Kamis, 21 Juli 2016

Hanya Sebentar

Belum lama ya Bung?
Memang terlalu sebentar.
Baru berapa gagasan yang membuatmu mengernyitkan dahi dan mencibirku?
Baru berapa detak kita lewati dalam diam dan tangan kita menggenggam?
Baru berapa mimpi yang sempat kita bayangkan bersama dalam mata yang temaram mencoba saling menangkap bayang?
Baru sebentar memang bung?

Belum banyak air mata tumpah karena dada yang sesak menahan adiksi sebuah perjumpaan.
Belum banyak gema tawa pada lini ide yang membuat kita merekah.
Belum banyak kegamangan yang kita pilih terjang karena cinta tak membutuhkan prasangka.

Memang baru sebentar Bung.
Dan kini aku ragu, Apa alasanku memintamu pulang? Rumah atau ruang sebelah mana yang mungkin membuatmu rindu? Ekspresi seperti apa yang mampu megundangmu datang kembali?

Semuanya memang hanya sebentar, dan bisa saja bagimu mudah pudar.

Rabu, 20 Juli 2016

Mengapa Aku adalah Aku?

Kemarin siang, ketika Aku sedang nyidam betul untuk makan soto daging langgananku di Beringharjo, Aku mengajak rekan kerjaku, Aulia, untuk makan siang di sana. Dia gadis asal Kota besar yang sinting, yang artinya dalam banyak hal nyambung denganku. Berkawan dengan gadis esdua kajian budaya dan media, artinya harus siap secara random tedistraksi atau lebih tepatnya terstimulus untuk mikir abot. Siang kemarin, harusnya sotoku terasa nikmat. Namun Aul mendadak bertanya hal yang entah dari mana datangnya. Yang kutebak, sebenarnya sudah lama dia gelisah soal itu, jika tidak, sialan juga pertanyaannya! Bikin mikir!

"Pernah gak sih peb berpikir, "Mengapa kita adalah kita?", "Mengapa Aku adalah Aku?" Katanya.

"Ehmm iya sih, pernah kayanya", kutanggapi sekenanya pertanyaannya. Yang sebenarnya berarti "Ah apaansih nih anak" pikirku, aku menyeruput sesendok kuah soto rasa msg favoritku, ketika hendak menuang sambal dia lalu menambahkan. "Mengapa Aku adalah Aulia dan bukan yang lain?"

Aku mengunyah, tidak berniat meneruskan pembicaraan. Hingga akhirnya aku penasaran kemana arah pembicaraannya.

"Aku yang bagaimana maksudmu? Aku secara fisik atau aku secara konsep?" Tanyaku

"Ah sialan tambah abot!" Katanya

Lhaa, bocah ki piye jal? Dia yang mengajukan pertanyaan, dia yang menggerutu karena pertanyaannya menimbulkan pertanyaan lain dalam benakku.

"Iya, Aku yang terberi? Atau aku yang terbentuk?" Tanyaku lagi.

Yang kumaksud dengan aku yang terberi adalah Aku secara fisik. Aku dan tubuhku. Aku yang terlahir sebagai wanita. Yang kemudian berkulit sawo matang, berhidung tidak mancung, berbadan mungil, tidak pernah lebih dari 45kg dan setinggi 158cm, berbola mata hitam, bertulang kecil, berkaki mungil. Sesuatu yang tidak dapat lagi aku pertanyakan mengapa. Sesuatu yang tidak perlu lagi aku sesali. Walaupun mungkin dulu pernah. Namun itu sudah selesai. Maka jawaban atas pertanyaan Aul, iya pernah, bahkan untuk secara fisik juga. Tetapi aku tidak mendapat banyak jawaban kecuali, aku hanya butuh bersyukur karena fisik yang sangat lengkap, tidak simetris memang, tetapi sempurna. Sangat sempurna. Maka jika tidak bersyukur, atau aku paksakan bersyukur, mungkin saya sudah mati nyemplung kali.

Lalu dia menjawab: "Secara konsep peb. Kenapa Aku berkuliah di jurusan tertentu? Kuliah di kampus tertentu? Bertemu orang-orang tertentu? Bekerja di bidang tertentu?"

Pertanyaan dia menjadi menarik untuk ditanggapi lebih. Namun, Aku malah berakhir diam. Sesendok demi sesendok kunikmati sambil terus berusaha menemukan rasa yang biasanya aku cari. Pertanyaan Aulia sangat menarik. Namun membutuhkan sebuah keberanian yang cukup besar untuk menjawabnya. Tak harus menjawabnya dengan suara atau bahkan kata-kata. Cukup dengan menutup mata saja, sebuah kotak-kotak pandora dalam hati dan ingatanku membuka pelan-pelan. Untuk menjawab pertanyaan Aulia, aku seperti sedang di depan pintu gudang yang gelap. Yang kubuka dengan mengintip pelan-pelan, takut banyak kejutan atas ingatan yang menyergap.

Keberanian atas bertemu kembali dengan mimpi-mimpi yang tertunda atau bahkan terserak tak menemukan jalannya karena Aku tak berusaha cukup keras.

Keberanian untuk melihat kembali wajahku yang terkapar karena kegagalan membuatku jatuh begitu dalam. Kegagalan yang diakibatkan kesombongan, keangkuhan dan kesoktahuanku.

Keberanian dengan nama-nama yang meninggalkan sederet luka. Yang coba kita maafkan karena jika tidak nama itu tidak hanya menjadi sederet huruf, tetapi segores wajah yang menghantui bahkan ketika bertemu dengan wajah lain yang tersenyum manis dan indah sekali.

Keberanian untuk mengikhlaskan bahwa Aku adalah Aku yang kubentuk sendiri dengan segala kebaikan, kecerobohan dan keburukanku.

Mungkin, jawaban Mengapa Aku adalah Aku adalah supaya Aku dapat tetap menikmati soto favoritku tersebut ketika tiba-tiba kotak-kotak dalam gudangku yang gelap tersebut dilempar mendadak kemukaku kapanpun, dan isinya bertebaran kemana-mana, dilihat orang lain. Dan Aku harus tetap tersenyum, berkata "Iya itulah Aku, Monggo nyoto dulu biar tetap sehat."

Selasa, 19 Juli 2016

Mencari Apa?

Kadang seseorang sering lupa memastikan kembali apa yang sebenarnya sedang dicarinya? Berjalan terus, berjuang keras, meninggalkan kenyamanan detik ini untuk untuk sesuatu. Namun, sesuatu apa? Pastikah itu bentuknya? Sebenarnya tidak salah juga jika seseorang tidak tahu apa yang sedang dicari. Namun tentu saja ketika dia tidak tahu betul yang sedang dicari, dia harus meluangkan lebih banyak waktu, menunda lebih lama waktu untuk menemukannya, bahkan bisa tidak ketemu sama sekali.

Apa yang kamu cari sebenarnya? Sampai kapan mau mencari? Tidak kah ingin ada yang menemani?

Mencari sesuatu sendiri tentu lebih mudah. Kita bisa menentukan sendiri apa yang kita cari, kita bisa menentukan jangka waktu dan batas waktunya, target pencapaian dan tentu saja kapan harus berhenti sewaktu-waktu. Toh jika gagal, kamu bisa menyembunyikan kegagalanmu dari orang lain, paling tidak, tidak akan ada suara sumbang mengganggu yang mengkritik dan bicara seolah kita butuh nasehat. Namun, tidakkah ingin ada yang menemani? Segala keributan itu pasti ramai. Ya ramai itu lebih bersuara dari sepi. Yang bisa aku sebut lebih hidup. Tidak masalah juga, jika sekali lagi kamu lebih merasa hidup dengan suara di otakmu sendiri yang mengalahkan pasar itu.

Apa yang kamu cari? Dalam kesendirianmu, dalam standard yang kamu bentuk sendiri, dalam pelarian dan istirahatmu, pastikan saja terus bersyukur, dengan memberi hati dan badanmu haknya. Hak untuk istirahat, makan, beribadah dan mengakui jika kamu sedang kalah dan lelah. Karena jika demam, dalam perjalananmu yang sendiri itu, tak ada selimut hangat atau kasih yang membelaimu lembut. Jika tubuhmu sudah menggigil, paling tidak jangan biarkan hatimu menggigil pula. Bayangkan saja aku yang sedang merengek berisik minta kamu perhatikan, kekasihku. Semoga dengan begitu hatimu bisa kuselimuti. Setelah itu berjalanlah kembali.

Namun, aku masih penasaran, apasih yang sedang kamu cari? Aku di sini secara konsep dan fisik. Bukan aku kah itu yang kau cari?


Sabtu, 16 Juli 2016

Nanti

Nanti saja tak apa.
Aku yang bertanggungjawab kepada anak-anakku yang harus lahir sedikit lebih telat karena ibunya mencari seorang partner diskusi di ranjang setiap malam yang merayap semakin matang, bukan hanya bertukar cairan untuk membentuk fisiknya yang biasa disebut proses reproduksi. Karena ibunya berkeyakinan reproduksi bukan hanya tentang menghasilkan bayi yang suatu saat berhidung mancung atau pesek, berkulit hitam atau putih, berbibir tipis atau penuh, tetapi juga berhati tulus atau pamrih, jujur atau bohong, bermental tegar atau lemah, berhati lembut atau kasar. Dan itu semua, selain harus diciptakan dalam tarian-tarian tubuh yang saling berhimpit juga pada diskusi-diskusi tengah malam yang sangat rapid dan sengit.

Nanti kujelaskan pada anakku. Begitulah cinta ayah dan ibunya membawanya ke dunia. Sedikit lebih telat daripada yang lain memang, tetapi bukankah semua hal adalah tepat waktu jika kita mampu menampung waktu untuk sebuah keyakinan?

Nanti saja kujelaskan kepada anakku. Bahwa dia tidak perlu tergesa-gesa melakukan apapun demi sebuah standard yang tidak dihasilkan dari suatu pemahaman penuh yang ia miliki. Hal itu mungkin kemudian membawaya agak telat juga menemukan cintanya, sebuah partner diskusi yang mampu diajak bukan hanya mereproduksi bayi, tapi juga ideologi.

Nanti kujelaskan pula kelemahan ibunya yang pernah juga merengek karena takut tertinggal dan ditinggal. Seakan-akan dirinya sendiri saja bukan hal yang mampu menghidupinya sendiri. Seakan dirinya sendiri bukan hal yang penting utum terus berjalan. Dia harus tau ibunya ternyata ibunya mampu pada akhirnya, tapi mimpi atas diskusi di ujung hari pengantar tidur dalam mendamba kehadiran dia, anak-anakku ke dunia adalah kerinduan luar biasa.

Aku tak sabar menjalani sebuah atau berjuta-juta petualang anakku! Ayahmu, adalah partner yang pasti asik diajak diskusi, dia berhasil membawamu ke dunia yang artinya dia pernah beberapa kali berhasil memeluk kegelisahan ibunya di tengah malam, dan tentu saja mencumbunya. Maka ceritakan segala gelisahmu padanya, dia mungkin sedikit lebih tak peka dan tak solutif, tertawakan saja, lalu ajaklah dia memancing, bersepeda, susur gua, mendaki, atau apapun supaya fisikmu kuat. Aku ibumu, kutakan dengan bangga padamu, jangan remehkan, kususul kalian dengan fisikku yang akan terus kujaga kuat untuk kita melangkah, berlari bahkan mendaki bersama.

Deskripsi Setengah Spasi

Di antara tanda baca yang gamang untuk kurentangkan, sesungguhnya aku paham aku harus segera mengakhiri kalimat.
Sebuah kalimat yang akan menjadi semakin kehilangan makna jika dipaksakan terus berderet.
Berjejal dalam sebuah deskripsi, kau mencuri spasi.

Namun, kau tak juga menghentak, hanya mengintip.
Seperti menimbang untuk menjadi setengah saja.
Kusisih dan sisakan sebaris penuh agar kau menari dalam sapuan kisah dan cerita.
Namun kau terus mengurangi dirimu sendiri. Menghapus setiap kata yang kubilang ini terakhir pada kalimatku.

Seandainya bisa memilih tercekat dalam membaca kalimat penuh, itu lebih mudah.
Aku tinggal menghela nafas dan diam.
Membaca kalimat yang hurufnya gugur satu demi satu sungguh membuatku pusing tak kepalang.

Apa yang kau rencanakan, sayang? Apa kau kehilangan spasi hingga deskripsi menjadi regang dan sumbang?

Suatu Sore di Kaliurang

Hujan turun dari siang tadi, aku bersyukur karen udara menjadi lebih hangat. Aku lalu tanpa sadar meyakini dan mengharapkan bahwa kabut tipis pasti akan segera menyergap kami di beranda atas wisma ini. Aku tau aku hanya menebak saja. Namun, aku juga merasakan bahwa keadaan ini selalu familiar pada beberapa waktu yang silam. Kaliurang, dan segala bentuk aktivitas yang dibuat. Beberapa kelompok yakin, dingin, kicau burung, suara kendaraan yang minim, kabut, dan teh, kopi, jahe hangat adalah sebuah stimulus melebur jarak dan mencipta karya bagai kelompok mereka.

Kaliurang, pertama kali aku datang ke sini delapan tahun lalu. Aku yang masih sangat muda dan bermimpi serakus mungkin. Bertemu dengan banyak kawan dari berbagai macam daerah. Perpaduan antara minder dan ingin berkenalan menciptakan sebuah sikap siaga. Mana yang kira-kira bisa kujadikan kawan, atau mana yang mungkin membuat urusanku susah. Aku yang masih yakin sebuah pertemuan baru adalah medan perang. Aku yang tak tahu diri dalam keminderanku, bahwa aku tak pernah punya apa-apa dalam tubuhku yang mungil yang mampu dijadikan senjata, kecuali kehangatan senyum dan kecorobohan kata-kata yang tak akan pernah mampu kukendalikan. Mereka menerimaku begitu saja, menerima kehadiranku yang tak begitu mencolok. Selama aku tidak menjengkelkan kupikir aku akan baik-baik saja.

Itu hanya pertemuan awalku dengan tempat ini. Setelah itu, acara demi acara, orang baru demi orang baru kuhadapi dengan lebih luwes. Aku tak lagi tertarik berperang, setidak tertarik aku kepada sebuah pertemanan baru. Aku hanya akan menikmati bagaimana semesta melemparkanku pada pertemuan-pertemuan di antara sapuan kabut tipis, gemericik hujan dan suara burung, yang semakin kesini kuyakini suara seindah itu tidak mungkin hanya tercipta dari cuitan burung. Ya, aku sadar cuitan burung di sangkar sangat membosankan. Namun, segala carut marut suara benda mati dan bergerak, gesekan batang bambu, serangga, daun jatuh, pasir terbawa angin. Hanya saja, semua itu sangat semarak.

Di beranda ini aku mengingat lagi bahwa pertemuan yang pernah datang seringkali berakhir begitu saja. Pertemuan-pertemuanku dengan berbagai macam orang di Kaliurang, membawa banyak kisah, banyak pelajaran, dan tentu saja saat itu antusiasme yang membuatku terus berjalan, euforia yang membuatku merasa mendapat kesempatan lagi, sebuah awal baru, sebuah kisah baru. Dan toh, semuanya pada akhirnya lewat begitu saja dan aku baik-baik saja.

Aku duduk dan menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah hujan. Walau mungkin tebakanku salah, segala pertemuan dan kesempatan yang pernah kualami di sini membuatku merasa lebih kenal dengan tempat ini dan berani menebak. Ini sama sekali bukan soal benar dan salah, tetapi lebih kepada memberi kesempatan otakmu berpikir dan merasa, memberi kesempatan jiwa dan hatimu kecewa. Tau kah kamu itulah yang menjagaku untuk terus menjadi manusia.

Dan pertemuan-pertemuan lain, di tempat -tempat lain, punya kisahnya sendiri, caraku menghadapinya tak jauh beda dengan segala romantisme yang ada di sini. Aku akan menebak, menunggu dan siap patah hati.

Hai, mengingatmu sekali lagi menghangatkan hatiku yang sedari tadi dingin walau hujan membuat tubuhku hangat. Lalu kemudian, aku tersadar, begitu banyak tugasku yang masih menunggu untuk segera diselesaikan.

Kamis, 14 Juli 2016

Pemberdayaan Wanita

Beberapa kali saya bertemu dengan komunitas atau lembaga yang bisa saya sebut sebagai pejuang pemberdayaan wanita ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan atau ambil pelajaran.Salah satu hal penting yang saya ingatkan pada diri sendiri dan beberapa teman adalah sebaiknya kita jangan terlalu suka berburuk sangka atau khawatir bahwa para pejuang pemberdayaan wanita mengalami salah kaprah mengenai tujuan pemberdayaan wanita. Mereka sebenarnya hanya berusaha memberikan pilihan dan memperbanyak informasi atas apapun yang mereka yakini belum terberi atau aksesnya masih minim kepada para wanita. Jadi, setelah itu semua kembali kepada para wanita-wanita yang disasar apakah akan meresponnya atau tidak. Bahkan pejuang pemberdayaan wanita yang benar sudah mulai memberi kesempatan dan perhatian khusus juga kepada para lelaki yang membutuhkan bantuan, karena mereka sudah menyadari pentingnya sebuah pembagian peran yang diusung pada konsep kesetaraan gender.
Jadi jika sampai ada orang-orang yang nyinyir bahkan dari kalangan wanita sendiri bahwa pejuang pemberdayaan wanita sedang membentuk konstruksi sosial baru, sebenarnya itu agak paranoid. Karena berangkat dari keyakinan bahwa wanita bukanlah setengah manusia dan mereka sepenuhnya sadar atas pilihan masing-masing, maka merekonstruksi mereka dalam aspek sosialnya tidak semudah itu. Namun, jika setelah akses atas segala kesempatan dalam kehidupan sosial (karir, pendidikan, keluarga, dll) itu sudah terberi, dan masih saja ada yang mengkritik pilihan hidup wanita lain, saya khawatir itu berasal dari sebuah pengingkaran atas keinginannya merespon kesempatan yang ada. Atau harus ditilik kembali jangan-jangan dia masih merasa bahwa wanita terlahir untuk menerima yang sudah terberi saja yang kondang dengan sebutan kodrat? Bahkan pemahaman mengenai kodrat saja belum final.
Sehingga kemudian sampai muncul dua golongan yaitu Wanita Karir yang berbangga hati karena merasa sudah membebaskan diri dari kungkungan kodrat dan menertawakan wanita yang memilih sebagai ibu rumah tangga sebagai mereka yang lemah. Dan yang kedua adalah sebaliknya, Ibu Rumah Tangga yang menyindir Wanita Karir yang manyalahi kodratnya dan merasa lebih mulia karena memilih mengabdi kepada keluarga. Jika begitu, menurut saya itu agak melenceng saja sekali lagi dari keyakinan saya bahwa wanita itu adalah sepenuhnya manusia, yang mampu dengan sadar memilih langkahnya dan paham atas konsekuensi, sehingga dia tidak perlu memakaikan pakaiannya kepada orang lain.Namun juga yang perlu diwaspadai, bias yang sangat bisa muncul dari para pejuang pemberdayaan wanita mengenai apa yang sudah terberi dan belum terberi. Kalau bias itu terjadi kita hanya bakal bagaikan memberi garam pada air laut saja, agak buang-buang waktu, kurang tepat sasaran. Hal tersebut tidak begitu bahaya sih jika tujuannya adalah memberikan sebuah informasi. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk meminimalkan bias. Salah satu metode yang paling asik adalah live in, tinggal beberapa saat di komunitas itu dan tinggalkan sebentar standard-standard yang kita biasa jalani pada kehidupan sehari-hari kita. Pun jika tepat sasaran, pemberian informasi seharusnya yang tidak terputus lho, yang tidak setengah-setengah, yang tidak berat sebelah, yang tidak menggiring opini. Eh mana bisa? Kalau belum bisa senetral itu, maka biarkan pihak lain juga masuk untuk memberi mereka informasi lain. Tidak perlu paranoid, tinggal berlomba-lomba dalam kebaikan dan biarkan mereka memilih.#cmiiw