Sabtu, 31 Desember 2016

Desember-Januari

Desember melenggang lincah, aku masih ingin menggenggamnya, melihatnya mati tak tersisa, di tanganku.
Kamu menunggu puisi dariku?
Aku tak punya. Sudah lama aku berkisah tentangku yang kehabisan sajak.
Aku hanya ingin membaca dan membaca lagi, supaya aku lebih pintar.
Oh bukan pintar mungkin, lebih logis.
Oh bukan logis mungkin, lebih tidak ceroboh.
Oh bukan tidak ceroboh mungkin, lebih memahami diriku.
Oh bukan memahami diriku mungkin, lebih mencintai diriku.

Aku, seperti yang selalu terlihat di matamu, tidak jelas dan susah ditebak.
Aku, seperti katamu, mengacaukan banyak skenario.
Kedatanganku dan gerakku di luar pola dan ritme yang diciptakan banyak orang.
Aku akan berhenti berpuisi dan lebih banyak memahami kemana semua orang ini bergerak sebenarnya?
Aku hanya ingin menjadi bagian yang baik dan bermanfaat, fokus dan berguna.

Aku hanya ingin tidak mengganggu kehidupan siapapun dengan cara apapun.
Puisiku, gambarku, ceritaku akan kupungkasi jika itu tidak sesuai dengan ritme gerak khalayak. Kunikmati sendiri, kuresapi sendiri, kumanifestasikan sendiri. Terutama, jika tidak kauinginkan ia melintas di pikiranmu.

Januari, menyambut hangat. Banyak yang ia janjikan bahwa aku akan melewati hari yang seru. Namun, aku melirik dengan waspada ke kanan dan ke kiri. Teringat Januari sebelumnya aku dikerjai dengan harapan dan hempasan, berkali-kali. Menyenangkan dan juga nyeri.

Jika surat terakhirku sampai padamu, ketahuilah aku sudah mengemasi semuanya. Seperti Desember yang melenggang riang, dengan lidah menjulur mengerjaiku, tangannya melambai di kedua telinganya. Sedang Januari membuka tangannya lebar-lebar, dan mengerlingkan matanya padaku, tengil.

Kamu, mungkin sedang duduk di kursi kehidupan yang lain. Yang terlalu berbeda denganku, terheran-heran mengapa pernah ada gadis sepertiku mampir di hidupmu. Dan Kau, membuang kalender 2016 di sampah, yang sebelumnya telah kau remas tiap halamannya. Sambil tersenyum, sambil berkata, hidup harus logis!

Dan aku akan selalu jatuh cinta, kepadamu atau kepada kehidupan. Dan aku selalu tenggelam, bersamamu atau bersama bahan bacaanku. Dan aku akan selalu terkagum-kagum, oleh pandanganmu atau semua likuk jalan di bukit itu. Aku mungkin akan membiarkan diriku mengalami keterlemparan seperti sebelumnya, namun aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa keterlemparanku tak akan bising dan mengganggu jalan orang.

Senin, 26 Desember 2016

Self talk

Kamu terbangun, semalam kamu tidak memeranginya, kamu mengikuti nafsumu untuk terus bicara. Nafsu untuk membela diri, untuk mencari pembenaran, untuk mencari perlindungan, untuk dimengerti. Nafsumu terlalu besar sayangku, nafsu atas selalu berada di tempat yang nyaman. Sayangnya itu malah membuatmu ketakutan. Kamu mengungkapkan apa yang seharusnya cukup menjadi pertimbanganmu saja. Kamu selalu berharap ada orang lain yang membantu mengurai pikiranmu atau bahkan memeluk semua kekhawatiranmu. Sudah kamu jelaskan berkali-kali pada dirimu sendiri, bahwa seharusnya kamu bisa mengatasi ini sendiri. Bahwa sesungguhnya kamu tau resikonya, kapan bicara kapan diam.

Sekarang, kamu menyesal. Kamu bangun di pagi hari, takut melihat telepon genggammu karena semalam kamu membuat kekacauan. Apa yang sebenarnya kamu cari? Perhatian?

Apakah kamu jatuh cinta? Tanyakan pada dirimu sendiri. Kekacauan yang kamu buat sudah terlalu banyak, sebaiknya cintailah dirimu sendiri. Bagaimana kamu selalu ingin menguji seseorang untuk menerimamu yang seperti ini jika kamu belum mampu mencintai dirimu sendiri? Perjalananmu masih jauh, mimpimu masih banyak, siapa yang bisa jamin kamu pasti mendapat partner untuk berjalan? Simpan kekuatanmu sayangku, sederhanakanlah hidupmu, menepilah, menyepilah. Hidup bukan pasar malam, jangan terus ingin menyalakan kembang api di setiap perjumpaan dan kaki melangkah. Percayalah, cintai dirimu sendiri dulu, biarlah semesta yang membimbingmu kemana arah cinta itu.

Sabtu, 24 Desember 2016

;)

Ada perbedaan mendasar dari mengagumi dan jatuh cinta. Mengagumi memacu dirimu untuk belajar lebih dan paling tidak selevel dengan orang yang kamu kagumi. Dan jatuh cinta membuat dirimu mau tidak mau terjun bebas dari bentuk rasionalitas apapun. Menyenangkan sekali bisa merasakan keduanya bersamaan, pada orang yang sama atau pada dua orang yang berbeda, kemudian membuatmu memilih gundah dan gulana atau membaca dan mengulas pada malam hari. Aih menyenangkan sekali hidup dalam keterlemparan seperti ini, sebuah pengayaan tak kunjung habis. Rayakan!

Kamis, 22 Desember 2016

You

When you say you can't, the only thing i know is that it's gonna be a great day, indeed, with or without you. Because you know, we are as our self is the only one who able to produce and reproduce everything, happiness for example. But you also have to know, it would never be the same without you, it's just not the same. I miss you like everyday, it's not for some times or some minutes, it's like the whole day and everyday. But yes, everyday was going right and fine. Tomorrow and forever will be fine at the end. I handle everything, just like you do everyday. But i miss you and i want you to be here.

Selasa, 20 Desember 2016

Ramai

Aku mengambilnya sedikit dari kerumunan,
mengolahnya mengolahnya mengolahnya,
aku tak suka,
kubuang sedikit ke kerumunan,
membentuknya membentuknya membentuknya,
aku tak nyaman,
ku contek sedikit dari keramaian,
memelintirnya memelintirnya memelintirnya,
aku mual,
kusisihkan ke kolong tempat tidur,
memikirkannya memikirkannya memikirkannya,
aku gelisah.

Aku ingin memuntahkannya, tak ada tempat.
Di luar terlalu ramai, aku malu.
Di luar terlalu bising, aku ragu.
Kubenturkan ke dinding, dia melenting, menampar mukaku, aku terbanting, merah padam aku dibuatnya.

Seandaianya aku menutup mata, menyumpal telinga, membungkam bibir, menali tangan, mengunci kaki.
Seandaianya tak ada ingin tahu, karena tahu adalah bagian dari nafsu, atau nafsu tercipta dari tahu? Entahlah, malas kali aku berpikir.
Yang kutahu sudah lacur bising itu menelisik di selimut dan bantal tidurku.
Aku akan tidur bersamanya selama-lamanya, kunikahi juga dia, kegelisahan bodoh tentang protes akan mereka yang banyak.

Sepertinya aku harus sekolah lagi, supaya aku bisa terbang tinggi, di bawah sini terlalu berisik. Atau aku harus didekap seseorang, supaya tak khawatir aku tertabrak kanan-kiri. Atau uang yang banyak? Supaya kumakan kenyang lalu tidur saja. Aku bosan terombang-ambing sendiri.

Namun, mereka yang punya semuanya itu, otak, uang, dan seseorang, kenapa masih saja bising dan terombang-ambing? Ah bodoh memang tak terbatas.

Minggu, 18 Desember 2016

habis

Maka aku kehabisan sajak, maka aku kehabisan sajak, maka aku kehabisan sajak. Kau akan mendapati aku mengulang kata yang sama berkali-kali, hingga kehilangan makna, hingga tak menggetarkan rasa, hingga mengikis asa. Ketika semuanya menjadi begitu jelas, kau tak lagi berkelit, dan semuanya termaafkan. Lalu kita melenggang, masing-masing, mengulang cerita yang sama, berkali-kali di perjumpaan yang lain, di persimpangan yang lain. Begitulah katanya cinta, membunuh dirinya sendiri pelan-pelan, atau memilih menghindar, karena rutinitas lebih seksi dan menggairahkan dari debar yang terabaikan. Begitulah katanya, cinta menjadi tidak logis dan hanya menjadi pemanis catatan sejarah, atau kisah purba yang menjadi dongeng sebelum tidur kanak-kanak. Karena pada akhirnya, kita menjadi dewasa dan memilih sebaiknya bertukar kepentingan saja.

Kangen

Aku pernah berlari menuruni hutan senaru yang lebat karena mendapat banyak cerita dari teman bahwa bermalam di sana itu buruk sekali, lebih buruk dari malam di sembalun. Bukan hanya suara kuntilanak, tapi juga dikerjai penunggu percabangan, paling baik kamu akan berputar mengelilingi satu punggungan ke punggungan lain dan baru akan sampai bawah beberapa hari kemudian dengan logistik habis, fisik dan mental terkuras, paling buruk, mati karena jurang siap menjumpai dalam kelamnya malam.

Yang aku herankan, kami dulu bersembilan dan aku perempuan sendiri, karena ketakutan itu, terutama ada satu pemuda Menggala yang lebih paham buruknya setan lombok, membuat kami memilih berusaha menambah kecepatan hingga memangkas waktu perjalanan hampir setengah waktu normal. Aku dipaksa tunggang langgang mengikuti ritme lari mereka. Sialan. Betapa tidak enaknya naik gunung seperti itu. Padahal, banyak sekali pos yang sangat enak untuk dibukai tenda, bermalam, dan ngopi. Dan kamu tahu, full moon kami lewati begitu saja! Tidak ada romantisme pendakian.

Suara kuntilanak mungkin akan menyapa jika kami memilih berkemah. Namun aku hampir yakin, lari dalam keadaan ketakutan, lelah dan lapar itulah yang membuat banyak orang memilih punggungan yang salah di percabangan. Nyatanya senaru sudah tidak semengerikan itu, malah mungkin kini sudah seperti pasar malam.

Ah kadang, di antara jari yang mengetik, tumpukan kertas, dan layar yang nanar ini, Aku kangen Rinjani, atau beberapa lembah dan punggungan yang gelap lainnya.

Sabtu, 17 Desember 2016

Kepo

Begini saya mau cerita. Ini agak bego sih. hahahahaha saya mau ketawa dulu. Jadi saya dua minggu terakhir ini sedang kepo bangetttt sama seseorang. Orangnya sangat menarik. Saya bertemu dengannya di pelatihan monitoring evaluasi di awal bulan kemarin. Saya merasa dia flirting ke saya. Anggaplah saya ge-er. Harap maklum, karena periode lamanya kejombloan juga berbanding lurus dengan tingkat kebaperan dan kege-eran. Menn! Tapi dia bener-bener flirting bahkan sampe dia berani berbisik ke telinga saya, "Jangan baper!". Sialan Bapak dosen muda satu ini! Dia paham betul dia menarik, dan dia masuk di sesi scoping-ku sejak awal, sejak hari pertama pelatihan. Saya tidak mau begitu saja tunduk kepada main mata dan segala kegenitannya huaahahhaah maka saya berusaha dengan sangat mengimbanginya di forum. Bahkan kalau bisa mengalahkannya! Gak penting sih sebenarnya. haha tapi pelatihan itu menjadi sangat menarik buat saya, empat hari, saya tidak ngantuk sama sekali, ilmu terserap dengan baik, dann tiba akhirnya kami harus berpisah. Sedih :(

Saya berhasil mengalahkannya beberapa kali di forum. Walaupun beberapa kali saya juga merasa bodoh karena agak ngeyel. No, saya tidak ngeyel. Saya mengolah level saya untuk bertanya hal-hal yang substansif. Namun dia, beberapa kali juga seakan bilang, "Ayolah, kamu tahu maksudku dan aku tahu kamu hanya ingin menantangku di forum diskusi."

Dia adalah dosen muda yang menarik, di pelosok negeri ini. Cukup cerdas dan saya merasa dia bisa mengimbangi saya dalam beberapa topik disksusi. Bahkan ketika, orang lain bicara mulai melebar kemana-mana dan tidak subsntansif, we're like looking each other and rolling our eyes, like "Omg what are they talking about actually!", dan dari round table kami yang berjarak 3 meter kami saling tertawa. I mean like we have inner circle. Lol, i know maybe i was delusional, and I'm still delusional now.

Setelah pelatihan itu selesai, euforianya tak kunjung padam. Maka saya, karena gengsi yang tinggi, hanya mampu mencari tahu segala tentangnya lewat facebook. Yes i know, im that desperate, maklum jomblohhh! hahahaha

Namun, pencarian saya yang dua minggu lebih itu tak membuahkan hasil. Saya sudah mulai tanya ke beberapa orang tentang dia. Ada kabar simpang siur, bahwa dia sudah menikah, tetapi kata orang lain belum, lalu katanya dia hanya punya calon istri, tapi katanya juga belum. Menyebalkan juga ini punya baseline survey yang kredibilitas dan tingkat validitasnya masih simpang siur. Heuh. Useless.

Namun, betapa hebatnya kekepoanku hingga mendapati beberapa informasi tentang kampus dia kuliah s1 dan s2, tempat dia mengajar, himpunan mahasiswa yang dia ikuti semasa kuliah, asal daerahnya, hingga foto-foto dia semasa mengikuti himpunan mahasiswa itu. Bagaimana dengan akun facebooknya? Nihil! Foto kegiatan dia, hingga sekarang banyak terpampang di beberapa akun facebook orang lain, tetapi tak ada satupun dari akun itu yang menyebut atau menandai namanya. Sehingga tetap saja saya tak bisa menemukannya. Mungkin dia pernah memiliki akun facebook. Mengapa? Karena dia pernah aktif dan foto dia banyak terpampang ketia dia menjadi ketua himpunan mahasiswa di kampusnya. Namun, mungkin kini dia memilih menyepi, menepi. Dia juga pernah mengampu mata kuliah pengembangan media, menarik sekali. Dosen ilmu kesehatan masyarakat membicarakan pengembangan media. Penasaran sekali saya untuk bicara lebih banyak dengannya. Karena kemarin di pelatihan setiap dia dekat dengan saya, saya hampir tak bisa menguasai diri. Malu, deg-degan gak karuan huahahaha

Sudah begitu saja cerita saya. Doakan saya masih bisa berkesempatan berjumpa dengannya sekali lagi. Kalau tidak ada kesempatan bertemu lagi yasudahlah. Perjumpaan kan memang seperti buku bagus. Memang kadang di halaman terakhir kita eman sekali untuk menutup buku itu. Namun, kalau sudah selesai ya memang seharusnya ditutup. Back to the real world, selesaikan apa yang harus diselesaikan sampai bertemu buku bagus lainnya. Fighting!

Moral value:
1. Wanita kalau kepo, kecanggihan, keakuratan, dan validitas datanya bisa mengalahkan intelijen. Hahaha
2. Jangan gampang baper mblo, jaga hati, takutnya sudah punya anak bojo masnya.
3. Jangan gampang gumun, mungkin nanti setelah ngobrol lebih dalam ternyata dia biasa aja
4. Tidak semua orang berpikir bahwa hidupnya harus dibagi secara murah meriah di sosial media.
5. Orang jawa timur ada yang masih menarik
6. Terlebih dia merantau di balik gunung di seberang pulau dan mengajar, tetapi masih bisa berdebat dan berdiskusi cukup sengit denganku. Seksih!

Jumat, 16 Desember 2016

Tentang Aleppo (2)

Tentang Aleppo

Sudah hampir dua minggu sepertinya beranda media sosial kita dipenuhi berita tentang pengeboman dan bombardir kepada warga sipil di Aleppo, Suriah. Mungkin lebih, tetapi saya baru ngeh berita tentang Aleppo belakangan ini saja. Saya tidak paham betul apa yang terjadi di sana. Satu hal yang saya yakini, yang terjadi di sana adalah perang kekuatan besar, dan memang sekali lagi masyarakat sipil yang selalu menjadi korban.  Yang saya paham juga, melihat balita berdarah-darah dan melihat kemungkinan bahwa orang yang menggunggah video "Pesan terakhir dari Aleppo" itu akan mati di malam setelah dia mengunggah video tersebut pasti membuat warga dunia di belahan lain bumi, di tempat yang nyaman merasa sangat berdosa membiarkan itu terjadi.  

Namun, sekali lagi ini perang. Di dalamnya selain ada kepentingan, pasti ada taktik, senjata, dan propaganda. Saya mencoba membaca berita-berita internasional soal apa yang terjadi di sana. Macam-macam isinya, saya makin bingung. Saya lalu hanya ingin mendapat jawaban kemana altruisme atau mungkin cuma ego saya yang tidak mau dianggap tidak peduli ini dilabuhkan?

Pagi ini saya sempatkan kepo laman facebook teman saya, Dea Karina dan saya menemukan link ini yang dibagikan oleh temannya tentang Kisah Perang di Aleppo, sebuah pelajaran propaganda Perang mengapa mendadak dua minggu belakangan ini berita soal Aleppo menjadi sorotan dunia dan berseliweran di media sosial kita. Lumayan menjadi pintu masuk lain untuk memahami yang terjadi di sana.

Terlepas ada atau tidak propaganda perang tersebut, masyarakat sipil mungkin memang butuh bantuan, dan jika hatimu masih terketuk untuk berdonasi bagi warga sipil, tetapi bingung mau kemana, berikut artikel yang memberi referensi alternatif untuk berdonasi  atau donasi yang digalang langsung oleh orang Indonesia.

Namun, sekali lagi, memberi bantuan di wilayah konflik atau perang tidak semudah di wilayah yang terkena bencana alam. Pemerintah indonesia sendiri sebenarnya sudah mengirim bantuan, tetapi persoalannya menjadi lebih kompleks ketika bantuan itu selalu berpotensi untuk diblokade oleh pihak-pihak yang berkuasa di wilayah tersebut, entah rezim penguasa atau malah pemberontak.



Salam~

Mendengar

Mungkin aku pernah tidak sengaja maupun sengaja tidak mendengar orang lain bicara. Atau menertawakan selepas dia bicara. Atau engan sengaja membatasi tempat dan waktu seseorang bicara. Aku ingin meminta maaf pada siapapun yang telah kubatasi usahanya untuk menyampaikan pesan kepadaku. Aku tahu kini rasanya, itu sangat tidak enak. Terutama ketika aku bicara menggunakan hati, tapi dipotong begitu saja, tidak didengarkan atau ditertawakan. Aku bisa memilih untuk bungkam pada akhirnya. Karena kupikir cukup sekali, dua kali aku mengatakannya. Aku bicara supaya aku lega. Untukku itu cukup. Jadi ketika tidak didengarkan atau diabaikan, pada akhirnya aku memilih pergi. Namun, aku tahu, ada orang yang bicara dengan mengerahkan segala daya dan upaya hidupnya, ketika pesannya gagal tersampaikan atau diremehkan, dia bisa jatuh-sejatuhnya. Ini bukan mengenai lemah atau tidak, tetapi harga diri memang selalu menuntut untuk diberi ruang. Dan manusia, hidup dengan harga diri. 

Aku sadar, aku pernah melakukan pengabaian kepada harga diri seseorang. Memilih untuk tidak mendengar ketika seseorang menyampaikan isi hatinya, entah lelaki yang menyatakan isi hatinya untukku atau beberapa teman yang bercerita tentang isi hatinya kepada orang lain. Aku menganggapnya drama atau sekedar euforia sesaat. Namun, kini aku tahu, rasanya diabaikan. Aku tahu itu tidak enak. Maka aku berjanji, pada diriku sendiri, untuk belajar mendengar lagi dan lagi. Menghargai setiap cerita dan kisah, menampung setiap pengakuan sentuntas-tuntasnya, dan menyatakan sikapku atas itu.

Ah betapa ramainya hidup ini. Semua saling terkait dan bersebab akibat. Hari ini yang kualami pasti tidak lepas dari apa yang pernah kulakukan dulu. Anggap aku percaya karma, namun sebenarnya mungkin Tuhan hanya menggambar pola. Connecting the dots and filling the gaps. Bahwa ada jarak kemengertianku dan ketidakmengertianku yang harus kuiisi dengan sebuah kejadian. Aku sebenarnya lelah mencoba mencari tahu. Aku lelah menertawakan diriku sendiri. Dan sebaiknya aku memang menepi dan menyepi dari pasar malam ini, dari kehidupan yang semarak supaya aku lebih lihai mendengar. 

Terimakasih untukmu yang selalu mendengarku. Kamu tahu, senandung rindu ini untukmu. Namun, sebelum kuberharap kamu mendengarnya, aku akan belajar mendengar lagi. 

Kamis, 15 Desember 2016

Mual

Aku merasakan sebuah kemualan yang tak bertepi beberapa hari ini. Semua basa-basi dan lakuku terasa menggelikan. Manusia-manusia yang biasanya kuanggap baik menjadi terasa semakin normatif dan bicara sangat aman. Semuanya mengkampanyekan kedamaian tapi di belakang memuntahkan jarak. Perhatian membuatku risih. Mengapa bermanis-manis jika ujungnya hanya mencari panggung untuk menunjukkan kebaikan diri? Aku ingin memanusiakan manusia, aku ingin mendengar setiap cerita indah mereka, tetapi aku sendiri sedang belum penuh menjadi manusia. Sepertinya beberapa hari ke depan, atau beberapa bulan ke depan, aku akan menarik diri dari lingkaran terkecilpun. Aku mulai merasakan kenikmatan menepi, menyepi, menahan lidah untuk berkomentar atas pertanyaan instan yang tidak timbul dari kegelisahan yang dalam. Aku malas menjawab pertanyaan yang hanya muncul di tengah keceriaan hari sebagai pemanis bibir supaya terlihat keren atau peduli. Mungkin, kali ini juga aku sedang menjejalkan kecurigaan di kepala dan penyakit hati di dada. Mungkin juga, aku hanya lelah dan ingin tidur panjang, supaya aku merindu sekali lagi pada manusia. Aku berencana menepi, membaca membaca membaca melukis dan berdoa. Begitu saja sudah. Hidup pasti terus mengalir, dan dunia memang akan selalu baik-baik saja tanpaku. Bekerja seperlunya dan berpikir secukupnya. Aku tidak sedang rindu siapa-siapa. Aku sedang rindu diriku sendiri yang mampu menampung segala.

Rabu, 14 Desember 2016

Aku ingin menikah karena..

Karena aku bisa bicara lebih leluasa tentang apapun dan memperjuangkan apapun lebih giat lagi tanpa dipandang sebelah mata karena belum menikah. Aku ingin menikah supaya orang-orang yang peduli denganku merasa hidupnya sudah tenang dan damai, tanpa harus repot-repot setiap hari mengingatkanku untuk menikah. Aku ingin menikah karena, aku tidak mau membuat orang lain berdosa karena aku jeleh apapun yang kubicarakan selalu berujung pada pertanyaan kapan menikah. Aku ingin menikah, untuk memiliki keturunan, dan melipatgandakan mimpiku, memperkuat langkahku, membulatkan keberanianku dalam memanusiakan manusia. 

Kamu yang meneliti

Untuk kamu yang berpanas-panas di lapangan menggunakan baju, celana dan sepatu lapangan. Ini memang tentang preferensi pribadiku. Dua tahun lalu kita bertemu. Aku datang untuk berkenalan denganmu, untuk meneliti, untuk tugas akhirku yang tak kunjung selesai. Aku datang bersama pacarku, yang kemudian tidak pernah rela melepaskanku untuk berangkat ke lapangan bersamamu. Dia tahu kamu menarik di mataku. Ya, dengan mudah Aku terperangah mendapati ilmu-ilmu alam yang kamu ceritakan padaku. Tanda alam yang terlihat eksklusif dipahami oleh peneliti ilmu alam menjadi sangat sederhana ketika kamu yang menjelaskan. Aku seketika minder dengan penelitianku sendiri karena penelitianmu jauh lebih lengkap, sebut saja comprehensive. Namun, kamu meyakinkanku, bahwa kehadiranku dengan penelitianku juga tidak kalah pentingnya, sebagai sebuah usaha connecting the dots. Kamu bilang, biar sejarah yang menilai.

Kamu sangat berhak sombong dan berkata sesukamu, seperti teman-temanmu di ilmu alam itu menertawakan ilmuwan sosial yang tidak juga paham aturan, tanda, maupun siklus alam. Namun kamu sangat terbuka, bicara dengan luwes, tidak menghakimi, tidak sok tahu. Setelahnya tanpa sadar, preferensiku terhadap lelaki adalah seorang peneliti dan mereka yang mau bersusah-susah, berbasah-basah, berbecek-becek, dan tentu saja berpanas ria di lapangan. Itu terlihat seksi, seksi sekalih.

Aku tidak sadar telah melewatkan banyak waktu bersamamu. Tanpa sadar juga, aku menghitung mundur waktumu mengambil data. Aku harus selesai lebih dulu supaya aku tidak kehilangan semangat untuk menyelesaikan tugas akhirku. Namun, di antara waktu yang sangat menyenangkan itu, aku jatuh cinta kepada lelaki lain. Dan aku mulai meracau apapun tentang lelaki itu kepadamu. Ah betapa tidak menariknya aku di depanmu. Aku yakin. Peneliti sepertimu harus menghadapi cerita drama percintaanku dengan dua lelaki yang berbeda, belum paripurna dramaku dengan mantan pacarku, dan sekarang ada lelaki lain. Namun kamu, tetap melayani curhat tengah malamku dan mengarahkanku untuk menyelesaikan tugas akhirku. Kamu, yang tak kuanggap lebih berarti dari lelaki yang kucintai itu. Kamu yang sekarang sudah jauh.

Kamu yang kurindukan saat ini. Semoga kamu sehat selalu. Dan apapun yang kamu hadapi di lapangan dapat memberimu wawasan lebih, dan tanganmu mampu membuka mata dunia tentang ilmu alam. Sehingga kami akan terus berusaha merawat dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Kamu, yang mendampingiku menerima fakta-fakta yang menghujam prinsip tak berdasarku. Bahwa, setiap orang mampu berbuat baik di tempat terburuk sekalipun jika dia mau. Kamu, si peneliti yang tak bisa dekat dengan perempuan dan salah tingkah setengah mati jika ada perempuan yang memandangmu. Aku tidak tahu, apakah aku masih perempuan di matamu, karena kamu tidak pernah menunjukkan salah tingkah itu di depanku. Kamu membuatku merasa bahwa kita seharusnya sejak lama bertemu, karena kita bicara seperti sedang berdansa. I got a rhythm and i enjoy it much. And i really want to have it all one more time, or maybe forever. I want to discuss almost everything with you like we had it all, like we had a clue.

Selasa, 13 Desember 2016

Tentang Aleppo

Hari ini saya mengambil libur sehari setelah menyelenggarakan acara pelatihan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Semalam, sebelum tidur, saya membuka media sosial, facebook. Seperti biasa saya melakukan scrolling ke bawah hingga mata saya tertuju pada berita-berita mengenai kejadian di Aleppo. Sudah beberapa hari sebenarnya berita soal pengeboman di Aleppo menghiasi beranda sosial media dan beberapa headline berita di tivi dan koran. Saya beberapa hari kemarin tidak memiliki banyak waktu untuk membacanya. Baru semalam, ketika badan saya seharusnya merebah, saya menonton semua video-video yang dibuat oleh warga Aleppo sebagai pesan terakhir mereka kepada dunia. Saya terenyuh, saya marah, saya merasa bersalah. Hanya saja saya tidak bisa menerimanya begitu saja, bagaimana bisa kota dengan warga yang maju mengenal teknologi dan bisa berteriak pada dunia mengalami penjajahan seperti itu? Penjajahan? Penjajahan di pikiran saya adalah tentang si lemah, tertinggal, dan terbelakang ditindas oleh si kuat. Kekuatan yang tidak seimbang adalah sebuah kunci terjadinya penjajahan. Maka apa yang terjadi di Aleppo? Saya rasa bukan penjajahan, tapi perang, oleh dua kekuatan yang sama kuat, dan sekali lagi masyarakat sipil terbunuh sia-sia.

Saya mulai mencari beberapa sumber bacaan mengenai Aleppo. Beberapa media besar membicarakannya. Saya tahu ini tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya sama sekali. Namun, entah altruisme atau ego saya yang tidak mau disebut sebagai manusia yang ignorant mulai mencoba membaca sejarah mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Aleppo. Saya berharap pengetahuan saya nantinya tidak hanya menjadi sebuah bekal untuk saya bisa berkomentar ketika ada yang memposting mengenai Aleppo. Atau hanya berujung kepada rasa kasihan maupun kepedulian yang dimanifestasikan dengan membicarakannya berulang-ulang atau mempostingnya berkali-kali. Saya tahu saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya ingin sekali bertanya kepada mereka yang memposting berita-berita tentang Aleppo, lalu apa yang dapat kita lakukan? Apakah kita bisa menyelamatkan satu atau dua orang untuk tidak terbunuh malam ini di Aleppo? Apa kita perlu mendesak negara kita untuk mengecam keras pemerintahan syiria untuk melindungi warganya? Atau kita meminta kepada presiden kita untuk menerima beberapa pengungsi di Indonesia? Sedang Indonesia sendiri masih berjibaku dengan subsitensi pangan dan bencana yang tak ada habisnya. Lalu, kemana kepedulian dan rasa empati ini harus saya wujudkan? Apa cukup dengan mengunggahnya di media sosial?

Warga Aleppo, mungkin tidak benar-benar meminta tolong. Mereka paham dunia sedang sibuk dengan hidupnya masing-masing, dan mereka pada akhirnya memang harus mati. Harga mahal tentang sebuah nyawa untuk sebuah awareness, sebuah kesadaran. Ya sebuah kesadaran bahwa kita hidup begitu nyaman di bagian dunia yang sedang tidak berperang. Kita yang masih bisa makan enak dan tidur enak walau mulut kita mengumpati para pemimpin di negara ini dan membenci tetangga-tetangga kita sendiri karena agama atau pandangan politik yang berbeda.

Saya ingin tidur tenang hari ini. Namun, postingan yang menyebutkan bahwa kita semua berdosa karena kita diam ketima warga Aleppo terbunuh, membuat saya gelisah. Saya tidak tahu harus bagaimana, terutama ketika saya tidak tahu betul apa yang terjadi di sana, terutama ketika saya tidak punya kapasitas untuk membantu mereka, terutama saya sering berbusa-busa bicara tentang humanitarian act. Detik ini sekali lagi saya hanya meminta maaf kepada Tuhan. Melabuhkan apa-apa di luar kuasa kita kepada Tuhan memang selalu menjadi pilihan yang enak. Walaupun saya tahu, setelah hari ini saya tidak akan semudah itu tidak memikirkan tentang apa yang terjadi di Aleppo. Mengetahui sesuatu adalah kutukan yang seringkali membawa kita kepada pusaran takdir untuk berbuat sesuatu. Mungkin tidak hari ini dengan tubuh saya yang sedang lemah. Saya pikir ini firasat, bahwa walaupun saya ingin lari sekencang apapun menghinsari issue tertentu, saya akan tetap dihempaskan kesana juga untuk mewujudkan kegelisahan pikiran saya. Namun juga, mungkin saya hanya Ge-er. Ya mungkin Aleppo atau orang menderita di belahan dunia manapun tidak butuh saya.

Kamis, 08 Desember 2016

Sajak pejal

Aih sudah lama tidak bersajak. Aku rindu. Dalam rebahku yang mengayun-ayun, ini adalah usahaku mencipta lagi sajak. Hidup memang tentang usaha untuk tidak kehilangan konteks dan rasa. Hingga seorang teman pernah berulang-ulang kali berkata padaku mengutip sebuah lagu, bahwa dia memilih patah hati daripada tidak merasakan apapun. Hampir sama sebenarnya dengan pilihan pertahanan hidup yang aku jalani, merayakan segala perjumpaan walaupun sadar nanti pasti kita akan kehilangan.

Jika menggunakan bahasa indikator, sebenarnya berkurangnya kemampuanku untuk bersajak merupakan salah satu indikator bahwa aku mulai tidak banyak menggunakan rasa. Ah tapi masa sih? Atau sebenarnya aku sudah berhasil mengolahnya dan meletakkannya di sudut hariku lalu baru aku tengok setelah semuanya agak selo. Aku khawatir sebenarnya ketika menyadari diri sudah mulai lumpuh dalam mengolah sajak. Aku khawatir tidak ada sesuatu lagi yang bisa memancing, memantik atau menggelorakan rasaku dalam waktu yang cukup signifikan untuk menghentikan kesibukanku, sejenak dan membuatku rela menyisihkan waktu untuk bermanis-manis dalam kata. Aih aku nulis apa sih? Haha

Aku tadi awalnya mau menulis sesuatu tentang perjumpaan menarik dengan seseorang yang menarik yang sayangnya hanya sejenak. Hidupku akhir-akhir ini penuh keterlemparan. Atau sering kusebut dengan i live for today too much, yes way tooo muccch! Namun, jika dibilang bahwa keterlemparanku membuat diriku kosong tidak juga sih, keterlemparanku ini malah membuatku merasa pejal. Bayangkan jika empat hari kamu tidak sengaja bertemu orang yang menarik dan menikmatinya, lalu belum sempat euforia itu habis kamu harus bertemu dengan orang baru lagi yang mungkin juga sangat menarik, di situlah kupikir rangkaian-rangkaian euforia yang tak terputus dan membuat hidupmu mampat dan pejal.

Aku jadi berpikir, bahwa banyak sekali orang berjalan jauh, traveling, hijrah agar bisa bertemu orang-orang baru. Betapa banyak orang takut untuk tinggal karena tidak siap dengan sebuah kemapanan sistem. Namun, aku mendadak bersyukur dengan tidak perlu kemana-mana hidupku banyak dipertemukan dengan orang-orang baru yang menyenangkan silih berganti.

Begitulah, aku sekali lagi meminta maaf pada aku di masa depan karena masih membiarkan hidupku bak bola bekel yang terlempar kesana-kemari. Aku paham bahwa harus ada hari aku menurunkan frekuensi lentinganku yang kemana-mana itu. Namun, tanpa aku sadari, aku memiliki proyeksi harus ada seseorang yang menjadi tombol pause atas keterlemparanku. Ah entahlah, mungkin aku saja yang terlalu pemalas untuk memanajemen diriku sendiri. Sehingga setiap bertemu orang baru, dalam tarianku yang lincah, aku berharap dia menarik tanganku dan memelukku, lalu berbisik, berhentilah di sini denganku. Aku menunggu seseorang seperti itu sebelum aku benar-benar tak bisa dihentikan.