Kamis, 28 April 2016

Menelpon Bapak

Seharusnya tulisan ini aku tulis dan unggah tepat ketika aku menunggu antrian di sebuah bank swasta pada hari Senin, tiga hari lalu. Namun, setelah menulis begitu panjang, telepon genggamku berhenti berfungsi, ngehang, terpaksa saya setel ulang. Menyebalkan.

Menelpon bapak tidak pernah menjadi serumit ini. Baru kali ini aku merasakan rindu yang begitu menggantung. Aku ingin sekali memulangkan rinduku padanya. Namun, ini menjadi sangat tidak sederhana.Gengsiku, perasaan bersalahku, perasaan kecewaku, semuanya beradu. Seakan aku tidak berhak lagi berkata rindu padanya. Seakan dia tidak berhak lagi mengetahui keadaanku. Setelah pertengkaran hampir dua bulan lalu, setelah aku mengeluarkan semua yang sudah aku pendam selama ini, setelah dia mendadak menjadi orang yang begitu asing buatku. Lelaki pertamaku tidak mempercayai aku bisa melewati semua ini. Lelaki yang aku harap menerimaku setiap saat aku pulang, tidak lagi percaya aku sedang berusaha mewujudkan mimpinya juga mimpiku.

Ditemani suara mesin pencetak kertas antrian, ditemani suara operator yang manis, ditemani anak manusia yang tergesa-gesa untuk menyelesaikan berbagai urusan perniagannya, aku termenung. Aku menimbang-nimbang telepon genggamku. "Siapa yang harus kuhubungi?", pikirku.

Siang itu aku harus segera mencairkan uang yang dikirim oleh salah seorang pelangganku dari negeri nun jauh di sana, Irlandia, negeri yang entah suatu hari nanti aku bisa sampai sana atau tidak. Pelangganku yang sangat bawel dan begitu banyak permintaan, andai saja dia tidak melakukan pemesanan dalam jumlah besar, aku pasti sudah menyerah dari awal. Di sini aku bersyukur mendapati diriku yang masih termotivasi dengan uang, pada titik ini aku merasa menjadi manusia normal. Aku normal karena aku juga melakukan urusan perniagaan, seperti manusia-manusia di usia produktif lainnya. Pelangganku itu telah mengirim uangnya melalu salah satu penyedia layanan yang harus dicarikan melalu salah satu bank swasta. Biasanya dia mengirimnya langsung ke rekening bank yang aku miliki dan menunggu 3 hari kerja sebelum aku bisa menarik uang tersebut. Kali ini aku harus mengambilnya sendiri ke bank swasta tersebut. Sudah terbayang dari awal bahwa ini akan sedikit merepotkan. Mengapa? Karena aku yang ceroboh dan pemalas ini hingga detik ini tidak sedang memegang KTP. Aku menghilangkannya beberapa tahun lalu dan malas mengurusnya. Beberapa kali aku pulang, bapak sudah mengingatkanku untuk segera mengurus kembali KTPku, tetapi entahlah, aku memang pemalas yang sangat bebal. Beberapa kali merasa lolos dari urusan administrasi yang mengharuskan memakai KTP hanya berbekal surat kehilangan dari kantor kepolisian membuatku merasa santai saja walau tak memegang KTP.

Siang itu, aku juga sudah membawa bekal surat kehilangan dari kantor kepolisian. Sialnya, di surat tersebut pak polisi yang sudah aku upah lima ribu rupiah tidak menuliskan nomor KTP-ku. Jadi pihak bank ragu untuk mengabulkan permohonan pencairan danaku. Petugas memintaku untuk menyertai permohonanku dengan kartu keluarga. Aku mengiyakan karena aku pikir aku memilikinya di akun surat elektronikku. Namun, ternyata aku tidak punya.

Aku terduduk lemas, aku ingat rumah, aku ingat bapak. Namun, aku ragu untuk segera menelpon. Kupikir-pikir, aku yakin petugas bank yang cantik-cantik jelita dapat memandangi wajahku yang kusut dan bingung. Kuhela nafas, kuberanikan diri menekan tombol nomor rumah. Suara lelaki di seberang sana, berat, dan menghentikan detak jantungku. Bapak bicara. Hampir tumpah air mataku. Aku atur nafasku. Bapak aku rindu. Namun, dengan busuknya aku tanpa basa-basi meminta tolong agar bapak segera mengirim foto kartu keluargaku. Aku yang sombong, terlalu angkuh untuk memulangkan rindu, meminta bantuan untuk dilegitimasi bahwa aku adalah anggota keluarga dari keluargaku, bahwa aku adalah anaknya.

Bapak menawariku untuk bicara dengan ibuk. Ibuk yang entahlah seluas apa hatinya mendapati anak perempuannya yang begitu bebal. Lebih bebal dari anak laki-lakinya. Anak perempuannya yang sombong, sok pintar dan sok bisa bediri di kaki sendiri. Anak perempuannya yang akan mencarinya hanya dan hanya jika dia terjatuh. Ibuk yang kubuat menangis karena pertengkaranku dengan bapak.

Hari itu, aku lega telah menelpon bapak. Namun, di sisi lain aku merasa brengsek, menelpon bapak hanya untuk membereskan urusanku.

Bagaimana aku bisa dengan muda menelpon seorang lelaki yang baru aku kenal dalam hitungan bulan, dan begitu berat menelpon cinta pertamaku?

Bapak, Apa yang kau rasakan ketika pertama mendengar suaraku? Ketika tidak mendengar suaraku? Dan ketika mendengar suaraku dalam keadaan marah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar