Saya berjanji, suatu saat saya akan menuliskan tentang seseorang yang sangat unik. Saya terlalu ngantuk malam ini jika harus menuliskannya lebih detail. Ditambah dengan gigi tumbuh yang omaigat bikin urat dari leher hingga kepala saya sakitnya gak karuan. Saya akan bercerita nanti di saat yang lebih leluasa, karena banyak hal yang saya ceritakan tentang Dia. Seorang teman yang mampu mengakomodir lingkungannya untuk terus mencari. Seorang teman yang bentuk nyata atas cita-cita indah Lau Tzu tentang kepemimpinan yang dianalogikan seperti seorang bidan. Bahwa seni memimpin adalah seperti seorang bidan yang membantu seorang ibu untuk melahirkan. Ketika ibu tersebut berhasil melahirkan anaknya ke dunia, ibu tersebut akan merasa bahwa dialah yang berhasil, bukan si bidan.
Teman saya ini, istimewa, one of kind. Empat tahun saya berteman dengannya, empat tahun yang sangat krusial dalam perkembangan pemikiran dan sikap saya. Dan Dia mampu membuat saya merasa bahwa saya sendiri yang meningkatkan kualitas pemikiran saya, hingga saya tersadar, melihatnya begitu lincah kemana-kemari, dari lingkungan satu hingga lainnya. Dia membawa ide, membawa stimulus, membawa kegelisahan, yang membuat orang lain terpaksa bergerak dan di lain waktu bersyukur karena sudah bergerak. Seorang teman yang mampu membuat seorang wanita jatuh cinta dan membakar semangatnya untuk terus belajar. Saya yakin, banyak sekali beberapa wanita yang terpacu olehnya untuk terus belajar.
Saya akan menceritakan tentangnya lagi dan lagi. Jika seorang teman berani menyebutnya sebagai Ali Bin Abi Thalib, Maka kusebut dia karunia Tuhan yang mungkin hadir 100 tahun sekali, seperti halnya Marx, seperti halnya Bob Dylan, seperti halnya Che Guevara, seperti halnya Syekh Siti Djenar, seperti halnya Abraham Lincoln. Aku beruntung mengenalnya di lini yang cukup dalam, hingga pernah mendapatinya gelagapan karena meredakan perasaannya. Aku beruntung mengenalnya dan mendapati pemikirannya yang kurang tepat, dan menemukannya sebagai manusia biasa juga. Aku beruntung bisa mendebatnya walau hanya dibalasnya dengan tawa. Dan aku beruntung menyadari bahwa akan banyak keberuntungan lain berupa ilmu-ilmu yang terus mengalir pada lingkungan yang mengelilingya. Semoga dia sehat selalu, akan sangat menyenangkan bisa menjadi partner ideologinya, atau mungkin musuh ideologinya, yang intinya kesempatan untuk terus terstimulus olehnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar