Kamis, 25 Agustus 2016

Teras

Dalam nyala redup lampu, kusandarkan bahu.
Sayup terdengar suara musik yang tidak menarik.
Tubuh ingin segera rebah, mata damba seketika lelap.
Pikiran masih menggeliat di tempat tanpa syarat.

Di teras, pasti menarik berbincang bernas,
dengan tawa keras dan rindu bebas,
di teras ada kenyaman pintu terbuka,
udara membentur dinding,
memantulkan angin,
membawa bau busuk,
mungkin sore kemarin ada tikus mati.

Aku sudah sangat lelah untuk beranjak.
Di teras aku menunggu kawan untuk membuka pintu.
Mungkin dia bergumam malas, "Kapan kau tak ceroboh?"
Sekali lagi aku lupa membawa kunci,
berkali-kali mungkin aku lupa untuk tidak menyakiti.
Jika apa yang nampak begitu mudah aku lalai,
seketika nyeri menyergapku,
berapa hal yang tidak nampak kubiarkan berjalan begitu saja?

Janji yang menguar melewati teras,
kata yang menyeringai terbuang di teras,
Apakah tawa cukup untuk membukakan pintu.
Secara fisik dia terbuka,
tapi aku tidak yakin dia tidak sedang diam-diam membangun tembok.
Maafkan aku kawan, jika aku memaksa masuk dalam hidupmu yang damai.
Bersama ini kuceritakan, aku tak pernah tertarik berdebat denganmu.

Dan kau menyelamatkanku sekali lagi untuk tidak tertidur di teras.
Seperti seseorang yang kehilangan tempat pulang,
karena berpikir ada yang akan pulang untuknya.

Terimakasih kawan, kau selalu membuka pintu untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar