Selamat malam mas, semoga semua yang kan perjuangkan selalu lancar di sana.
Mas, mencintaimu adalah sebuah pilihan. Aku memilihmu, bukan orang lain. Aku memilih mencintaimu, bukan mengabaikanmu. Aku memilih menerimamu, bukan meninggalkanmu. Aku memilih percaya padamu, bukan curiga kepadamu. Mencintaimu adalah sebuah kesadaran. Aku wanita yang mampu memilih dengan sepenuh kesadaran untuk melakukan hal apapun, termasuk segala konsekuensi di dalamnya. Sehingga suatu saat nanti jika pilihanku salah, aku sudah mampu memetakan di bagian mana aku berbuat kesalahan, aku tak perlu mencari-cari kesalahan orang lain.
Aku memilih percaya kepadamu mas, ketika semua orang berkata bahwa mungkin saja kamu berbohong kepadaku. Aku tak pernah menanyakanmu kepada orang lain, karena kamu telah berusaha meyakinkanku, aku memilih berpegang kepada kata-katamu. Mereka berusaha mengisi pikiranku dengan hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu katakan. Aku menolak percaya kepada mereka, aku tidak mau mencari fakta lain dari orang lain, sampai mereka menunjukkan langsung kepadaku. Mas, mengapa berbohong?
Aku masih bertanya "Mengapa?" karena aku masih memilih mendengar pernyataan darimu bahwa apa yang mereka katakan tidak benar, atau mendengar penjelasan yang melegakanku, atau mendengar alasanmu, atau hanya ingin melihat usahamu untuk meyakinkanku. Aku hanya ingin kamu peduli sepenuhnya bahwa aku di sini menunggu kabarmu.
Seharusnya, aku bisa saja memilih berhenti menunggu kabarmu. Karena itu memang seringkali menguras hati dan pikiranku. Seharusnya aku mampu mengisi ruang-ruang besar yang mungkin kau tinggalkan dengan teman-teman yag lebih seru dan asik, yang mampu menciptakan tawa atau menggiring kepada obrolan-obrolan dalam yang mengurai kegelisahan. Atau aku juga bisa fokuskan pikiranku kepada pekerjaanku dan mencari uang sebanyak-banyaknya. Namun aku memilih membiarkan ruang itu di sana, supaya kamu bisa selalu pulang dan beristirahat di sana. Aku merindukanmu mengisinya dengan sesuatu yang tak pernah penting, namun tak kudapati dari siapapun sejauh ini.
Aku bercerita ke beberapa teman tentang kejadian ini. Mungkin kamu memang tidak berbohong, tetapi kamu mengkondisikan seakan-akan pernyataanmu benar tapi kenyataan tidak seperti itu. Setidaknya tidak seperti yang aku tahu saat ini. Yang membuatku bertanya adalah buat apa kamu mengkondisikan sesuatu yang menciptakan kesalahpahaman di antara kita? Tidak pentingkah aku?
Teman-teman berkata, aku tak perlu membalas pesanmu, mereka berkata semakin detail data yang digunakan seseorang semakin besar kemungkinan dia berbohong, beberapa di antara mereka menertawakanku. Aku memakan habis harga diriku, aku memilih mempercayaimu dan terlihat bodoh di depan teman-temanku.
Setelah membaca penjelasanmu, Aku paham posisiku sekarang mas. Aku bukan prioritasmu. Kamu tak merindukanku sebanyak aku merindukanmu. Kamu memilih untuk meminggirkanku untuk saat ini. Jika itu yang sedang kamu lakukan untuk menggapai mimpimu yang lebih besar dari aku mas, aku tidak akan mengganggumu. Aku akan menulis dan menulis, aku akan memilih bertarung dengan rasa rinduku, menjinakkannya supaya tidak pernah membuatmu gelisah. Tapi kamu harus tau mas, Aku juga mampu membunuhnya detik ini juga. Kapan? Jika kamu sudah tidak berminat menjelaskan apapun lagi kepadaku.
Mas, jika kamu membaca ini dan merindukanku, aku berharap kamu bisa memilih memulangkannya kepadaku, mengatakan apa yang kamu rasakan. Aku memilih menunggumu mas. Sampai detik ini. Dan aku tidak tahu hal seperti apa lagi yang aku harus terima sebagai konsekuensi atas pilihanku.
Hari ini aku memilih untuk percaya kepadamu. Karena aku tahu masih banyak yang lebih besar daripada ini. Aku tak mau kalah hari ini. Aku akan tetap bebal, mencintaimu dengan segala hal yang kamu yakini akan membuat orang lain membencimu. Aku masih akan bebal hari ini. Namun, berjanjilah kepada dirimu sendiri untuk segera pulang atau setidaknya memberi kabar. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar