Selasa, 30 Agustus 2016

Gerak

Badanku meriang, toh aku masih bisa berpindah tempat dalam sekejap.
Aku tersenyum menyadari betapa perjalanan tidak lagi menyisahkan tantangan.
Hijrah sudah menjadi perayaan industri.
Apa guna berpindah tempat tanpa sebuah perubahan?
Kamu pasti sering mendengar, seorang berjalan jauh sekali, lalu pulang hanya membawa rasa lelah.
Kamu pasti pernah mendengar seorang tidak mendapati sedikitpun yang mereka cari dalam lamun laman geraknya.
Apa yang salah? Tak ada.
Hanya saja, ada mereka yang hanya menghabiskan waktu di kebun belakangnya, dipuaskan serendipity tiada habis.

Seorang teman sekali lagi bertanya, "Febri sekarang di mana?"
Aku masih di jogja saja :)


Jakarta, sore sehabis hujan

Minggu, 28 Agustus 2016

Masa lalu

Sore tadi seorang teman mengunggah sebuah quote di akun instagramnya yang kurang lebih berbunyi, "Suatu hari nanti akan datang seseorang yang tidak lagi peduli dengan masa lalumu karena dia hanya ingin bersamamu di masa depan."

Quote tersebut sederhana, Aku sering melihatnya berseliweran di media sosial ataupun ucapan khalayak. Bahwa kita tidak seharusnya menilai seseorang dari masa lalunya. Namun sore tadi, quote tersebut menjadi tamparan halus untukku. Ya, Aku yang beberapa tahun belakangan ini masih saja bahkan terlalu sibuk menilai seseorang dari masa lalunya. Aku merasa berhak menilai seseorang dari masa lalunya karena aku merasa telah menjaga hidupku untuk selalu baik. Aku bukan orang baik, tetapi Aku selalu berusaha untuk tidak menjadi terlalu buruk. Setidaknya tidak terlalu buruk untuk dinilai orang lain suatu hari nanti. Setidaknya tidak terlalu buruk sehingga ada alasan bagi seseorang untuk tidak menerimaku. Aku, tanpa kusadari membangun kesombongan yang begitu kokoh. Aku menjaga diriku untuk tetap menjadi orang baik, aku menjaga kehormatan pribadiku supaya aku berhak menilai orang lain. Buruk sekali bukan?

Sore ini aku menyadari, bahwa seseorang telah datang sebagai ujian remedy buatku. Sebuah ujian perbaikan yang berharga mahal dan tidak mudah. Aku mengingat betapa beberapa bulan lalu menangis karena aku masih tidak mengerti bahwa kesombonganku akan segera diruntuhkan oleh perasaanku sendiri.  Aku jatuh cinta, tetapi aku menangis dan kecewa. Aku menangis dan marah kepada Tuhan karena aku masih saja dipertemukan dengan seseorang yang masa lalunya tidak sesuai dengan harapanku. Aku menangis karena merasa aku telah berhasil melewati apa yang telah lalu dengan terseok-seok tetapi masih saja dipertemukan hal yang sama. Aku marah mengapa ini tidak cukup juga?

Aku pernah meninggalkan seseorang karena aku tidak mampu lagi membayangkan hidup dengannya di masa depan karena aku masih dihantui masa lalunya yang belum bisa kuterima. Aku yang pada waktu itu terus saja tidak percaya bahwa dia sudah berubah. Aku yang mungkin telah membuat seseorang frustasi dan kenyataannya ketidakpercayaanku padanya membuatnya benar-benar tidak mampu berubah. Aku yang tidak pernah melihat usahanya untuk berubah sedikit saja. Aku yang frustasi dan kecewa dengan diriku sendiri bahwa ketidakburukanku nyatanya tidak pernah mampu membuat orang lain menjadi lebih baik. Aku yang waktu itu masih saja terkejut mendapati mengapa ada orang yang memilih mendzalimi diri sendiri. Aku yang terus saja merasa bahwa kedekatanku dengan Tuhan adalah sebuah kunciku untuk menjadi orang baik. Aku tidak pernah menyadari bahwa keberuntungan hidupku berperan banyak. Aku tidak pernah menyadari bahwa, di luar sana seseorang patah hati dan diuji lebih berat dariku hingga memilih jalan yang berbeda denganku.

Hari ini, aku terbangun dari tidurku yang cukup panjang. Quote sore tadi masih membekas di dadaku. Aku merindukan seseorang yang beberapa bulan kemarin membuatku menangis dan aku takut tidak akan mampu menerimanya. Seseorang yang ingin kutinggalkan karena sekali lagi aku tidak mampu menerima masa lalu orang lain. Hari ini aku menyadari aku sudah tidak lagi peduli dengan masa lalu seseorang karena hanya satu yang aku inginkan, yaitu hidup bersamanya di masa mendatang. Aku mencintainya sebagai manusia dan percaya bahwa dia telah dan mampu berubah. Aku menyadari bahwa masa lalu dia di luar kapasitasku untuk mengubah dan menilainya. Aku menyadari bahwa Tuhan begitu pemurah, memberi kesempatan berkali-kali untukku memahami, memberi kesempatan berkali-kali untuk seseorang berubah.

Beberapa bulan setelah mengenalnya, aku merasakan perubahan sangat krusial pada diriku. Aku menjadi lebih santai dan tidak mudah terkejut atas tingkah manusia lain. Aku menjadi lebih berhati-hati bahkan merasa tidak berhak menilai orang lain, bahkan jika nyata-nyata yang menurutku buruk. Aku lebih mampu menerima bahwa mereka sedang berproses. Quote-quote yang bertebaran di internet mengenai larangan kita menilai seseorang yang berlaku buruk tidak akan pernah membekas jika aku tidak pernah bertemu dengannya. Terimakasih Mas. Terimakasih atas pelajarannya. Hari ini bersamamu atau tidak, menjadi lebih baik untukku dari pada sebelum bertemu denganmu. Terimakasih telah mengajariku menjadi manusia untuk sekali lagi. Terimakasih telah pernah berkata kamu mau menerimaku jika aku marah atas masa lalumu.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Dia yang Unik

Saya berjanji, suatu saat saya akan menuliskan tentang seseorang yang sangat unik. Saya terlalu ngantuk malam ini jika harus menuliskannya lebih detail. Ditambah dengan gigi tumbuh yang omaigat bikin urat dari leher hingga kepala saya sakitnya gak karuan. Saya akan bercerita nanti di saat yang lebih leluasa, karena banyak hal yang saya ceritakan tentang Dia. Seorang teman yang mampu mengakomodir lingkungannya untuk terus mencari. Seorang teman yang bentuk nyata atas cita-cita indah Lau Tzu tentang kepemimpinan yang dianalogikan seperti seorang bidan. Bahwa seni memimpin adalah seperti seorang bidan yang membantu seorang ibu untuk melahirkan. Ketika ibu tersebut berhasil melahirkan anaknya ke dunia, ibu tersebut akan merasa bahwa dialah yang berhasil, bukan si bidan.

Teman saya ini, istimewa, one of kind. Empat tahun saya berteman dengannya, empat tahun yang sangat krusial dalam perkembangan pemikiran dan sikap saya. Dan Dia mampu membuat saya merasa bahwa saya sendiri yang meningkatkan kualitas pemikiran saya, hingga saya tersadar, melihatnya begitu lincah kemana-kemari, dari lingkungan satu hingga lainnya. Dia membawa ide, membawa stimulus, membawa kegelisahan, yang membuat orang lain terpaksa bergerak dan di lain waktu bersyukur karena sudah bergerak. Seorang teman yang mampu membuat seorang wanita jatuh cinta dan membakar semangatnya untuk terus belajar. Saya yakin, banyak sekali beberapa wanita yang terpacu olehnya untuk terus belajar.

Saya akan menceritakan tentangnya lagi dan lagi. Jika seorang teman berani menyebutnya sebagai Ali Bin Abi Thalib, Maka kusebut dia karunia Tuhan yang mungkin hadir 100 tahun sekali, seperti halnya Marx, seperti halnya Bob Dylan, seperti halnya Che Guevara, seperti halnya Syekh Siti Djenar, seperti halnya Abraham Lincoln. Aku beruntung mengenalnya di lini yang cukup dalam, hingga pernah mendapatinya gelagapan karena meredakan perasaannya. Aku beruntung mengenalnya dan mendapati pemikirannya yang kurang tepat, dan menemukannya sebagai manusia biasa juga. Aku beruntung bisa mendebatnya walau hanya dibalasnya dengan tawa. Dan aku beruntung menyadari bahwa akan banyak keberuntungan lain berupa ilmu-ilmu yang terus mengalir pada lingkungan yang mengelilingya. Semoga dia sehat selalu, akan sangat menyenangkan bisa menjadi partner ideologinya, atau mungkin musuh ideologinya, yang intinya kesempatan untuk terus terstimulus olehnya.

Kamis, 25 Agustus 2016

Lewat Sudah

"Lewat sudah, tiga hari tuk slamanya, dan kekal-lah detik-detik di dalamnya."
Sebuah lirik yang saya ambil dari sebuah lagu milik float, menceritakan sebuah kisah yang berjalan sangat singkat, hanya tiga hari dan itu kekal untuk selamanya. Ingatan di dalamnya, kesempatan yang bersambut atau tidak bersambut dengan sikap dan tindakan. Semuanya bisa saja berbeda, tetapi karena sudah lewat, maka detik-detik di dalamnya sudah kekal. Entah rasa yang tadinya menggebu tetapi tidak menemukan jalannya lalu mati begitu saja. Entah harapan yang menguar kosong ke udara setelah bertemu tamparan keras pada detik itu.

Dalam banyak hal, kita seringkali harus secara sadar menerima bahwa kesempatan atau waktu kita sudah lewat. Mungkin waktu itu sempat ada, sedikit ataupun banyak kesempatan untuk kita, untuk menunjukkan, untuk menyatakan, untuk membuktikan, untuk membuat keadaan jadi lebih baik, tetapi kita hanya tidak memanfaatkannya dengan benar.

Seperti seorang senior yang telat membuat satu gebrakan untuk mengubah kultur yang buruk dan monoton. Tentang ide-ide yang harusnya bisa diwujudkan menjadi hal nyata tetapi karena manajemen waktu yang buruk, akhirnya ide-ide tersebut terbengkalai, tidak menemukan jalannya, atau memang tidak pernah dicari jalannya sebelumnya. Dan ketika waktu itu sudah lewat, seorang senior itu terus mencoba menghidupkan lagi mimpinya, memanggil lagi kesempatan, memaksakan keadaan, meneriaki junior-juniornya untuk bermimpi sebanyak dan seperti dirinya. Namun, dia tidak sadar, masanya sudah lewat. Kesempatannya untuk meninggalkan hal yang lebih terlihat telah disia-siakannya pada waktu dia lebih muda. Dan mungkin senior itu adalah Aku.

Lalu kemudian, seorang pecinta, yang membuat seorang lelaki jatuh cinta. Lelaki tersebut menunggu apa hal baik lagi yang mampu membuatnya jatuh cinta lebih dalam. Lelaki tersebut membuka hatinya lebar-lebar, siap mendapati hal baik, tapi apa yang ditemukannya, wanita itu berbuat hal yang aneh dan tidak seharusnya. Kesempatannya lewat begitu saja. Lelaki tersebut kehilangan rasa, mungkin. Il-feel karena tindakan-tindakan anehnya, perkataan-perkataan tidak seharusnya, puisi-puisi usang, kerumitannya, dan kepayahannya. Dan sekarang si pecinta, si wanita yang naif itu berdoa atas kesempatan sekali lagi, untuk membuat lelaki tersebut pulang. Berusaha sekali lagi membuatnya jatuh cinta. Namun, dia tidak sadar, kesempatan itu sudah lewat. Dan mungkin, wanita itu adalah Aku.

Cinta tidak pernah datang tepat waktu. Kesempatan datang tak terduga. Aku belum tidur jam segini dan besok pagi pasti ngantuk sekali. Pekerjaanku adalah pekerjaan hebat yang tak terduga aku bisa dapatkan. Kesempatan untuk belajar dengan orang-orang yang terbaik, orang-orang yang membuka tangannya lebar-lebar dan mau meluangkan waktu untuk mengobrol berjam-jam. Jika aku terus seperti ini, tertidur dengan penyesalan-penyesalan atas keterlambatanku di waktu lalu, dan terbangun dengan tubuh yang lelah, aku bisa saja melewatkan lagi kesempatanku. Kesempatan untuk belajar dan menjadi bermanfaat kepada orang lain. Aku bisa saja kehilangan kepercayaan atas tanggungjawab besar yang diberikan kepadaku.

Cinta tidak pernah datang tepat waktu, Kesempatan juga tidak pernah datang tepat waktu, karena Aku pun tidak pernah tepat waktu. Aku berharap keterlambatanku, cinta dan kesempatan ini bisa bersinggungan dan bertabrakan di waktu yang tak memiliki dimensi pada umumnya tetapi kekal. Aku benci sekali jika karena hal-hal semacam ini harus membuatku mulai tidak percaya akan cinta.

Namun, Ada Dzat yang lebih Agung dari Cinta, yang mengulurkan tangan ketika aku terlambat, membuatku merasa masih pada jalur dan waktu yang selalu tepat.

Teras

Dalam nyala redup lampu, kusandarkan bahu.
Sayup terdengar suara musik yang tidak menarik.
Tubuh ingin segera rebah, mata damba seketika lelap.
Pikiran masih menggeliat di tempat tanpa syarat.

Di teras, pasti menarik berbincang bernas,
dengan tawa keras dan rindu bebas,
di teras ada kenyaman pintu terbuka,
udara membentur dinding,
memantulkan angin,
membawa bau busuk,
mungkin sore kemarin ada tikus mati.

Aku sudah sangat lelah untuk beranjak.
Di teras aku menunggu kawan untuk membuka pintu.
Mungkin dia bergumam malas, "Kapan kau tak ceroboh?"
Sekali lagi aku lupa membawa kunci,
berkali-kali mungkin aku lupa untuk tidak menyakiti.
Jika apa yang nampak begitu mudah aku lalai,
seketika nyeri menyergapku,
berapa hal yang tidak nampak kubiarkan berjalan begitu saja?

Janji yang menguar melewati teras,
kata yang menyeringai terbuang di teras,
Apakah tawa cukup untuk membukakan pintu.
Secara fisik dia terbuka,
tapi aku tidak yakin dia tidak sedang diam-diam membangun tembok.
Maafkan aku kawan, jika aku memaksa masuk dalam hidupmu yang damai.
Bersama ini kuceritakan, aku tak pernah tertarik berdebat denganmu.

Dan kau menyelamatkanku sekali lagi untuk tidak tertidur di teras.
Seperti seseorang yang kehilangan tempat pulang,
karena berpikir ada yang akan pulang untuknya.

Terimakasih kawan, kau selalu membuka pintu untukku.

Kurang Olahraga

Aku sedang merasa kurang olahraga akhir-akhir ini, gaes. Selama hampir empat bulan ini aku benar-benar tidak sempat untuk sekedar pergi jogging, renang, zumba, atau apapunlah itu. Caving sempat hanya dua kali. Mungkin memang manajemen waktuku yang makin payah saja. Badan memang selalu bergerak kesana kemari, tetapi kalau bukan khusus olahraga dan tidak rutin rasanya kok badan gampang ajur kabeh ya? Apa sebenarnya yang super exhausted itu pikiranku? Well, aku berjanji sama diriku sendiri untuk lebih memberikan haknya setelah ini. Kemarin aku sudah beli alat skipping, nah masalahnya karena tidur kemalaman sering kali pagi harinya lebih enak njengking di kasur hahahaha.. jadilah alat skippingku sudah seminggu lebih belum terjamah. Hyek!

Kurang olahraga dan beraktifitas di luar ruangan nyatanya lumayan membawa dampak yang kusebut dengan diminishing marginal productivity. Lama-lama waktu yang kuhabiskan dalam ruangan semakin tidak banyak menghasilkan sesuatu yang krusial, yang joss lah pokoknya. Ide-ide muter di situ-situ aja. Ngerjain laporan aja bisa seminggu, men! Apa-apaan! Sedih banget mendapati diri yang makin payah ini. Besok pokoknya habis Seminar Nasional di Jakarta, aku harus main! Aku harus beraktifitas fisik, kalau bisa pertengahan september aku mau naik gunung! menyecap kopi di malam penuh bintang walau nantinya perut mules hahaha

Well, i really miss the mother of nature. I'm not complaining about my work, i love my work so much, i love the people around it, i love the consequences, i love the challanges, but i just miss my life before for a bit. I miss a short escape and the swing of my feet. I miss myself hugged by the universe.

Rabu, 24 Agustus 2016

Tulisan ini untukmu Re.

Hari ini, pagi ini, aku bahagia.

Mendapati seorang teman angkatan yang berangkat sekolah ke Korea, mendapat beasiswa!
Dia yang selama beberapa tahun ke belakangan ini mengawal studi ekonomi kerakyatan di kampus.

Tulisan singkat ini untukmu, Re. Seorang teman yang pertama membuatku senang di hari pertama menginjakkan kaki di kampus, karena dia adalah orang malang dengan bahasa medhok selevel aku tau lebih parah dariku. Mendapati teman sedaerah membuatku merasa di rumah walaupun sedang berada di kota yang berjarak ratusan kilometer. Teman yang tengil di kelompok ospek, meningkatkan sedikit kepedeanku untuk bertemu teman-teman dari daerah lain.

Seorang teman yang diam-diam aku menjadi kagum dengannya, Ya aku ngefans sama kamu, Re! hahahaha

Seorang teman yang tidak pernah dijagokan jadi apa-apa, tapi mampu bertengger di hati setiap orang di jurusan, bahkan kampus. Riang, free soul, ngawur, sak-sak e, manis, cerdas. Seorang teman yang akhirnya terpilih menjadi ketua jurusan ketika aku menjadi panitia pemilihan di kampus. Seorang teman yang berhasil merangkul kawan-kawan dari dua kutub yang berbeda, dari yang kanan dan yang kiri, dari yang timur dan barat, dari yang borjuis hingga proletar, dari cah bonbin sampai cah kafetaria, agamis dan atheis, antagonist dan protagonist.

Seorang teman yang aku bilang ke pacar pertamaku, bahwa aku ngefans sekali sama dia hingga membuat pacarku sedikit insecure waktu itu.

Seorang teman yang membuat video lipsync konyol sekali tapi berhasil tetap super cute dan video itu sukses menjadi konsumsi satu sekreku, dan aku berkali-kali memutarnya.

Seorang teman yang akhirnya pacaran dengan teman sekelasku, dan aku melihat mereka manis sekali bersama, aku sedikit envy bukan jealous. Betapa eksentriknya mereka ngedate di burjo, tapi akhirnya kebiasaan dia makan di burjo membuatnya tumbang, opname karena lambungnya luka.

I was happy for both of them, hingga mereka putus. Aku pun ikut sedih banget :(

Seorang teman yang nyampah sekali di timeline line, baper kebangetan, super galau, geblek, sampai bikin aku ngerasa kasihan karena menyangka dia belum move on hingga mantannya menikah. Semua orang menjadikannya bulan-bulanan karena dia belum move on, menjadikannya ikon patah hati.

Seorang teman yang aku sangat ikut senang ketika melihat dia berbagi foto bahwa dia mampu menghadiri pernikahan mantannya, dan semua orang mendukungnya.

Seorang teman yang ketika aku bertemu lagi di bonbin setelah lama tidak ketemu dan kulihat dia dalam keadaan yang sangat gak ganteng, pathetic, makan indomie dan coffemix, sendirian, jauh dari dia yang kukagumi dulu. Aku tidak menghampirinya, bukan karena aku sedang bersama teman-temanku, dan melihatnya menyedihkan, tetapi karena, aku masih saja kagum dengannya dalam keadaan yang seperti itu. Terlalu kagum hingga agak kikuk untuk menghampirinya haha

Dan ternyata, di antara kepayahannya, dia sedang mempersiapkan sesuatu, dia mendapat beasiswa ke korea!

Re, selamat berangkat, selamat menempuh studimu, aku selalu kagum denganmu. Semoga kamu menjadi ekonom yang lebih humanis dari yang lain. Masih banyak yang ingin kutulis sebenarnya, tapi sudahi saja nanti alay dan aku harus kerja.

Semoga suatu saat aku bisa menyusul untuk mendapat beasiswa di luar negeri. Semoga suatu saat kita bisa berdiskusi untuk sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat di sekitar kita. Semoga aku tidak akan menyerah dengan ilmu ekonomi, seperti kamu, seperti teman-teman yang lain. Mari warnai jagat ilmu ekonomi di Indonesia!

Kamu pasti datang

Aku tahu dan aku yakin,
Bahwa kamu pasti datang setelah ijazah sarjana strata satuku sudah benar-benar di tangan.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan draft rencana implementasi programku.
Kamu pasti datang setelah berat badanku mencapai ideal, 50kg.
Kamu pasti datang setelah jam tidurku teratur.
Kamu pasti datang setelah sholat lima waktuku sudah tepat waktu dan khusyu tak mengingi apapun.
Kamu pasti datang setelah tabunganku sudah cukup untuk aku membangun sebuah keluarga kecil sejahtera asyik dan bahagia.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan buku-buku yang baru kubaca seperempat dari total halamannya.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan lukisanku.
Kamu pasti datang setelah aku khatam Al-qur'an.
Kamu pasti datang setelah aku menyelesaikan mini paper dan laporan hasil penilitianku.
Kamu pasti datang setelah seminar internasional yang aku berjanji aku membantu di dalamnya selesai dan sukses dilaksanakan.
Kamu pasti datang setelah aku rutin memberi kabar kepada bapak dan ibukku.
Kamu pasti datang setelah aku sudah berhasil memutar gajiku dan membantu mbakku membesarkan usahanya.
Kamu pasti datang setelah aku berhasil meninggalkan sesuatu kepada adik-adik organisasi pecinta alamku.

Kamu pasti datang ketika aku sudah tidak gelisah menunggumu.
Setelah aku tidak bermimpi buruk tentangmu, tentang apa yang membuatmu membenciku.
Setelah aku tidak lagi merasakan insecure dan rendah diri baik ketika bangun maupun dalam tidur karena kamu tidak memberi kabar.
Kamu pasti datang setelah aku mengalahkan segala kerumitan otakku dan egoku yang begitu tinggi.
Kamu pasti datang setelah aku berdamai dengan keinginanku-keinginanku yang tak ada habisnya.

Kamu pasti datang ketika aku berhenti menunggumu.

Aku yakin kamu pasti datang di hari yang sangat biasa.
Mengejutkanku di minggu pagi yang harusnya aku masih tertidur nyenyak atau memilih tidur lagi walaupun sudah terbangun.
Kamu mengirim pesan singkat bahwa Kamu sudah di depan pintu kostku.

Dan pagi itu aku merasa itu hanya mimpi. Namun aku terlalu putus asa hingga berani mencoba memastikan, siapa tau itu bukan mimpi?
Aku percaya bahwa hari yang bukan mimpi itu akan datang. Hari aku benar-benar akan bertemu denganmu sekali lagi.
Dan ketika aku menemuimu, kau tidak berubah, tidak tambah kurus dan tidak tambah gemuk.
Kau terlihat haus. Atau ada yang tercekat di tenggorokanmu.
Aku tidak akan bertanya tentang drama tidak masuk akal yang selama ini bermain produktif sekali, episode demi episode di dalam otakku. Aku tidak akan bertanya kemana saja kamu selama ini. Aku hanya akan mengambilkanmu segelas air putih. Sebelum kamu bicara apapun yang dapat menumpahkan air mataku.

Satu hal yang kuucapkan, Aku belum pernah menunggu seseorang seperti aku menunggumu. Dulu aku terheran-heran bagaimana seseorang madmpu bertahan dalam cinta yang tak bersambut dalam waktu yang lama. Dan sial, sekarang Aku merasakannya. Aku mencintaimu. Sungguh. Dan itu yang membuatku percaya bahwa kamu pasti datang.

Sabtu, 20 Agustus 2016

The Antagonist

I think i Begin to consider myself as the Antagonist. What If i’m the Heartbreaker, the troublemaker in the people's pathways? Make the good people feel uneasy. Although, people around me or maybe in the wider circle think that i’m nice and they adore all my moves, and support my confession of Love to a person, but at the end, it’s just not meant to be. That in the end, the universe decide it’s not mine, it’s not my story and i have to end up here. Because every effort i made is only another kind of antagonist’s moves in the plot. That This is not my story. That i’m pretty well known, i don’t want to give up easily for the thing i think is right. But this is just not my story. I’m here because the plot twist, to make someone become stronger, better and wiser. And in the end, i have to give someone applause or just let them happy, and cry in the helpless and lonely night, thinking how bad i am. Because i’m only the antagonist.

Minggu, 14 Agustus 2016

note for myself

It's just a short note that i have to write it down before i forget.

Saya terlalu ragu menuliskannya di sosial media, karen takut kemudian ada beberapa orang yang mengkhawatirkan kesehatan mental saya. Saya tidak terlalu suka dikhawatirkan karena saya peduli dengan orang-orang yang menyayangi saya, saya peduli dengan "society" yang sangat tulus peduli kepada saya dan menginginkan yang terbaik untuk saya. Well intronya jadi agak panjang haha padahal saya sudah wudhu untuk sholat maghrib dan ini udah agak telat.

Jadi intinya, kali ini saya berusaha untuk terus mengingatkan diri saya sendiri, bahwa ketika saya membayangkan diri saya akan menjadi sedih dan tidak bisa bertahan lama hidup di kota seperti jakarta, bukan berarti saya bisa menilai atau menyatakan bahwa orang-orang yang tinggal di jakarta pasti mengalami kesedihan-kesedihan seperti bayangan saya. Mas Galang pernah mengatakan kepada saya bahwa, ketika saya tidak pernah berada di posisi tersebut, tidak pernah menggantungkan hidup kepada suatu hal tersebut, sebaiknya saya tidak seenaknya menilai. Yang saya tangkap dari ucapannya adalah bahwa ketika saya tidak pernah merasakan mengingini suatu hal (lalu berusaha untuk menjangkaunya dengan sepenuh jiwa saya, yang kemudian usaha saya itu membawa keberhasilan dan membuat saya bahagia) maka jangan berani-berani mengukur kebahagiaan orang lain. Saya pun menyadari bahwa hal itulah yang sering saya sebut dengan dont try to dress people the way we dress. Bahwa standard hidup kita berbeda dengan yang lain. Hal itu berlaku di semua kasus, tak terkecuali kita minoritas atau mayoritas, kita idealis atau opportunis, eksentrik atau normal. Jadi memang lucu membayangkan manusia-manusia yang semakin pintar berlomba untuk bicara mana yang terbaik dan menyatakan bahwa mereka adalah produk dari yang terbaik itu, kemudian mulai meyakini dan menilai bahwa orang lain yang hidup dengan cara yang berbeda tentu saja tidak bahagia atau paling tidak, tidak sebahagia mereka.

Akhir-akhir ini di lini masa, perdebatan ego itu muncul lagi, tentang full day school dan non full day school, sama yang terjadi dengan ibu rumah tangga versus wanita karir, sama yang terjadi dengan hidup di kota besar dan hidup di desa. Ego trap bertebaran di mana-mana, diperburuk dengan kebenaran atas nama golongan. Saya akhir-akhir ini menjadi penyedih. Dan kesedihan saya membawa saya untuk lebih menahan komentar. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih banyak mendengar setelah ini, karena manusia-manusia ini hanya ingin didengarkan sebenarnya. Mereka ingin dihargai, itu saja.

Catatan random seperti ini saya rasa akan sangat berguna suatu hari nanti ketika saya terjebak oleh ego saya sendiri. Saya sangat berharap tulisan-tulisan saya sendirilah yang akan menampar saya ketika lidah saya sudah hampir atau sudah menyakiti ego maupun hati orang lain.

Jumat, 12 Agustus 2016

Berbagai Cara

Maka akan tiba suatu waktu aku memilih berbagai cara untuk tidak lagi meraihmu.
Dan mungkin ketika saat itu tiba, kau teringat bagaimana saat aku berusaha meraihmu dengan berbagai cara.
Saat kau dengan berbagai cara memilih tidak mendengarku, dengan berbagai cara mengabaikanku.
Dan jika ketika saat itu tiba, berjanjilah, kau akan selalu bahagia dengan berbagai cara.

Minggu, 07 Agustus 2016

Outcomes are not a goal

Saya begidik, merasa ngeri ketika menyadari bahwa semakin banyak pelajar ilmu ekonomi - Suatu ilmu sosial yang diharapkan bisa menjadi pemberi solusi atas keterbatasan sumber daya dan kebutuhan manusia yang tak terbatas - berpikir bahwa belajar ekonometrika adalah tujuan utama atau bagian paling penting dari mempelajari ekonomi. Padahal ekonometrika hanya salah satu alat saja. Walaupun saya sadar bahwa pemodelan itu sangat penting untuk menyederhanakan segala kompleksitas permasalahan pembagian sumber daya ini, namun menjadikannya fokus utama dan terus berkutat dalam permainan-permainan pemodelan tanpa pemahaman konteks dan karakteristik sumberdaya maupun manusianya adalah suatu blunder yang membuat saya ngeri. Kegagalan pemahaman konteks itu tak ubahnya membawa kita kepada masalah besar seperti memberi garam di air laut, sia-sia dan malah menghabiskan sumber daya itu sendiri. Saya sendiri masih lemah dalam mempelajari tools. Penelitian butuh tools, program pun butuh evidence untuk mendukung segala kegelisahan. Namun, konteks, teori dan tools tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, seorang analys, seorang assesor, seorang peneliti harus mau dan mampu memahami konteks dan membaca lagi segala teori yang filosofis maupun memberi ruang kepekaan diri yang seluas-luasnya. Mau turun ke masyarakat dan lapangan, mendengar kebisingan akar rumput akan mempertajam pemahaman seorang pelajar dan peneliti ilmu sosial terhadap konteks. Jadi, gumunan terhadap tools yang ada itu sangat menjebak. Saya khawatir saja, karena kefanatikan seorang peneliti terhadap tools, mereka akan patah hati atau malah tidak mau mengakui bahwa tools tersebut tidak mampu menjawab dan menceritakan pertanyaan mendasar dan keadaan sebenarnya. Saya khawatir kegandrungan terhadap tools tersebut membawa kita menutup mata atas kondisi yang sebenarnya terjadi di luar ruangan kita, di luar layar komputer kita. Dan saya khawatir demi membangun tools dan mempercantik tools tersebut - yang sering disebut sedang memasak oleh peneliti- kita memang hanya akan mengambil bumbu-bumbu yang kita kehendaki.

Dan kemarin malam, sebelum tidur, saya mendapati berita bahwa mentri pendidikan yang terpilih saat ini menyarankan agar pelajar kita untuk menghabiskan waktu sehari penuh di sekolah, full day school, yang berarti menurut saya fool day school. Saya jadi berpikir, kegumunan dan kegandrungan orang-orang terhadap alat semakin menggila, mereka lupa untuk apa bersekolah. Mereka hanya mefokuskan bagaimana membuat sistem sekolah yang baik tapi lupa untuk apa dan untuk siapa. Berkutat pada alat bukan esensi dan tujuan. Begitu juga tentang caver yang berkutat pada single rope technique, begitu juga tentang manusia yang berkutat untuk terus mencari uang yang hanya salah satu alat untuk mencapai tujuan akhirnya. Outcomes are not a goal.