Kamu menunggu puisi dariku?
Aku tak punya. Sudah lama aku berkisah tentangku yang kehabisan sajak.
Aku hanya ingin membaca dan membaca lagi, supaya aku lebih pintar.
Oh bukan pintar mungkin, lebih logis.
Oh bukan logis mungkin, lebih tidak ceroboh.
Oh bukan tidak ceroboh mungkin, lebih memahami diriku.
Oh bukan memahami diriku mungkin, lebih mencintai diriku.
Aku, seperti yang selalu terlihat di matamu, tidak jelas dan susah ditebak.
Aku, seperti katamu, mengacaukan banyak skenario.
Kedatanganku dan gerakku di luar pola dan ritme yang diciptakan banyak orang.
Aku akan berhenti berpuisi dan lebih banyak memahami kemana semua orang ini bergerak sebenarnya?
Aku hanya ingin menjadi bagian yang baik dan bermanfaat, fokus dan berguna.
Aku hanya ingin tidak mengganggu kehidupan siapapun dengan cara apapun.
Puisiku, gambarku, ceritaku akan kupungkasi jika itu tidak sesuai dengan ritme gerak khalayak. Kunikmati sendiri, kuresapi sendiri, kumanifestasikan sendiri. Terutama, jika tidak kauinginkan ia melintas di pikiranmu.
Januari, menyambut hangat. Banyak yang ia janjikan bahwa aku akan melewati hari yang seru. Namun, aku melirik dengan waspada ke kanan dan ke kiri. Teringat Januari sebelumnya aku dikerjai dengan harapan dan hempasan, berkali-kali. Menyenangkan dan juga nyeri.
Jika surat terakhirku sampai padamu, ketahuilah aku sudah mengemasi semuanya. Seperti Desember yang melenggang riang, dengan lidah menjulur mengerjaiku, tangannya melambai di kedua telinganya. Sedang Januari membuka tangannya lebar-lebar, dan mengerlingkan matanya padaku, tengil.
Kamu, mungkin sedang duduk di kursi kehidupan yang lain. Yang terlalu berbeda denganku, terheran-heran mengapa pernah ada gadis sepertiku mampir di hidupmu. Dan Kau, membuang kalender 2016 di sampah, yang sebelumnya telah kau remas tiap halamannya. Sambil tersenyum, sambil berkata, hidup harus logis!
Dan aku akan selalu jatuh cinta, kepadamu atau kepada kehidupan. Dan aku selalu tenggelam, bersamamu atau bersama bahan bacaanku. Dan aku akan selalu terkagum-kagum, oleh pandanganmu atau semua likuk jalan di bukit itu. Aku mungkin akan membiarkan diriku mengalami keterlemparan seperti sebelumnya, namun aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa keterlemparanku tak akan bising dan mengganggu jalan orang.