"Lewat sudah, tiga hari tuk slamanya, dan kekal-lah detik-detik di dalamnya."Sebuah lirik yang saya ambil dari sebuah lagu milik float, menceritakan sebuah kisah yang berjalan sangat singkat, hanya tiga hari dan itu kekal untuk selamanya. Ingatan di dalamnya, kesempatan yang bersambut atau tidak bersambut dengan sikap dan tindakan. Semuanya bisa saja berbeda, tetapi karena sudah lewat, maka detik-detik di dalamnya sudah kekal. Entah rasa yang tadinya menggebu tetapi tidak menemukan jalannya lalu mati begitu saja. Entah harapan yang menguar kosong ke udara setelah bertemu tamparan keras pada detik itu.
Dalam banyak hal, kita seringkali harus secara sadar menerima bahwa kesempatan atau waktu kita sudah lewat. Mungkin waktu itu sempat ada, sedikit ataupun banyak kesempatan untuk kita, untuk menunjukkan, untuk menyatakan, untuk membuktikan, untuk membuat keadaan jadi lebih baik, tetapi kita hanya tidak memanfaatkannya dengan benar.
Seperti seorang senior yang telat membuat satu gebrakan untuk mengubah kultur yang buruk dan monoton. Tentang ide-ide yang harusnya bisa diwujudkan menjadi hal nyata tetapi karena manajemen waktu yang buruk, akhirnya ide-ide tersebut terbengkalai, tidak menemukan jalannya, atau memang tidak pernah dicari jalannya sebelumnya. Dan ketika waktu itu sudah lewat, seorang senior itu terus mencoba menghidupkan lagi mimpinya, memanggil lagi kesempatan, memaksakan keadaan, meneriaki junior-juniornya untuk bermimpi sebanyak dan seperti dirinya. Namun, dia tidak sadar, masanya sudah lewat. Kesempatannya untuk meninggalkan hal yang lebih terlihat telah disia-siakannya pada waktu dia lebih muda. Dan mungkin senior itu adalah Aku.
Lalu kemudian, seorang pecinta, yang membuat seorang lelaki jatuh cinta. Lelaki tersebut menunggu apa hal baik lagi yang mampu membuatnya jatuh cinta lebih dalam. Lelaki tersebut membuka hatinya lebar-lebar, siap mendapati hal baik, tapi apa yang ditemukannya, wanita itu berbuat hal yang aneh dan tidak seharusnya. Kesempatannya lewat begitu saja. Lelaki tersebut kehilangan rasa, mungkin. Il-feel karena tindakan-tindakan anehnya, perkataan-perkataan tidak seharusnya, puisi-puisi usang, kerumitannya, dan kepayahannya. Dan sekarang si pecinta, si wanita yang naif itu berdoa atas kesempatan sekali lagi, untuk membuat lelaki tersebut pulang. Berusaha sekali lagi membuatnya jatuh cinta. Namun, dia tidak sadar, kesempatan itu sudah lewat. Dan mungkin, wanita itu adalah Aku.
Cinta tidak pernah datang tepat waktu. Kesempatan datang tak terduga. Aku belum tidur jam segini dan besok pagi pasti ngantuk sekali. Pekerjaanku adalah pekerjaan hebat yang tak terduga aku bisa dapatkan. Kesempatan untuk belajar dengan orang-orang yang terbaik, orang-orang yang membuka tangannya lebar-lebar dan mau meluangkan waktu untuk mengobrol berjam-jam. Jika aku terus seperti ini, tertidur dengan penyesalan-penyesalan atas keterlambatanku di waktu lalu, dan terbangun dengan tubuh yang lelah, aku bisa saja melewatkan lagi kesempatanku. Kesempatan untuk belajar dan menjadi bermanfaat kepada orang lain. Aku bisa saja kehilangan kepercayaan atas tanggungjawab besar yang diberikan kepadaku.
Cinta tidak pernah datang tepat waktu, Kesempatan juga tidak pernah datang tepat waktu, karena Aku pun tidak pernah tepat waktu. Aku berharap keterlambatanku, cinta dan kesempatan ini bisa bersinggungan dan bertabrakan di waktu yang tak memiliki dimensi pada umumnya tetapi kekal. Aku benci sekali jika karena hal-hal semacam ini harus membuatku mulai tidak percaya akan cinta.
Namun, Ada Dzat yang lebih Agung dari Cinta, yang mengulurkan tangan ketika aku terlambat, membuatku merasa masih pada jalur dan waktu yang selalu tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar