan berujung pada hal-hal kontraproduktif. Maka kemudian ada yang mengatakan
bahwa memang ada seni untuk patah hati, yang menurut saya berisi kesiapan untuk tidak menerima yang kita harapkan, terlebih menerima (hal buruk) yang tidak kita harapkan. Beberapa kali saya menyatakan semangat pada diri saya sendiri, bahwa patah hati boleh, ngancing jangan! hahaha. Well, mungkin saya bisa kuat juga karena saya tidak punya
alasan untuk menjadi lemah. Beberapa kali saya menyadari bahwa sebenarnya saya
baik-baik saja tanpa harus memiliki dia seseorang yang saya idamkan itu.
Kehidupan saya berjalan normal jika saya melihat hari ini dan mulai berusaha
percaya masa depan adalah rahasia Tuhan sepenuhnya. Saya tidak perlu banyak
drama menuntut perhatian orang yang saya cintai, menuntut untuk dicintai balik
dan diperhatikan balik karena saya sudah perhatian dan cinta sama dia. Menyadari
bahwa mencintai adalah fitrah, membiarkannya berkembang sebanyak-banyak tanpa
harus membunuh sebenarnya cukup efektif membuat kita lebih rileks. Lebih santai
dan terbuka menerima perasaan itu. Mencintai seseorang yang secara personal,
fisik bahkan secara hal-hal yang tak mampu kita jelaskan itu sangat lumrah dan
manusiawi.
Saya rasa di situ pada akhirnya proses pendewasaan saya
berlangsung. Saya tidak banyak diuji pada hal-hal sentral yang berat dan mampu
melumpuhkan saya. Keluarga saya utuh dan menyanyangi saya sepenuhnya. Saya
beberapa kali memang mengalami kesulitan finansial dan akademik saya buruk.
Tapi nyatanya saya mampu bertahan dan lebih santai menghadapi hal tersebut.
Kadang saya juga heran, apa yang membuat saya begitu drama jika menghadapi
urusan percintaan? Padahal saya sudah dapat menerima konsep bahwa cinta hadir
dalam berbagai rupa. Saya masih ingat betapa saya kelabakan ketika saya
merasakan perasaan yang kagum dan berubah menjadi suka, selanjutnya ada rasa
ingin memiliki kepada seseorang yang lebih muda dari saya. Hal tersebut menjadi
drama ketika saya mencoba mengingkarinya dan terlalu khawatir mengenai bentuk apa yang tepat
untuk menyalurkan perasaan saya yang menggebu-gebu itu. Waktu itu umur saya 25 tahun
dan masih asing dengan perasaan mencintai orang yang lebih muda. Hari ini,
setelah saya pernah mengalaminya, teman saya bercerita dengan santai bagaimana
dia jatuh cinta kepada seorang lelaki yang 4 tahun lebih muda. Saya terkagum
mendengar ketenangan dia bercerita. Cara dia mengapresiasi pertemuan dan semua
hal-hal baik yang dia dapat ketika dia mencintainya. Ada rasa ingin memiliki,
itu wajar. Namun, cukup sampai di situ, ingin tidaklah harus.
Berbicara mengenai apresiasi terhadap kehadiran seseorang,
kehadiran teman-teman di sekitar kita adalah bentuk cinta yang juga kongkret dan
menggembirakan. Lalu kata seseorang, untuk memahami ini saya harus membedakan
mana senang/gembiran dan bahagia. Bahagia itu penuh dan senang masih menyisakan
ruang kosong. Apa yang kosong? Ya tadi sebuah spasi tempat gambaran ideal kita
dan kenyataan. Jika kita mampu mengecilkan jaraknya, yaitu dengan menurunkan
gambaran ideal kita maka ruang kosong itu akan berangsur-angsur pergi.
Namun, pada kondisi tertentu saya menyadari bahwa saya
sering kali membiarkan ruang kosong itu ada di sana. Bahkan mengeksplorasinya,
menjadikannya sajak-sajak gundah dan sedih, menggunakan pemuas rindu saya yang
saya bingung harus pulangkan kemana, menjadikannya gambaran betapa saya mabuk
kepayang oleh perasaan itu. Dan semua sajak itu mungkin sebenarnya hanya
jebakan imajinatif yang saya ciptakan untuk orang yang saya cintai itu agar mau
menikah dengan saya. Mungkin saja sajak itu juga merupakan cara saya
meyakinkannya untuk menikahi saya dan bahkan yang terburuk adalah mengasihani
tangisan-tangisan saya dan lalu menikahi saya. Saya merasa itu buruk sekali
menyadari bahwa kemungkinan eksplorasi berlebihan saya terhadap ruang kosong
tengah saya lakukan. Bahkan ketika orang yang saya cintai itu menyadarinya, dia
bisa saja tidak nyaman dan pergi, apalagi kami belum terikat apapun.
Sedangkan mengenai konsep pernikahan itu sendiri, oh Tuhan
saya belum final betul memahaminya dan seberapa urgentnya untukku. Well, paling
tidak saya sudah lega mengurai ini semua. Semoga bisa saya lanjutkan lagi
besok-besok di waktu saya sudah lebih memahami apa yang sebenarnya saya mau.
Hari ini saya tidak punya kata lain selain rindu. Sayangnya rindu itu cukup
besar untuk membuat orang yang saya rindukan itu risih dan memilih pergi. Saya
pun tidak mau sebenarnya konsep pernikahan menjadi suatu hal yang menghambat
langkah orang yang saya cintai. Namun, implementasinya tidak semudah berkata.
Untuk mengatasi nyeri di malam hari, saya percaya sholat
masih ampuh. Ya saya memilih percaya karena itu lebih mudah daripada membiarkan
pikiran saya terus berkelana mengkritisi sistem dan membentuk gambaran idealis
yang lebih utuh. Kadang itu melelahkan.
Jadi kemana kah ujungnya? Saya boleh jawab tidak tahu? Sungguh saya juga berharap dan berdoa untuk segera diberi tahu.
Well jika kmu membaca, aku sudah bisa paham kamu menjadi terbebani dengan segala drama yang kuciptakan, maaf.
Well jika kmu membaca, aku sudah bisa paham kamu menjadi terbebani dengan segala drama yang kuciptakan, maaf.