Minggu, 14 Agustus 2016

note for myself

It's just a short note that i have to write it down before i forget.

Saya terlalu ragu menuliskannya di sosial media, karen takut kemudian ada beberapa orang yang mengkhawatirkan kesehatan mental saya. Saya tidak terlalu suka dikhawatirkan karena saya peduli dengan orang-orang yang menyayangi saya, saya peduli dengan "society" yang sangat tulus peduli kepada saya dan menginginkan yang terbaik untuk saya. Well intronya jadi agak panjang haha padahal saya sudah wudhu untuk sholat maghrib dan ini udah agak telat.

Jadi intinya, kali ini saya berusaha untuk terus mengingatkan diri saya sendiri, bahwa ketika saya membayangkan diri saya akan menjadi sedih dan tidak bisa bertahan lama hidup di kota seperti jakarta, bukan berarti saya bisa menilai atau menyatakan bahwa orang-orang yang tinggal di jakarta pasti mengalami kesedihan-kesedihan seperti bayangan saya. Mas Galang pernah mengatakan kepada saya bahwa, ketika saya tidak pernah berada di posisi tersebut, tidak pernah menggantungkan hidup kepada suatu hal tersebut, sebaiknya saya tidak seenaknya menilai. Yang saya tangkap dari ucapannya adalah bahwa ketika saya tidak pernah merasakan mengingini suatu hal (lalu berusaha untuk menjangkaunya dengan sepenuh jiwa saya, yang kemudian usaha saya itu membawa keberhasilan dan membuat saya bahagia) maka jangan berani-berani mengukur kebahagiaan orang lain. Saya pun menyadari bahwa hal itulah yang sering saya sebut dengan dont try to dress people the way we dress. Bahwa standard hidup kita berbeda dengan yang lain. Hal itu berlaku di semua kasus, tak terkecuali kita minoritas atau mayoritas, kita idealis atau opportunis, eksentrik atau normal. Jadi memang lucu membayangkan manusia-manusia yang semakin pintar berlomba untuk bicara mana yang terbaik dan menyatakan bahwa mereka adalah produk dari yang terbaik itu, kemudian mulai meyakini dan menilai bahwa orang lain yang hidup dengan cara yang berbeda tentu saja tidak bahagia atau paling tidak, tidak sebahagia mereka.

Akhir-akhir ini di lini masa, perdebatan ego itu muncul lagi, tentang full day school dan non full day school, sama yang terjadi dengan ibu rumah tangga versus wanita karir, sama yang terjadi dengan hidup di kota besar dan hidup di desa. Ego trap bertebaran di mana-mana, diperburuk dengan kebenaran atas nama golongan. Saya akhir-akhir ini menjadi penyedih. Dan kesedihan saya membawa saya untuk lebih menahan komentar. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih banyak mendengar setelah ini, karena manusia-manusia ini hanya ingin didengarkan sebenarnya. Mereka ingin dihargai, itu saja.

Catatan random seperti ini saya rasa akan sangat berguna suatu hari nanti ketika saya terjebak oleh ego saya sendiri. Saya sangat berharap tulisan-tulisan saya sendirilah yang akan menampar saya ketika lidah saya sudah hampir atau sudah menyakiti ego maupun hati orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar