Sore tadi seorang teman mengunggah sebuah quote di akun instagramnya yang kurang lebih berbunyi, "Suatu hari nanti akan datang seseorang yang tidak lagi peduli dengan masa lalumu karena dia hanya ingin bersamamu di masa depan."
Quote tersebut sederhana, Aku sering melihatnya berseliweran di media sosial ataupun ucapan khalayak. Bahwa kita tidak seharusnya menilai seseorang dari masa lalunya. Namun sore tadi, quote tersebut menjadi tamparan halus untukku. Ya, Aku yang beberapa tahun belakangan ini masih saja bahkan terlalu sibuk menilai seseorang dari masa lalunya. Aku merasa berhak menilai seseorang dari masa lalunya karena aku merasa telah menjaga hidupku untuk selalu baik. Aku bukan orang baik, tetapi Aku selalu berusaha untuk tidak menjadi terlalu buruk. Setidaknya tidak terlalu buruk untuk dinilai orang lain suatu hari nanti. Setidaknya tidak terlalu buruk sehingga ada alasan bagi seseorang untuk tidak menerimaku. Aku, tanpa kusadari membangun kesombongan yang begitu kokoh. Aku menjaga diriku untuk tetap menjadi orang baik, aku menjaga kehormatan pribadiku supaya aku berhak menilai orang lain. Buruk sekali bukan?
Sore ini aku menyadari, bahwa seseorang telah datang sebagai ujian remedy buatku. Sebuah ujian perbaikan yang berharga mahal dan tidak mudah. Aku mengingat betapa beberapa bulan lalu menangis karena aku masih tidak mengerti bahwa kesombonganku akan segera diruntuhkan oleh perasaanku sendiri. Aku jatuh cinta, tetapi aku menangis dan kecewa. Aku menangis dan marah kepada Tuhan karena aku masih saja dipertemukan dengan seseorang yang masa lalunya tidak sesuai dengan harapanku. Aku menangis karena merasa aku telah berhasil melewati apa yang telah lalu dengan terseok-seok tetapi masih saja dipertemukan hal yang sama. Aku marah mengapa ini tidak cukup juga?
Aku pernah meninggalkan seseorang karena aku tidak mampu lagi membayangkan hidup dengannya di masa depan karena aku masih dihantui masa lalunya yang belum bisa kuterima. Aku yang pada waktu itu terus saja tidak percaya bahwa dia sudah berubah. Aku yang mungkin telah membuat seseorang frustasi dan kenyataannya ketidakpercayaanku padanya membuatnya benar-benar tidak mampu berubah. Aku yang tidak pernah melihat usahanya untuk berubah sedikit saja. Aku yang frustasi dan kecewa dengan diriku sendiri bahwa ketidakburukanku nyatanya tidak pernah mampu membuat orang lain menjadi lebih baik. Aku yang waktu itu masih saja terkejut mendapati mengapa ada orang yang memilih mendzalimi diri sendiri. Aku yang terus saja merasa bahwa kedekatanku dengan Tuhan adalah sebuah kunciku untuk menjadi orang baik. Aku tidak pernah menyadari bahwa keberuntungan hidupku berperan banyak. Aku tidak pernah menyadari bahwa, di luar sana seseorang patah hati dan diuji lebih berat dariku hingga memilih jalan yang berbeda denganku.
Hari ini, aku terbangun dari tidurku yang cukup panjang. Quote sore tadi masih membekas di dadaku. Aku merindukan seseorang yang beberapa bulan kemarin membuatku menangis dan aku takut tidak akan mampu menerimanya. Seseorang yang ingin kutinggalkan karena sekali lagi aku tidak mampu menerima masa lalu orang lain. Hari ini aku menyadari aku sudah tidak lagi peduli dengan masa lalu seseorang karena hanya satu yang aku inginkan, yaitu hidup bersamanya di masa mendatang. Aku mencintainya sebagai manusia dan percaya bahwa dia telah dan mampu berubah. Aku menyadari bahwa masa lalu dia di luar kapasitasku untuk mengubah dan menilainya. Aku menyadari bahwa Tuhan begitu pemurah, memberi kesempatan berkali-kali untukku memahami, memberi kesempatan berkali-kali untuk seseorang berubah.
Beberapa bulan setelah mengenalnya, aku merasakan perubahan sangat krusial pada diriku. Aku menjadi lebih santai dan tidak mudah terkejut atas tingkah manusia lain. Aku menjadi lebih berhati-hati bahkan merasa tidak berhak menilai orang lain, bahkan jika nyata-nyata yang menurutku buruk. Aku lebih mampu menerima bahwa mereka sedang berproses. Quote-quote yang bertebaran di internet mengenai larangan kita menilai seseorang yang berlaku buruk tidak akan pernah membekas jika aku tidak pernah bertemu dengannya. Terimakasih Mas. Terimakasih atas pelajarannya. Hari ini bersamamu atau tidak, menjadi lebih baik untukku dari pada sebelum bertemu denganmu. Terimakasih telah mengajariku menjadi manusia untuk sekali lagi. Terimakasih telah pernah berkata kamu mau menerimaku jika aku marah atas masa lalumu.
Quote tersebut sederhana, Aku sering melihatnya berseliweran di media sosial ataupun ucapan khalayak. Bahwa kita tidak seharusnya menilai seseorang dari masa lalunya. Namun sore tadi, quote tersebut menjadi tamparan halus untukku. Ya, Aku yang beberapa tahun belakangan ini masih saja bahkan terlalu sibuk menilai seseorang dari masa lalunya. Aku merasa berhak menilai seseorang dari masa lalunya karena aku merasa telah menjaga hidupku untuk selalu baik. Aku bukan orang baik, tetapi Aku selalu berusaha untuk tidak menjadi terlalu buruk. Setidaknya tidak terlalu buruk untuk dinilai orang lain suatu hari nanti. Setidaknya tidak terlalu buruk sehingga ada alasan bagi seseorang untuk tidak menerimaku. Aku, tanpa kusadari membangun kesombongan yang begitu kokoh. Aku menjaga diriku untuk tetap menjadi orang baik, aku menjaga kehormatan pribadiku supaya aku berhak menilai orang lain. Buruk sekali bukan?
Sore ini aku menyadari, bahwa seseorang telah datang sebagai ujian remedy buatku. Sebuah ujian perbaikan yang berharga mahal dan tidak mudah. Aku mengingat betapa beberapa bulan lalu menangis karena aku masih tidak mengerti bahwa kesombonganku akan segera diruntuhkan oleh perasaanku sendiri. Aku jatuh cinta, tetapi aku menangis dan kecewa. Aku menangis dan marah kepada Tuhan karena aku masih saja dipertemukan dengan seseorang yang masa lalunya tidak sesuai dengan harapanku. Aku menangis karena merasa aku telah berhasil melewati apa yang telah lalu dengan terseok-seok tetapi masih saja dipertemukan hal yang sama. Aku marah mengapa ini tidak cukup juga?
Aku pernah meninggalkan seseorang karena aku tidak mampu lagi membayangkan hidup dengannya di masa depan karena aku masih dihantui masa lalunya yang belum bisa kuterima. Aku yang pada waktu itu terus saja tidak percaya bahwa dia sudah berubah. Aku yang mungkin telah membuat seseorang frustasi dan kenyataannya ketidakpercayaanku padanya membuatnya benar-benar tidak mampu berubah. Aku yang tidak pernah melihat usahanya untuk berubah sedikit saja. Aku yang frustasi dan kecewa dengan diriku sendiri bahwa ketidakburukanku nyatanya tidak pernah mampu membuat orang lain menjadi lebih baik. Aku yang waktu itu masih saja terkejut mendapati mengapa ada orang yang memilih mendzalimi diri sendiri. Aku yang terus saja merasa bahwa kedekatanku dengan Tuhan adalah sebuah kunciku untuk menjadi orang baik. Aku tidak pernah menyadari bahwa keberuntungan hidupku berperan banyak. Aku tidak pernah menyadari bahwa, di luar sana seseorang patah hati dan diuji lebih berat dariku hingga memilih jalan yang berbeda denganku.
Hari ini, aku terbangun dari tidurku yang cukup panjang. Quote sore tadi masih membekas di dadaku. Aku merindukan seseorang yang beberapa bulan kemarin membuatku menangis dan aku takut tidak akan mampu menerimanya. Seseorang yang ingin kutinggalkan karena sekali lagi aku tidak mampu menerima masa lalu orang lain. Hari ini aku menyadari aku sudah tidak lagi peduli dengan masa lalu seseorang karena hanya satu yang aku inginkan, yaitu hidup bersamanya di masa mendatang. Aku mencintainya sebagai manusia dan percaya bahwa dia telah dan mampu berubah. Aku menyadari bahwa masa lalu dia di luar kapasitasku untuk mengubah dan menilainya. Aku menyadari bahwa Tuhan begitu pemurah, memberi kesempatan berkali-kali untukku memahami, memberi kesempatan berkali-kali untuk seseorang berubah.
Beberapa bulan setelah mengenalnya, aku merasakan perubahan sangat krusial pada diriku. Aku menjadi lebih santai dan tidak mudah terkejut atas tingkah manusia lain. Aku menjadi lebih berhati-hati bahkan merasa tidak berhak menilai orang lain, bahkan jika nyata-nyata yang menurutku buruk. Aku lebih mampu menerima bahwa mereka sedang berproses. Quote-quote yang bertebaran di internet mengenai larangan kita menilai seseorang yang berlaku buruk tidak akan pernah membekas jika aku tidak pernah bertemu dengannya. Terimakasih Mas. Terimakasih atas pelajarannya. Hari ini bersamamu atau tidak, menjadi lebih baik untukku dari pada sebelum bertemu denganmu. Terimakasih telah mengajariku menjadi manusia untuk sekali lagi. Terimakasih telah pernah berkata kamu mau menerimaku jika aku marah atas masa lalumu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar